Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43 | Kurikulum 2013 | K-13 Revisi | Pengalamanku | Pengalamanku di Rumah |
Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43
Apakah kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaan ada di dalam buku pelajaran Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43? Kamu sekarang berada di tempat yang tepat.
Di bawah ini akan dihadirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43. Hal ini supaya kamu mudah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Upss… ini bukan anjuran untuk mencontek yah. Terlebih WISLAH sekarang sudah punya TANYA.WISLAH.COM yang menyajikan semua soal berserta jawaban dari berbagai tugas yang diberikan guru.
Model memberikan jawaban ini, kami niatkan untuk melatih kamu mengukur akurasi pemahaman kamu atas pertanyaan yang ada. Dan belajar konsep besar dari alur dari sebuah bahasan. Karena tidak mungkin kumpulan soal termasuk soal bahasan ini (Soal dalam Tema 5 Kelas 2 Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43) dibuat tidak berdasar struktur logika yang runut dan terstruktur.
Jawaban Tema 5 Kelas 2 Halaman 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43
Hari ini adalah hari Minggu. Keluarga Beni duduk di teras rumah.
Tiba-tiba Beni membaca puisi.
Ayo Berdiskusi
Diskusikan kata-kata berikut bersama temanmu!
Tuliskan maknanya.
Jawaban
1. Cangkul = Alat untuk menggali dan mengaduk tanah
2. Siramilah = Mencurahkan air
3. Tumbuh = Bertambah besar
4. Bermekaran = Mulai berkembang dan menjadi terbuka
5. Berkicau = Bunyi burung
Ujilah pemahamanmu dengan mengerjakan latihan berikut!
Jawaban:
Bertambah besar – Tumbuh
Bunyi burung – Berkicau
Mulai berkembang dan menjadi terbuka – Bermekaran
Mencurahkan air – Siramilah
Alat untuk menggali dan mengaduk tanah – Cangkul

Buatlah pertanyaan sesuai gambar di atas! Mintalah temanmu menjawabnya!
Pertanyaan: Apa yang sedang dilakukan Beni dan keluarganya?
Jawaban teman:
Beni dan keluarganya sedang bergotong-royong membersihkan taman bunga.
Tahukah kamu lagu “Lihat Kebunku”? Nyanyikanlah lagu “Lihat Kebunku” bersama temanmu! Perhatikan tekanan kuat dan lemahnya!
Lihat Kebunku
Ciptaan: Ibu Sud
Lihat kebunku
Penuh dengan bunga
Ada yang putih
Dan ada yang merah
Setiap hari kusiram semua
Mawar melati
Semuanya indah
Tentukan kuat lemah tekanan lagu “Lihat Kebunku”!
Tentukan juga panjang pendek bunyi lagunya! Berikan tanda centang (v)!
Jawaban:
Lihat kebunku (panjang) (kuat)
Penuh dengan bunga (panjang) (lemah)
Ada yang putih (pendek) (kuat)
Dan ada yang merah (panjang) (lemah)
Semuanya indah (panjang) (kuat)
Bacalah puisi berikut! Perhatikan lafal, intonasi, dan ekspresinya!
Taman Bungaku
(Karya: Ni Komang Juniati, SDN 5 Jungatan)
Taman bungaku
Bila kupandang
Hatipun senang
Tamanku cantik
Sangatlah menarik
Taman bungaku
Berserilah selalu
Jangan pernah kau layu
Karena aku kan bersedih sedu
Oh angin dari segala rindu
Mampirlah ke tamanku
Sebarlah harum bungaku
Ke segala penjuru
Baca lagi puisi di atas!
Jawablah pertanyaan berikut!
1. Apa isi taman bungaku dalam puisi?
Jawaban:
Pada bait pertama, penulis mengungkapkan perasaan senangnya terhadap taman bunganya yang cantik dan menarik.
Pada bait kedua, penulis mengungkapkan harapan dan perasaannya terhadap taman bunganya.
2. Sebutkan kata yang baik pada puisi tersebut!
Jawaban:
Senang, cantik, menarik, berserilah, rindu, harum.
3. Bagaimana bila taman tidak dirawat?
Jawab:
Bunga-bunga akan layu, rumput akan tumbuh, dan taman tampak tidak cantik dan menarik.
4. Bagaimana cara merawat taman?
Jawab:
Dengan menyirami tanaman setiap hari, menyiangi rumput yang tumbuh, memangkas ranting tanaman yang sudah tua dan mati, dan memberi pupuk secara teratur.
5. Cobalah buat puisi sesuai kemampuanmu!
Jawab:
Kupu-kupu yang Indah
Wahai kupu-kupu
Alangkah indah dirimu
Sayapmu berwarna warni
Kau kepakkan tanpa henti
Wahai kupu-kupu
Alangkah senang dirimu
Bisa terbang ke sana ke mari
Hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain
Saat kudekati dirimu dengan malu-malu
Engkau terbang meninggalkan kuncup bunga
Terbang lagi dan lagi
Setelah istirahat, Beni membantu ayahnya.
Ayah Beni ingin memperbaiki motor.
Perhatkan gambar berikut!
Berikan centang untuk benda yang dapat diukur dengan jangka sorong!

Bonus Cerita Anak SD: Cindelaras
Cindelaras
Raden Putra adalah raja kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencakan suatu yang buruk kepada permaisuri.
“Seharusnya akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya.
Selir baginda berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri.
“Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib.
Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.
Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda.
“Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih.
Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja mengangguk puas ketika sang patih melaporkan kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan.
Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekora rajawali menjatuhkan sebutir telur.
“Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.”
Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan!
“Kukuruyuuk…. Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..”
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan.
Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah diijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya.
Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam.
“Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya.
“Baikalh,” jawab Cindelaras.
Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangya untuk mengundang Cindelaras.
“Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun.
Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.
“Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” tanya Baginda Raden Putra.
Cindelaras segera membungkuk seperti membisikan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi.
“Kukuruyuuuk…. Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.
Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras.
“Benarkah itu?” tanya Baginda keheranan.
“Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”
Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri.
“Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra.
“Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka.
Kemudian selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahanya.
Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

