Biografi KH Amin Sepuh| Biografi Singkat Kiai Amin Sepuh | Profil Kiai Amin Sepuh | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Babakan Ciwaringin |
Biografi Singkat KH Amin Sepuh : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
Dalam sejarah tidak banyak diketahui perihal kehidupan Kiai Amin Sepuh atau bisa dipanggil dengan sebutan Mama Tua di masa kecilnya. Orang hanya tahu nama Kiai Amin Sepuh bernama Abdul Qohar putera Kiai Irsyad (wafat di Makkah) yang berasal dari Desa Mijahan Kec. Plumbon Kab. Cirebon. Dilihat dari runtutan nasabnya akan menyambung kepada Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Nasab atau silsilah (bani) KH. Amin Sepuh: Syekh Syarif Hidayatullah Ratu Pakungwati -Sultan Moh. Syamsul Arifin (Pangeran Pasarean)-Ratu Fatimah (Talaga)-Pangeran Welang Awal -Pangeran Butat -Pangeran Welang II -Syekh Abdul Latif -Syekh Abdul Rohim -Syekh Yasin -Syekh Fihir -Syekh Murrah -Syekh Nasir -Syekh Kholid -Syekh Jamaludin -Syekh Irsyad -Syekh Abdul Qahar (KH. Amin Sepuh).
Lahir pada jum‟at 24 Dzulhijjah 1300 H/1879 M, yang dijuluki sebagai Kiai Amin Sepuh, nama sebenarnya adalah KH. Muhammad Amin putra dari Kiai Irsyad yang tidak lain adalah cucu Ki Jatira. Pendapat lain juga mengatakan bahwa beliau lahir sekitar tahun 1892 M. Dalam hal ini tidak ada bukti autentik yang menyatakan tentang kelahiran Kiai Amin Sepuh tersebut kecuali sumber tersebut di atas. Kiai Irsyad cucu Ki Jatira dari jalur Ibu. Kiai Irsyad wafat di Mekkah, yang kemudian dilanjutkan oleh Kiai Amin Sepuh. Kiai Amin Sepuh masih keturunan Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati, sebagaimana dijelaskan di atas.
Dari pemaparan di atas dalam mencari keotentikan data kebenaran masih sedikit sulit untuk mengungkapkan dan mencari data secara riil nya. Sehingga dalam nasab tersebut terjadi perbedaan dalam mencari datawalaupun banyak yang berpendapat mengenai nasab Kiai Amin Sepuh. Karena disebabkan oleh kealiman, kewara‟an dan ketawadu‟an/ketertutupan Kiai Amin Sepuh dalam menyebutkan identitas yang sebenarnya. Sehingga mengenai nasab Kiai Amin Sepuh hanya bisa didapat dengan sumber yang ada, yang mana sudah disebutkan di atas.
Setelah kurang lebih 56 tahun berkhidmat dan membina Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dengan penuh keikhlasan, ketekunan dan istiqamah pada jam 16.10 WIB, hari selasa diusianya yang ke-84 tahun, tokoh yang sangat disiplin dalam hal sholat berjama‟ah awal waktu ini menghembuskan nafas terakhirnya, menghadap Allah SWT dialam keabadiannya. Pada hari rabu jam 10.00 WIB tanggal 17 Rabi‟ul Akhir 1392 H bertepatan dengan tanggal 20 Mei 1972 M, jasadnya yang mulia dikebumikan di kompleks pesarean depan masjid Raudlatut Thalibin.
Pendidikan Kiai Amin Sepuh
Pendidikan berkenaan dengan perkembangan dan perubahan terhadap anak didik. Dalam hal ini pendidikan di mulai dengan interaksi pertama individu yaitu yang dilakukan dalam keluarga maupun orang tua. Begitupun apa yang dilakukan oleh Kiai Amin Sepuh dalam pendidikan yang pertamanya beliau dibimbing oleh orang tuanya. Sebelum melakukan pendidikan yang dilakukan dengan lingkungan sosial maupun lembaga yang ada diluar.
Pada masa kecilnya, Kiai Amin Sepuh belajar dasar-dasar ilmu agama kepada ayahnya sendiri. Kemudian Kiai Amin Sepuh belajar ke sejumlah pesantren, di antaranya Pesantren Jatisari yang diasuh oleh Kiai Hasan, Pesantren Kaliwungu Kendal, Pesantren Mangkang Semarang, sebuah pesantren di Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah, Pesantren Kademangan Bangkalan yang diasuhSyaikhana Khalil dan Pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy‟ari.
Kiai Amin Sepuh kemudian belajar di pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Kiai Amin Sepuh dikenal sebagai santri yang pandai selama beliau mesantren di Babakan tersebut. Kemudian Kiai Amin Sepuh di berikan perintah untuk memimpin pesantren selanjutnya. Selama masa kepemimpinan Kiai Amin Sepuh di pondok pesantren Babakan, beliau dinikahkan dengan salah satu cucu dari Kiai Ismail. Kemudian beliau sebagai generasi penerus kepemimpinan Pondok Pesantren Babakan tahun 1916 atau disebut juga dengan Pondok Gede pada saat itu, hingga sekarang disebut dengan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin.
Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin merupakan cikal bakal pondok pesantren yang ada di Babakan itu sendiri. Pondok Pesantren pertama dan biasa disebut dengan Pondok Gede/ induk, disinilah Kiai Amin Sepuh mengabdikan diri dan membesarkan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin bersama saudara iparnya Kiai Sanusi dan telah mengeluarkan ribuan alumni (mutakharrijin) yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.
Sebagaimana untuk meneruskan risalah Kiai Amin Sepuh dalam menyebarkan dakwah Islam dan terus hidup serta berkembang dengan keluarnya para alumni dari Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin disaat kepemimpinan Kiai Amin Sepuh yang sekarang penjadi kiai besar didalam lingkungan Babakan Ciwaringin Cirebon dengan membangun pondok pesantren masing-masing. Di antaranya adalah Kiai M. Sanusi, Kiai Mukhtar, Kiai Syaerozi, Kiai Amin Halim, Kiai Mukhlas, Kiai Syarif Hud Yahya dan sejumlah kiai lainnya.
Pernikahan Kiai Amin Sepuh
Dalam setiap manusia diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan, oleh karena itu Allah memberikan jodoh pada setiap hamba-hambanya, adapun KiaiAmin Sepuh menikah dengan mengikuti dan mentaati perintah Allah, mengikuti sunnah Nabi, mencari dan mengharapkan keturunan yang shaleh, dan mengharapkan kebahagiaan serta kesejahteraan didunia dan akherat.
Sebagaimana dalam mempertahankan dan menyebarkan risalahnya Kiai Amin Sepuh untuk menantiasa meneruskan risalahnya, kemudian beliau menikah dengan seorang wanita dari keturunan kiai yang kemudian akan menghasilkan keturunan yang bisa meneruskan risalahnya dalam hal nasabnya. Sebagai pertumbuhan dan perkembangan untuk meneruskan risalah jihadnya.
Kiai Amin Sepuh nikah dengan salah satu cucu dari Kiai Ismail yang bernama Nyi Hj. Shofiyah putri dari Kiai Ali Masina dengan Nyi Maemunah, sebutan dari Nyi Hj. Shofiyah yang dikenal dengan sebutan Nyi Hj. Aisyah yang mana ia baru menginjak umur 11 tahun. Pernikahan Kiai Amin Sepuh dengan Nyi Hj. Aisyah menghasilkan keturunan kurang lebih 18 putra-putri, dan yang hidup hanya 11 orang.
Kemudian Kiai Amin Sepuh nikah dengan seorang janda dari KH. Abdul Rahim yang bernama Nyi Hj. Aliyah (Nyi Lia) putri dari Kiai Abdullah dengan Nyi Habibah (Nyi Marinah) yang berasal dari Desa Lontangjaya Kec. Sumberjaya Kab. Majalengka. Dari pasangan tersebut mempunyai keturunan 8 putra-putri. Selanjutnya Kiai Amin Sepuh menikah dengan istri yang ketiga yaitu seorang kembang desa yang bernama Nyi Hj. Sujinah putra ke-6 dari pasangan Kiai Madamin dan Nyi Ummi Kultsum (Nyi Kalsum) yang kemudian dikarunia 6 orang anak
Adapun bagan dari pemaparan di atas adalah sebagai berikut :
Kiai Amin Sepuh + Nyi Hj. Shofiah (Nyi Hj. Aisyah) yang dikaruniai 11 putra putri, diantaranya :
- Kiai Ma‟shum
- Kiai Fathoni
- Kiai Asyikin
- Kiai Bisri
- Nyi Hj. Zubaedah
- Kiai Mukhit
- Kiai Abdullah
- Nyi Furi’ah
- Kiai Azhari
- Kiai Damirie
- DRS. Kiai Zuhri Afif Amin
Kiai Amin Sepuh + Nyi Hj. Aliyah yang dikaruniai keturunan 6 orang putra-putri, yaitu :
- Nyi Hj. Mar‟fuah
- Nyi Hj. Fatimah
- Kiai Fuad Amin
- Nyi Hj. Fikriyah
- Nyi Hj. Fariyatul Aeni
- Kiai Fihri Amin BA.
- Nadziri
- Nasiri
Kiai Amin Sepuh + Nyi Hj. Sujinah dengan dikaruniai keturunan 6 orang putraputri, yaitu :
- Masrurah
- Nyi Hj. Mahfudhoh
- Agus Aziz. BA
- Khawariyah
- Muzani
- Tsamrah
Amalan-amalan (Karya) Kiai Amin Sepuh
Karya-karya Kiai Amin Sepuh tidak begitu banyak dan belum di temukan dalam bentuk tulisan, karena pada saat itu Belanda melakukan agresi militer untuk kembali menduduki negeri ini, banyak pesantren yang menjadi sasaran serangannya, termasuk salah satunya adalah Pesantren Raudlatut Thalibin yang telah di hancurkan serta karya-karya Kiai Amin Sepuh habis dibakarnya.
Karya yang diwariskan Kiai Amin Sepuh adalah berbentuk amalan-amalan (ijazah) yang selalu beliau ajarkan untuk para keluarga, santri, masyarakat sekitar Babakan Ciwaringin maupun masyarakat pada umumnya. Artinya karya Kiai Amin Sepuh tidak secara langsung melalui tulisan akan tetapi dilakukan melalui suatu amalan-amalan.






