Biografi Singkat Kiai Muara Ogan, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Singkat Kiai Muara Ogan

Biografi Singkat Kiai Muara Ogan | Profil Kiai Muara Ogan | Pendidikan | Karya | Pemikiran |

Biografi Singkat Kiai Muara Ogan: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Kiai Muara Ogan atau Kiai Muara Ogan, nama lengkapnya adalah Masagus H.Abdul Hamid bin Masagus H. Mahmud atau yang biasa dikenal Kiai Muara ogan. Masyarakat Palembang, lebih mengenal dengan julukan Kiai Marogan karena, beliau lahir di kampong Karang berahi (kini kelurahan Kertapati )lokasi masjid dan makamnya terletak di Muara Sungai Ogan. Kiai Marogan cukup terkenal di Suamatera Selatan Sekitar abad ke-19.

Beliau lahir pada fajar hari tahun 1227 H atau tahun 1811 M, dari seprang ayah bernama Masagus Mahmud alias Cek kanang ibunda Masagus Abdul Hamid adalah seorang wanita Siam (Cina) bernama Verawati. Kiai Muara Ogan mempunyai seorang saudara laki-laki, yang bernama Kiai Masagus Haji Abdul Aziz atau disebut juga Kiai Mudo, dijuluki Kiai Mudo karena lebih muda dari Kiai Muara Ogan. Kiai mudo menyebarkan agama Islam atau berdakwah ke daerah- daerah betung, Sukarami, Gumay, Kartamulia, Gelumbang, Kabupaten Muara Enim dan lain-lain. Kiai mudo wafat di Palembang dan makamnya ada disebelah luar dekat makam Kiai Muara Ogan Kertapati. Meskipun Kiai mudo ga giat menyebarkan agama Islam tetapi tidak setenar kakaknya Kiai Muara Ogan.

Ayah Kiai Muara Ogan yang bernama Masagus Haji Mahmud Alias Kanang adalah seorang pengusaha atau pedagang yang juga seorang ulama, beliau adalah keturunan Ningrat atau raja-raja Palembang. Kiai Muara Ogan wafat pada hari Selasa malam Rabu tanggal 17 Rajab tahun 1319 H, bertepatan dengan tanggal 31 Oktober 1901 M dalam usia 90 tahun. Beliau dimakamkan di gubah disamping Masjid Muara Ogan Kertapati Palembang.

Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dari keluarga keturunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallaman, Kiai Marogan memperoleh pendidikan agama dengan istimewa. dikarenakan dalam lingkungan Kesultanan Palembang, agama Islam mempunyai tempat yang terhormat, hubungan antara negara dan agama sangat erat, memperoleh pendidikan langsung dari orang tuanya yang merupakan seorang ulama besar yang lam belajar di Mekah di bawah bimbingan ulama besar seperti Syeh Abdush Shomad Al-Falimbani. Setelah wafat, ayah Kiai Marogan dimakamkan di negeri Aden, Yaman Selatan. Melihat kecerdasan Kiai Marogan dalam menyerap ilmu agama kemudian orang tuanya mengirimkan ke Mekah untuk belajar mendalami ilmu-ilmu agama.

Peranan atau perjuangan Kiai Muara Ogan dalam pengembangan agama Islam bukanlah pekerjaan ringan, baik itu tenaga maupun harta bendanya. Dalam hal ini perjuangannya telah diakui oleh banyak kalangan tidak saja dari masyarakat luar Palembang pun mengakui eksistensi perjuangan Kiai Muara Ogan, sebut saja masyarakat Pemulutan, Pedu, Jejawi, Batun, Lingkis sampai ke hulu Sungai Rotan dan lain-lain. Umumnya masyarakat Batang Hari Sembilan mengakui eksistensi usaha dan dakwah Kiai Muara Ogan.

Selain mengajarkan agama Islam Kiai Muara Ogan juga mendirikan dan memperbaiki masjid-masjid yang ada di daerah tempat beliau berdakwah seperti di dusun Pedu, dusun Pemulutan Ulu, Ogan Komering Ilir, Ulak Kerbau Lama, Pegagan Ilir OKI, Musholla di 5 Ulu Laut Palembang. Masjid di sungai Rotan Jejawi, Masjid di Talang Pangeran Pemulutan dan lain-lain.

Dalam berdakwah Kiai Muara Ogan mencontoh metode dakwah Rasulullah yang ketika pertama kali hijrah ke Madinah, beliau membangun masjid Kubah dan masjid Nabawi sebagai pusat dakwah dan perjuangan kaum muslimin.

Kiai Marogan memliki dua orang istri yaitu, Masayu Musna dan Raden Ayu Salma. Dari isrti pertama beliau dikarunia dua orang anak bernama Masagus Abu Mansyur dan Masayu Hajjah Zahara, dan dari istri keduanya yaitu Masagus Haji Muhammad Usman.

Silsilah Kiai Marogan

Kiai Marogan memiliki keturanan langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal ini yang diyakini banyak pihak terkhusunya masyarakat kota Palembang bahawasannya Kiai Marogan adalah ulama besar yang diperitungkan sebagai penyebar dan mengembangkan Islam di Sumatera Selatan kota Palembang

Silsilah yang dimilkinya yaitu :

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
  2. Sayyidah Fatimah Az-Zahra
  3. Al-imam Sayyidina Husein
  4. Sayyidina Ali Zainal Abidin
  5. Sayyidina Muhammad Al-Baqir
  6. Sayyidina Ja’far As-Sodiq
  7. Sayyid Al-Imam Ali Uraidh
  8. Sayyid Muhammad An-Naqib
  9. Sayyid Isa Naqib Ar-Rumi
  10. Ahmad Al-Mahajir
  11. Sayyid Abdullah
  12. Sayyid Alwi
  13. Sayyid Muhammad
  14. Sayyid Alwi
  15. Sayyid Ali Kholil’qosam
  16. Muhammad Sohib Marbat
  17. Sayyid Alwi
  18. sayyid al-emir abdul maliki
  19. Sayyid Abdullah Khan
  20. Sayyid Ahmad Syah Jalal
  21. Sayyid Jamaluddin Husin
  22. Sayyid Al-Malik Ibrahim Zainal Kubro
  23. Sayyid Ishak Suhunan Giri
  24. Sayyid Muhammad Ainul Yakin
  25. Sayyid Pangeran Wira Kesuma
  26. Sayyid Pangeran Adipati Panca Tanda
  27. Sayyid Panggeran Tumenggung Manca Negara
  28. Sayyid Sultan Jamaluddin
  29. Sayyid Sultan Suhunan Abdur Rahman
  30. Sayyid Pangeran Surya Wikrama Subekti
  31. Sayyid Radin Perak
  32. Sayyid Raden Wiro Kesumo Kirjo
  33. Sayyid Masagus Komaruddin
  34. Sayyid Masagus Tarudin
  35. Sayyid Masagus H.Mahmud
  36. Ki. Marogan Masagus. H. Abdul Hamid-Masagus H. Abdul Aziz
  37. Masagus H.M.Usman
  38. Masagus H.Ahmad
  39. Masagus. H.Memed Ahmad

Latar Belakang Pendidikan

Kiai Marogan adalah ulama yang di kenal dengan ulama yang pandai dalam bidang keilmuan agama semua itu tidak terelpas dari pada latar belakang kedua orang tuanya yang merupakan seorang ulama besar yang telah lama belajar di mekah seperti Syekh Abdhusshomad Al-Palembani. Melihat kemampuan dalam diri Kiai Marogan ayahnya mengirimkan Kiai Marogan belajar di kota Makkah untuk belajar mendalami ilmu agama. Ayahnya wafat dan di makamkan di negeri Aden, Yaman Selatan.

Kiai Marogan memperlajari banyak tentang keilmuan keagamaan seperti Ilmu Fiqh, Hadis, dan Tashallallahu ‘Alaihi Wasallamu. Hal ini diperoleh dari isnad yang ditulis oleh Syekh Yasin Al-Fadani, Mudir (Pimpinan) Madrasah Darul Ulum Makkah, sejak kecil sudah terlihat keistimewaannya dibandingkan dengan teman-temannya.

Pendidikan agama diberikan langsung oleh ayahnya langsung, karena ayahnya adalah seorang ulama dan dan juga sebagai Sufi Kelana. Ketika remaja beliau belajar langsung “kepada ulama besar Palembang masa itu seperti Syekh Pangeran Surya Kusuma Muhammad Arsyad (1884), Syekh Kemas Muhammad Bin Ahmad (1837), Syekh Datuk Muhammad Akib (1849) dll. Beliau berpegang kepada Akidah “Ahlussunnah Wal Jamaah”, Bermazhabkan Imam Syafei, ayahnya memberikan ijazah tarekat “summaniyah” dan tarekat “Naqasabaniyah” dari para gurunya, Kiai Marogan telah mengamalkan tarekat “summaniyah” dan “Naqsabaniyyah”.

Selanjutnya Kiai Marogan melanjutkan studinya ke tanah suci, Mekkah dan Madinah kepada gurunya Sayid Ahmad Zainal Dahlan, Sayid Ahmad Dimyati Dan Syekh Ahmad Khatib Sambas, sedangkan kawan seperguruannya antara lain Imam Nawawi banten (1813-1879), K.H. Kholil Bangkalan (1820-1925), K.H Mahfuz Termas (1824-1920), Kgs Abdullah Bin Ma’ruf dan lain-lain.

Setelah belajar dari kota Makkah, beliau berkeinginan hijrah ke Masjidil Aqsa, akan tetapi negerinya memerlukannya, alhasil niat tersebut diurungkannya. Pulang dari tanah suci Makkah beliau menjadi waliyullah yang karismatik sekaligus menjadi seorang konglemerat yang bergerak dalam bidang industry atau perkayuan. Sepanjang hidupnya, beliau gunakan untuk mengajarakan ilmu-ilmu agama kepada murid-muridnya dan mendirikan beberapa majelis ta’lim.

Kiai Marogan ulama yang fokus pada kajian fiqh yang selalu menganjurkan melaksanakan waqaf. Dua masjid yang sekarang tetap beroperasi masjid lawang kidul dan masjid Kiai Marogan ialah waqafnya . Kedua masjid ini dibangun, dirancang dan diarsiteki langsung oleh Kiai Marogan.

Kiai Marogan terkenal dengan ciri khas dakwahnya yang senang membantu fakir miskin dengan seiklhasnya tanpa ada imbalan yang beliau harapkan, hal inilah yang membuat beliau dikenal sebagai ulama yang karismatik.

Related posts