Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64 | Kurikulum 2013 | K-13 Revisi | Pengalamanku | Pengalamanku di Rumah |
Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64
Apakah kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaan ada di dalam buku pelajaran Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64? Kamu sekarang berada di tempat yang tepat.
Di bawah ini akan dihadirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di Halaman 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64. Hal ini supaya kamu mudah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Upss… ini bukan anjuran untuk mencontek yah. Terlebih WISLAH sekarang sudah punya TANYA.WISLAH.COM yang menyajikan semua soal berserta jawaban dari berbagai tugas yang diberikan guru.
Model memberikan jawaban ini, kami niatkan untuk melatih kamu mengukur akurasi pemahaman kamu atas pertanyaan yang ada. Dan belajar konsep besar dari alur dari sebuah bahasan. Karena tidak mungkin kumpulan soal termasuk soal bahasan ini (Soal dalam Tema 5 Kelas 2 Halaman 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64) dibuat tidak berdasar struktur logika yang runut dan terstruktur.
Jawaban Tema 5 Kelas 2 Halaman 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64
Sepupu Beni datang dari kampung.
Beni senang dikunjungi saudaranya.
Beni dan sepupunya saling berkunjung. Beni selalu menjaga kerukunan antarkeluarga. Sikap ini contoh perilaku sesuai sila ketiga Pancasila.
Amati gambar tersebut?
Buatlah pertanyaan sesuai gambar!
Mintalah temanmu menjawabnya!
Jawab:
Pertanyaan: Apakah Beni menjaga kerukunan antarkeluarga?
Jawaban teman: Ya, contohnya Beni dan sepupunya saling berkunjung. Beni selalu menjaga kerukunan antar anggota keluarga.

Kamu harus hidup rukun. Rukun dengan teman.
Rukun dengan anggota keluarga. Rukun dengan tetangga.
Hidup rukun merupakan contoh perilaku yang baik.
Hidup rukun sesuai sila ketiga Pancasila.
Bacalah percakapan berikut! Perhatikan percakapan Beni dan sepupunya!
Sepupu Beni: “Beni, aku punya tugas dari guruku. Aku ingin mendiskusikan denganmu. Diskusinya selama libur di sini ya. Hidup rukun antaranggota keluarga. Ini contoh yang baik. Contoh ini sesuai sila ketiga Pancasila, ya? Adakah contoh lainnya?”
Beni: “Kebetulan sekali! Aku baru mempelajarinya. Selain itu, ada contoh lainnya. Seperti (1) Mengutamakan kepentingan keluarga. (2) Tidak memaksakan kehendak. (3) Saling menyayangi, saling menolong, saling menghormati, dan saling menghargai. Juga gotong royong di antara anggota keluarga. (4) Menjaga dan memelihara harta benda keluarga.
Perhatikan gambar berikut! Contoh perilaku di rumah yang sesuai sila ketiga Pancasila!
Pilihlah dengan memberi centang (v)!
Jawab:
1. (-)
2. (v)
3. (v)
4. (v)
5. (v)
6. (v)
Sepupu Beni membaca puisi. Puisi tentang “ Hujan.” Dengarkan dengan seksama!
Hujan
Hujan, Hujan di mana-mana,
di jalan di halaman semua basah,
hujan, hujan tak henti henti,
hujan hujan lebat sekali.
Hujan, Hujan bukan kepalang
di sana dan di sini air tergenang,
hujan hujan belum berhenti,
hujan hujan sepanjang hari
Baca kata-kata berikut! Diskusikan dengan temanmu. Apa maknanya?
1. Basah …
2. Lebat …
3. Berhenti …
4. Kepalang …
5. Tergenang …
Jawab:
1. Basah, maknanya mengandung air atau benda-benda lain yang sifatnya cair.
2. Lebat, maknanya (mengenai pohon) berbuah sangat banyak, (mengenai rambut/daun/hutan dll) tebal dan juga rapat sekali, (mengenai hujan/embun dll) deras dan banyak sekali.
3. Berhenti, maknanya tidak bergerak, tidak bekerja, mandek, tidak diteruskan lagi, selesai, tamat, berakhir.
4. Kepalang, maknanya kurang, tidak cukup, tanggung, sudah terlanjur (kondisi tanggung).
5. Tergenang, maknanya bergenang, yakni air yang kondisinya tidak dalam keadaan mengalir, terutupi atau terendam air berupa genangan.
Ujilah pemahamanmu! Kerjakan latihan berikut!
Jawab:
1. Deras dan banyak = Lebat
2. Tanggung, tidak cukup kurang = Kepalang
3. Terhenti mengalir = Tergenang
4. Mengandung air = Basah
5. Tidak bergerak = Berhenti
Perhatikan temanmu membaca puisi!
Berikan tanggapanmu! Perhatikan lafal, intonasi, dan ekspresinya!
Buatlah sebuah puisi! Puisi yang berkaitan dengan alam.
Perhatikan pilihan katanya!
Jawab:
INDAHNYA ALAM NEGERI INI
(Puisi Karya: Ronny Maharianto)
Kicauan burung terdengar merdu
Menandakan adanya hari baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Seperti dunia hanya untuk diriku
Kupejamkan mataku sejenak
Kurentangkan tanganku sejenak
Sejuk, tenang, senang kurasakan
Membuatku seperti melayang kegirangan
Wahai pencipta alam
Kekagumanku sulit untuk kupendam
Dari siang hingga malam
Pesonanya tak pernah padam
Desiran angin yang berirama di pegunungan
Tumbuhan yang menari-nari di pegunungan
Begitu indah rasanya
Bak indahnya taman di surga
Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terpana
Membuat semua orang terkesima
Tetapi, kita harus menjaganya
Agar keindahannya takkan pernah sirna
Kamu telah belajar tentang puisi. Sekarang, perhatikan benda di rumahmu. Apakah di rumahmu ada penggaris? Adakah meteran? Adakah jangka sorong? Adakah mikrometer sekrup?
Perhatikan gambar berikut! sebutkan alat untuk mengukurnya.

Jawab:
1. Penggaris
2. Penggaris atau meteran
3. Penggaris atau meteran
4. Penggaris atau meteran
5. Penggaris atau meteran
6. Penggaris atau meteran
7. Penggaris
8. Penggaris atau meteran
Kegiatan Bersama Orang Tua
Kamu telah belajar tentang puisi. Puisi tentang alam. Diskusikan bersama orang tuamu. Bagaimana cara menulis puisi?
Bonus Cerita Anak SD: Empat Penari
Empat Penari
Tante Calya menyisir rambut dengan tangan, merenung. Uh, sepertinya tante Calya tidak peduli pada Li-el. Tetapi lama-lama Li-el mengerti. Tante Calya sedang sangat sibuk berpikir.
“Aduh!” seru tante Calya, terdengar kesakitan.
Li-el mendongkak kaget. Hampir saja dia menjatuhkan kalung manik-manik yang susah payah dirangkainya.
Tante Calya menyesali beberapa helai rambut di tangannya. “Kenapa yang tercabut yang hitam?” keluhnya.
Kalau ubannya yang tercabut, pasti tante Calya tidak terlalu kesal. Li-el menyembunyikan tawa gelinya dengan pura-pura batuk. Dia buru-buru mencari Petra.
Petra sedang kebingungan di depan kamarnya, memegangi pakaian penari jawa. Pakaian milik Zea itu akan dipinjam Li-el.
“Kenapa mengambil pakaian saja lama sekali?” ujar Li-el.
Petra justru mengangkat bahu. Mengherankan. Li-el mengambil pakaian tersebut. Saat Li-el akan kembali menemui tante Calya, Petra menahannya.
“Jangan! cegah Petra. “Bahaya!”
Li-el tertegun. Kenapa ya, pakaian penari Jawa bisa jadi bahaya? Sebelum Petra sempat mengatakan sesuatu, tante Calya muncul. Pandangan tante Calya terpaku pada pakaian di tangan Li-el. Wajahnya berubah tegang, lalu berlalu begitu saja.
Tanpa bilang apa-apa, Petra mengajak Li-el ke kamarnya. Bukannya menjelaskan, Petra justru mengambil kertas. Dia mulai menulis sesuatu.
“Bisa-bisanya Petra menulis cerpen di saat begini?” pikir Li-el bingung. Soalnya, Petra tampak menulis cukup panjang.l Namun, Li-el mencoba tidak bertanya-tanya.
Petra lalu menyerahkan kertasnya. Li-el membaca dengan wajah berkerut.
“Waktu tante Calya berusia sekitar sepuluh tahun, tante Calya dan tiga temannya berlatih tari golek. Mereka akan tampil di pertunjukan 17 agustus. Susah sekali menghafal gerakannya. Mereka jadi sering saling menyalahkan. Suatu kali, tante Calya dan tante Meta bertengkar. Tante April yang malas mendengar pertengkaran mereka, pergi diam-diam. Sedihnya tante April tertabrak sepeda motor. Akibatnya jalan tante April menjadi agak timpang. Sejak saat itu, mereka tidak pernah menari lagi. Tante Calya juga selalu sedih setiap kali melihat kostum menari. Aku lupa menyembunyikan pakaian itu. Tante Calya melihatnya kemarin. Pasti tante Calya sedang sedih sekarang.”
Li-el terbelalak. “Jangan-jangan, mereka masih bermusuhan?”
“Sssst!” Petra menempelkan telunjuknya di bibr. Petra sengaja menuliskan di kertas kejadian masa lalu tante Calya itu. Petra tak ingin tante Calya mendengarnya dan semakin sedih.
Li-el meringis bersalah.
“Mereka tetap berteman. Tante April juga tidak menyalahkan siapa-siapa,” ujar Petra sedih.” Tapi mereka berempat tidak seakrab sebelumnya.”
Ah, ternyata tante Calya punya kenangan sedih. Bagaimana cara membuat mereka berempat tidak merasa bersalah lagi? Li-el merenung.
“Siapa tante yang terakhir?” ujar Li-el penuh semangat.
Petra hanya memandang Li-el, tidak mengerti. Pelan-pelan matanya berbinar. “Tante Irma,” balas Petra bersemangat. “Yuk kita menemuinya!”
Li-el dan Petra seperti detektif saja, menyelidiki kesana kemari secara rahasia. Berhasil juga keduanya mengetahui alamat tante Irma. Mereka ingin tante Calya dan teman-temannya melakukan pertunjukan tahunan di sekolah. Tante Calya dan teman-temannya kan alumni sekolah, jadi boleh saja. Sepertinya, tante Irma yang paling cocok untuk membujuk teman-temannya.
“Kami tidak ingin menari lagi,” tolak tante Irma.” Sebenarnya kami tidak berbakat.”
“Terus kenapa dulu tante dan teman-teman tante menari?” tanya Li-el.
Tante Irma menghela nafas. “Kami merasa tari golek itu indah sekali. Biarpun gerakan kami tidak luwes, kami ingin menarikannya walau hanya sekali.”
Mereka sudah berusaha keras bertahun-tahun. Terus berusaha menari, meskipun sulit untuk mereka. Sekarang saatnya mewujudkan mimpi itu. Bersama-saa menarikan sebuah tarian indah sebagai empat sahabat yang kompak.
“Tante Irma bisa menjadi penengah,” ujar Li-el. “Saatnya menyatukan persahabatan, menari bersama dengan indah.”
Tante Irma dan Petra terpana. Cara Li-el berbicara memang biasa saja, namun kata-katanya tetap seperti puisi. Tidak sia-sia Li-el menghafalkan kalimat itu di rumah. Lama-lama, tante Irma bersedia. Sepertinya sih gara-gara takut Li-el meneruskan puisi anehnya, hi hi hi….
Meskipun harus berusaha keras membujuk teman-temannya, tante Irma berhasil juga. Tiga hari kemudian, tante Calya dan teman-temannya mulai sibuk berlatih. Mereka benar-benar bersemangat. Kelihatannya mereka juga melupakan apa yang terjadi dulu.
Empat penari ini pun berlatih dan persahabatan mereka seindah tarian mereka

