Pemikiran Hasan Hanafi Tentang Orientalisme dan Oksidentalisme | Makalah Pemikiran Hasan Hanafi Tentang Orientalisme dan Oksidentalisme | Penelitian Pemikiran Hasan Hanafi Tentang Orientalisme dan Oksidentalisme |
Pemikiran Hasan Hanafi Tentang Orientalisme dan Oksidentalisme
Hasan Hanafi sangat apresiatif terhadap konstruk teologi Mu’tazilah berikut ushul al-khamsah-nya. Hasan hanafi juga mengusung tinggitinggi pemikiran fiqh Maliki, sebab berpijak pada maslahah mursalah. Juga terhadap konsep filsafat rasional yang diusung oleh Ibnu Rusydi dan al-Kindi. Yang patut kita ambil dari tujuan revitalisasi ini adalah kebangkitan Islam universal yang bersumber pada khazanah intelektual klasik.
Hasan Hanafi melakukan kritik tajam terhadap hegemoni Barat. Hanafi merumuskan paradigma pikir yang ia sebut Oksidentalisme sebagai anti-tesa terhadap Orientalisme Barat. Untuk ini, ia menulis buku khusus berjudul Muqaddimah fi ‘Ilmi Istighrab, yang telah di-Indonesiakan dengan judul: Oksidentalisme (sikap sita terhadap tradisi barat). Ia mengajak umat Islam mengkritisi hegemoni kultural, politik, dan ekonomi Barat, yang dikemas di balik kajian Orientalisme.
Kritik Hasan Hanafi terhadap Orientalisme bertujuan, pertama: mengembalikan orientalisme pada situasi dan kondisi historisnya dimana ia muncul, kedua: menegaskan bahwa orientalisme bukan kajian permasalahan, tetapi permasalahan kajian. Orientalisme bukan ilmu murni yang menyingkapkan kebenaran, tetapi merupakan senjata di tangan negara-negara barat untuk mengecilkan ”aku”(ego) dan mendominasikan ”yang lain” (the other), lebih bertujuan menyingkapkan barat, rasionalitasnya, sejarahnya tujuannya dan metode-metodenya dari pada menyingkapkan permasalahan yang dikaji.
Para orientalis Barat pun tidak lagi hanya memfokuskan kajian keilmuan peradaban Timur saja, tetapi juga bagaimana cara menguasai dunia Timur dan demi tujuan penjajahan. Mereka menonjolkan keunggulan orang-orang Barat serta mengerdilkan segala yang terkait dengan Timur khususnya Islam. Mereka membalikkan sejarah dan mengesankan bahwa orang Islam adalah orang-orang yang bodoh dan terbelakang.
Keseluruhan fenomena seperti ini membangkitkan kesadaran dunia Timur dan Islam untuk juga melakukan kajian tentang segala sesuatu yang terkait dengan Barat, menandingi orientalisme, dan merebut kembali ego Timur yang telah direbut Barat. Kajian inilah yang selanjutnya dikenal dengan oksidentalisme.
Hasan Hanafi meletakkan Oksidentalisme sebagai bagian terpenting dari realisasi. Ia mengakui bahwa Barat yang dalam buku edisi berbahasa arabnya dibahasakan dengan istilah al-akhar ( the other) adalah pendatang utama dan juga sumber pengetahuan ilmiah dalam kesadaran kita. Sebagai pendatang utama dan sumber pengetahuan, Barat menduduki posisi yang sangat penting. Kedudukan yang demikian pentingnya ini, menurut Hanafi tidak pernah dikritisi secara serius oleh kalangan Islam. Memang selama ini sudah ada kritik namun kritik yang dilakukan masih dalam batas-batas yang sangat sempit. Salah satu kelemahan kritik dunia Islam terhadap Barat terletak pada gaya dan metodenya yang sangat bersifat retorik dan dialektik. Seharusnya kritik melibatkan pendekatan kritis dan memakai logika demonstratif serta empirisinduktif.
Secara idiologi Oksidentalisme versi Hasan Hanafi diciptakan dengan maksud sebagai alat untuk menghadapi Barat yang memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran peradaban kita. Barat dimaksud adalah Westernisme. Dengan munculnya Oksidentalisme ini diharapkan posisi Timur yang selama ini dijadikan sebagai obyek kajian dan posisi Barat yang menjadi subyek kajian bisa berubah bentuk relasinya. Selain itu, melalui pendekatan Oksidentalisme ini Hanafi ingin mendobrak dan mengakhiri mitos Barat sebagai representasi dan pemegang supremasi dunia. Selama ini kedudukan Barat sebagai pengkaji Timur telah menimbulkan stereotipe dan kompleksitas tertentu, antara lain sikap superioritas Barat. Dan sebaliknya keberadaan Timur sebagai obyek kajian dan juga telah menimbulkan kompleksitas kompleksitas antara lain sikap inferioritas Timur. Kondisi semacam ini yang akan diusahakan oleh Hanafi untuk diluruskan agar mencapai kedudukan historis dan sebuah titik keseimbangan antara Barat dan Timur.
Meskipun dengan nada yang keras dan kritis, Oksidentalisme Hanafi tidak bermaksud melakukan pembalikan secara total dalam pengertian menggantikan posisi yang pernah dimainkan oleh Orientalisme. Apabila Orientalisme dulu berposisi tidak netral dan lebih banyak didominasi oleh struktur kesadaran Eropa yang dibentuk oleh peradaban modern, maka Hanafi merancang Orientalisme sebagai wacana keilmuan yang netral. Di sini Oksidentalisme sama sekali bukan sebagai alat imprealisme dan juga tidak akan berambisi kepada dominasi kursif dan hak kontrol atas yang lain. Tujuan sederhana Oksidentalisme menurut Hanafi adalah melakukan pembebasan diri dari pengaruh pihak lain agar terdapat kesetaraan antara al-ana yakni dunia islam dan Timur pada umumnya, dan alakhar yakni dunia Eropa dan Barat pada umumnya.
Dengan rendah hati Hanafi menyatakan bahwa Oksidentalisme melainkan sebuah hubungan dialektis yang saling mengisi dan melakukan kritik antara yang satu terhadap yang lain sehingga terhindar dari relasi hegemonik dan dominatif dari dunia Barat atas dunia Timur. Karenanya, upaya upaya pembaikan yang dilakukan Hanafi tidak dilaksanakan dengan cara-cara yang mendompleng kepada sikap-sikap yang menindas sebagaimana yang dilakukan oleh Oksidentalisme selama ini. Melalui Oksidentalisme ini, Hanafi mencoba menciptakan keseimbangan baru yang tidak didasarkan kepada tujuan-tujuan eksploitatif dan manipulatif terhadap Barat. Oksidentalisme adalah tugas sejarah dan tentunya tidak pada tempatnya kalau hanya diserahkan kepada seorang Hasan Hanafi. Semua kalangan bisa ambil bagian.
Oksidentalisme yang digagas Hanafi berpijak dari tiga pilar pembaharuan yang diusungnya melalui proyek Tradisi dan Pembaharuannnya (at-Turats wa at-Tajdid), yaitu: sikap kritis terhadap tradisi lama, sikap kritis terhadap barat, dan sikap kritis terhadap realitas. Jika pilar pertama berinteraksi dengan kebudayaan warisan, maka pilar kedua berinteraksi dengan kebudayaan pendatang. Kedua-duanya tertuang dalam realitas di mana kita hidup.
- Sikap kritis terhadap tradisi lama. Menurut Hanafi, pilar pertama ini dapat membantu menghentikan westernisasi sebagai permulaan dari upaya rekonstruksi terhadap ego ketimuran. Sehingga mereka dapat menghindari penetrasi pemikiran Barat ke dalam tradisi umat yang mengakibatkan terjadinya pertikaian antara pendukung kelompok pembela ortodoks (al-Anshar al-qadim) dan kelompok pembela modern (al-Anshar al-jadid), serta menghapuskan keterpecahan kepribadian bangsa. Selain itu, pemikiran Islam dapat memberikan keteladanan dalam mempertahankan identitas dan memerangi westernisasi.
- Sikap kritis terhadap tradisi barat atau yang biasa disebut oksidentalisme. Hanafi menekankan perlunya reorientasi terhadap dunia Barat, karena pada dasarnya oksidentalisme diciptakan untuk menghadapi westernisasi, yang di antaranya dijalankan melalui orientalisme, yang memiliki pengaruh luas tidak hanya pada budaya dan konsepsi kita tentang alam, tetapi juga mengancam kemerdekaan peradaban kita serta seluruh gaya hidup keseharian kita.
- Hanafi menjelaskan bahwa pilar ketiga ini menghadapi tujuh tantangan, yaitu: Pertama, membebaskan tanah air dari serangan eksternal kolonialisme dan zionisme. Kedua, kebebasan universal melawan penindasan, dominasi dan kediktatoran dari dalam. Ketiga, keadilan sosial menghadapi kesenjangan lebar antara kaum miskin dan kaya. Keempat, persatuan menghadapi keterpecahbelahan dan diaspora. Kelima, pertumbuhan melawan keterbelakangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Keenam, identitas diri menghadapi westernisasi dan kepengikutan. Ketujuh, mobilisasi kekuatan massa melawan apatisme.
Dengan berpijak dari tiga pilar tersebut, oksidentalisme berakumulasi pada urgensi dialog egaliter yang mengisyaratkan pola “kritik ke dalam” dan sekaligus “kritik ke luar”, Hanafi berjuang menciptakan keberimbangan antara Timur dan Barat, baik dalam peradaban, budaya, ilmu pengetahuan, maupun relasi antar agama.
Beberapa Penelitian Pemikiran Hasan Hanafi Tentang Orientalisme dan Oksidentalisme
Berikut adalah beberapa penelitian “Pemikiran Hasan Hanafi Tentang Orientalisme dan Oksidentalisme” :
Hasan Hanafi Dan Mohammad Arkoun: Kritik Metodologi Atas Orientalisme, oleh Moh. Saifulloh
Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Moh. Saifulloh dengan judul Hasan Hanafi Dan Mohammad Arkoun: Kritik Metodologi Atas Orientalisme dalam Jurnal Sosial Humaniora Vol 1, No 1 (2008)
Hasan Hanafi dengan Kiri Islam dan Oksidentalismenya bermaksud mengkritisi agar posisi Timur sebagai obyek kajian dan posisi Barat yang menjadi subyek kajian bisa berubah bentuk relasinya. Dengan Oksidentalisme ini Hanafi ingin mendobrak dan mengakhiri mitos Barat sebagai representasi dan pemegang supremasi dunia. Kondisi semacam ini yang akan diusahakan oleh Hanafi untuk diluruskan agar mencapai kedudukan historis dan sebuah titik keseimbangan antara Barat dan Timur. Dan tentunya tidak dapat kita serahkan hanya pada seorang Hasan Hanafi, akan tetapi membutuhkan peran kita bersama.
Oksidentalisme Sebagai Pilar Pembaharuan, oleh Abdurrohman Kasdi dan Umma Farida
Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Abdurrohman Kasdi dan Umma Farida dengan judulOksidentalisme Sebagai Pilar Pembaharuan dalam Jurnal Fikrah, Vol. I, No. 2, Juli-Desember 2013
Oksidentalisme mengupayakan kenetralan kemampuan ego dalam memandang the other, mengkajinya, dan mengubahnya menjadi obyek, setelah sekian lama the other menjadi subyek yang menjadikan pihak lain sebagai obyek. Namun, oksidentalisme tidak berambisi merebut kekuasaan, melainkan hanya menginginkan pembebasan. Oksidentalisme bertujuan mengakhiri mitos Barat sebagai representasi seluruh umat manusia dan sebagai pusat kekuatan, sekaligus melenyapkan inferioritas Timur serta mengembalikan ego ketimurannya.
Salah satu alternatif menyikapi Barat yaitu melalui ide demitologisasi Barat dan mendorong adanya penyeimbangan perspektif netral antara ego (Timur) dengan the other (Barat). Relasi keduanya harus direkonstruksi kembali dari hierarkinya yang superior dan inferior menuju model dialektika yang berimbang. Wallahu A’lam






