Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 112, 113, 114, 115 | Kurikulum 2013 | K-13 Revisi | Cita-Citaku | Giat Berusaha Meraih Cita-Cita |
Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 112, 113, 114, 115
Apakah kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaan ada di dalam buku pelajaran Tema 6 Kelas 4 SD Halaman 112, 113, 114, 115? Kamu sekarang berada di tempat yang tepat.
Di bawah ini akan dihadirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di Halaman 112, 113, 114, 115. Hal ini supaya kamu mudah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Upss… ini bukan anjuran untuk mencontek yah. Terlebih WISLAH sekarang sudah punya TANYA.WISLAH.COM yang menyajikan semua soal berserta jawaban dari berbagai tugas yang diberikan guru.
Model memberikan jawaban ini, kami niatkan untuk melatih kamu mengukur akurasi pemahaman kamu atas pertanyaan yang ada. Dan belajar konsep besar dari alur dari sebuah bahasan. Karena tidak mungkin kumpulan soal termasuk soal bahasan ini (Soal dalam Tema 6 Kelas 4 Halaman 112, 113, 114, 115) dibuat tidak berdasar struktur logika yang runut dan terstruktur.
Jawaban Tema 6 Kelas 4 Halaman 112, 113, 114, 115

Amatilah gambar di atas dengan saksama!
Ceritakan pendapatmu tentang kondisi kedua sungai tersebut kepada teman.
Menurutmu, siapakah yang berperan untuk mengubah sungai tersebut? Ternyata semuanya berasal dari satu orang yang peduli dan bertekad baja!
Jawaban:
Kondisi kedua sungai tersebut jauh berbeda.
Gambar pertama terlihat sungai yang dahulunya memiliki air keruh dan bau.
Banyak sampah yang mengapung.
Tanaman di sekitarnya juga tidak tumbuh dengan subur.
Sementara di gambar kedua terlihat sungai yang bersih.
Airnya jernih tidak ada kotoran yang mencemari.
Tanaman di sekitarnya pun tumbuh subur sehingga terlihat sangat asri.
Menurutku, yang berperan untuk mengubah kondisi sungai tersebut adalah masyarakat yang tinggal di sekitar sungai.
Si Pendekar Kali Pesanggrahan
Keinginan untuk kembali melihat Kali Pesanggrahan di Jakarta yang bersih, membuat H. Chaerudin atau yang dikenal dengan Bang Idin berpetualang menyisiri bantaran sungai tersebut. Kali Pesanggrahan yang dulunya tempat ia bermain air bersama teman- temannya telah berubah menjadi kali yang kotor, penuh sampah, berwarna hitam, dan bau.
Dengan berbekal golok dan tekad yang besar, ia mulai menyusuri bantaran sungai itu untuk melihat tingkat kerusakannya. Ia pun mulai membersihkan sampah-sampah yang menutupi sungai tersebut.
Banyak anggota masyarakat yang menentangnya karena dianggap sebagai perusuh. Kegiatannya banyak terhalang justru oleh masyarakat sekitar sungai yang tidak memahami tujuan kegiatannya.
Akan tetapi, ia tidak marah. Baginya, untuk menyadarkan orang lain tidak perlu membalasnya dengan kekerasan. Ia melakukan berbagai cara untuk membuat masyarakat sekitar sungai sadar pentingnya merawat sungai sebagai sumber daya alam mereka.
Akhirnya, berkat kesabaran dan tekad kuat, lambat laun, kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Bang Idin kemudian juga mengajak teman- temannya sesama petani penggarap untuk mengikuti langkahnya. Kini, mereka berhasil menanam 40 ribuan pohon produktif di sepanjang bantaran kali.
Burung-burung yang dulunya pergi akhirnya kembali. Mata air yang dulu tertutup sampah, kembali hidup. Air kali Pesanggrahan kini sudah normal kembali. Ikan-ikan bisa hidup dan berkembang biak. Sepanjang tepian Kali Pesanggrahan menjadi hijau.
Burung-burung berkicau setiap hari. Bahkan burung Cakakak yang bersarang di tanah dan sudah jarang ditemui di wilayah lain di Jakarta, kini juga bisa ditemukan. Pohon-pohon yang mulai langka di Jakarta dapat dijumpai di sini. Belum lagi tanaman obat yang jumlahnya mencapai 142 jenis.
Di balik sikap kerasnya, pria kelahiran 13 April 1956 ini ingin membuktikan, hanya orang yang benar- benar memahami alam yang dapat menyelamatkannya. Di tangan Bang Idin, Kali Pesanggrahan yang kotor dengan bantaran yang tak terurus berubah menjadi lahan produktif dan alami.
Berdasarkan bacaan tersebut, lakukanlah kegiatan berikut ini! Lengkapilah diagram berikut ini berdasarkan bacaan tersebut!

Jawaban:
– Cita-cita Bang Adin:
Cita-cita Bang Adin kembali melihat Kali Pesanggrahan di Jakarta yang bersih.
– Halangan yang dihadapi:
Banyak anggota masyarakat yang menentangnya karena dianggap sebagai perusuh saat membersihkan sampah-sampah di sungai.
– Sikap yang dimiliki:
Tidak mudah putus asa, sabar, peduli lingkungan
– Usaha yang dilakukan:
Ia melakukan berbagai cara untuk membuat masyarakat sekitar sungai sadar pentingnya merawat sungai sebagai sumber daya alam mereka.
Bang Idin kemudian juga mengajak teman-temannya sesama petani penggarap untuk menanam 40 ribuan pohon produktif di sepanjang bantaran kali.
Apa kesimpulanmu terhadap usaha Bang Idin untuk meraih cita-citanya?
Jawaban:
Dengan tekad dan kerja keras akhirnya Bang Adin mampu mengubah Kali Pesanggrahan yang kotor dengan bantaran yang tak terurus menjadi lahan produktif dan alami.
Penjaga Alamku
Karya: D. Karitas
Kau tidak pernah lelah
Kau tidak pernah putus asa
Kau tidak pernah menyerah
Mencintai alam di mana kau dibesarkan
Angin dan badai adalah sahabatmu
Hujan dan panas adalah penolongmu
Air sungai adalah kehidupanmu
Alammu adalah ibumu
Maka engkau menjaganya
Maka engkau memeliharanya
Maka engkau merawatnya
Karena alam adalah ibumu
Setelah membacanya dengan saksama, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
1. Berkisah tentang apakah puisi tersebut?
Jawaban:
Puisi tersebut berkisah tentang orang yang menjaga alam.
2. Usaha apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga alam?
Jawaban:
Tidak pernah lelah untuk menjaga, memelihara dan merawat alam.
3. Mengapa alam dalam puisi di atas disebut sebagai ibu?
Jawaban:
Karena alam sangat berperan penting bagi kehidupan manusia.
Bonus Cerita Anak SD: Nimmy Nimmy Not
Nimmy Nimmy Not
Pada suatu masa, ada seorang wanita yang memasak 5 buah kue. Dan saat kue itu dikeluarkan dari oven, terdapat sedikit bagian pinggiran yang keras karena hangus. Karena itu dia berkata kepada putrinya:
“Putriku, simpanlah kue-kue ini ke atas rak, dan biarkanlah kue itu disana sementara waktu, karena bagian yang sedikit hangus, akan perlahan-lahan menjadi lunak nantinya.”
Tetapi putrinya salah mendengarkan perintah ibunya dan menyangka ibunya menyuruh ia untuk memakan semua kue tersebut sehingga Ia pun memakan semua kue-kue itu sekaligus.
Saat makan siang tiba, sang Ibu meminta agar anaknya mengambil kue yang berada di atas rak, tetapi putrinya berkata bahwa kue tersebut telah habis di makannya. Sang Ibu menjadi sedikit kecewa, mengambil alat pemintalnya dan mulai memintal sambil bernyanyi:
“Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini.”
“Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini.”
Seorang raja yang kebetulan lewat dan mendengarnya menyanyi, datang mendekat karena ingin mendengar lebih jelas syair lagu yang dinyanyikan oleh sang Ibu. Sang Raja pun bertanya,
“Apa yang engkau nyanyikan, wahai ibu yang baik?”
Sang Ibu yang merasa malu apabila sang Raja mendengar apa yang diperbuat oleh putrinya, mengubah syair lagunya menjadi:
“Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.”
“Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini.”
“Wah!” kata sang Raja, “Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mampu berbuat seperti itu.”
Kemudian dia berkata lagi: “Saya sudah lama ingin mencari pendamping hidup, dan saya akan menikahi putrimu dengan beberapa persyaratan,” katanya lebih lanjut, “sebelas bulan pertama, dia boleh memakan apapun yang dia inginkan dan memakai pakaian dan gaun apapun yang dia sukai, memiliki pelayan berapapun yang dia inginkan; tetapi pada akhir bulan, dia harus memintal 5 gulungan emas setiap hari, jika tidak, putrimu akan saya hukum dan penjarakan di menara selama-lamanya.”
“Baiklah,” kata sang Ibu; sambil berpikir betapa mewahnya pernikahan putrinya nanti. Dan mengenai 5 gulungan emas, saat waktunya tiba, bermacam-macam alasan akan dicari untuk menghindari kewajiban tersebut dan sepertinya sang Raja juga akan melupakan persyaratannya.
Tidak berapa lama, menikahlah putrinya dengan sang Raja. Dan selama sebelas bulan, sang Putri makan apapun yang diinginkan, mengenakan pakaian dan gaun yang dia sukai, dan memiliki pelayan sebanyak yang diiginkannya.
Waktu tidak terasa berlalu hingga bulan ke-sebelas hampir tiba, dan sang Putri mulai menebak-nebak pikiran sang Raja yang telah menjadi suaminya mengenai gulungan benang emas yang dijanjikannya. Tetapi sang Raja tidak pernah menyinggung apapun hal mengenai benang emas.
Akhirnya di hari terakhir di bulan ke-sebelas, sang Raja membawanya ke suatu ruangan yang tidak pernah dilihatnya sama sekali, dan di ruangan tersebut hanya terdapat alat pemintal dan bangku tempat duduk. Lalu sang Raja berkata, “Sekarang telah tiba saatnya, mulai hari esok, pelayan akan membawakan kamu jerami untuk dipintal dan kamu harus tetap berada di ruangan ini untuk memintal 5 gulungan benang emas setiap malam atau kamu akan mendapatkan hukuman.”
Saat itu, sang Putri menjadi sangat takut karena dia sendiri tidak terlalu tahu memintal. Apa yang bisa diperbuat besok apabila tidak ada orang yang datang menolongnya? Dia lalu ke dapur, duduk di sebuah bangku dan menangis.
Saat itu didengarlah sebuah suara yang mengetuk pintu dapur, dan saat dia berdiri dan membuka pintu, dia melihat satu makhluk hitam yang aneh dan memiliki ekor panjang, memandangnya dan bertanya kepadanya:
“Apa yang engkau tangisi?”
“Mengapa engkau menanyakan hal itu?” kata sang Putri.
“Tidak apa-apa,” katanya makhuluk itu lagi, “kamu dapat menceritakannya kepadaku.”
“Tapi ini tidak akan merubah keadaan walaupun saya menceritakannya,” kata sang Putri.
“Kamu belum tentu benar,” katanya sambil memutar-mutarkan ekornya.
“Baiklah,” kata sang Putri sembari menceritakan semua kisahnya tentang kue, gulungan benang emas dan lainnya.
“Ini yang akan saya lakukan,” kata makhluk hitam itu, “Saya akan datang ke jendelamu setiap pagi dan membawa pergi jerami untuk saya pintal menjadi benang emas dan setiap malam saya akan memberikan kamu hasil pintalanku.”
“Apa yang kamu minta sebagai pembayaran?” kata sang Putri.
“Saya akan memberi kamu kesempatan 3 kali menebak namaku, dan jika kamu tidak bisa menebaknya dalam 1 bulan, kamu akan menjadi milik saya.”
Karena sang Putri berpikir bahwa dia akan berhasil menebak sebelum bulan 12 berakhir, dia menyetujui persyaratan itu.
Keesokan harinya, sang Raja membawanya kembali ke ruangan pintal yang telah penuh dengan jerami.
“Itu adalah jerami yang harus kamu pintal menjadi gulungan benang emas,” katanya, “apabila tidak selesai, kamu akan saya hukum.” Sang Raja pun beranjak pergi dan mengunci pintu.
Tidak terlalu lama kemudian, sang Putri mendengarkan ketukan pada jendelanya.
Sang Putri lalu berdiri dan membuka jendela, saat itu dilihatnya makhluk hitam yang ditemui kemarin.
“Mana jeraminya?” tanya makhluk itu.
“Ini dia,” kata sang Putri sambil memberikan jerami kepadanya.
Saat malam tiba, makhluk tersebut datang dan mengetuk kembali jendelanya, lalu memberikannya 5 gulungan benang emas.
“Ini yang saya janjikan,” katanya.
“Sekarang, tebaklah siapa namaku?” katanya kembali.
“Apakah namamu Bill?” tebak sang Putri.
“Bukan, namaku bukan itu,” kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya.
“Apakah namamu Ned?” tebak sang Putri lagi.
“Bukan, namaku bukan itu,” kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya.
“Apakah namamu Mark?” tebak sang Putri lagi.
“Bukan, bukan itu,” katanya lalu pergi.
Saat sang Raja masuk ke dalam ruangan, dilihatnya 5 buah gulungan benang emas telah siap. “Saya lihat kamu telah menjalankan tugasmu,” katanya, “Kamu akan mendapatkan jerami dan makanan lagi pada keesokan pagi,” katanya sambil beranjak pergi.
Kejadian tersebut berulang terus-menerus, setiap hari jerami dan makanan dibawa masuk ke ruang pintal, setiap hari makhluk itu datang mengambil jerami dan malamnya memberikan gulungan benang emas, dan setiap kali pula sang Putri tidak pernah menebak dengan benar nama makhluk hitam itu, hingga tiba pada hari sebelum hari terakhir di bulan tersebut, sang Makhluk itu datang membawakan 5 gulungan benang emas. Wajah makhluk itu menjadi terlihat sangat jahat, dengan mata yang menyala seperti bara api, makhluk itu berkata: “Besok adalah hari terakhir, dan kamu akan menjadi milik saya!” lalu sang Makhluk berangkat pergi.
Sang Putri menjadi sangat ketakutan, tapi malam itu juga sang Raja datang ke ruang pintal dan setelah melihat 5 gulungan telah tersedia, sang Raja berkata:
“Sayangku, saya lihat kamu telah menyelesaikan janji mu, setelah keesokan hari, kamu akan terbebas dari hukuman. Mari kita rayakan dengan makan malam bersama.”
Saat mereka makan, sang Raja tiba-tiba berhenti makan lalu tertawa.
“Apa yang membuat paduka tertawa?” tanya sang Putri.
“Beberapa hari yang lalu, saya berburu dan tiba di suatu hutan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dan di hutan itu saya menemukan sebuah gua kecil. Dari dalam gua tersebut, saya mendengar sebuah nyanyian. Dengan diam-diam saya masuk ke dalam gua tersebut dan melihat ke dalamnya. Saya melihat makhluk terlucu yang pernah saya lihat seumur hidup, sedang memintal dengan ekornya yang berputar cepat, sambil menyanyi:
“Nimmy nimmy not
Namaku Tom Tit Tot.”
Saat sang Putri mendengar hal ini, dia merasa sangat gembira dan ingin melompat kegirangan, tetapi dia berusaha untuk menahan diri dan tidak berkata apa-apa.
Hari berikutnya saat sang Makhluk Hitam datang pada malam hari, terlihat senyum jahatnya yang sangat lebar dan ekornya yang berputar kencang.
“Siapa nama saya?” tanyanya sambil memberikan gulungan benang emas ke sang Putri.
“Apakah Solomon?” jawab sang Putri sambil berpura-pura ketakutan.
“Bukan, namaku bukan itu,” katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Apakah Zebedee?” tebak sang Putri kembali.
“Bukan, namaku bukan itu,” kata sang Makhluk Hitam sambil tertawa.
“Berpikirlah baik-baik, katanya kembali; “setelah tebakan berikut, kamu akan menjadi milikku.” Lalu tangannya mulai menggapai untuk memegang sang Putri.
Sang Putri mundur satu-dua langkah, menatap makhluk tersebut, kemudian tertawa dan berkata:
“Nimmy nimmy not, namamu adalah Tom Tit Tot!”
Saat makhluk itu mendengarnya, makhluk itu berteriak marah dan pergi menjauh ke dalam kegelapan, dan semenjak saat itu, sang Putri tidak pernah melihatnya lagi, dan sang Putri dapat hidup berbahagia selama-lamanya dengan sang Raja.

