Eksplorasi Gerak Tari Berdasarkan Nilai, Jenis, dan Fungsi | Rangkuman Materi Seni Tari Kelas 9 | Bab 2 | SMP | Kurikulum Merdeka | Wislah Indonesia |
Eksplorasi Gerak Tari Berdasarkan Nilai, Jenis, dan Fungsi
Eksplorasi Gerak Estetis
Pada prosedur ini, peserta didik melanjutkan eksplorasi gerak berdasarkan pengalaman apresiasi yang didapatkan sebelumnya tentang nilai estetis dalam sebuah tarian. Gerak dalam tari menjadi media ekspresi yang lahir dari pengalaman emosional dan estetis dari penata tari maupun penari. Nilai estetis dalam tarian dapat ditemukan pada gerak-gerak yang sudah mengalami stilisasi atau penghalusan menjadi gerak yang indah dan berbeda dari gerak sehari-hari.
Gerak dalam tari terdiri dari dua jenis, yaitu gerak murni dan gerak maknawi. Gerak murni adalah gerak yang lahir tanpa makna, namun tetap memiliki nilai estetis. Sementara gerak maknawi adalah gerak yang terinspirasi dari kegiatan sehari-hari dan diubah menjadi gerak yang lebih halus dan indah untuk dinikmati. Keindahan tari dapat disampaikan ketika penari mampu mengekspresikan dan menjiwai setiap gerak dalam tarian tersebut, sehingga nilai estetis dapat dirasakan saat melihat penyajian gerak yang indah dan ritmis di atas panggung.
Eksplorasi gerak tari pada prosedur ini dilakukan melalui aspek teknik. Peserta didik mencari dan menganalisis proses cara melaksanakan gerak, sehingga memahami bagaimana teknik gerak tari yang mereka lakukan dan merasakan bagaimana proses menstilir gerak sehari-hari menjadi gerak tari. Tahap eksplorasi ini dipengaruhi oleh sesuatu yang ada di luar tubuh penari, seperti aktivitas sehari-hari manusia, tingkah laku flora, fauna, dan lainnya. Objek-objek tersebut menjadi sumber eksplorasi untuk mengembangkan gerak tari.
Beberapa tema tari yang dapat diwujudkan melalui eksplorasi gerak adalah tari pantomime, di mana gerak tarian menirukan gerakan manusia, hewan, dan tumbuhan. Selain itu, tema tari lainnya adalah tari dengan tema erotik dan kepahlawanan. Dengan memperluas eksplorasi gerak melalui berbagai objek dan tema, peserta didik dapat menggali kreativitas dalam menciptakan gerakan yang unik dan bernilai estetis.
Melalui eksplorasi gerak tari ini, peserta didik dapat mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai estetis dalam seni tari, meningkatkan keterampilan teknik gerak, dan memperluas wawasan dalam menciptakan tarian yang bermakna. Tahap eksplorasi menjadi langkah penting dalam proses pembelajaran seni tari untuk menggugah ekspresi kreatif dan apresiasi seni yang mendalam.
Eksplorasi Gerak Tari Berdasarkan Ruang Gerak
Pada prosedur pembelajaran 2, peserta didik akan melakukan eksplorasi gerak tari berdasarkan ruang gerak, dengan fokus pada aspek teknik gerak. Tahap eksplorasi ini bertujuan untuk membantu peserta didik dalam merasakan dan memahami ruang gerak dalam tari.
Ruang gerak dalam tari meliputi volume dan level gerak. Volume gerak mengacu pada besar dan kecilnya gerakan yang dilakukan. Gerakan dengan volume kecil seringkali terdapat pada tari-tari putri klasik yang lahir di lingkungan kerajaan, menampilkan nilai keagungan dan kelembutan. Contoh tari dengan volume kecil antara lain Tari Serimpi dari Yogyakarta dan Tari Sekar Putri dari Jawa Barat. Di sisi lain, tari dengan volume besar atau luas, seperti Tari Rantak dari Sumatera Barat dan Tari Jaipongan dari Jawa Barat, mengekspresikan nilai gagah, berani, dan semarak.
Level gerak mengacu pada posisi badan saat menari, seperti duduk, berdiri biasa, berdiri dengan tumit (jinjit), atau bahkan melompat dengan ketinggian maksimal. Contoh tari dengan level rendah adalah Tari Saman, yang berbeda dari Tari Seudati atau Tari Serimpi yang menggunakan posisi berdiri. Eksplorasi gerak tari pada prosedur ini akan memanfaatkan gerakan yang sudah dipelajari peserta didik pada prosedur sebelumnya, yaitu gerak-gerak yang diambil dari aktivitas sehari-hari, seperti gerakan petani, nelayan, pengrajin batik/tenun, dan atlet berkuda/panahan.
Materi yang disampaikan dalam tahap eksplorasi ini akan memberikan keterhubungan antara prosedur pembelajaran sebelumnya dengan prosedur saat ini, sehingga peserta didik memahami tahapan eksplorasi gerak tari secara berkesinambungan. Dengan eksplorasi gerak berdasarkan ruang gerak, peserta didik dapat mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam memperkuat nilai estetis tari serta menggali kreativitas dalam menciptakan gerakan yang bermakna. Proses pembelajaran ini diharapkan memberikan pemahaman yang mendalam tentang teknik gerak tari dan memperkaya pengalaman apresiasi seni tari bagi peserta didik.
Eksplorasi Gerak Berdasarkan Ketukan
Pada prosedur pembelajaran 3, fokusnya adalah eksplorasi gerak berdasarkan ketukan dalam tari. Soedarsono mengungkapkan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui serangkaian gerak ritmis dan indah. Ritmisitas dalam tari menunjukkan bahwa setiap tarian memiliki irama gerak dengan ketukan atau tekanan hitungan pada setiap geraknya.
Ketukan dalam tari mengikuti pola irama gerak yang terbagi menjadi tiga, yaitu ketukan lambat, sedang, dan cepat. Umumnya, hitungan tari terdiri dari 8 ketukan. Ketukan gerak tari lambat, sedang, dan cepat ditandai dengan aksen atau penekanan pada setiap hitungannya. Dalam praktiknya, setiap ketukan ini diulang untuk menandai gerakan secara ritmis sesuai dengan kebutuhannya.
Contoh pola hitungan cepat:
1 2 3 4 5 6 7 8
Tu Wa ga pat ma nam juh pan
Contoh pola hitungan sedang:
1 2 3 4 5 6 7 8
Sa-tu du-a ti-ga em-pat li-ma e-nam tu-juh del-pan
Contoh pola hitungan lambat:
1 2 3 4 5 6 7 8
Sa-tu du-a ti-ga em-pat li-ma e-nam tu-juh del-pan
Eksplorasi gerak berdasarkan ketukan ini memberikan peserta didik pemahaman tentang penggunaan irama dan ritmisitas dalam tari. Dengan menggali ketukan lambat, sedang, dan cepat, peserta didik dapat mengembangkan kepekaan terhadap musikalitas gerak dan mengekspresikan emosi serta makna dalam setiap gerakan. Pola ketukan dalam tari merupakan elemen penting yang memperkaya pengalaman estetis dalam menyaksikan dan menari tari. Proses eksplorasi gerak tari berdasarkan ketukan ini diharapkan dapat memperkaya apresiasi seni tari serta meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengolah gerak secara ritmis dan indah.
Eksplorasi Gerak Tari Berdasarkan Penggunaan Tenaga
Dalam tari, tubuh membutuhkan tenaga yang berbeda untuk melakukan setiap gerakan. Seperti saat berjalan santai, berlari kecil, dan berlari kencang, ketiganya memiliki porsi tenaga yang berbeda. Hal yang sama berlaku dalam tari, di mana setiap gerak memerlukan porsi tenaga yang sesuai dengan karakteristik dan gaya tari yang dibawakan. Pengaturan tenaga dalam tari disebut dinamika, di mana tenaga besar menghasilkan dinamika yang kuat, sementara tenaga kecil menghasilkan dinamika yang lembut.
Penggunaan tenaga yang teratur dalam tari memberikan kesan yang seimbang dan aman, sementara penggunaan tenaga yang tidak teratur memberikan kesan ketergesa-gesaan dan membingungkan. Kualitas gerak juga dipengaruhi oleh tenaga yang dikeluarkan, seperti bergetar, menusuk, berputar, atau melompat dengan tenaga yang berbeda. Gerakan dengan tenaga besar cenderung digunakan pada volume gerak yang besar, sedangkan tenaga kecil lebih cocok untuk gerakan yang sempit.
Eksplorasi tahap tenaga dapat dilakukan melalui eksplorasi terhadap aspek isi. Melalui aspek isi, penekanan diberikan pada rasa gerak yang tercipta karena kandungan teks dan konteks pada tari tersebut. Eksplorasi ini memerlukan imajinasi, kepekaan rasa, dan respon terhadap latar belakang yang berhubungan dengan nilai dan makna dalam tarian tersebut.
Proses eksplorasi tenaga dalam tari menjadi penting untuk mengungkapkan karakteristik dan makna gerakan yang ditampilkan. Melalui penggunaan tenaga yang tepat, penari dapat menyampaikan emosi dan pesan secara lebih kuat dan efektif kepada penonton. Dengan pemahaman akan dinamika tenaga dan eksplorasi melalui aspek isi, peserta didik dapat meningkatkan kualitas ekspresi gerak dalam tari serta memperkaya pengalaman artistik dan emosional dalam proses berlatih dan pentas.
Analisis Gerak Tari Tradisi Berdasarkan Unsur Utama, Nilai, Jenis dan Fungsi
Tari tradisi adalah tarian yang berkembang dalam kelompok masyarakat tertentu dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, menjadi identitas budaya masyarakat tersebut. Tari tradisi dapat dikenali berdasarkan wilayah geografisnya seperti tari Sunda, Betawi, Minang, Jawa, Bali, Kalimantan, Papua, dan lain-lain.
Tingkatan atau strata sosial budaya juga mempengaruhi keberagaman tari tradisi di Indonesia. Tari tradisi dikelompokkan menjadi tiga genre, yaitu tari takyat, tari klasik, dan tari kreasi baru. Perbedaan corak tersebut mencakup gerak, rias, busana, dan spirit yang dituangkan baik dari gerak maupun musik pengiring tari.
Tari rakyat lahir di lingkungan masyarakat umum di pedesaan. Gerak-gerak pada tari rakyat cenderung lebih sederhana dan mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Selain sebagai sarana ritual, tari rakyat juga berfungsi sebagai hiburan masyarakat.
Tari klasik, di sisi lain, telah mengalami tingkat estetis yang tinggi dan rumit. Tari ini memiliki variasi gerak yang kompleks dan diatur dengan standar yang ketat. Tari klasik ditarikan pada acara-acara istana dan memiliki fungsi sakral serta sebagai sarana ritual.
Tari kreasi baru merupakan jenis tari yang berkembang di masyarakat perkotaan. Tari-tari ini terinspirasi dari tari tradisi dan memiliki kebebasan berekspresi dalam pengekspresian geraknya. Tari kreasi baru lebih difokuskan sebagai seni pertunjukan yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Pengenalan terhadap unsur gerak, nilai, jenis, dan fungsi tari tradisi memudahkan dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan mengklasifikasikannya sebagai bagian dari keberagaman seni budaya Nusantara. Apresiasi merupakan kegiatan yang melibatkan pengetahuan, perasaan, dan penilaian dalam melihat keterkaitan antara unsur-unsur tersebut dalam sebuah tarian.






