Sejarah Desa Juntinyuat Kabupaten Indramayu (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Sejarah Desa Desa di Indonesia

Sejarah Desa Juntinyuat | Asal Usul Desa Juntinyuat | Profil Desa Juntinyuat | Kabupaten Indramayu |

Sejarah Desa Juntinyuat Kabupaten Indramayu (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap

Menurut Supati Kasim dalam bukunya Menapak Jejak Sejarah Indramayu kecamatan Juntinyuat dahulu kala merupakan daerah cikal bakal negeri caruban/Cirebon, dalam buku mengenai kesultanan kesepuhan Cirebon malah di tegaskan pada abad ke 14 batas pemukiman baru dilemah wungkuk daerah awal mula negeri caruban. Dipimpin oleh ki Gede Alang-Alang yang diangkat oleh Raja Pajajaran.

Batas negeri sebelah timur yaitu kali Cipamali, sebelah selatan (Cigugur Kuningan), pegunungan Kromong (sebelah barat) dan (sebelah utara) yaitu Junti yang dipimpin oleh ki Gedeng Junti.

Kecamatan Juntinyuat yang terdiri dari desa Juntinyuat, Junti kebon, Junti kedokan, Junti weden merupakan salah satu wilayah kaGedengan atau penyiaran agama Islam oleh Nyi Mas Ratu Junti dengan nama lengkapnya yaitu Syarifah Fatimah Nyi Mas Ratu Junti (1415 M/1337 C/ 818 H). Berasal dari Negara Campa puteri ki Gedeng Junti Dan Nyi Gedeng Junti.

Nyantri kepada wali penyebar Islam pertama di Cirebon, Syaikh Dzatul Kahfi di pesantren Giri Amparan Jati terletak di bawah kaki gunung Sembung. Selain menjadi menjadi tempat pesantren, pesantren Giri Amparan Jati juga sebagai pusat pemerintahan dan pusat keagamaan negeri Caruban Larangan.

Pada tahun 1415 M Laksamana Cheng Ho (Haji Mahmud Shams) berlabuh di muara Jati Cirebon dengan armada 27.000 (anak buah kapal) dan 307 (armada) kapal laut. Dampu Awang, tokoh ini identik dengan Sam Po Kong atau Sam Po Tao, Sam Po Toa Jin, adalah orang kedua dalam armada Cheng Ho.

Beliau adalah seorang pedagang dari Cina yang beragama Islam. Secara harfiah, Dampu Awang bukanlah nama orang tertentu, melainkan memiliki arti pedagang atau saudagar.

Kecantikan jiwa dan raga yang dimiliki Nyi Mas Ratu Junti telah memikat pesona Dampu Awang untuk melamarnya. Tawur Mas Picis Raja Brana Dampu Awang tidak berhasil menggoyahkan keteguhan hati Nyi Mas Ratu Junti, karena Ki Gedeng Junti menolak secara halus lamarannya. Dikisahkan kemudian Ki Gedeng Junti membuat strategi dengan mengadakan sayembara.

Jika Dampu Awang mampu merobohkan bambu ori yang tebalnya dua meter dan tingginya tiga meter yang mengelilingi rumah Ki Gedeng Junti dalam waktu semalam, lamaran itu akan diterima. Dampu Awang menggunakan akalnya. Ia umumkan kepada rakyat untuk menaburkan emas di tembok bambuitu.

Rakyat berebut emas, hingga pagar bambu porakporanda. Ki Gedeng Junti dan putrinya menolak tipu muslihat itu, lalu meminta perlindungan Syeh Bentong. Sampai pada akhirnya, Nyi Mas Ratu Junti dipersunting oleh Syeh Bentong (Syaikh Syamsuddin) putera Syeh Quro Karawang. Ketika tiba saatnya ditetapkan sebagai wali nagari Junti oleh dipertuan Agung Prabu Abhiseka Sri Mangana Khalifatur Rasul Sayyidin Pranata Gama Ratu Caruban (Ki Kuwu Sangkan), Nyi Mas Ratu Junti menata pemerintahan dan menetapkan aturan-aturan sebagaimana tata pemerintahan dan ketetapan hukum yang berlaku di negeri Caruban Larangan dan rakyat Junti memeluk agama Islam mengikuti ajaran Syeh Bentong.

Setelah pemerintahan di pegang oleh Nyi Mas Ratu Junti sistem yang tadinya menggunakan sistem kawula menjadi sistem masyarakat, sehingga tatanan lama yang menepatkan manusia berdasarkan keturunan, warna kulit, tempat asal dan agama, tidak lagi berlaku.

Menurut masyarakat sosok Nyi Mas Ratu Junti sebagai pribadi yang utuh itu bersumber dari kebeningan fikir dan kedalaman pemahamannya terhadap terhadap ajaran-ajaran agama. Dipertegas pula gambaran sosok Nyi Mas Ratu Juntidalam penuturan cerita para sesepuh Junti, dikisahkan bahwa Fatimah Nyi Ratu Junti dikenal sebagai waroja berparas ayu dan berbudi mulia.

Ia ibarat benih yang lahir sebagai kecambah lalu menjelma menjadi pohon berdaun rindang dan berbuah lebat, yang daun-daunnya menaungi mereka yang kepanasan dan buah-buahnya memberikan kesegaran bagi yang memetiknya.

Dalam masa-masa pemerintahan selanjutnya, wilayah kagedengan Junti dipimpin oleh seorang kuwu. Namun saat ini desa Juntinyuat sudah menjadi ibu kota kecamatan Juntinyuat dan termasuk dalam wilayah kabupaten Indramayu.

Adapun nama-nama Ki Gedeng Junti adalah

  1. Ki Gedeng Buyut Ambulu.
  2. Ki Gedeng Buyut Marta Desa.
  3. Ki Gedeng Buyut Santri.
  4. Ki Gedeng Buyut Giro.
  5. Ki Gedeng Buyut Lempong.
  6. Ki Gedeng Buyut Sengot.
  7. Ki Gedeng Buyut Brayi.

Nama-nama kuwu Desa Juntinyuat adalah :

  1. Kuwu H. Maryam.
  2. Kuwu H. Sijar.
  3. Kuwu H. Marma.
  4. Kuwu H. Markawi.
  5. Kuwu H. Sayid.
  6. Kuwu H. Rakiman.
  7. Kuwu H. Kasam.
  8. Kuwu H. Mulani.
  9. Kuwu Nurman.
  10. Kuwu Cakra.
  11. Kuwu Dirja.
  12. PJ. Said.
  13. Kuwu Nursilam
  14. Kuwu Yusuf
  15. Kuwu Data
  16. Kuwu Rawat Atmaja.
  17. Kuwu MT Sumaja.
  18. Kuwu Barnawi Maryadi.
  19. PJ. Thalib.
  20. PJ. Nurwenda
  21. Kuwu Suhendi.
  22. PJ. Warsika
  23. Kuwu Durahman.
  24. PJ. Solekhudin.
  25. Kuwu Barwani Maryadi.
  26. PJ. Dian Usmita
  27. Kuwu H. Nono Suwarno
  28. PJ. H. Nono Suwarno
  29. Kuwu Warno

Related posts