Sejarah Kelurahan (Desa) Kenanga Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Sejarah Desa Kenanga Kabupaten Cirebon

Sejarah Kelurahan Kenanga | Sejarah Desa Kenanga | Asal Usul Desa Kenanga | Profil Desa Kenanga | Kabupaten Cirebon |

Sejarah Desa Kenanga Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap

Menurut cerita yang disadur oleh Masduki Sarpin (Koran Kabar Cirebon, 1994 : 5) dalam kisah masyarakat Cirebon, dikisahkan bahwasannya Ki Ageng Waranggana mantan pepatih unggulan kerajaan Galuh, dalam usia lanjutnya beserta istrinya mengasingkan diri ke sebuah hutan di wilayah Negeri Cirebon. Di tengah hutan itu mereka membuat pondok kecil untuk tempat tinggalnya serta mengganti namanya menjadi Ki Alas dan Nyi Alas. Hal ini dilakukan untuk mencari ketenangan batin menjauhi segala yang bersifat duniawi.

Konon diceritakan pada sekitar abad ke – 16 M, Mbah Kuwu Carbon selaku sesepuh Negeri Cirebon, dalam ramalannya, bahwa bakal terjadi perang besar antara Kesultanan Cirebon dengan Kerajaan Galuh. Dalam perang besar nanti, Prabu Cakraningrat Raja Negeri Galuh tidak akan terkalahkan oleh siapapun, kecuali oleh seorang wanoja yang memiliki ilmu aji leluhur Negeri Galuh.

Karena itu Mbah Kuwu Carbon yang keceluk (terkenal) berilmu tinggi weruh sedurung winara (mengetahui secara bathiniah sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang), jauh-jauh sebelum perang terjadi segera memerintahkan Nyi Mas Gandasari muridnya, supaya berguru pada Ki Alas yang sedang menyepi di dalam hutan untuk menimba ilmu aji leluhur Negeri Galuh.

Kehadiran Nyi Mas Gandasari yang menyamar bernama Nyi Mas Kona’ah di pondok Ki Alas, oleh bekas pepatih Kerajaan Galuh diterimanya dengan senang hati.Dan Nyi Mas gandasari yang pandai menyamar itu, di samping diterima sebagai murid Ki Alas diakui menjadi putrinya sendiri. Oleh karena itu, Nyi Mas Kona’ah yang dikenal sebelumnya sebagai seorang wanoja berparas ayu yang pilih tanding, tidaklah mendapat kesulitan dalam mempelajari ilmu aji leluhur Negeri Galuh secara sempurna, ia sedikit demi sedikit kepada gurunya ditanamkan ajaran Islam. Begitu pula Ki Alas dan Nyi Alas yang sebelumnya adalah sepasang suami istri yang terkenal sakti mandraguna dan tidak jarang menghukum setiap penyiar agama Islam yang ditemui, hatinya menjadi luluh ingin memeluk agama Islam setelah mendengar Nyi Mas Kona’ah, Ki Alas dan Nyi Alas, dihaturkan kepada Sunan Gunung Jati di Keraton Cirebon.

Di Keraton Cirebon mereka diterima Sunan Gunung Jati dengan sangat gembira, beliau meminta bekas pepatih Kerajaan Galuh agar tinggal di Keraton Cirebon, tetapi suami istri yang belum lama memeluk Islam itu memilih menetap di hutan saja. Penyamaran yang sangat rapid dan sempurna yang dilakukan Nyi Mas Gandasari sebagai Nyi Mas Kona’ah, tidak banyak diketahui oleh orang lain, kecuali Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu Carbon.Sehingga sewaktu wanoja yang menjadi partner hidup Syekh Magelung Sakti itu, berhatur bakti kepada Sunan Gunug Jati di Keraton Cirebon yang mengaku Nyi Mas Kona’ah mengundang tidak sedikit para gegeden Cirebon ingin mempersuntingnya. Dan di antara para gegeden Cirebon yang tergiur atas kecantikan Nyi Mas Kona’ah itu, ialah Ki Wirayuda, Ki Lebak Sunan Winara dan Ki Singa Gembala. Ketiga gegeden tersebut, dengan terlebih dahulu meminta izin kepada Sunan Gunung Jati bertandang ke pondok Ki Alas bertujuan melamar Nyi Mas Kona’ah.Di hadapan Nyi Mas Kona’ah Ki Wirayuda, Ki Lebak Sunan Winara dan Ki Singa Gembala mengutarakan maksudnya ingin menjadi pemdamping hidupnya.

Tapi Nyi Mas Kona’ah yang berwajah cantik itu bersedia menjadi istri dari satu di antara ketiga gegeden tersebut, asalkan ketiganya dapat memenuhi dua syarat.Syarat yang pertama untuk Ki Wirayuda supaya dapat membabad hutan tepat tinggal Ki Alas untuk di jadikan sebuah pedukuhan. Dan untuk Ki Lebak Sunan Winara supaya dapat membawa air di dalam keranjang tidak menetes, sedangkan untuk Ki Singa Gembala supaya dapat membangun lumbung padi yang sarat isinya dalam waktu sekejap.

Adapun syarat keduanya ialah Ki Wirayuda, Ki Lebak Sunan Winara dan Ki Singa Gembala terlebih dahulu dapat mengalahkan Nyi Mas Kona’ah dalam perang tanding. Selanjutnya kedua persyaratan itu oleh ketiga gegeden Cirebon disanggupinya, Ki Wirayuda dengan menggunakan senjata pusaka rantenya dengan waktu kurang dalam sehari selesai membabad hutan dan Ki Lebak Sunan Winara dengan ilmu kesaktiannya dapat memenuhi syarat yang pertama, begitu pula Ki Singa Gembala secara sekejap dapat membangun lumbung padi yang sudah dipenuhi isinya. Dan setelah ketiga gegeden Cirebon itu dapat memenuhi syarat yang pertama untuk memperebutkan jodoh Nyi Mas Kona’ah mereka bergembira ria. Namun sebelum Ki Wirayuda, Ki Lebak Sunan Winara dan Ki Singa Gembala menyelesaikan kegembiraannya, tiba-tiba ketiganya dikejutkan dengan datangnya para wadiabalad (pasukan) Kerajaan Galuh yang dipimpin Arya Kiban yang bermaksud menjemput Ki Ageng Rama Waranggana dan istrinya untuk diboyong ke Keraton Prabu Cakraningrat. Tapi Ki Ageng Rama Waranggana dengan istrinya yang telah berganti nama menjadi Ki Alas sudah memeluk agama Islam menolak kembali di Kerajaan Galuh, hingga terjadilah perang tanding yang sangat seru.

Perang tanding yang sangat seru dan masing – masing mengeluarkan ilmu kedigjayaan, antara wadiabalad Kerajaan galuh melawan Ki Wirayuda yang dibantu Ki Lebak Sunan Winara dan Ki Singa Gembala yang memakan waktu lama, akhirnya ketiga gegeden Cirebon itu dapat dikalahkan oleh Arya Kiban. Menyaksikan ketiga gegeden Cirebon itu terkalahkan Arya Kiban, Nyi Mas Kona’ah maju ke medan lagi melabrak pimpinan para wadiabalad Negeri Galuh. Maka terjadilah kembali perang tanding yang lebih seru antara Arya Kiban yang sudak keceluk diksura melawan Nyi Mas Kona’ah, akhirnya perang tanding Arya Kiban dapat dilumpuhkan, seterusnya bersama wadiabaladnya kabur meninggalkan pondok Ki Alas.

Ki Wirayuda, Ki Lebak Sunan Winara dan Ki Singa Gembala matanya terbelalak begitu melihat ilmu kesaktian Nyi Mas Kona’ah dapat mengalahkan Arya Kiban. Oleh karena itu, ketiga Ki gede Cirebon yang semula menggebu mencintai Nyi Mas Kona’ah ingin menjadikan istrinya, mereka mengundurkan diri tidak melanjutkan persyaratkan yang kedua.Dan Nyi Mas Kona’ah menjelaskan kepada ketiga orang gegeden yang mencintai itu, bahwa dirinya adalah Nyi Mas Gandasari yang satu perguruan denganya.

Kemudian setelah itu Nyi Mas gandasari meminta diri kepada Ki Alas untuk kembali ke Keraton Cirebon mengingat masih banyak tugas yang menanti. Adapun Ki Wirayuda, Ki Lebak Sunan Winara dan Ki Singa Gembala yang hendak permisi kepada Ki Alas, bahwa ketiganya mau kembali ke Keraton Cirebon. Menjadi terurungkan karena pada waktu itu pondok Ki Alas hadir Sunan Gunung Jati dan Mbah Kuwu Carbon, kedua beliau itu memerintahkan Ki Wirayuda, Ki Lebak Sunan Winara juga Ki Singa Gembala supaya hutan yang terdapat pondok Ki Alas itu dijadikan pedukuhan Pondok Pari (lumbung padi) dan sebagai gegedenya adalah Ki Wirayuda dengan gelar “Buyut Tuwah Rante”.

Ki Wirayuda, Ki Lebak Sunan Winara dan Ki Singa gembala adalah murid Mbah Kuwu Carbon, sebelumnya ketiga murid itu bernama Syekh Anwar Musyadad dari Negeri Syam, Ki Martaguna dari Madura dan Pangeran Abassyih dari Campa Malaka yang gemar memelihara harimau (Koran Kabar Cirebon, 1994 : 5).

Dalam Naskah Asal-usul Desa Kenanga yang ditulis oleh Sanita Mujita (2006), bahwa penamaan Pedukuhan Pondok Pari itu berawal dari peristiwa pengiriman hasil pertanian dari daerah Pesawahan untuk diserahkan ke Keraton Cirebon yang dilakukan oleh para Demang Keraton Cirebon sebagai bentuk upeti. Pada waktu itu alat tarnsportasi yang digunakan untuk mengirim hasil pertanian adalah Pedati Kebo Donggol.Yang mana menurut cerita rakyat setempat, suatu ketika kebo donggol yang membawa hasil pertanian itu sampai di sebuah pedukuhan yang disinggahinya sudah larut malam.Sehingga terpaksa menginap atau mondok di pedukuhan tersebut.Pada akhirnya tempat singgahnya pedati kebo donggol yang membawa hasil pertanian yang berupa padi oleh masyarakat setempat disebut Pondok Pari.

Begitu juga menurutapa telah yang diinformasikan oleh Taufik Jahari, bahwasannya di Pedukuhan Pondok Pari terdapat kebun yang sangat luas. Di kebun yang terhampar luas itu terdapat aneka pepohonan tumbuh dengan subur diantaranya adalah pohon kenanga.Mata pencaharian masyarakat pada saat itu sebagian besar adalah bercocok tanam, seperti menanam padi.Oleh karena, hutan yang sudah dibabad, kemudian secara beramai – ramai oleh masyarakat setempat baik petani maupun pemuda mengalih fungsikannya menjadi lahan persawahan.Maka tidak jarang juga ada yang berpendapat bahwa sejarah Pondok Pari berawal dari tempat penyimpanan padi yang sangat besar yang bentuknya seperti pondok yang dimiliki masyarakat pada waktu itu. Sehingga di kampong tersebut terkenal dengan nama kampong Pondok Pari (Bakombudpar Kabupaten Cirebon, 2007 : 119).

Sekitar tahun 1919 seseorang yang berkebangsaan Cina telah datang di Desa Pondok Pari.Melihat kondisi perkebunan desa tersebut dan banyak ditumbuhi pohon kenanga akhirnya orang Cina tersebut berinisiatif mendiirikan pabrik minyak kenanga sebagai master piece bisnisnya.Ternyata bisnis minyak kenanganya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan, sehingga tidak sedikit laba yang dihasilkan dari penjualan minyak kenanga tersebut.Pada tahun 1972 Desa Pondok Pari diganti namanya menjadi Desa Kenanga. Hal itu terjadi karena di tempat tersebut terkenal dengan pabrik minyak kenanga yang didirikan oleh orang Cina (Koran Kabar Cirebon, 1994 : 5).

Semenjak masa transisi perubahan nama daerah dari Desa Pondok Pari menjadi Desa Kenanga, juga berdampak para peralihan otonomi daerah pada tingkat kecamatan. Yaitu awalnya Desa Kenanga termasuk wilayah Kecamatan Sumber, namun pada tahun 1999 berubah menjadi Kelurahan dan termasuk wilayah Kecamatan Sumber. Nama – nama Kepala Desa Kenanga yang dapat diketahui, adalah :

Masa Kuwu

  1. Arga : 1897 – 1901
  2. Sarjangi : 1901 – 1905
  3. Jana : 1905 – 1909
  4. Sambung : 1909 – 1913
  5. Jakariah : 1913 – 1917
  6. Kalija : 1917 – 1921
  7. Jatmira : 1921 – 1925
  8. H. Samarta : 1925 – 1945
  9. Jamawi : 1945 – 1963
  10. H. Ikhsan S. : 1963 – 1981
  11. Madngali : 1981 – 1985
  12. Supraja : 1985 – 1999

Masa Lurah

  1. Nono Haryono : 1999 – 1999
  2. Makmur : 1999 – 2004
  3. Sumarno : 2004 – 2006
  4. Maman P. A. : 2006 – 2007
  5. Dadang S. : 2007 – 2008
  6. Tata Sugiarto : 2008 – 2009
  7. Novi Herdianto : 2009 – 2011
  8. Said Bachrudin : 2011 – 2012
  9. Juda : 2013 – 2014
  10. Subkhan : 2014 – ….

Related posts