Sejarah Desa Manislor | Asal Usul Desa Manislor | Profil Desa Manislor | Kabupaten Kuningan |
Sejarah Desa Manislor Kabupaten Kuningan (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap
Manislor adalah sebuah nama desa kecil yang berada di ketinggian + 2500 M dari permukaan laut, keadaan tanah di desa ini terletak dalam dataran rendah di bawah kaki gunung Ciremai dan berada dalam Administrasi Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan. Desa Manislor terletak ditepi jalan raya yang ramai dengan beberapa kendaraan umum yang menghubungkan antara kota Cirebon dan kota Kuningan. Jarak Desa Manislor dengan kota Kecamatan Jalaksana yaitu sekitar ±2 KM, sedangkan jarak ke kota Kuningan yaitu sekitar ±9 KM, dan untuk ke kota Cirebon sekitar ±26 KM. Desa Manislor, lain daripada itu juga berdekatan dengan gedung juang “Naskah Linggarjati”.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Desa Manislor pada awalnya bernama desa “Manis”. Pada tahun 1373 M, ketika jaman kerajaan Galuh yang dikuasai oleh Prabu Siliwangi yang ke-3, sang Dewa Miskalah pernah singgah di Dukuh Pendeuy (situs sumur 7 dan batu gajah) sampai putranya yang menjadi Prabu Siliwangi ke-4 sang Pemanah Rasa kawin dengan sang Centaring Manik Mayang Pasundan, putri dari sang Haliwayang raja Pasundan dan bertempat di Desa Jalaksana. Kejadian ini diperkirakan pada tahun 1470 Masehi.
Pada tahun yang sama, yakni 1470, juga pedukuhan-pedukuhan di sekitar Dukuh Pendeuy direstui menjadi Desa Manis yang kala itu berada dalam naungan Kerajaan Jalaga Manggung yang beribukota di Sagarahiang. Kerajaan Jalaga Manggung sendiri berada dalam kekuasaan Kesultanan Cirebon. Sunan Gunung Jati, maka dari itu mengangkat demang yang bernama Anggapati untuk ditempatkan di Desa Manis. Ketika kerajaan Jalaga dibawah kepemimpinan Pangeran Aria Wanga Goparana, Desa Manis berada di bawah ketemenggungan Padamenak dengan demangnya yakni Rd. Padmanagara dengan gelar Arya Salingsingan, seorang panglima kerajaan Pangkuati Cirebon yang diperintah oleh Panembahan Girilaya.
Pada tahun 1543 Masehi, Ketika kerajaan Cirebon dibawah kekuasaan cicit Sunan Gunung Jati, yakni panebahan Ratu J.P Emas Zainul Arifin, di Desa Manis bermukim adik kandungnya yaitu Rama Eyang Buyut Manis. Rama Eyang bermukim di pedukuhan yang sekarang menjadi Blok Dukuh. Bermukimnya Rama Eyang menjadi cikal bakal terbentuknya pemerintahan Desa Manis. Bukti sejarah patilasan beliau sekarang berada di sekitar Sumur Tujuh di pemandian Cibulan, Kuningan.
Desa Manis resmi menjadi Desa diperkirakan pada tahun 1570 Masehi dengan kuwuny yaitu Rama Eyang Buyut Manis. Beliau mempunyai 3 orang putra. Ketiga anak terseut yaitu:
- Indra Wulan (perempuan)
- Indra Madura (laki-laki)
- Wisaprana (laki-laki)
Menurut adat istiadat dalam mewariskan tahta kepemimpinan, kepemimpinan selalu diserahkan kepada putra sulung, namun putra sulung beliau adalah perempuan, maka tapuk kepemimpinan dialihkan ke putera kedua atau ketiga. Kedua putera beliau sangat mengharapkan tapuk kepemimpinan tersebut, sehinga keduanya saling adu tanding. Pertandingan tersebut ternyata tidak dimenangkan baik oleh Wisaprana ataupun Indra Madura, keduanya sama-sama kuat. Atas kebijakan dari Resi Rama Eyang Buyut Manis, maka tapuk kepemimpinan dibagi dua menjadi, yaitu Desa Maniskidul yang diberikan kepada Indra Madura dan Desa Manislor diberikan kepada Wisaprana. Tempat adu tanding Wisaprana dan Indra Madura tersebut sekarang menjadi batas antara Desa Manislor dan Desa Manis Kidul. Pembagian tapuk kepemimpinan ini terjadi diperkirakan tahun 1835. Perkiran tahun ini dilihat dari jumlah masa kerja kuwu pertama sampai dengan kuwu sekarang yang sudah mencapai 15 kuwu.
Setelah tapuk kepemimpinan diberikan kepada puteranya, Eyang Buyut Manis kemudian menyepi di pedukuhan Pendeuy yang sekarang menjadi situs Sumur Tujuh dan Cibulan. Pada tahun 1901 Masehi, kerajaan Pangkuwati perang dengan kerajaan Inggris. Desa Manis dijadikan tempat pengungsian tentara kerajaan Pagarwati , maka aksen bahasa dan dialek bahasa di Desa manislor terjadi campuran antara bahasa Sundan dan bahasa Jawa, dan para tentara pagarwati biasa menyebutnya dengan “Manislor”, mungkin untuk mempermudaah ejaan di lidah mereka. Sebutan “Manislor”, kemudian menempel sampai sekarang. Oleh karena sebab inilah kenapa Desa Manislor tidak disebut Maniskaler sesuai ejaan bahasa Sunda.






