Konsep Kreasi Tari (Rangkuman Materi Seni Tari Kelas 9 SMP Kurikulum Merdeka)

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Konsep Kreasi Tari | Rangkuman Materi Seni Tari Kelas 9 | Bab 1 | SMP | Kurikulum Merdeka | Wislah Indonesia |

Konsep Kreasi Tari

Nilai Estetika Tari Tradisi

Nilai seni dalam tari dewasa ini memiliki kompleksitas yang signifikan dan memberikan manfaat penting bagi kehidupan masyarakat. Selain memiliki nilai estetis, seni tari juga terkait dengan aspek moral dan religius (Kuswarsantyo, 2014:50). Sebuah karya tari tidak hanya mencerminkan nilai estetik atau keindahan semata, melainkan juga mencakup keunikan dan ciri khas dari tarian tersebut.

Nilai estetik dalam tarian dapat dilihat dari keunikan gerakan dan kesan yang dihasilkan oleh karya tari itu sendiri. Sebagai contoh, tari Kecak dari Bali menampilkan gerakan sederhana yang dilakukan secara kompak, diiringi oleh bunyi suara/vokal mulut yang menciptakan keunikan tersendiri. Keindahan tarian Kecak inilah yang muncul dari nilai estetiknya.

Tari Lenggang Nyai, yang berasal dari Betawi, juga menawarkan nilai estetik melalui perpaduan karakteristik Cina dan Indonesia dalam gerakan busananya. Hal ini memberikan keindahan dan kesan yang khas pada tarian tersebut.

Tari Saman dari Aceh menonjolkan nilai estetik melalui kekompakan penari dalam menjalankan gerakan yang berirama seragam. Kekompakan ini menjadi sumber dari nilai keindahan dalam Tari Saman.

Secara keseluruhan, pemahaman tentang nilai-nilai dalam seni tari dewasa ini mencakup aspek estetis, keunikan, dan kekompakan gerakan, serta perpaduan unsur budaya yang memberikan keindahan dan kesan yang berbeda. Penyelidikan lebih lanjut terhadap aspek moral dan religius dalam tari dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai kebermanfaatan seni dalam masyarakat.

Fungsi Tari Tradisi

Tari Tradisional merupakan bentuk tarian yang berasal dan berkembang di suatu masyarakat tertentu, diwariskan secara turun-temurun, dan telah menjadi bagian dari budaya yang dilestarikan oleh masyarakat setempat. Tarian tradisional tumbuh dan berkembang sesuai dengan lokasi geografis di mana masyarakat tersebut berada, seperti di daerah pedalaman atau pantai.

Fungsi tari tradisional mencakup beberapa hal berikut:

1. Tari Sebagai Sarana Upacara:

Tarian ini hanya ditampilkan dalam acara-acara upacara tertentu dan seringkali diiringi oleh sesajen dan bunyi-bunyian yang menandai ritual upacara. Sebagai contoh, tari Tor-Tor dari budaya Batak, yang ditampilkan dalam upacara adat terkait peristiwa kematian atau sukacita. Tarian ini berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan perasaan batin, baik kepada roh leluhur maupun kepada tamu yang dihormati, melalui gerakan tari yang penuh makna dan menggambarkan rasa hormat.

2. Tari Sebagai Sarana Hiburan:

Tarian ini diciptakan untuk dinikmati sebagai hiburan oleh masyarakat. Tujuan utama penciptaannya adalah sebagai bentuk konsumsi hiburan bagi penonton. Contoh dari tarian jenis ini tidak hanya untuk menghibur masyarakat tetapi juga untuk menjadi bentuk hiburan bagi mereka.

3. Tari Sebagai Pertunjukan:

Fungsi pertunjukan berbeda dengan fungsi hiburan. Tari sebagai pertunjukan menekankan pada keindahan estetisnya daripada sekadar memberikan hiburan semata. Jenis tarian ini sering dipertunjukkan dan ditonton oleh masyarakat pada acara-acara besar atau acara yang diadakan secara resmi dan teratur.

Terdapat perbedaan antara ketiga fungsi tari tersebut. Tari hiburan lebih bersifat tidak resmi, hanya untuk bersenang-senang, dan persiapannya tidak selengkap tari pertunjukan. Sedangkan tari pertunjukan dipentaskan dengan persiapan yang matang dan formal, ditujukan untuk ditonton oleh banyak orang. Sementara itu, tari upacara digunakan sebagai bagian dari upacara dan hanya ditampilkan pada kesempatan-kesempatan tertentu.

Melalui tarian tradisional, masyarakat tidak hanya mengenalkan kekayaan seni dan budayanya, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan batin dan nilai-nilai dalam kehidupan mereka. Seiring berjalannya waktu, penting untuk terus melestarikan dan memperkaya warisan budaya ini agar nilai-nilai dalam tari tradisional tetap hidup dan bermanfaat bagi generasi masa depan.

Jenis Tari Tradisi

Tari merupakan seni yang kaya akan nilai dan fungsi dalam masyarakat, dan memiliki jenis-jenisnya sendiri. Pengelompokan tari dapat berdasarkan kelembagaan kelompok masyarakat, yang menghasilkan tiga genre utama, yaitu tari klasik, tari rakyat, dan tari kreasi baru. Tari klasik adalah tari yang berasal dari lingkungan istana atau keraton, memiliki aturan-aturan baku, dan dikenal dengan tari adi luhung yang menonjolkan kehalusan gerakan. Biasanya, tari ini hanya digemari oleh kalangan elit budaya. Contoh tari klasik adalah Tari Bedhaya dari Jawa.

Tari rakyat atau tari folklasik adalah jenis tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat pedesaan. Gerakannya sederhana namun sarat dengan makna, dan seringkali memiliki fungsi ritual atau sebagai hiburan pribadi bagi masyarakat yang mendukungnya. Beberapa contoh tari rakyat adalah Tari Ketuk Tilu dari Jawa Barat, Tari Jathilan dari DIY, dan Tari Tor-Tor dari Sumatera Utara.

Tari kreasi baru adalah pengembangan dari tari klasik yang telah mengalami beberapa perubahan dan aransemen sesuai dengan perkembangan zaman, namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya. Tari ini seringkali diciptakan oleh para pakar tari dan menonjolkan nilai estetis dan selera penciptanya.

Selain itu, tari juga dapat dibagi berdasarkan jumlah penari yang menarikannya. Ada tari tunggal yang hanya ditarikan oleh satu penari, tari berpasangan atau duet yang melibatkan dua penari, tari kelompok dengan lebih dari dua penari, dan tari kolosal atau massal yang melibatkan puluhan hingga ratusan penari. Contoh tari-tari dalam kategori ini termasuk Tari Kandagan, Tari Serampang Dua Belas, Tari Saman, dan Tari Pakarena.

Melalui beragam jenis tari ini, masyarakat tidak hanya mengenalkan kekayaan seni dan budayanya, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan batin dan nilai-nilai dalam kehidupan mereka. Penting untuk terus melestarikan dan menghargai warisan budaya ini agar nilai-nilai dalam tari tradisional tetap hidup dan memberikan manfaat bagi generasi masa depan.

Keterkaitan Nilai, Fungsi dan Jenis Tari Tradisi

Tari merupakan salah satu bentuk seni yang kaya akan nilai dan fungsi dalam masyarakat, dan memiliki berbagai jenis yang memiliki keterkaitan dengan unsur-unsur utama dan pendukungnya. Unsur utama tari meliputi gerak, tenaga, ruang, dan waktu, sedangkan unsur pendukung tari termasuk musik, properti, kostum, dan rias. Gerak dalam tari mencerminkan ekspresi dan menjadi alat ungkap untuk menyampaikan pesan tari, sementara tenaga, ruang, dan waktu mempengaruhi intensitas dan karakter tari tersebut.

Ruang gerak dalam tari melibatkan volume gerak, yang mencakup luas, sedang, dan sempit, serta level gerak yang berhubungan dengan tinggi rendahnya gerakan. Tari dengan volume gerak luas cenderung merupakan tari rakyat yang mengekspresikan kegagahan, sementara tari dengan volume sedang lebih sering menggambarkan ksatria atau tarian klasik. Tari dengan volume gerak sempit cenderung mengandung nilai kelembutan atau feminimisme dan sering kali ditemukan dalam tari-tari putri klasik.

Waktu dalam tari melibatkan waktu eksternal dan waktu internal. Waktu eksternal adalah waktu penampilan tari, sementara waktu internal mencakup durasi tari, tempo musik pengiring, dan ritme tari. Tempo dan ritme tari mempengaruhi karakter tari, di mana tari yang cepat sering terkait dengan tema perjuangan, semangat, dan sukacita, sementara tempo yang lebih lambat umumnya terkait dengan tema penghormatan dan lainnya.

Unsur pendukung tari seperti musik, properti, kostum, dan rias senantiasa menyesuaikan dengan tema dan pesan tari yang ingin disampaikan. Musisi, properti, dan kostum dapat memperkuat karakteristik tari dan meningkatkan pengalaman estetis bagi para penikmatnya.

Pentingnya menganalisis tari untuk menemukan keterkaitan nilai, fungsi, dan jenis tari dengan unsur-unsur utama dan pendukungnya, sehingga dapat memahami karakteristik setiap tarian. Pemahaman tentang tari dapat memberikan apresiasi yang lebih mendalam dan menggugah emosi serta pengalaman estetis bagi penikmatnya.

Tiga contoh tari yang akan diberikan sebagai bahan apresiasi adalah Tari Serampang Dua Belas, yang merupakan tari kreasi baru berpasangan dengan nilai kehidupan dan berfungsi sebagai hiburan dan pertunjukan. Selanjutnya, Tari Gong dari Kalimantan Timur, yang merupakan tari rakyat suku Dayak dengan fungsi ritual, menjadi tari tunggal yang mengandung nilai suka cita dan rasa syukur. Terakhir, Tari Serimpi dari Keraton Yogyakarta, yang merupakan tari klasik dengan jumlah penari empat orang.

Pada pelaksanaan pembelajaran, guru dapat memilih contoh tari lain yang juga mewakili materi yang akan disampaikan agar peserta didik dapat memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai seni tari dan beragam pesan yang terkandung di dalamnya.

Related posts