Paragraf Deduksi dan Paragraf Induksi | Pengertian Paragraf Deduksi dan Paragraf Induksi | Ciri-Ciri Paragraf Deduksi dan Paragraf Induksi | Contoh Paragraf Deduksi dan Paragraf Induksi |
Pengertian Paragraf Deduksi dan Paragraf Induksi
Pengertian Paragraf Deduksi
Paragraf deduksi adalah paragraf yang kalimat utamanya berada di awal paragraf, lalu diikuti dengan kalimat penjelas. Jadi, ketika membaca suatu paragraf yang ada di dalam sebuah karya tulis, kemudian menemukan pikiran utama atau gagasan utama berada di awal paragraf, maka paragraf tersebut termasuk jenis paragraf deduksi.
Pengertian Paragraf Induksi
Paragraf Induksi adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di akhir paragraf. Dari pengertian yang telah diungkapkan oleh Santoso dalam bukunya yang berjudul Paragraf, Bermain Kata Menggayakan Kalimat dapat dikatakan bahwa penuis akan memberikan fakta-fakta dan uraian-uraian terlebih dahulu yang mengerucut kepada pikiran utama atau gagasan utama.
Ciri-Ciri Paragraf Deduksi dan Paragraf Induksi
Ciri-Ciri Paragraf Deduksi
- Gagasan utama atau kalimat utama pada sebuah paragraf berada di bagian awal paragraf.
- Gagasan pendukung atau kalimat penjelas merupakan penjelasan atau uraian dari kalimat utama.
- Kalimat utama mengandung pernyataan umum.
- Paragraf memiliki pola umum – khusus – khusus – khusus.
Ciri-Ciri Paragraf Induksi
- Gagasan utama atau kalimat utama dari sebuah paragraf ada di bagian akhir paragraf.
- Kalimat penjelas yang biasanya berisi uraian atau fakta berada di bagian awal paragraf.
- Kalimat utama merupakan simpulan dari semua gagasan atau kalimat-kalimat yang ada pada sebuah paragraf.
- Paragraf memiliki pola khusus – khusus – umum.
Contoh Paragraf Deduksi dan Paragraf Induksi
Paragraf
Ketahanan pangan Indonesia terbukti berkelanjutan secara sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan jika dibangun dengan basis sumber daya lokal. Keyakinan tersebut sudah mengemuka sejak tahun 1980- an, bahkan ketika ketahanan pangan nasional akhirnya bergantung hanya pada beberapa komoditas, utamanya beras sebagai sumber karbohidrat.
Ketergantungan pada beras sebagai sumber utama energi berlanjut hingga kini di tengah bukti-bukti akademis bahwa Indonesia mempunyai banyak sumber pangan lain yang dapat menggantikan beras. Salah satu sumber pangan tersebut adalah sagu. Potensi sagu yang dimiliki oleh Indonesia sangat luar biasa karena Indonesia memiliki hutan sagu terluas di dunia. Hampir semua tanaman sagu kita tumbuh di Papua dan Papua Barat. Meskipun merupakan potensi pangan yang besar, perhatian pada sagu masih minim. Salah satu indikasinya adalah data luas hutan sagu, angkanya berkisar 1,4 juta hektar hingga 5,5 juta hektare.
Pemanfaatan sagu sebagai bahan pangan, sumber pendapatan masyarakat, dan pemanfaatan lain masih terbatas. Harian Kompas melaporkan kemarin, salah satu upaya pemanfaatan sagu dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Papua dan Dinas Ketahanan Pangan Papua. Kedua lembaga itu membangun kelompok kampung penghasil sagu. Warga di dalam kelompok kampung itu diperkenalkan teknologi pemanenan dan pengolahan sagu menjadi tepung menggunakan alat buatan I Made Budi, pengajar di Universitas Cenderawasih. Teknologi tepat guna ini berhasil meningkatkan produksi sagu dan pendapatan warga.
Meskipun program ini baru berjalan sejak awal tahun 2019, keberanian mencoba telah memberikan hasil. Keberhasilan salah satu kampung di Papua tersebut telah membuka kesempatan untuk mereplikasi sistem ini untuk daerah lain. Baik itu daerah yang menghasilkan sagu maupun wilayah yang sumber pangannya bukan sagu.
Program pengelompokan kampung sagu tersebut memperlihatkan pendekatan sosial dan ekonomi pada masyarakat berperan lebih penting dalam keberhasilan daripada sekadar menyediakan dana dan peralatan. Penggunaan teknologi sesederhana apa pun membutuhkan budaya baru. Program ini sekaligus mengajak masyarakat memasuki cara hidup rasional dan terbuka terhadap perubahan.
Sekarang ini, sumber pangan lokal telah beradaptasi dengan lingkungan setempat sehingga mengurangi jejak karbon karena diproduksi lokal. Dengan demikian, dari pengolahan pangan lokal ini telah membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Kegiatan ini juga telah menjadikan produk pangan lokal telah menjadi sumber ekonomi yang bersumber pada masyarakat sehingga menguatkan komunitas yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, dari inisiatif di Papua, pemerintah, dan masyarakat dapat mengambil langkah konkret memetakan kembali sumber pangan lokal sebagai dasar membangun ketahanan pangan yang dapat diandalkan.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar. Tidak sedikit kekayaan hayati tersebut dimanfaatkan negara lain dan kita tidak mendapat apa pun. Di tengah bukti-bukti terjadinya perubahan iklim, sudah saatnya kita menaruh perhatian pada sumber pangan lokal untuk menjamin keberlanjutan hidup kita.
Penjelasan Per Paragraf
- Paragraf 1: Ketahanan pangan sangat penting untuk diperkuat sekarang ini. (pengembangan deduksi)
- Paragraf 2: Melansir data Badan Pusat Statisik (BPS), impor beras mencapai 2,25 juta ton pada 2018. (pengembangan deduksi).
- Paragraf 3: Ketergantungan pada beras juga menjadi ironi di tengah besarnya kekayaan sumber daya alam negeri ini berupa ragam sumber hayati penghasil karbohidrat tinggi. (pengembangan deduksi).
- Paragraf 4: Penyeragaman konsumsi beras di Indonesia membuat makanan pokok lokal terabaikan. (pengembangan induksi).
- Paragraf 5: Dengan demikian konsumsi pangan lokal sebagai sumber karbohidrat lain pun diharapkan terus meningkat. (pengembangan induksi).
- Paragraf 6: Kementerian Pertanian mengajak seluruh gubernur dan bupati/wali kota untuk bersinergi menguatkan gerakan diversifikasi pangan ini dalam upaya mengukuhkan ketahanan pangan. (pengembangan deduksi).
- Paragraf 7: Upaya diversifikasi pangan lokal ini ditargetkan menurunkan konsumsi beras dari 94,9 kg per kapita per tahun menjadi 85 kg per kapita per tahun pada 2024. (pengembangan deduksi).
- Paragraf 8: Pemerintah tidak bisa tiba-tiba memaksakan kebijakan diversifikasi pangan jika produksi pangan lokal, seperti umbi-umbian, di setiap wilayah belum bisa ditingkatkan. (pengembangan deduksi)






