Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 61, 62, 63, 64, 65 Kurikulum 2013 (K-13) Revisi

kunci jawaban tematik kelas 1, 2, 3, 4, 5, 6

Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 61, 62, 63, 64, 65 | Kurikulum 2013 | K-13 Revisi | Cita-Citaku | Hebatnya Cita-Citaku |

Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 61, 62, 63, 64, 65

Apakah kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaan ada di dalam buku pelajaran Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 61, 62, 63, 64, 65? Kamu sekarang berada di tempat yang tepat.

Di bawah ini akan dihadirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di Halaman 61, 62, 63, 64, 65. Hal ini supaya kamu mudah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Upss… ini bukan anjuran untuk mencontek yah. Terlebih WISLAH sekarang sudah punya TANYA.WISLAH.COM yang menyajikan semua soal berserta jawaban dari berbagai tugas yang diberikan guru.

Model memberikan jawaban ini, kami niatkan untuk melatih kamu mengukur akurasi pemahaman kamu atas pertanyaan yang ada. Dan belajar konsep besar dari alur dari sebuah bahasan. Karena tidak mungkin kumpulan soal termasuk soal bahasan ini (Soal dalam Tema 6 Kelas 4 Halaman 61, 62, 63, 64, 65) dibuat tidak berdasar struktur logika yang runut dan terstruktur. 

Jawaban Tema 6 Kelas 4 Halaman 61, 62, 63, 64, 65

Amati gambar pada buku paket

Apakah kamu mengetahui jenis pekerjaan yang dilakukan orang pada gambar tersebut?

Jawab:

Pada gambar itu, terdapat seorang siswa berkebutuhan khusus yang sedang belajar.

Kemudian, seorang guru membantu siswa memahami tugas yang diberikan.

Apakah kamu mengetahui jenis pekerjaan yang dilakukan orang pada Apa gambar tersebut?

Jawab:

Jenis pekerjaan adalah guru.

Ayo Membaca

Kisah Seorang Guru Anak Berkebutuhan Khusus

Seorang wanita muda terpanggil untuk menjadi seorang guru.

Bukan sembarang guru, melainkan guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Semuanya berawal dari kepeduliannya terhadap kurangnya anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia yang sesuai.

Sangita Lachman, nama wanita muda itu.

Ia adalah seorang dokter yang beralih profesi menjadi seorang guru anak-anak prasekolah.

Pada awalnya, ia mengajar anak-anak prasekolah untuk mengisi waktu luangnya.

Akan tetapi, lama kelamaan, ia mencintai kegiatannya itu.

Baginya, mengajar anak-anak prasekolah membuatnya mengerti tumbuh kembang anak yang akan memengaruhinya saat mereka kelak.

Pada saat mengajar anak-anak prasekolah, ia menemui beberapa siswanya yang berkebutuhan khusus, seperti anak yang menderita autis atau kesulitan belajar lainnya.

Anak-anak ini memerlukan cara pengajaran dan bimbingan khusus yang berbeda dengan anak yang tidak berkebutuhan khusus.

Ia melihat saat itu tidak banyak sekolah yang tahu bagaimana mengajar anak-anak tersebut.

Sangita kemudian memutuskan untuk menimba ilmu dan keterampilan yang membantunya untuk memahami anak-anak tersebut.

Dengan demikian ia dapat menjadi guru yang baik bagi anak-anak tersebut.

Berdasarkan bacaan di atas, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

1. Siapakah Sangita Lachman?

Jawab:

Sangita Lachman merupakan seorang dokter yang beralih profesi menjadi seorang guru anak-anak prasekolah.

2. Mengapa ia ingin menjadi guru?

Jawab:

Sangita ingin menjadi guru karena mengajar anak-anak prasekolah membuatnya mengerti tumbuh kembang anak yang akan memengaruhi mereka.

3. Sikap apakah yang ditunjukkan oleh Sangita untuk menjadi guru yang baik?

Jawab:

Sikap kepeduliannya terhadap kurangnya anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia.

Kemudian, kesabaran dalam membimbing siswa berkebutuhan khusus dan mengalami kesulitan belajar.

4. Menurutmu, sikap apakah yang diperlukan untuk menjadi guru yang baik?

Jawab:

Sabar, peduli, dan ramah.

Cita-Citaku

Karya: M. Ridwan Hafidz

Cita-citaku ingin menjadi dokter

Agar dapat menyembuhkan orang yang sakit

Cita-citaku ingin menjadi dokter

Agar anak-anak menjadi sehat

Aku harus belajar dengan sungguh-sungguh

Agar dapat menggapai citaku itu

Aku harus belajar dengan sungguh-sungguh

Agar menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa

Berdasarkan puisi tersebut, diskusikanlah bersama teman sekelompokmu untuk menjawab pertanyaan berikut!

1. Apakah judul puisi tersebut?

Jawab:

Cita-Citaku

2. Siapakah yang membuat puisi tersebut?

Jawab:

M. Ridwan Hafidz

3. Bercerita tentang apakah puisi tersebut?

Jawab:

Seseorang yang mempunyai cita-cita jadi seorang dokter.

4. Apakah yang membedakan puisi tersebut dengan bacaan sebelumnya?

Jawab:

Puisi berisi seorang anak yang memiliki cita-cita menjadi dokter.

Sementara pada bacaan sebelumnya, bercerita tentang profesi sebagai guru.

5. Buatlah sebuah gambar yang dapat mewakili isi puisi tersebut!

Siswa silakan menggambar sesuai dengan puisi tersebut.

Jawaban disesuaikan pendapat masing-masing siswa

Bonus Cerita Anak SD: Aladin dan Lampu Ajaib

Aladin dan Lampu Ajaib

Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh, Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, jika tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. “Kraak…” tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.

Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. “Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu”, seru si penyihir. “Tidak, aku takut turun ke sana”, jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. “Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu”, kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. “Cepat berikan lampunya !”, seru penyihir. “Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar”, jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya “Brak!” pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. “Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !”, ucap Aladin.

Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. “Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan”, saya adalah peri cincin kata raksasa itu. “Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah.” “Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini”, ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. “Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan.”

Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. “Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini?”, kata Ibu sambil menggosok untuk membersihkan lampu itu. “Suuuut !” Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. “Sebutkanlah perintah Nyonya”, kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini berkata, ”kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami”. Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. “Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu”, kata si peri lampu.

Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. “Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya”. Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. “Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku.” Raja amat senang. “Wah…, anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku”.

Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. “Tuan, ini Istananya”. Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. “Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu?”, tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.

Di tempat nan jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, “tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !”. Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.

Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. “Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku”, seru Aladin. “Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu,” ujar peri cincin. “Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan aku kesana”, seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. “Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir”, ujar sang Putri. “Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang”, jawab Aladin.

Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. “Singkirkan penjahat ini”, seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. “Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia”. Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.

Related posts