Jaminan / Agunan Adalah : Pengertian, Unsur, Dasar Hukum, Bentuk, dan Tujuan

  • Whatsapp
Jaminan Agunan Adalah

Jaminan Agunan | Jaminan Adalah | Agunan Adalah | Pengertian | Unsur | Dasar Hukum | Bentuk | Tujuan |

Jaminan adalah suatu perikatan antara kreditur dengan debitur, dimana debitur memperjanjikan sejumlah hartanya untuk pelunasan utang menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku apabila dalam waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utang si debitur.

Pengertian Jaminan / Agunan Menurut Para Ahli

Menurut Pasal 1 ayat 26 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, Agunan adalah jaminan tambahan, baik berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak yang diserahkan oleh pemilik agunan kepada Bank Syariah dan/atau UUS, guna menjamin pelunasan kewajiban nasabah penerima fasilitas.

Menurut Muhammad dalam bukunya Manajemen Pembiayaan Bank Syari’ah, Jaminan bisa diartikan mengalihkan tanggung jawab seseorang (yang dijamin) dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain (pinjaman).

Menurut Hartono Hadisapoetro, jaminan adalah sesuatu yang diberikan kepada debitur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbull dari suatu perikatan.

Menurut M. Bahsan, jaminan adalah segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk menjamin suatu hutang piutang dalam masyarakat.

Menurut Mariam Darus Badrulzaman, jaminan adalah suatu tanggungan yang diberikan oleh seorang debitur dan atau pihak ketiga kepada kreditur untuk menjamin kewajibannya dalam suatu perikatan.

Baca Juga :   Akuisisi Adalah : Pengertian, Tujuan, Jenis, Dasar Hukum dan Tahapannya

Menurut Thomas Suyanto, jaminan adalah penyerahan kekayaan atau pernyataan kesanggupan seseorang untuk menanggung pembayaran kembali suatu hutang.

Fungsi / Kegunaan Jaminan (Agunan)

Di bawah ini adalah kumpulan kegunaan dari jaminan / agunan yang kami kutip dari Rachmadi Usman, dalam bukunya Aspek-Aspek hukum perbankan di Indonesia.

1. Memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk mendapat pelunasan dari agunan apabila debitur melakukan janji, yaitu untuk membayar kembali utangnya pada waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian.

2. Menjamin agar debitur berperan serta dalam transaksi untuk membiayai usahanya, sehingga kemungkinan untuk meninggalkan usaha atau proyeknya dengan merugikan diri sendiri atau perusahaannya dapat dicegah atau sekurangkurangnya untuk berbuat demikian dapat diperkecil.

3. Memberikan dorongan kepada debitur untuk memenuhi janjinya khususnya mengenai pembayaran kembali sesuai dengan syarat-syarat yang telah disetujuhi agar debitur dan atau pihak ketiga yang ikut menjamin tidak kehilangan kekayaan yang telah dijaminkan kepada bank

Dasar Hukum Jaminan / Agunan

Di bawah ini adalah kumpulan dasar hukum atas jaminan atau agunan, berdasar Al-Quran dan Hadist

QS. Al-Baqarah Ayat 283

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang piutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan peraksasian. Dan barang siapa yang menyembunyikan, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS. Al-Baqarah Ayat 188

Baca Juga :   Sukuk Adalah : Pengertian, Dasar Hukum Karakteristik, Mekanisme Penerbitan, Perbedaan Sukuk (Obligasi Syariah) dan Obligasi (Konvensional)

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) hata itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.

HR Bukhari

Dari Anas R.A berkata: “Rasulullah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi di Madinah dan mengambil darinya gandum untuk keluarga beliau”.

Bentuk / Jenis Jaminan

Di bawah ini adalah kumpulan keterangan tentang bentuk atau jenis jaminan atau agunan, menurut Binti Nur Asiyah dalam bukunya Manajemen Pembiayaan Bank Syariah:  

1. Jaminan Perorangan :

a. Jaminan pribadi (Personal guaranty) : jaminan perorangan yang diberikan oleh seseorang sebagai pribadi. Misalnya Tn. Arif memberikan suatu jaminan pembiayaan perorangan dalam rangkan pinjaman Tn. Andri kepada lembaga keuangan Permata, Tbk. Tn. Arif tidak menyerahkan suatu barang kepada Lembaga Keuangan Permata, Tbk. Tetapi hanya menyatakan menjamin Tn. Andri Kepada Lembaga Keuangan Permata, Tbk.

b. Jaminan perusahaan ( Corporate guaranty) : jaminan perorangan yang diberikan sehari-hari oleh suatu perusahaan, dalam praktik sehari-hari dapat ditemukan jaminan perusahaan:

– Bersifat umum, yang hanya menyatakan tentang pemberian jaminan oleh perusahaan yang bersangkutan atas pinjaman Customer kepada lembaga keuangan.

Baca Juga :   Kredit : Pengertian, Unsur, Tujuan, Fungsi, Syarat, Jenis, Kebaikan dan Keburukan

– Bersifat khusus,yang menyatakan secara tegas segala sesuatu atas pemberian jaminan kepada Customer sehubungan dengan pinjaman Customer yang bersangkutan kepada lembaga keuangan.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemberian jaminan perorangan: a) Legalitas pemberi jaminan; b) Kemampuan material pemberi jaminan; c) Pelepasan Hak istimewa pemberi jaminan, dan d) Pembuatan akta notariil (dicatatkan di notaris).

2. Jaminan yang Bersifat Kebendaan (Bergerak dan tidak bergerak).

Penilaian jaminan kebendaan baik yang bergerak maupun tidak bergerak, perlu diperhatikan hal-hal berikut: a. Legalitas jaminan ; b. Legalitas penguasaan jaminan; c. Kemungkinan pengikatan jaminan Pengikatan jaminan bisa dilakukan melalui lembaga hak tanggungan, hipotek, gadai atau fiducia (FEO); dan d. Penilaian ekonomis jaminan

Tujuan Jaminan / Agunan

Di bawah ini adalah beberapa tujuan dari jaminan / anggunan yang kami kutip dari berbagai sumber :

1. Memberikan hak dan kekuasaan kepada Bank untuk mendapatkan pelunasan dengan barang-barang agunan tersebut bilamana nasabah bercedera janji, yaitu tidak bisa membayar kembali utangnya pada waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian;

2. Menjamin agar nasabah berperan dan atau turut serta dalam traksaksi yang dibiayai sehingga dengan demikian kemungkinan nasabah untuk meninggalkan usahanya atau proyek dengan merugikan diri sendiri atau perusahaannya dapat dicegah, atau minimum kemungkinan untuk berbuat demikian diperkecil;

3.  Memberi dorongan kepada debitur utuk memenuhi perjanjian pembiayaan, khususnya mengenai pembayaran kembali (pelunasan).

Related posts