Sejarah Desa Pegagan Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Sejarah Desa Pegagan Kabupaten Cirebon

Sejarah Desa Pegagan | Asal Usul Desa Pegagan | Profil Desa Pegagan | Kabupaten Cirebon |

Sejarah Desa Pegagan Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap

Pada pertengahan abad ke-14 atau sekitar tahun 1450 wilayah Pakukuhan Cirebon masih dikuasai Kerajaan Galuh yang berkedudukan di Rajagaluh Kabupaten Majalengka sekarang, pada saat itu penguasa Kerajaan Galuh Pakuan untuk wilayah Cirebon dipercaya kepada panglima perangnya yang bernama Ki Arya Kiban/Ki Gede Palimanan di bantu oleh Arya Gempol, Arya Igel dan yang lainnya.

Pusat perwakilan kerajaan berkedudukan di Palimanan sebagai pintu gerbang Kerajaan Galuh, tidak jauh dari kekuasaan Galuh terdapatlah Pedukuhan yang masih berupa hutan belantara dan tidak diketahui asal-usulnya datanglah dua kakak beradik yang gagah berani yang bernama Ki Braja Geni dan Ki Braja Mungkara yang bermaksud membuka hutan (babakyasa) untuk lahan pertanian dan perkampungan penduduk.

Keesokan harinya Ki Braja Geni membuka hutan dengan cara membakar, dalam waktu singkat hutan tersebut sudah menjadi tanah lapang yang luas. Ki Braja Ungkara hanya mengangguk kepala sebagi tanda kekaguman kepada kakanya (Ki Braja Geni) yang sangat Baik. Dan tanah yang lapang itulah di olah menjadi lahan pertanian, ditanami pagi Gaga dan sebagian jenis kacang-kacangan.

Beberapa tahun kemudian lahan pertanian dan tanah yang luas tersebut berkembang menjadi sebuah pedukuhan dengan sebutan PEGAGAN.

Nama PEGAGAN diambil dari kata “Pe – gaga –an “ yang artinya adalah tempat berladang padi Gaga. Yang wilayanhnya pada saat itu meliputi sampai dengan Pejagan Asem yang sekarang sudah menjadi Kedungbunder pada tahun 1980.

Pengaruh Islam di Pegagan di mulai sekitar tahun 1818 setelah kesultanan Kesepuhan (Pakungwati) mengutus Ki Kasijan (Pangeran Bugis), yang merupakan kepercayaan kesultanan Kasepuhan membantu Ki Bagusrangin (Pengeran Samber Nyawa) dalam perang kedongdong untuk mengusir tentara kolonial Belanda. Walaupun bibir atasnya suwing (sumbing) Ki Kasijan sangat di hormati warga penduduk oleh karena disamping berhasil dalam penyebaran agama Islam, iapun menata pemukiman penduduk, lahan pertanian serta mendapat tempat peribadatan, saluran air dan jalan. Ia terkenal dengan Buyut Suwing.

Related posts