Sejarah Desa Darma Kabupaten Kuningan (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Sejarah Desa Desa di Indonesia

Sejarah Desa Darma | Asal Usul Desa Darma | Profil Desa Darma | Kabupaten Kuningan |

Sejarah Desa Darma Kabupaten Kuningan (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap

Diperkirakan mulai tahun 1732 M. Darma sudah mulai di huni oleh masyarakat dengan budaya dan pengaruh dari kerajaan Galuh Talaga yang menganut Agama Hindu.

Hal ini di buktikan dengan adanya sisa-sisa peninggalan sejarah baik yang berupa cerita seperti Cerita Lutung Kasarung yang berlokasi di sekitar Desa Karang Sari, Desa Gunung Sirah, maupun peninggalan berupa materi seperti puing-puing bekas bangunan dan Candi yang kini di temukan di Daerah Sagara Hiang.

Daerah Darma adalah salah suatu daerah yang berada di sebelah selatan pegunungan Gunung Gede (Gunung ciremai) dengan kondisi alam yang sangat bagus pegunungan menghijau, hamparan persawahan cukup luas, mata air mengalir dengan jernihnya, sungai berkelok mengintari setiap Kampung, jalan melintang dari Timur ke Barat membelah kawasan Waduk Darma sehingga menjadi salah satu daya tarik yang luar biasa maka dalam waktu yang cepat Desa Darma telah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang cukup maju dan dijadikan ibu kota Kecamatan.


Setelah pertempuran antara Kerajaan Islam Cirebon dengan Kerajaan Galuh Talaga usai Syeh Datuk Kali Putah menempatkan Syeh Rama Haji Irengan beliau adalah salah seorang Syeh dari Kerajaan Islam Cirebon dengan perangai gagah berani, bijak, tinggi besar dan berkulit Hitam seperti layaknya kulit-kulit orang orang cirebon dengan kebiasaan selalu mengenakan pakaian hitam, oleh Syeh Datuk Kali Putah (Embah Damar Wulan) ditempatkan di salah satu Nusa yang berada di Tengah Balong Keramat Darma Loka, selanjutnya beliau mendirikan sebuah Pesantren (sekarang Pondok pesantren Attahiryah Darma Loka) dibantu oleh para Syeh lainnya dengan tujuan yaitu untuk menyebarkan Ajaran Agama Islam di sekitar Desa Darma.

Baca Juga :   Sejarah Desa Cisaat Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Mengingat Desa Darma semakin hari semakin banyak jumlah penduduknya maka Syeh Datuk Kali Putah bersama:

  1. Eyang Hadirudin (Beliau berasal Dari Banten)
  2. Embah Satori ( Embah Dalem Cageur)
  3. Embah Gede ( Embah Katipan)
  4. Embah Depok
  5. Embah Jangka
  6. Embah Braja Barong
  7. Embah Raden Bagus
  8. Embah Marmagati
  9. Syeh Karibullah
  10. Syeh Habibullah ( Emabah Sapu Jagat)
  11. Syeh Ahmad Aruman ( Rama Kopeng )
  12. Syeh Ahmad Bin Huas
  13. Syeh Darajat
  14. Syeh Ibrahim
  15. Embah Damar

Mulai merintis Darma menjadi salah satu pusat kegiatan para Wali/ Syeh, sehingga tidak sedikit para Ulama berdatangan dan konon datanglah pula seorang Ulama dari Indramayu dan meramalkan bahwa di Desa Darma kelak akan kedatangan seorang Kiai dari arah Timur laut dan Kiai tersebut akan memakmurkan Agama Isalam di Desa Darma.

Sebelum Ulama tersebut meninggalkan Desa Darma dan kembali ke Indramayu, beliau sempat memberi nama Desa “Darma” ( Kata “ Darma” mungkin berasal dari singkatan “Darul ma’i” yang atinya negara / tempat Air, karena di Desa Darma sangat subur dengan mata air. Atau mungkin Kata “Darma” merupakan penggalan dari kata “Darma Ayu” karena yang memberi nama “Darma” berasal dari Dermayu / Indramayu).



Dalam satu riwayat dikisahkan kedatanggan ulama dari Timur Laut ke Desa Darma yaitu dari Cigugur Kuningan diperkirakan tahun 1732 bernama K. H, Syekh Datuk Kaliputahbeliau datang ke Darma di undang oleh para Ulama kemudian dijodohkan dengan salah seorang janda paling cantik dan kaya raya di Desa Darma, untuk memperlancar kedatangan beliau ke Desa Darma beliau diberi satu ekor Kuda yang gagah dan kuat sehingga setiap datang ke Darma ia selalu memakai kuda. Selanjutnya Syeh Datuk Kaliputah menjadi Kuwu pertama di Desa Darma (diperkirakan tahun 1732 M).

Baca Juga :   Sejarah Singkat Kota Palopo (Sejarah dan Profil)

Beliu merintis dan memimpin Desa Darma di Bantu oleh para sesepuh lainnya untuk menyebarkan Agama Islam di sekitar Kecamatan Darma dibantu Oleh:

  1. Embah Marmagati Menyebarkan Agama Islam di Desa Gunungsirah.
  2. Syeh Ahmad Bin Huas menyebarkan Agama Islam di Desa Situ Sari.
  3. Embah Raden Bagus menyebarkan Agama Islam di Desa Kawah Manuk
  4. Embah Raja Barong menyebarkan Agama Islam Di Desa Cipasung.
  5. Syeh Ibrohim menyebarkan Agama Islam di Sukarasa.
  6. Embah Jaka menyebarkan Agama Islam di Desa Paninggaran.
  7. Embah Satori menyebarkan Agama Islam Di Desa Cageur
  8. Syeh Ahmad Aruman (Embah Rama Kopeng) menyebarkan Agama Islam di Desa Bakom.

Desa Darma benar-benar merupakan sebuah desa yang subur makmur lohjinawi pada sa’at itu hanya terdiri dari dua Kampung yaitu Kampung Dukuh Kidul dan Kampung Dukuh Kaler, kedua Kampung tersebut dibimbing oleh para Syeh yang berasal dari Banten dan berasal dari Cirebon.

Mayoritas penduduk kampung dukuh Kidul berasal dari keturunan Banten sedangkan penduduk kampung dukuh Kaler dibimbing oleh para syeh / Wali dari Cirebon. Dalam kehidupan sehari-hari Kedua perbedaan keturunan itu tidak menjadi penghalang sebab mereka sama-sama memiliki Visi dan Misi yang sama yaitu untuk menyebarkan Islam di Daerah Darma dan sekitarnya.

Baca Juga :   Sejarah Singkat Kabupaten Bengkalis (Sejarah dan Profil)

Pada mulanya penduduk Desa Darma sebagian besar masih jauh dari ajaran agama Islam mereka masih terpengaruh oleh paham Animisme dan Dinamisme, dimana setiap malam Jum’at atau malam selasa sering tercium aroma Kemenyan untuk memuja para dewa serta leuluhur, acara sesuguh / nyungsum pada pohon atau pada batu besar dan di tempat angker masih menjadi budaya masyarakat.

Pada malam hari para pria wanita berkumpul di tengah lapang Darma untuk menyaksikan kesenian Tayuban, dalam acara itu secara bergantian para penari/Ronggeng mengajak penonton untuk menari mengintari lapangan yang disetiap sudutnya hanya diterangai dengan lampu ancor, dan sebagai imbalannya para penari / Ronggeng diberi beberapa keping uang ebagai Tip yang diselipkan pada buah dada mereka. Dengan adanya budaya tersebut, tidak sedikit rumah Tangga mereka jadi berantakan.

Melihat kondisi yang demikian Para Ulama segera mengambil langkah untuk menghentikan kebiasaan itu, mereka berkumpul bermusyawarah untuk mencari jalan keluar guna menghentikan kebiasaan maksiat yang sangat dibenci Allah.

Dan hasil dari musyawarah itu, Para Penari/Ronggeng harus di tikah oleh para tokoh dan perangkat Desa. Dengan cara seperti itu tak lama kemudian Kesenian Tayuban pun hilang karena Para Penari/ Ronggeng Banyak yang ditikah/dimadu oleh Tokoh Masyarakat.


Sesuai dengan ramalan seorang Ulama Dari Indramayu bahhwa di Darma kelak Agama Islam Akan berkembang setelah kedatangan salah seorang Ulama dari arah Timur Laut Desa Darma, dan terbukti setelah kedatangan K.H. Muhammad Tohiri ke Desa Darma, Agama Islam semakin hari semakin berkembang.

Related posts