Biografi Singkat Syaikhona Kholil Bangkalan, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Seluruh Indonesia

Biografi Syaikhona Kholil Bangkalan | Biografi Singkat Syaikhona Kholil Bangkalan | Profil Syaikhona Kholil Bangkalan | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Syaikhona Kholil Bangkalan: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Syaikhona Kholil ini berasal daripada pulau terpencil yaitu pulau madura yang terletak disebelah kota surabaya ibu kota provinsi jawa timur. madura ini mempunyai empat kabupaten antaranya Bangkalan terletak di ujung barat pulau madura, Sampang, pamekasan dan paling ujung timur sumenep, masyarakat madura majoriti beragama Islam.

Walaupun berasal daripada daerah yang cukup terpencil Syaikhona Kholil sangat dikenal oleh para ulama Indonesia bahkan banyak yang mengakatan beliau adalah leluhur intelektual dan spiritual mereka, hal itu disebabkan para ulamak jawa abad ke 20 mayoritasnya berguru kepada Syaikhona Kholil seperti pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari dan KH.Wahhab hasbullah dan banyak lagi ulama’ yang sangat masyhur di tanah jawa berguru kepadanya.

Semasa hidupnya Syaikhana terkenal sebagai ulama yang sangat alim dalam dua ilmu ianya ilmu tata bahasa arab ( nahwu, sarraf, balaghah, arud) dan ilmu fiqh. Sehingga salah satu ulama terkemuka di tanah jawa yaitu k. Achmad Qusyairi Pasuruan mengatakan Syaikhana Khalil “Man fi al-Nahwi ka sibawaih wa man alfiqh ka al-nawawi” yang artinya: seseorang yang dalam ilmu nahwu seperti Imam Sibawaih dan dalam ilmu fiqh seperti Imam nawawi. Keahlian Syaikhana Kholil dalam dua ilmu tersebut terlihat ketika beliau bisa menyatukan keduanya, semisal suatu ketika ada seseorang bertanya masalah fiqh kepada Syaikhona Kholil dia bertanya bagaimana hukum makan dengan menggunakan sendok sedangkan dia masih bisa makan menggunakan tangannya sendiri, beliau menjawab dengan membacakan nazham alfiyah ibnu malik kitab nahwu dan sharraf yang sangat masyhur, yang artinya: “Dalam satu kalimat yang masih bisa menggunakan dlamir muttasil tidak diperbolehkan menggunapakai dlamir munfasil”.


Dengan demikian Syaikhona Kholil bermaksud selagi bisa makan menggunakan tangan maka tidak diperbolehkan makan menggunakan sendok. Sebagaimana tangan adalah alat yang bisa digunakan untuk makan yang bersambung langsung dengan anggota tubuh kita sedangkan sendok adalah alat yang bisa digunakan untuk makan namun tidak bersambung langsung dengan anggota tubuh.

Selain daripada dua ilmu itu ternyata Syaikana masyhur juga dalam sudut tasawwuf. Yang mana ilmu tasawwuf itu beliau pelajari dari semasa beliau belajar di tanah jawa, bahkan beliau berjuang dengan berjalan kaki dari pondok candi ke sidogiri demi mempelajari kitab yang masyhur dengan tasawwufnya yaitu kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-ghazali belajar kepada KH. Noer Hasan. Sehingga dari sangat masyhurnya dari sudut tasawwuf ada salah satu guru besar tarikat mengaku bahawasanya Syaikhona Kholil adalah guru spiritual mereka, bahkan nama beliau dimasukkan urutan ke 3 dalam silsilah khalifah tarekat Naqsyabandiyah di singkawang Kalimantan barat. Walaupun demikian menurut anak cucunya Syaikhona Kholil tidak pernah mengajarkan atau memberi contoh kepada santri-santrinya mengenai tasawwuf.

memeluk agama islam yang sebelumnya tidak menyeluruh memeluk agama islam. Dengan dakwah raja yang mengajak rakyatnya untuk memeluk agama islam, sehingga masyarakat Madura menjadi seratus peratus memeluk agama islam. Dan pada masa itu kerajaan Bangkalan adalah induk daripada kerajaankerajaan kecil Madura.

Pada pemerintahan Tjakradiningrat II kerajaan bangkalan sangat kuat dari semua sudut termasuk dari sudut meliter, sehingga membuat kolonial belanda hawatir terhadap kekuatannya. Dengan dmikian penjajah belanda selalu berusaha untuk menghapus kerajaan tersebut. Usaha belanda untuk menghapus kerajaan bangkalan taktercapai sampai pada akhirnya setelah wafatnya Tjokroadingrat VII wafat dan tidak ada putera mahkota yang menggantikannya, belanda mengambil alih kerajaan bangkalan dan diganti dengan bupati. Dan bupati pertama adalah Pangeran Adingrat, berkuasa pada tahun 1882-1905 M.


Sejak bergantinya kerajaan menjadi kadipaten, dakwah islam menurun drastis. Dan sepulang dari mekkah Syaikhana Khalil masuk ke lingkungan kadipaten untuk berdakwah. Kerana dakwah lewat kekuasaan lebih efektif daripada dakwah.

Suasana dimasa hidup Syaikhona Kholil Bangkalan

KH. Muhammad Khalil adalah seorang ulama yang sangat alim dan tawadhu’, sehingga beliau sangat masyhur di tanah jawa khususnya jawa timur. Masyarakat jawa timur khususnya Madura lebih mengenal beliau dengan nama gelaranya yaitu Syaikhona Kholil Bnagakalan. Untuk lebih memudahkan dalam mengkaji kehidupan beliau maka perlu mengkaji suasana di masa belliau hidup, agar mendapatkan gambaran yang lebih detail. Oleh kerana itu, pada bab ini akan membahas kehidupan beliau berdasarkan aspek politik, sosial agama.

  • Aspek politik

Syaikhona Kholil hidup dimasa belanda menjajah dan menguasai Indonesia, yang mana pada masa itu yang berkuasa adalah Van der Capellen ia sebagai gubernur jenderal yang di angkat oleh belanda pada tahun 1819. Pada masa itu adalah masa awal kekuasaan belanda, hal tersebut dilihat daripada baru di mulainya pelaksanaan undang-undang yang di susun oleh komisi jenderal belanda. Adapun komisi jenderal tersebut adalah Cornilius Theodore Elout, A.A. Buyskes dan Baron Van Der Capellen. walaupun baru permulaan daripada kekuasaan belanda namun sudah sangat berkuasa, terbukti pada masa itu belandalah yang menyusun undang-undang didalam pemerintahan sejak belanda menundukkan kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Dan hal inilah yang menjadikan sebab perlawanan salah satu keturunan raja Yogyakarta beliau adalah raden diponegoro. Perlawanan tersebut membuahkan peperangan yang di sebut perang diponegoro bermula tahun 1830 sampai 1925. Perlawanan yang dilakukan pageran diponegoro ini sangatlah kuat sehingga membuat colonial belanda bangkrut sebab mengeluarkan uang yang cukup banyak, demi mengalahkan pasukan pangeran diponegoro. namun pada akhirnya reden diponegoro, kiai maja dan sentot beserta para pengikutpengikut lainnya menyerah pada tahun 1930 M.

Perlawan kepada penjajah seperti yang terjadi di masa raden diponegoro itu dilanjutkan oleh generasi-generasi muda jawa. Hal ini terlihat dengan terbentuknya beberapa organisasi-organisasi yang bertujuan untuk membangkitkan semangat masyarakat Indonesia secara umum dan pemudapemuda secara khusus dalam menolak terhadap penjajahan dan membangun cinta tanah air dan menjunjung tinggi kemerdekaan bangsa dan negara. Dengan demikian berdirilah organisasi-organisasi seperti Budi utomo pada tahun 1908 M9 , sarekat islam (SI) pada tahun 1912, dan pada tahun yang sama berdirilah organisasi muhammadiyah yang di dirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 18 Nopember 1912 M, setelah itu pada tahun 1914 berdiri perhimpunan bernama al-Irsyad yang dipimpin oleh Ahmad Syurkati, pada tahun 1923 M berdiri persatuan islam (persis) dibawah pinpinan A. Hasan di Bandung. . Dan juga Nahdatu al-Ulama (NU) berdiri pada 31 januari 1926 M.

Baca Juga :   Sejarah Desa Wates Kabupaten Tulungagung (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Melihat terhadap history yang terjadi dari tahun 1800 sehingga tahun 1947 M Syaikhona Kholil hidup dalam masa yang penuh dengan pergolakan politik di tanah jawa, yang mana pada masa itu tanah jawa berada dalam penjajahan belanda. Dilihat dari peran Syaikhona Kholil tidak terlibat langsung dalam perlawanan terhadap belanda, namun beliau mempunyai sumbangan terhadap kemerdekaan Indonesia sebagai inspirator berdirinya organisasi NU. Selain daripada itu beliau juga bergerak melawan penjajahan belanda dengan mengajari pemuda ilmu Syari’at dengan mendirikan pondok pesantren.

  • Aspek Sosial Agama

Dari sebelum abad ke 18 masyarakat Madura menganut kepercayaan hidu budha yangmana mereka itu ikut kepercayaan kerajaan setempat, seperti kerajaan arosbaya, kerajaan blega, kerajaan sampan, kerajaan pamekasaan dan kerajaan sumennep. Semua kerajaan tersebut berinduk kepada kerajaan hindu jawa seperti kerajaan singosari dan majapahit, sehingga masyarakat Madura mengikuti kepercayaan yang resmi menjadi kepercayaan kerajaan pada masa itu. Dan pada masa itu kepercayaan resmi kerajaan adalah hindu budha.

Pada abad ke 19 tepatnya pada tahun 1815-1847 M dengan bergantinya raja Madura barat dari raja Tjakradinigrat I diganti oleh Tjakradiningrat II atau dikenal dengan nama Sultan Bangkalan II masyarakat Madura lebih mengenal islam dan secara keseluruhan. Di kadipaten Syaikhona Kholil menjadi guru agama keluarga kadipaten dan sekaligus menjadi penasehat. Bukan hanya itu kerana kealiman beliau keluarga adipati menjadikan beliau menantu dengan menikahkan Syaikhona Kholil dengan Nyai Asyeek. Putri kerabat Adipati yang bernama Pangeran Lodrapati.

Melihat terhadap kebudayaan dan keagamaan msyarakat Madura yang masih sangat dangkal, sepertimana yang ada pada masa Syaikhona Kholil, maka menurut keyakinan pengkaji ada dua hal yang mendorong Syaikhona Kholil menulis berbagai bidang ilmu, terutama ilmu aqidah dan ilmu fiqh kerana kedua ilmu tersebut adalah asas daripada Syariat islam. Semua itu bertujuan untuk mendidik masyarakat dalam ilmu syariat islam dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Syaikhona Kholil Bangkalan Perintis Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Pada tahun 1924 KH. Hasyim Asy’ari sebagai ulama yang paling dituakan di jawa timur kebingungan kerana berulang kali shalat istikhara dan berdoa meminta petunjuk Allah untuk rencana mendirikan NU namun ternyata Allah tidak memberikan isyarah kepadanya, sehingga beliau tidak bisa melanjutkan cita-citanya karena istikharah dan doanya tidak ada jawaban dari allah. Setelah beberapa saat KH. Hasyim Asy’ari menunggu datangnya petunjuk dari Allah tetap tidak ada isyarah, ternyata Allah memberikan isyarah tidak langsung kepadanya namun melaui guru beliau yaitu Syaikhona Kholil Bangkalan.

Setelah isyarah datang kepada Syaikhona Kholil beliau langsung memanggil KH. As’ad Syamsul Arifin beliau adalah santri senior berumur 27 tahun, kemudian KH. As’ad menghadap kepada Syaikhona kholil memenuhi panggilannya : “As’ad, antarkan tongkat ini ke tebuireng dan sampaikan langsung kepada KH. Hasyim Asy’ari, tapi ada syaratnya kamu mesti hafal Al-Qur’an surat Thaha ayat 17-23, dan bacakanlah ayat-ayat itu kepada KH. Hasyim Asy’ari”. Dengan membawa amanah dari gurunya KH. As’ad berangkat ke tebuireng dengan berjalan kaki, setelah sampai di tebuireng As’ad langsung bertemu dengan KH. Hasyim Asy’ari dan menyampaikan amanah dari gurunya “kiyai saya di utus Syaikhona Kholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini kepada kiyai” kata KH. As’ad, tongkat yang d serahkan oleh KH. As’ad d terima oleh KH. Hasyim dengan rasa haru, kemudian KH. Hasyim bertanya kepada KH. As’ad “ ada pesan lagi dari syaikhona kholil?” kemudian KH. As’ad membacakan kepadanya pesan dari Syaikhona Kholil yang kedua yaitu surat Thaha ayat 17-23 :

وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يٰمُوْسٰى

قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى

قَالَ اَلْقِهَا يٰمُوْسٰى

فَاَلْقٰىهَا فَاِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعٰى

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى

وَاضْمُمْ يَدَكَ اِلٰى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاۤءَ مِنْ غَيْرِ سُوْۤءٍ اٰيَةً اُخْرٰىۙ

لِنُرِيَكَ مِنْ اٰيٰتِنَا الْكُبْرٰى ۚ

Artinya: “Dan apa yang di tangan kananmu itu wahai Musa?” (18) Nabi Musa menjawab: “Ini adalah tongkatku; aku bertekan atasnya semasa, berjalan, dan aku memukul dengannya daun-daun kayu supaya gugur kepada kambingkambingku, dan ada lagi lain-lain keperluanku pada tongkat itu”. (19) Allah Taala berfirman: “Campakkanlah tongkatmu itu wahai Musa!” (20) Lalu ia mencampakkannya, maka tiba-tiba tongkatnya itu menjadi seekor ular yang bergerak menjalar. (21) Allah berfirman: “Tangkaplah dia, dan janganlah engkau takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya yang asal. (22) “Dan kepitlah tanganmu di celah lambungmu; nescaya keluarlah ia putih bersinar-sinar dengan tidak ada cacat; sebagai satu mukjizat yang lain. (23) (terjadinya yang demikian itu) karena Kami hendak memperlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.” (Q.S. Thaha: 17-23)

Setelah KH. Hasyim menerima tongkat dan mendengar ayat Al-Qur’an pemberian gurunya Syaikhona Kholil beliau sangat bahagia sehingga melinangkan air mata sebab beliau merasakan telah menemukan jalan keluar dari kebingungannya dalam mendirikan NU. Namun walau sudah mendapatkan petunjuk dari Syaikhona Kholil KH. Hasyim masih merasakan kebingungan dalam mendirikan NU kemudian di akhir tahun 1925 Syaikhona Kholil memanggail KH. As’ad untuk mengantarkan sebuah tasbih kepada KH. Hasyim dan seperti yang mengantarkan tongkat KH. As’ad juga diberi amanah menyampaikan asma’u al-husna beliau membaca ya jabbar tiga kali dan ya qahhar sebanyak tiga kali pula.


Di Surabaya setelah Satu tahun dari petunjuk Syaikhona Kholil dalam pembentukan NU maka berkumpullah para ulama jawa mulai dari jawa timur, jawa tengah dan jawa barat, untuk membincangkan pembentukan jam’iyah Nahdhatu Al-Ulama. Pada hari itu juga para ulama se jawa sepakat dalam mendirikan NU dan berdirilah organisasi islam terbesar di Indonesia dengan nama Nahdhatu Al-Ulama pada tanggal 31 Desember 1926 M bertepatan dengan tanggal 16 Rajab 1344 H dengan di ketuai KH. Hasyim Asy’ari.

Baca Juga :   Sejarah Singkat Kabupaten Subang (Sejarah dan Profil)

Mendirikan Pondok Pesantren

Salah satu daripada bentuk perlawanan terhadap ketidak adilan penjajahan belanda Syaikhona Kholil mendirikan pondok pesantren. pada masa itu mendirikan pondok pesantren memanglah langkah yang paling baik dalam melawan belanda. Sebab kekuatan belanda pada waktu itu sangat kuat sehingga sulit untuk di tandingi. Pondok pesantren yang didirikan oleh Syaikhona Kholil itu bukan hanya sebatas mendidik pemuda pandai ilmu agama islam namun juga jadi pusat dakwah dalam menanamkan cinta terhadap tanah air kepada pemuda dan masyarakat. Adapun pondok pesantren yang dibangun langsung oleh Syaikhona kholil antaranya:

  • Pondok Pesantren Al-Muntaha Al-Khalili Jangkibuan

Dengan bermodalkan tanah pemberian ayah mertua Syaikhona Kholil bertekat untuk memulai dakwah beliau dengan mendirikan pondok pesantren. Dan pada hari juma’at 19 Rajab 1290 H di atas tanah pemberian ayah mertuanya yangmana mertua beliau adalah seorang penguasa bangkalan pada masa itu beliau adalah panembahan Isma’il, maka berdirilah pondok pesantren pertama yang didirikan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan yang bernama pondok pesantren jangkibuan. Pesantren jangkibuan tidak memerlukan waktu yang lama untuk di kenal banyak orang sebab pendirinya yang sangat alim dan di kagumi banyak orang, sehingga semakin lama semakin banyak santri berdatangan dari berbagai daerah, baik dari daerah Madura maupun dari luar Madura mereka semua satu tujuan untuk belajar ilmu agama islam kepada Syaikhona Kholil.

Sambil mengurus keluarga Syaikhona Kholil mengurus santri yang semakin hari semakin banyak. Pada tahun 1280 H kurang lebih 1861 M lahirlah puteri Syaikhona Kholil yang bernama Khatimah. Seperti adat kuno Khatimah di jodohkan oleh Syaikhona Kholil di usia yang sangat muda, pada masa Khatimah umur 8 tahun Syaikhona Kholil menikahkan Khatimah dengan sepupunya sendiri beliau adalah muntaha putera kakaknya Syaikhona Kholil yang bernama Nyai maryam dengan kiyai kaffal dan pada masa itu muntaha berusia 22. Namun pernikahan dini itu langsung di pertemukan, akan tetapi muntaha masih kembali lagi ketanah suci mekkah untuk melanjutkan study nya. Setelah 7 tahun belajar kedua kalinya di mekkah muntaha kembali lagi ke tanah air dan beliau sudah menjadi ulama muda yang sangat pandai berbagai macam ilmu agama islam dan tawadu.

Melihat anak menantunya alim dari berbagai ilmu dan beliau mampu untuk diberi amanah maka Syaikhona Kholil menyerahkan pondok pesantren jengkibuan ini kepada anak menantunya yang tak lain adalah KH. Muntaha atau dikenal dengan KH. Muhammad Thoha. sekarang pesantren tersebut dikenal dengan nama pondok pesantren “Al-Muntaha Al-Khalili”.

  • Pondok Pesantren Kademangan

Setelah menyerahkan pesantren yang dibangun pertama kali itu Syaikhona Kholil pindah dari jengkibuan dan mendirikan pondok pesantren lagi. Tepatnya di daerah Kademangan yang mana tempatnya tak jauh dari pondok yang pertama. Kademangan itu tempat yang sangat strategis untuk di dirikan pondok pesantren tempatnya sangat dekat dengan pusat kota Bangkalan sekitar 200 meter dari alun alun bangkalan.

Seperti ketika mendirikan pondok pesantren yang pertama Syaikhona Kholil tidak memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan santri, bahkan dengan masa yang sangat singkat santri Syaikhona Kholil sudah bukan hanya santri-santri yang berasal dari Madura lagi namun sudah ada dari pulau sebrang, terbukti bahwa santri pertama di kademangan itu adalah santri dari jombang beliau adalah KH. Hasyim Asy’ari dan banyak lagi yang lainnya.

Kelahiran dan Wafatnya Syaikhona Kholil Bangkalan

Syaikhona Kholil Bangkalan adalah seorang ulama legendaris. Beliau lahir bernama Muhammad Kholil. kota Bangkalan adalah tempat kelahirannya, yang kemudian dinisbahkan kepada nama baliau, sehingganya beliau dikenal dengan panggilan nama Muhammad Kholil Bangkalan. KH. Abdul Latif memberikan nama kepada anak laki-laki nya dengan nama Muhammad Kholil.

Kelahirannya

Syaikhona Kholil di lahirkan di kampung Senenan, desa Kemayoran, kecamatan Bangkalan. Kabupaten Bangkalan. Sedangkan tanggal kelahiran beliau terdapat beberapa versi yang penulis dapatkan. antaranya:

  1. Syaikhona Kholil dilahirkan di Bangkalan pada hari ahad, 11 Jumadi alAkhir 1235 H. bertepatan dengan 14 Maret 1820 M.
  2. Syaikhona Kholil dilahirkan di Bangkalan pada hari Selasa 11 Jumadi alTsani 1235 H. bertepatan dengan 14 Maret 1820 M.
  3. Syaikhona Kholil Bangkalan, lahir di Bangkalan pada tanggal 11 Jumadi al Tsani 1235 H. bertepatan dengan 27 Januari 1820.
  4. Syaikhona Kholil Bangkalan dilahirkan di bangkalan pada hari ahad, 11 Jumadi al-Akhir 1235 H.21 tanpa menyebutkan hari dan tanggal masehinya.
  5. Syaikhona Kholil dilahirkan di Bangkalan pada hari Selasa tanggal 3 Jumadi al-Akhir tahun 1252 H. Bertepatan dengan 1836 M.

Perbedaan kelahiran Syaikhona Kholil ini dapat dimaklumi sebab sejarah itu memang susah untuk di ketahui tanpa adanya bukti yang konkrit. Apalagi hal yang semacam tanggal dan tahun lahir yang mana dulu orang tidak memperhatikan terhadap hal tersebut. Namun dari kelima perbedaan diatas penulis lebih mempercayai pendapat KH. Fakhrullah Aschal. Sebab beliau adalah termasuk dari anak cucu Syaikhona Kholil yang biasa dijadikan rujukan oleh msyarakat ketika mau mengetahui lebih dalam mengenai Syaikhona Kholil termasuk penulis juga mendatangi beliau di pondok yang dulunya dibangun oleh Syaikhona Kholil Bangkalan.

Wafatnya

Syaikhona Kholil wafat di usia 106 tahun, tepatnya pada hari kamis tanggal 29 Ramadhan 1343 H bertepatan dengan tanggal 24 April 1925 M jam 4 pagi. Beliau sebelum di kuburkan jenazahnya di shalati dulu di mesjid Agung Bangkalan, dan pada sore harinya setelah shalat Ashar beliau di makamkan di pemakaman martajasah Bangkalan.

Pendidikan Syaikhona Kholil Bangkalan

Syaikhona Kholil sangat Semangat belajar sehingga menjadi ulama besar dan sebagai pencetak generasi ulama nusantara nampaknya sudah terlihat sifat-sifat beliau sejak dari beliau kecil, di usia beliau yang relative masih mudah sudah hafal Qur’an 30 juz dan mampu menguasai qira’ah sab’ah (tujuh car abaca al-Qur’an). Selain daripada itu beliau juga belajar ilmu alat seperti nahwu dan sharraf, bukan hanya membacanya saja akantetapi menghafalnya juga.

Setelah Syaikhona Kholil mendapatkan didikan dari orang tuanya sendiri yaitu KH.abdul lathif sehingga beliau mendapatkan dasar dari semua ilmu-ilmu Islam dan menguasai ilmu alat dalam membaca kitab arab maka beliau dimasukkan ke pondok pesantren di daerah jawa. Adapun pondok pesantren di daerah jawa yang pernah syaikhona kholil mondok disana sebagai berikut:

  1. Pondok pesantren langitan
  2. Pondok pesantren cangaan, Bangil, jawa.
  3. Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan.
  4. Pondok pesantren salafiyah syafi’iyah, genteng banyuwangi.
Baca Juga :   Biografi Singkat KH. Abubakar Bastari, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Sesudah terasa cukup belajar ditanah jawa maka guru terakhir syaikhona kholil yaitu KH. Abdul Bashar mendukung untuk berangkat ke Mekkah alMukarramah dan memperdalam ilmu syari’ah disana Pada tahun 1859 bertepatan beliau berusia 24 tahun.

Dan setibanya di sana beliau segera bergabung dengan orang-orang jawa yang belajar disana juga, seperti Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Muhammad Yasin Padang, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Arsyad Banten, Ajengan Tubagus Bakri Purwakarta yang dikenal dengan nama Ajengan sempur.

Guru-Guru dan Murid-Murid Syaikhona Kholil Bangkalan

Guru-Gurunya

Guru – Guru Syaikhona Kholil baik sewaktu beliau belajar di tanah Jawa ataupun setelah beliau belajar di Mekkah banyak, akan tetapi yang penulis dapatkan baik dari buku sejarah Syaikhona Kholil ataupun dari interview dengan salah satu anak cucunya sebagai berikut:

  1. KH. Muhammad Noer (wafat 1870), Pengasuh Pondok pesantren Langitan, desa mandungan, widang, tuban.
  2. KH. Asyik . pengasuh pondok pesantren Cangaan, Bangil, Jawa Timur.
  3. kiyai Arif. Pengasuh pondok pesantren Darussalam, Kebon Jeruk, Candi Pasuruan.
  4. kiai Noer Hasan. Pengasuh pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan.
  5. KH. Abdul Bashar (wafat 1925). pondok pesantren salafiyah syafi’iyah setail, genteng banyuwangi.
  6. Syekh Umar Khatib Bima.
  7. Syaikh Ahmad Khatib Sambas bin Abdul Ghafar al-Jawi al-Sambasi.
  8. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.
  9. Syeikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki.
  10. Syeikh Abdu al-Hamid bin Mahmud al-Syarwani.
  11. Syeikh Nawawi al-Bantani
  12. Abdu al-Ghani bin Subuh bin Ismail al-Bimawi(Bima-Sumbawa). Beberapa sanad hadis yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdu al-Ghani bin Subuh.
  13. Syeikh Ahmad al-Fathani.
  14. Syaikh Muhammad Shalil al-Zawawi.
  15. Syaikh Utsman bin Hasan al-Dimyati.

Murid-Murid

Sesuai dengan apa yang menjadi panggilan Syaikhona Kholil sebagai ulama penyebar agama Islam di tanah jawa maka hampir ulama besar dan ternama di pulau jawa adalah murid-murid beliau. Selain daripada itu kebanyakan murid-murid syaikhona kholil berumur panjang dan barakah. Berikut ini murid Syaikhona Kholil yang masyhur:

  1. KH. Hasyim Asyari (1871-1947)
  2. KH. As’ad Syamsul Arifin ( 1897-1990)
  3. KH. Abdul Wahhab Hasbullah (1888-1971)
  4. KH. Bisri Syamsuri ( 1886-1980)
  5. KH. Maksum (1870-1972)
  6. KH. Bisri Mustofa (1915-1977)
  7. KH. Muhammad Siddiq (1854-1934)
  8. KH. Muhammad Hasan Genggong(1860-1955)
  9. KH. Zaini Mun’im (1906-1976)
  10. KH. Abdullah Mubarok (1836-1956)
  11. KH. ASY’ARI (1885-1948)
  12. KH. Abi Sujak
  13. KH. Abdul Aziz Ali Wafa (wafat 1962)
  14. KH. Syamsul Arifin ( wafat 1951)
  15. KH. Masykur (1900-1992
  16. KH. Usmuni (1909-1982)
  17. KH. Abdul Karim (1856- 1954)
  18. KH. Munawwir (wafat 1942)
  19. KH. Khozin
  20. KH. Nawawi bin Noer Hasan
  21. Kh. Abdullah faqih bin umar.
  22. Kh. Yasin bin rais (wafat 1969)
  23. Kh. Tholhah raw
  24. KH. Karimullah (1894- 1965)
  25. Kh. Abdul Fattah (wafat 1954)
  26. Kh. Ridwan bin ahmad (wafat 1971)
  27. Kh. Ahmad qusyairi (1893- 1972)
  28. Kh. Ramli tamim (1888- 1958
  29. Kh. Ridwan Abdullah (1884- 1962)
  30. Kh. Abdul hamid bin itsbat
  31. Kh. Abdul majid bin abdul hamid
  32. Kh. Muhammad thoha jamaluddin (wafat 1969)
  33. Kh. Jazuli utsman (1890- 1976)
  34. Kh. Hasan mustofa (1882- 1930)
  35. Kh. Fakih maskumambang
  36. Dr. Ir. H. soekarno (1901- 1970)
  37. Kh. Yatawi
  38. Kh. Abdul wahab
  39. Kh. Makruf (wafat 1955)
  40. KH. Sayyid Ali Bafaqih beliau wafat tanggal 27 februari 1999 beliau wafat dalam usia 117 tahun di bali.

Karya Syaikhona Kholil Bangkalan


Berkarya bermula sejak beliau di tanah suci Makkah semasa beliau belajar disana. Berawal dari keperluan yang asasi yaitu untuk bertahan hidup di mekkah maka Syaikhona Kholil beserta tiga teman beliau yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syekh Shaleh as-Samarani (Semarang) menyalin kitab suruhan orang-orang dengan mengambil upah 200 real dalam satu kitab. Sehingga tiga sahabat tersebut mendapatkan ilham mencetuskan sebuah ka’idah penulisan pegon yang biasa dibilang tulisan melayu jawi.

  1. Kitab Al-Silah fi Bayani al-Nikah. Kitab ini adalah kitab yang menerangkan tatacara pernikahan, adab-adab pernikahan, dan hukum pernikahan. Dan disertai dengan masalah perceraian. Kitab ini merupakan kitab yang menjadi rujukan tentang pernikahan dimasa itu. Kitab ini tidak ditulis langsung oleh Syaikhona Kholil namun ditulis oleh salah satu santrinya bernama KH. Ahmad Qusyairi bin Shidiq Pasuruan(mertua Mbah Hamid Pasuruan) dan manuskripnya merupakan focopy yang di hadiahkan kepada temannya samasama santri Syaikhona Kholil bernama KH. Bin Abd Rahman Jembuh.
  2. al-Matnu al-Syarif. Kitab ini membahas masalah fiqh yang dimulai dari masalah taharah, shalat, dan di akhiri dengan masalah hajji dan umrah. Dan pada akhir kitab ini Syaikhona Kholil mencantumkan tarikh penulisan kitab tersebut. Ianya Rabu tanggal 17 Rajab tahun 1299 H.
  3. Tarjamah al-Fiyah. Adapun penulisan tarjamah al-fiyah ini ada duakali penulisan. Yang semuanya ditulis oleh Syaikhona Kholil. penulisan tarjamah al-Fiyah yang pertama tertulis pada bagian akhir tulisan tarikh penulisan yaitu. 22 Dzulhijjah 1294 H. dan penulisan yang kedua ditulis pada tahun 1316 H.
  4. Kitab Asmaul Husna. Kitab ini berbetuk nazdom disertai dengan penjelasan menggunakan bahasa Madura dan jawa. Kitab ini sampai sekarang belum dicetak dan masih berbentuk manuskrip. Sekarang kitab ini di simpan oleh Kiai Mukhtar Syuhud , Bondowoso.
  5. Shalawat Kiai Khalil Bangkalan. Rangkaian shalawat ini tidak di tulis langsung oleh Syaikhana Khalil akantetapi di susun oleh muridnya beliau adalah KH. Muhammad Kholid. Shalawat ini berjudul “ I’anatur Raqibin” . Shalawat ini di cetak oleh pondok pesantren Roudhatul Ulum, sumber Wringin, jember, jawa timur.
  6. Dzikir dan Wirid-Wirid Syaikhana Khalil Bangkalan. Kitab ini tidak di tulis langsung oleh Syaikhona Kholil akan tetapi di susun dan ditulis oleh muridnya beliau adalah KH. Mustofa Bisri Rembang. Kitab ini berjudul kitab al-Haqibah
  7. Isti’dadul Maut fil hitsi aladzikril maut wafiqhil janazah, dicetak oleh percetakan Darul Kholil. Kitab ini menjelaskan tentang teori merawat janazah mulai dari talqin sampai menguburkan.
  8. Tariqot Syaikhona Kholil Ala Mandhumati nuzhatit tullab fi qawaidil i’rob. Kitab ini menjelaskan qaidah bahasa arab berkenaan dengan jumlah dan yang berkaitan dengann jumlah.

Related posts