Biografi Kyai Hasan Mukmin | Biografi Singkat Kyai Hasan Mukmin | Profil Kyai Hasan Mukmin | Pendidikan | Karya | Pemikiran |
Biografi Singkat Kyai Hasan Mukmin : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
Kyai Hasan Mukmin adalah putra seorang ulama besar di Yogyakarta yang memimpin tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah. Ayahnya adalah Haji Mohammad Kassan Mukmin Surakarta. Dia datang ke daerah Sidoarjo kemudian pindah ke Malang di mana ia menjadi kepala pesantren populer Pakisaji. Kyai Hasan Mukmin diasuh oleh Tatroeno dan istrinya Mbok Sebloe atau Badoer, keluarga petani di desa Getak-pesantren, yang terletak diKabupaten Muntilan, Karesidenan Kedu, Jawa Tengah. Kyai Hasan Mukmin diperkirakan lahir pada tahun 1854 M dan merupakan anak satu-satunya. Nama panggilan kecilnya adalah Sebloe, seperti namaibu asuhnya. Ketika menginjak dewasa ia dipanggil Durrachman hingga kemudian ia kembali dipanggil dengan nama Hasan Mukmin. Ia menikah dengan seorang perempuan asal Sidoarjo yang dikenal dengan nama Mbok Kassan Mukmin atau Mbok Markamah. Dari pernikahan dengan Mbok Markamah, Kyai Hasan Mukmin dikaruniani tujuh orang anak. Mereka adalah: Kassan, Imam Widajat, Markamah, Martijah, Jatmoenah atau Tjepik, Jateni, dan Samainah Menurut penemukan pak Dukut dalam bukunya Sidoardjo Tempo Doeloe yang di dapatkan dari arsip Belanda, nasib anak-anak Kyai Hasan Mukmin disampaikan sebagai berikut :
- Imam Widajat tewas dalam dalam usia 17 tahun di Rumah Sakit Kota Sidoarjo karena terluka rumah orang tuanya digrebek oleh pasukan militer.
- Markamah anak tertua berumur 20 tahun sewaktu menikah dengan Pak Roepiah dari Desa Damarsi, Distrik Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Kemudian tinggal bersama mertuanya di Desa Sumantoro.
- Jatmoenah atau Tjeplik berumur antara 15-16 tahun adalah janda dari Pak Ngateman Dukuh Tengah, Distrik Gedangan. Ia kemudian menikah dengan Amari dari Desa Damarsi.
- Jateni yang baru berumur 12 tahun mendapatkan suami Aboe Soeker Salim dari Desa Daju, Distrik Papar, Kabupaten Kediri.
Kyai Hasan Mukmin menikahkan anak-anaknya dengan orang-orang yang memiliki pengaruh dan mempunyai kemampuan. Ketiga anak perempuanya menikah dengan keluarga baik-baik yang mempunyai kekuasaan untuk memerintah orang. Salah satu anak perempuannya, Jatemi merupakan istri dari Abu Sukur Salim di desa Dayu, Sidoarjo, dia adalah orang yang makmur yang mempunyai hubungan dan teman diantara orang-orang kaya seperti Haji Mohammad Dangi di desa Kurek, Sidoarjo. Dalam perkembangannya, keluarga dan anak-anak Kyai Hasan Mukmin tidak dapat peneliti temukan jejaknya, karena saat itu beberapa diantara mereka selain meninggal, mengganti nama dan melarikan diri.
Untuk menjelaskan sosok Kyai Hasan Mukmin, peneliti mengumpulkan beberapa pendapat dan melakukan pembagian sudut pandang. Banyaknya kejadian yang terpotong-potong membuat peneliti melakukan penyatuan informasi melalui data lainnya. Pembagian sudut pandang ini peneliti mulai dari pandangan kolonial yang terdapat dari arsip yang ditulis oleh pejabat pemerintahan pada masa itu, dan sudut pandang berikutnya adalah pandangan masyarakat yang peneliti dapatkan dari Mengenai kematian Kyai Kassan Mukmin, ada dua pendapat yang berasal dari arsip Laporan Pejabat Pemerintah Sidoarjo kepada pihak Koloni dan pendapat masyarakat. Dalam arsip yang ditulis oleh Pemerintah Hindia Belanda, ia meninggal pada Peristiwa Gedangan pada 27 Mei 1904. Belanda mengumumkan kematiannya dan membuatkan makam sebagai peringatan bahwa setiap pemberontakan hanya akan berakhir sama, kalah dan musnah. Namun keberadaan makam Kyai Hasan Mukmin tersebut masih belum diketahui secara pasti.
Masyarakat meyakini, bahwa Kyai Hasan Mukmin belum meninggal dan sedang berada di suatu tempat untuk menyusun rencana selanjutnya. Kyai Hasan Mukmin yang dalam keadaan terluka dibawa mundur ke Gunung Penanggungan 4 bersama dengan beberapa santrinya. Ia muncul kembali ketika Pemimpin Besar Nahdlatul Ulama’ Hadratus Syech KYAI Hasyim Asy’ari dipenjara karena menolak perintah tunduk pada penjajah Jepang dan memberikan fatwa haram terhadap tindakan Saikerei (Sikap membungkukkan badan sembilan puluh derajat menghadap ke arah tokyo untuk menghormat kepada Kaisar Hirohoto dan ketaatan pada Dewa Matahari Amaterasu Omikami). Keadaan semakin memanas ketika di serukannya “Resolusi Jihad”6 pada tahun 1945. Kyai Hasan Mukmin muncul membawai sebuah laskar yang diberi nama Laskar Suro Diro Joyo Jyaningrat. Nama laskar ini diambil dari filosofi Jawa “SURO DIRO JOYO JAYANINGRAT LEBUR DHENING PANGASTUTI” yang artinya: Semua Keberanian, Kekuatan, Kejayaan, dan Kemewahan yang ada di dalam diri manusia akan dialahkan oleh Kebijaksanaan, Kasih Sayang, dan Kebaikan yang ada di sisi lain dari manusia itu sendiri.
Sebagai seorang ulama ia merasa terpanggil oleh seruan KYAI Hasyim Asy’ari dalam Resolusi Jihad dan orasi pembakar semangat oleh seorang pemuda bernama Sutomo atau yang lebih dikenal dengan Bung Tomo, yaitu “Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Tuntas”. Namun karena usia yang tidak lagi muda, ia gugur sebagai seorang pejuang pada Jum’at Legi tanggal 8 Februari 1946 Masehi / 3 Rabi’ul ‘Awal 1367 Hijriyahdi umur 89 tahun.
Adapun Makam Beliau hingga sekarang ditemukan banyak versi, ada yang mengatakan beliau dimakamkan di wilayah Kecamatan Krian, Gedangan, Sidoarjo Kota dan terakhir makam beliau ditemukan di Desa Balungdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.
Di Krian, Gedangan dan Sidoarjo Kota, makam Kyai Hasan Muknin tidak spesifik dijelaskan dan terpisah dari makam-makam warga setempat. Jadi di wilayah tersebut, keberadaan makamnya masih belum jelas karena terletak di pemakaman umum. Sedangkan di Balongdowo, makam Kyai Hasan Mukmin berada dalam satu komplek makam dengan leluhurnya yaitu: “Sayid Suro Sulaiman atau Sayid Syarif Abdur RohmanBin Sayid Syarif Sulaiman Sultan Baghdad atau Ki Ageng Suropati”. Jika diruntut dari Sayyid Suro, maka Hasan Mukmin mempunyai garis keturunan hingga Rasulullah. Dalam buku pegangan penjaga dan peziarah dituliskan bahwa nama lengkapnya adalah Kyai Hasan Mukmin bin Kyai Achmad Mukmin bin Kyai Achmad Hasan bin Kyai Zainal Arifin bin Kyai Ubaidillah bin Syaikh Ahmad Muhajir bin Syaikh Umar Faruq bin Syaikh Asy’ari bin Syaikh Muhammad Amrullah bin Syaikh Muhammad Syarifuddin bin Syaikh Muhammad As’ad Bin Syaikh Zu’uddin bin Syaikh Burhanuddin bin Syaikh Syihabbuddin bin Syaikh Aly Mukti bin Syaikh Alu Mudzakir bin Sayid Syarif Abdurrohman bin Sayid Syarif Sulaiman Al Baghdadi/ Sayyid Suro Sulaiman/ Ki Ageng Suropati Balongdowo Candi Sidoarjo. Kompleks makam ini terpisah dengan makam umum.
Riwayat Pendidikan Kyai Hasan Mukmin
Kyai Hasan Mukmin merupakan seorang santri kalong yang selain belajar juga berprofesi sebagai pedagang alas tenun dan mengobati orang sakit (tabib). Karena kemampuannya inilah ia menjadi terkenal. Ia merantau ke Semarang dan Pekalongan hingga bertemu dengan Kyai Krapyak. seperti yang tertulis dalam laporan dari wakil Snouck Hurgronje, G. A. J Hazeu (1870-1929) dalam buku Sejarah Islam Nusantara.
Hasan Mukmin digambarkan orang-orang setempat semula adalah pedagang alas tenun dengan pekerjaan sambilan mengobati. Dilahirkan di Magelang, pada mulanya ia merantau ke Semarang dan Pekalongan, tempat diabetemu Kyai Krapyak.
Kyai Krapyak yang dimaksud adalah Kyai Ngabdurrasul yang mempunyai sebuah pondok di Desa Krapyak, Semarang. Kyai Hasan Mukmin mondok di pesantrennya dan belajar banyak tentang ajaran Tasawuf Jawa. Corak daritasawuf pada abad ke 19 lebih dekat dengan istilah tarekat. Dengan latar belakang keluarga yang menganut tarekat, tidak heran jika Kyai Hasan Mukmin memperdalam pengetahuannya di Krapyak ini. Ia belajar dengan serius kepada Kyai Haji Ngabdurrasul.
Ajaran yang dipelajari oleh Kyai Hasan Mukmin diantaranya adalah ajaran Ramalan Joyoboyo tentang munculnya Heru Cakra sebagai Ratu Adil yang akan memimpin kerajaan dan mewujudkan kemakmuran bagi rakyat Tanah Jawa. Ajaran ini yang kemudian menjadi cukup berpengaruh bagi kehidupannya di masa mendatang. Kyai Hasan Mukmin juga mendalami ilmu yang mngandung unsur mistik dalam tarekat Qadariya wa Naqsyibandiyah. Hal ini memungkinnya menguasai ilmu kekebalan tubuh tau hal-hal mengenai kebatinan dan ghaib.
Pada akhir 1870-an, ia terus melanjutkan perjalanan ke bagian Timur Tanah Jawa sambil berjualantikar. Di sana ia melakukan kontak dengan berbagai macam orang, seperti pedagang, tukangdan petani yang berbagi pandangan dunia umum. Pengalamanmemperluas pemahamannya tentang kehidupan ekonomi dan agama Jawa kontemporer. Mukmin mengunjungisejumlah kyai terkemuka di pesantren mereka di wilayah Surabaya, mendapatkan agamapengetahuan dan pengalaman, dan menjadi murid dari Kyai Haji Idris alias MohamadNgaidi di pesantren di desa Tirim di Kabupaten Mojokerto.
Sekitar tahun 1874, Mukmin pindah ke desa Kemangsen, Krian, Kabupaten Sidoarjo untuk menjadi murid dariJenal Mohamad Ngabidin yang adalah seorang penghulu atau pejabat masjid senior. Di sana iamulai berlatih sebagai dukun untuk pertama kalinya. Kyai Hasan Mukmin dikenal sebagai seorang santri yang pintar dan salih. Dengan kepintarannya, ia bisa membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan pertolongannya, dan dengan kesalihannya ia mampu menjadi seorang tokoh agama yang terkemuka. Setelah kematian gurunya, ia kemudian berguru pada Haji Mohammad Tohir di Desa Kedungbetik, Mojoagung, Kabupaten Jombang. Di Desa ini ia menikah dengan seorang perempuan bernama Masidjah yang merupakan saudara ipar Haji Mohammad Tohir. Namun tidak lama kemudian mereka berpisah.
Dari Jombang, ia kembali mengembara ke Desa Semambung, Krian, dan tinggal dengan Pak Kamidjo. Ia membentuk komunitas yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang menaruh kepercayaan dan mempunyai kesetiaan padanya. Kegiatannya selain menyebarkan agama dan menyembuhkan penyakit, Hasan Mukmin atau Durrachman juga memberikan pegangan berupa ajimat atau rajah bagi para nelayan agar melimpah tangkapannya, kepada petani agar hasil panen padi berlebih, bagi para pedagang untuk menghindari persaingan, membawa kentungan dan dijaukan dari bencana.
Setelah lama bergelut dengan dunia pengobatan, ia terdorong oleh keberhasilannya dan bertambah semangatdengan membuat aneka tulisan rajah yang isinya diambil dari Al-Qur’an untuk kekebalan dan kesakitan. Jerih payah Hasan Mukmin dengan tak henti-hentinya memberikan macam-macam bantuan kepada para pendatang yang memerlukan, menambah kemasyhurannya. Michael Laffan mengungkapkan dalam bukunya :
“Dia tidak mengajarkan teks apapun atau ajakan tarekat dalam arti formal, tetapi azimat-azimatnya semakin dihargai oleh para petani, pedagang kecil, dan nelayan. Seiring berlalunya waktu, kemasyhurannya menjadikannya titik pusat yang masuk akal bagi orang-orang yang memiliki keluhan. Pada tahun 1903, Kyai Krapyak memberi tahu bahwa dirinya akan memiliki peran dalam sebuah Negara yang segera didirikan oleh Sang Mahdi”.
Ia terus berkelana mencari ilmu hingga kemudian menikah dengan perempuan yang berasal dari Desa Panjunan, Gedangan, Sidoarjo dan menetap di Desa Sumantoro sekitar tahun 1890. Disini ia membangun rumah sederhana tidak jauh dari pintu air botokan. Karirnya sebagai dukun membuat kemajuan yang baik. Banyak nelayan lingkungan setempat dan pemilik tambak (kolam ikan) mengunjunginya mencari jasa untuk meningkatkan tangkapan ikannya. Sementara petani lokal mencari perlindungan untuk tanaman mereka dan pedagang mencaribantuannya untuk menghilangkan persaingan.
Reputasi Kyai Hasan Mukmin sebagai tokoh agama dengan kekuatan yang luar biasa tumbuh melampaui batas-batas desa. Ia melanjutkan dakwahnya dengan melakukan praktek pengobatan dan memberikan pegangan berupa azimat-azimat sesuai dengan kebutuhan, disamping ia juga mendapat hasil dari tanaman di depan rumahnya dan dari zakat fitrah para dermawan. Petani yang telah dibantu membayarnya bagian dari tanaman mereka sekitar 2 hingga 10%. Pemilik kolam ikan membawakan nyaikan dan pedagang membayarnya dengan uang. Dia sangat di segani oleh pengikutnya, yang memberinya gelar Kyai dan memberinya sebuah rumah untuk dibangun.
Pada tahun 1890, Kyai Haji Ngabdulrasul dari Krapyak mengunjunginya, berharap dan memberinya dorongan agar memiliki peran yang leih besar lagi sebagai pemimpin agama. Kyai Ngabdurrasul menjelaskan bagaimana keadaan masyarakat di sekitar yang tertindas dan mendapat banyak penekanan dari pemerintah kolonial Belanda. Tidak hanya itu, orang-orang pribumi sendiri bahkan menyalahgunakan kekuasaannya untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya meski harus merampas hak-hak saudara sebangsanya. Muncullah dalam diskusi tersebut gagasan milenarian Islam yang terwujud dalam suatu penjelmaan Ratu Adil atau dalam Islam dikatakan Imam Mahdi yang akan memberitakan suatu tatanan baru, membebaskan rakyat dari kesengsaraan, menciptakan perdamaian dan kemakmuran. Diskusi tersebut tampaknya telah membuat kesan yang kuatpada Mukmin. Pada Agustus 1903, Kyai Ngabdulrusul mengunjungi desa Samentoro sekali lagi mengungkapkan bahwa Kyai Mukmin adalah penjelmaan dari Imam Mahdi, hal itu semakin membuatnya dikenal luas dan semakin memperbesar kepercayaan masyarakat terhadapnya.
Meskipun ia dihormati sebagai seorang guru agama yang bersahaja. Ia tidak membangun langgar atau pesantren di kompleks rumahnya karena dalam pandangan masyarakat sekitar, ia adalah orang yang sederhana, dan pintar.33 Dukut Imam Widodo menggambarkan beliau dalam bukunya Sidoardjo Tempoe Doeloe bahwa : Bagi para penganutnya dan juga murid-muridnya dan segenap keluarga, ia menyandang kedudukan tinggi sebagai guru agama ternama. Apabila di kota, ia disebut sebagai guru agama, maka di Desa-Desa ia diagungkan sebagai seorang Kyai terhormat.






