Biografi KH. Nasiruddin Shiddiq (Abah Kuwu Nasir) | Biografi Singkat KH. Nasiruddin Shiddiq | Profil KH. Nasiruddin Shiddiq | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com |
Biografi Singkat KH. Nasiruddin Shiddiq : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
Dikenal dengan nama Abah kuwu Nasir adalah sebutan termasyhur yang selalu diingat oleh masyarakat Cirebon. Abah kuwu Nasir memiliki nama lengkap Nasiruddin Shiddiq. KH. Nasiruddin Shiddiq bukan saja dikenal sebagai ulama kharismatik, dikenal juga sebagai seorang birokrat yang mampu mengayomi warganya. KH. Nasiruddin Shiddiq dilahirkan di Kelurahan Kaliwadas. Kelurahan kaliwadas adalah sebuah tempat atau daerah yang berada di Kabupaten Cirebon. Lebih tepatnya Jl. Ponpes Tarbiyatul Banin, Kelurahan Kaliwadas Kecamtan Sumber Kabupaten Cirebon.
KH. Nasiruddin Shiddiq merupakan anak kelima dari Sembilan bersaudara dari pasangan suami istri yaitu KH. Shiddiq dan seorang Istri bernama Hj. Mukminah pada tanggal 1 januari tahun 1940 di Kaliwadas Sumber Cirebon. Ayahnya juga merupakan seorang ulama di Cirebon yakni KH. Shiddiq Bin Kiyai Tarmidzi Bin Kiyai As’ad. Hj. Mukminah merupakan seorang yang memiliki keturunan dari syekh Nawawi Albantani yang berasal dari Tanara Serang Banten, namun silsilah tersebut terakhir dilihat pada tahun 1992an dikediaman bapak Lutfi selaku keluarga kerabat yang bertempatan di Desa Plered Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon. Setelah penulis melacak sangat disayangkan bukti silsilah tersebut tidak ada dikarenakan yang menyimpan sudah meninggal dunia Dalam perjalanan hidupnya KH. Nasiruddin Shiddiq mengalami dua kali masa pernikahan, yang pertama menikahi seorang wanita bernama Nyi Edah namun selama pernikahannya berlangsung tidak mempunyai anak, kemudian KH. Nasiruddin Shiddiq Menikah lagi dengan Nyi Hj. Qomariyah, dari pernikahan dengan Hj. Qomariyah dikaruniai sepuluh anak, yang semuah anaknya memiliki pendidikan yang baik, dan bahkan beberapa anaknya ada yang lulusan sarjana di Timur Tengah yaitu:
- (Alm) Banda Nuji
- KH. Abdul Mujid yang mengenyam pendidikan sarjana S1 di Sayid Al-Maliki Mekah dan saat ini menjadi penerus ayahnya mengurus podok pesantren Tarbiyatul Banin.
- H. Ridwan lulusan sarjana pendidikan S2 UNPAD Bogor 2006 dan saat ini mengajar di pondok pesantren Tarbiyatul Banin.
- H. Abdullah lulusan sarjana pendidikan Al-Azhar Kairo Mesir, S2 Hubungan Intenasional di UI.
- Ahmad Fatoni lulusan sarjana komputer di Tasikmalaya.
- Imam Hanafi lulusan sarjana Al-Azhar Kairo Mesir, S2 Stain Cirebon
- Iis Aisyah lulusan sarjana Stain Cirebon.
- Muhammad Ibnu Ubaidillah lulusan sarjana S2 Kemasyarakatan di Jakarta
- Syam’un lulusan sarjana Stikes An-Nasher Cirebon.
- Siti Munawaroh lulusan sarjana Stikes An-Nasher Cirebon.
Sebagai salah satu ulama yang memiliki peran dan pengaruh yang besar, KH. Nasiruddin Shiddiq selain dikenal sebagai ulama yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam. KH. Nasiruddin Shiddiq juga dikenal sebagai pemimpin kepemerintahan yang arif dan bijaksana. KH. Nasiruddin Shiddiq juga dikenal sebagai ulama yang lemah lembut, sangat merakyat, tutur bahasa sopan dan kharismatik. Sikapnya yang bersahaja memberikan cerminan kepada masyarakat untuk tidak sombong terhadap orang lain dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.
KH. Nasiruddin Shiddiq dikenal sebagai orang yang pandai bergaul, ramah, humoris, cerdah dan disiplin. Sikapnya yang tidak pilih kasih kepada siapapun, membuat masyarakat dan murid-muridnya segan dan hormat kapada KH. Nasiruddin Shiddiq. Hal ini tampak dari penghormatan dan kepatuhan masyarakat terhadap perintah dan saran yang diberikan KH. Nasirudddin Shiddiq, khususnya dalam hal pembelajaran agama.
Kepandaian KH. Nashiruddin Shiddiq dalam begaul dan kemampuannya dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru membuat masyarakat mempercayainya menjabat Kepala Desa Kaliwadas selama dua puluh tujuh tahun selama dua periode dari tahun 1967 sampai dengan tahun 1986 dan periode kedua pada tahun 1986 sampai dengan tahun 1994.
KH. Nasiruddin Shiddiq juga dikenal sebagai sosok yang sederhana. Meskipun banyak tamu yang memberikan makanan, uang, bahkan barang berharga, beliau lebih senang memberikannya kembali kepada orang yang lebih membutuhkannya. Selain itu, KH. Nasiruddin Shiddiq juga merupakan pribadi yang sangat bertanggung jawab. KH. Nasiruddin Shiddiq tidak hanya peduli dengan pendidikan agama masyarakat Kaliwadas, tetapi sangat peduli dengan keadaan kepemerintahan yang dipimpin oleh pemimpin yang tidak baik dan tidak jujur, sehingga KH. Nasiruddin Shiddiq masuk dalam ranah kepemerintahan baik di Kabupaten Cirebon maupun di Jawa Barat.
Pendidikan KH. Nasirudin Shiddiq
Pendidikan merupakan pedoman yang paling mendasar. Tingkat pendidikan yang tinggi akan memungkinkan seseorang untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi karena pendidikan memberikan kemungkinan adanya kemampuan seseorang untuk melaksanakan berbagai kewajiban. Semakin banyak kewajiban yang dilaksanakan, makin banyak pula hakhak yang akan didapatkan. Pendidikan dapat dilaksanakan melalui proses belajar yang khusus dalam jangka waktu dan tempat tertentu. Tetapi pendidikan juga dapat diperoleh melalui bimbingan yang diselenggarakan dengan maksud untuk mempertinggi kemampuan atau keterampilan tertentu. Dengan demikian kemampuan dapat diperoleh baik dari lembaga pendidikan formal maupun non formal.
Intelektual dan nalar kritis seseorang serta karya-karya yang dihasilkan tentu saja tidak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikan yang dijalani oleh seseorang pada masa sebelumnya. Begitu juga dengan sikap dan pandangan hidup seseorang serta pemahaman agama yang diajarkan dan aktualisasikan tidak lepas dari mana dan dari siapa berguru. Latar belakang yang pernah dijalani seseorang serta dengan siapa belajar akan sangat berpengaruh pada prinsip dan pandangan hidup seseorang dimasa yang akan datang.
Tidak ada ilmuan, intelektual dan juga guru yang lahir tanpa pernah mengalami proses belajar sebelumnya dan proses belajar tentu saja membutuhkan seorang guru yang menguasi materi yang diajarkanya, baik di lembaga formal, informal maupun non formal. Ketiga unsur itu, yakni murid, guru dan materi yang diajarkan adalah elemen paling esensial dalam pendidikan. Tanpa ketiganya, tidak akan pernah ada proses pentransmisian ilmu pengetahuan dan tidak akan pernah lahir seorang ilmuan, intelektual dan guru.
Semasa kecil KH. Nasirudin Shiddiq mengenyam pendidikan formal Sekolah Dasar Tukmudal Sumber pada tahun 1946 , kemudian lanjut ke jenjang SMP NU Penembahan pada tahun 1952, dan bahkan dibeberapa pondok pesantren di Cirebon pernah di singgahi antara lain di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin padaa tahun 1953, Pondok Pesantren Arjawinangun pada tahun 1954, Pondok Pesantren Kaliwungu Kendal Jawa Tengah pada tahun 1957 dan yang terakhir di Pondok Pesantren Penjalin Kendal Jawa Tengah pada tahun 1957.
Semasa remaja berumur tujuh belas tahun tepatnya tahun 1957, KH. Nasiruddin Shiddiq merantau ke Jakarta berjualan es lilin dan kemudian menggembala kambing. Pada saat KH. Nasiruddin Shiddiq menggembala kambing didatangi oleh kakek-kakek yang mengaku masih ada ikatan saudara dengan mbah Shiddiq (bapaknya) menyuruh pulang kampung ke Kaliwadas dan pergi ke pondok pesantren untuk menuntu ilmu yang berada di Kaliwungu Kendal Jawa Tengah. Ketika belum lama menuntut ilmu di pesantren Kaliwungu, KH. Nasirudin Shiddiq diusir karena sering bermain rebana melainkan untuk belajar mengaji.
Kemudian KH. Nasiruddin Shiddiq pindah ke pondok pesantren Penjalin Kendal yang dipimpin oleh KH. Ridwan yang tempatnya tidak jauh dari pondok pesantren Kaliwungu terdahulu, namun pondok pesantren Penjalin Kendal memiliki rumor yang tidak baik dari warga sekitar, karena kebanyakan santri yang mondok di Pesantren Penjalin Kendal setelah empat puluh hari banyak yang meninggal. Dari cerita tersebut bukannya membuat takut KH. Nsiruddin Shiddiq malah menjadi berani menimba ilmu disitu, karena yang ada dipikiran KH. Nasiruddin Shiddiq adalah yang namanya umur ada di tangan Allah swt, dan seketika terbukti setelah empat puluh hari KH. Nasiruddin Shiddiq baik-baik saja. Kemudian KH. Nasiruddin Shiddiq mengajak teman-temannya rebana Pesantren Kaliwungu untuk mondok bersama-sama lagi.
Pada suatu saat ketika waktu duhur tiba KH. Nasiruddin dan teman-temannya tidak melaksanakan shalat duhur berjamaah malah berada didalam kamar, kemudian KH. Ridwan mendatangi kamar tersebut dan memberikan buah mangga kepada KH. Nasiruddin Shiddiq. Setelah memakan buah mangga pemberian KH. Ridwan, KH. Nasiruddin Shiddiq malah tambah tidak keluar-keluar kamar sampai beberapa hari lamanya. Seketika keluar kamar KH. Nasiruddin Shiddiq mendatangi kamar KH. Ridwan untuk bertobat mengakui kesalahan yang telah diperbuat, kemudian KH. Ridwan menyuruh KH. Nasiruddin Shiddiq untuk berpuasa dan menawarinya terlebih dahulu dengan takaran puasa biasa, puasa sedang dan puasa berat, KH. Nasiruddin Shiddiq dengan begitu tegasnya memilih untuk puasa berat dan saat itu disuruh untuk puasa enam belas tahun lamanya.
Setelah sekian lama menimba ilmu di pondok pesantren KH. Ridwan Penjalin Kendal, KH. Nashiruddin kembali ke kampung halamannya di Cirebon. Disebabakan oleh desakan masyarakat Kaliwadas untuk menjadi Kepala Desa Kaliwadas pada tahun 1967. Dikarenakan Kepala Desa terdaluhu tidak jujur dan tidak bijaksana dalam mempinpin Desa Kaliwadas kemudian masyarakat menginginkan pemimpin ulama dikarenkan mayoritas Desa Kaliwadas adalah kaum sarungan (muslim).
Kiprah KH. Nasiruddin Shiddiq
Terdapat empat garapan dasar yang menempatkan kiprah ulama diperlukan dalam masyarakat. Ulama berkiprah di masjid, di madrasah, di pesantren dan di sekolah dengan sistem kelas, hal ini disebabkan tiap-tiap pemeluk Islam , baik warga kampung, santri, maupun ulama, melaksanakan shalat lima waktu dan tabigh umum yang diselengggarakan di madrasah. masjid dan madrasah merupakan jantung kelembagaan masyarakat Islam di pedesaan.
Kiyai merupakan elit sosial dalam bidang sosial keagamaan. Merupakan tokoh masyarakat yang dihormati berkat peran-peran yang dimilikinya dalam mengarahkan dan menata kehidupan sosial. Peran yang dimainkan oleh kiyai dalam kedudukannya sebagai elit sosial keagamaan masyarakat adalah sebagai tokoh masyarakat, guru ngaji dan sebagai mubaligh peranan seorang Kiyai adalah selain sebagai pewaris tradisi keagamaan juga pemberi arah atau tujuan kehidupan masyarakat yang mesti ditempuh. Karena itu lebih bersifat memberikan pencerahan terhadap masyarakat, bagi masyarakat yang memiliki religiusitas yang tinggi.
KH. Nasirudin Shiddiq merupakan panutan masyarakat Kaliwadas karena kemampuan ilmu yang tinggi dan ketegasan dalam mengambil sikap, sehingga masyarakat desa Kaliwadasa mempercayainya menjadi Kepala Desa. Dengan menjabatnya KH. Nasirudin Shiddiq menjadi kepala Desa, Desa Kaliwadas maju dan berkembang sehingga tidak tanggung-tanggung selama dua puluh tujuh tahun tahun lebih tepatnya pada tahun 1967- 1994, itupun KH. Nasirudin Shiddiq memberhentikan diri dengan alasan beristirahat di rumah.
KH. Nasirudin Shiddiq seorang kiyai yang ahli tirakat, puasanya itu sampai enam belas tahun yang diajarkan ketika belajar di ponpes Penjalin Kendal, sehingga menjadi ahli hikmah, atau disebut juga tabib. KH. Nasirudin Shiddiq banyak mengobati orang-orang yang sakit kejiwaan, bukan hanya dari masyarakat Cirebon, bahkan hingga luar Cirebon banyak yang berdatangan untuk berobat kepada nya.
KH. Nasirudin Shiddiq dalam aktivitas kesehariannya ialah mengajar baik di pondok pesantren maupun di madrasah, tidak hanya itu KH. Nasirudin Shiddiq juga kerap kali mengisi pengajian di lingkungan Kaliwadas bahkan di luar Kaliwadas yang berada di wilayah Jawa Barat.
Selain piawai berdakwah, KH. Nashiruddin juga aktif dalam kanca perpolitikan. KH. Nasiruddin Shiddiq pernah menjabat sebagai Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Namun kala terjadi perpecahan ditubuh PKB, KH. Nashiruddin pun memutuskan untuk keluar dan mendorong berdirinya Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Kemudian menjadi ketua dewan syuro PKNU di Jawa Barat. KH. Karena KH. Nashiruddin Shiddiq sangat bersemangat dalam berpolitik.
Disamping aktif di Pesanten dan aktif berpolitik. KH. Nasirudin Shiddiq punya tujuan tersendiri, ingin membenahi suatu partai sesuai tujuan partai itu, di satu sisi kebanyakan para kiai enggan berpolitik, sehingga setidaknya ada kiyai terjun ke politik, masyarakat terangkat aspirasinya.
Pada tahun 1989 KH. Nashiruddin mendirikan Pondok Pesantren Tarbiyatul Banin di Kaliwadas, Sumber. Kendati demikian, menurut Kiai Abdul Mujib pada awal berdirinya para santri yang mengaji hanya sekitar 15 santri saja. Para santrinya pun merupakan santri yatim piatu dan berasal dari keluarga dhuafa. Kala itu, KH. Nashiruddin masih mendidik santrisantrinya di rumahnya sendiri.
Kini, Pesantren Tarbiyatul Banin pun telah berkembang pesat. Total santrinya mencapai 1300 santri. Pesantren juga mendirikan lembaga formal mulai yakni Taman Kanak-kanak, Tsanawiyah (1997), SD (1999), Aliyah (2000), dan Akademi Analis Kesehatan (2003), serta Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (2014). Menariknya, Kiai Nashiruddin mampu memajukan pesantren yang dirintisnya dari hasil Ia berbisnis tebu.
KH. Nasirudin Shiddiq mengabdi kepada masyarakat dengan segala kamampuan yang dimilikinya, KH. Nasirudin Shiddiq selalu ditunjuk untuk menjadi imam sholat jumat, khotbah jumat, dan ketika warga mengalami musibah kematian maka KH. Nasirudin Shiddiq di tunjuk menjadi imam sholat mayit sekaligus memimpin do’a.
Keterlibatan KH. Nasirudin Shiddiq dalam setiap kegiatan bernuansa Islami seperti syukuran cukuran bayi, syukuran 7 bulanan, maulidan, isro mi`roj. Sangat di harapkan kedatangannya oleh masyarakat kaloran. Sekaligus mengharapkan di doakan oleh KH. Nasirudin Shiddiq. Berbagai Upaya mengembangkan keislaman di Kaliwadas, KH. Nasirudin Shiddiq pertama-tama dengan membuka pengajian di rumahnya untuk masyarakat kemudian membuka pondok pesantren Tarbiyatur Banin yang hingga sampai saat ini masih bertahan.
Peninggalan KH. Nasirudin Shiddiq
- Kitab
Terdapat beberapa peningalan KH. Nasirudin Shiddiq yang selama ini masi tersimpan dan terawat di kalangan keluarganya. Peninggalan tersebut bukan dalam bentuk harta warisan yang secara praktis dapat digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, melainkan berupa ilmu yang dengannya tidak akan habis jika terus digali dan diamalkan. Ilmu tersebut tertulis dalam bentuk jilid buku yang diperoleh ketika KH. Nasirudin Shiddiq menuntut ilmu dibebebrapa pondok pesantren di Penjalin Kendal Jawa Tengah. Buku tersebut mengenai cabang-cabang iman yang dinamai Nadhom Sya’dul Iman.
Selain kitab-kitab milik KH. Nasirudin Shiddiq, adapula beberapa kitab peninggalan dari ayah handanya yaitu kiyai Shiddiq. Kitab-kitab tersebut menjadi bahan ajaran di pondok pesantren Tarbiyaul Banin hingga sampai saat ini.
- Pondok Pesantren
Pondok pesantren adalah tempat pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan pembelajaran agama islam bagi santri, yang di asuh oleh kiyai yang tinggal atau bermukim bersama-sama dalam satu lokasi.
Secara bahasa pondok pesantren merupakan gabungan dari dua kata, yaitu kata “pondok” dan kata “pesantren”. Kata pondok sendiri diambil dari bahasa arab yaitu funduq yang artinya hotel atau asrama, dalam bahasa jawa, pondok berarti madrasah atau asrama yang digunakan untuk mengaji dan belajar agama islam. Sedangkan kata pesantren sendiri adalah berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe dan akhiran an. Kata santri sendiri berasal dari istilah shastri dan diambil dari bahasa sansekerta, yang bermakna: orang-orang yang mengetahui kitab suci agama.
Pesantren peningalan KH. Nasirudin Shiddiq didirikan pada tahun 1989 di Kaliwadas Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon yang diberi nama Tarbiyatul Banin oleh pamannya sendiri yang bernama Drs. Muzanir Noor. Didalam pesantren tersebut terdapat pendidikan lembaga formal yakni Taman Kanak-kanak, Tsanawiyah (1997), Sekolah Dasar (1999), Aliyah (2000), dan Akademi Analis Kesehatan (2003), serta Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (2014). Menariknya, KH. Nashiruddin Shiddiq mampu memajukan pesantren yang dirintisnya dari hasil ia berbisnis tebu.
- PT. Putra Kaliwadas Jaya Mandiri
Perusahaan ini merupakan penghasil di bidang property (bahan bangunan) dan percetakan yang didirikan oleh KH. Nasirudin Shiddiq untuk menopang keuangan Pondok pesantren agar tidak meminta-minta sumbangan kepada masyarakat sekitar. Karena menurut kiyai Abdul Mujib selaku anak kedua yang penerus ponpes Tarbiyatul Banin kalau KH. Nasirudin Shiddiq pernah bilang bahwa pantang meminta-minta kepada orang lain.
PT. Purnama Jaya Mandiri ini di bangun didua tempat yakni di Kaliwadas yang masi lahan Pondok pesantren Tarbiyatul Banin dan di Daerah Gebang Cirebon yang tempatnya dekat dengan perbatasan daerah Brebes Jawa Tengah.
Menariknya pembangunan Pondok Pesantren Tarbiyatul Banin ini merupakan hasil dari pembuatan bahan matrial yang diproduksi oleh Perusahaan sendiri antara lain: batako, bata, kusen, genteng dll.
Kemudian bukan hanya property dan percetakan, KH. Nasiruddin Shiddiq juga mempunyai penggilingan padi dan sawah sendiri. Sehingga hasil panen padi dari sawah sendiri dikonsumsi oleh keluarga sendiri dan Santri, selebihnya dijual di toko-tokon sembako terdekat dengan kualitas yang tidak kalah saing dengan beras lain.
- Masjid Ar-Raudloh
Pada tahun 1987 KH. Nasiruddin Shiddiq memindahkan Masjid dengan cara membangun kembali Masjid tersebuat. Masjid tersebut bernama Masjid ArRaudloh yang dahulu bertempat di lingkungan Desa kemudian dipindahkan di sebrang jalan samping Desa, dikarenakan daya tampung masjid dahulu tidak mencukupi jama’ah ketika sholat jumat berlangsung, sehingga KH. Nasiruddin Shiddiq menjanjikan ketika terpilih lagi pada pemilihan Kepala Desa selanjutnya pada tahun 1986 akan memindahkan Masjid Ar-Raudloh tersebut.
Pembangunan Masjid Ar-Raudloh memakan cukup waktu yang lama dikarena masjid tersebut adalah masjid swadaya masyarakat, sehingga masjid tersebut selesai selama pembangunan dua belas tahun dan diresmikan pada tahun 1998 oleh KH. Nasiruddin Shiddiq dan masyarakat sekitar. Masjid Ar-Raudloh digunakan bukan hanya untuk pusat ibadah namun bisa digunakan untuk kegiatan sosial dan kegiatan keagamaan masyarakat Kaliwadas.
- Gedung PKB
Pada tahun 2002 KH. Nasiruddin Shiddiq menjabat menjadi Dewan Syuro PKB di Kabupaten Cirebon. Sumbangsih KH. Nasiruddin Shiddiq ketika menjabat menjadi Dewan Syuro PKB adalah membangun gedung sekertariat sendiri yang bertempatan di Desa Watubelah Kecamatan Sumber. Gedung Sekertariat PKB ini adalah bukti dan hasil beliau saat menjabat yang masih bisa dirasakan dan digunakan sampai saat dengan sekarang.






