Biografi Syaikhuna Badruzzaman | Biografi Singkat K.H. Syaikhuna Badruzzaman | Profil K.H. Syaikhuna Badruzzaman | Pendidikan | Karya | Pemikiran |
Biografi Singkat K.H. Syaikhuna Badruzzaman : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
K.H. Syaikhuna Badruzzaman (1900 – 1972) hidup dalam tiga zaman. Beliau mengalami hidup pada zaman penjajahan Belanda selama 42 tahun, zaman Pendudukan Jepang selama 3,5 tahun, dan pada zaman Republik Indonesia merdeka selama 27 tahun. Bila dilihat dari sisi semangat zamannya (Zeitgeist), orang yang hidup pada ketiga pilahan waktu seperti itu mau tidak mau, sedikit atau banyak, kecil atau besar ada kecenderungan akan terlibat dalam kancah perjuangan sesuai dengan kapasitas dan posisi sosialnya di tengah-tengah masyarakat.
Banyak label sosial bisa dilekatkan pada sosok K.H. Syaikhuna Badruzzaman. Beliau adalah seorang priayi, seorang hartawan, seorang ulama besar dalam bidang syariah, seorang ulama besar dalam bidang tasawwuf (thoriqoh), seorang ulama ahli hikmah, seorang guru/da’i/muballigh, seorang organisator yang aktif dalam berbagai ormas dan orpol, dan sebagainya.
Akumulasi dari semua atribut itu telah mengantarkan K.H. Syaikhuna Badruzzaman menjadi seorang sosok manusia yang ditokohkan dengan kharisma yang tinggi. Bahkan K.H. Syaikhuna Badruzzaman menjadi tokoh yang sangat dicintai murid-muridnya.
Sesungguhnya orang seperti K.H. Syaikhuna Badruzzaman bisa hidup sangat nyaman, tenang, dan senang dengan menikmati hak-hak istimewa (privilege) dari penguasa asal saja beliau mau “duduk manis”, bekerja sama, dan berkompromi dengan setiap rezim penguasa yang ada. Akan tetapi, K.H. Syaikhuna Badruzzaman tidak seperti itu. Beliau selalu menampilkan diri sebagai seorang perekayasa sosial (social enginer) yang aktif yang berkeinginan mengarahkan perkembangan masyarakatnya ke jalur yang baik dan benar. Kehidupan beliau senantiasa dalam semangat amat ma’ruf nahyi munkar, menegakkan kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Beliau pun bersemangat membebaskan masyarakat dari ketertindasan, kedzoliman, kebodohan, dan kemiskinan. Untuk mewujudkan semua itu, dengan fondasi tauhid yang kokoh, bagi K.H. Syaikhuna Badruzzaman tidak ada kekuatan makhluk apa pun yang ditakuti, kecuali Alloh subhanhu wa ta’ala.
Dilatari oleh semangat seperti itu, bisa dipahami bila K.H. Syaikhuna Badruzzaman sejak zaman penjajahan Belanda beliau sudah berani memprotes kebijakan-kebijakan pemerintah, misalnya seperti penentangan terhadap praktik penyuntikan terhadap mayat. Demikian juga pada zaman Pendudukan Balatentara Jepang, beliau menolak seikerai, setiap pagi membungkuk ke arah mata hari terbit. Oleh karena itu, tidak heran bila oleh setiap pemerintah penjajah K.H. Syaikhuna Badruzzaman selalu dianggap sebagai musuh yang terus diburu dan senantiasa jadi target untuk ditangkap.
Dengan diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak berarti selesai segala penderitaan rakyat dan berakhirnya penjajahan. Bahkan sebaliknya, periode pasca- proklamasi ini justru merupakan puncak perjuangan fisik yang dilakukan oleh rakyat Indonesia. Mengapa demikian? Karena proklamasi kemerdekaan yang dilakukan bangsa Indonesia yang memanfaatkan kekosongan kekuasaan (vacuum of power) setalah Jepang takluk kepada Sekutu tidak diakui oleh Sekutu. Sekutu sebagai pemenang merasa sebagai pihak yang paling sah mewarisi negara bekas jajahan Jepang itu. Oleh karena itu, beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, tentara Sekutu datang ke Indonesia untuk menggagalkan negara proklamasi itu. Terjadilah konflik terbuka antara dua pihak yang memiliki kepentingan berbeda itu, pihak Republik Indonesia yang ingin mempertahankan kemerdekaan dan pihak Sekutu yang ingin membatalkan kemerdekaan. Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berlangsung, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta. Pada 12 Oktober 1945 Brigade McDonald dari Divisi India ke-23 tiba di Jawa Barat. Kemudian tentara Inggris pun mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945.
Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun, selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA. Dalam situasi seperti itulah, K.H. Syaikhuna Badruzzaman secara aktif mengambil bagi-an dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Sebagai konsekuensi dari perjuangan diplomasi antara Pemerintah Republik Indonesia dengan pihak asing yang ingin menjajah kembali Indonesia telah melahirkan sikap pro dan kontra. Hal itu telah menimbulkan konflik internal di kalangan rakyat Indonesia sendiri. Dari situasi seperti inilah munculnya Gerakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo. Gerakan ini telah melahirkan konflik horizontal di kalangan bangsa sendiri. Praktik teror dan kriminal (pembunuhan, pencurian, pembakaran) yang dilakukan Gerakan DI/TII telah mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat. Munculnya gerakan ini tidak hanya sebagai reakti atas ketidaksetujuannya terhadap politik diplomasi yang dilakukan pemerintah tapi juga lebih daripada itu, yakni berlatar belakang ideologis. K.H. Syaikhuna Badruzzaman yang pada awalnya turut bergabung dengan Kartosuwiryo, kemudian menarik diri setelah disadari ada perbedaan mendasar dalam prinsip-prinsip perjuangan. K.H. Syaikhuna Badruzzaman dan para muridnya kemudian melakukan perlawanan terhadap Gerakan DI/TII Kartosuwiryo itu.
Setelah Gerakan DI/TII, negeri ini pun diguncang oleh Pemberontakan G.30 S/PKI. Gerakan makar yang berlatar ideologis ini sangat mengancam keamanan dan keselamatan rakyat, terutama orang-orang Islam. Negara proklamasi yang berasaskan Pancasila pun turut terancam. Pada periode ini K.H. Syaikhuna Badruzzaman tampil memainkan peran pentingnya. Melalui caranya sendiri, K.H. Syaikhuna Badruzzaman menyelamatkan rakyat Indonesia dari kerugian yang lebih besar akibat dari pemberontakan itu.
Selain berjuang secara fisik di medan pertempuran, K.H. Syaikhuna Badruzzaman pun berjuang melalui beragam aktivitas di berbagai organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. Beliau pun terus aktif di bidang pendidikan, pengajaran, dakwah. Kesemua itu dilakukan tidak lepas dari motivasi perjuangan.
Silsilah Keluarga
Terdapat fenomena menarik dari kelahiran bayi K.H. Badruzzaman. Pada malam ketika ia dilahirkan muncul sinar cahaya yang begitu besar di rumah tempat ia dilahirkan. Ini menjai isyarat bahwa sejak dilahirkan, sudah tampak tanda-tanda keistimewaan yang menunjukkan ia akan menjadi seorang ulama besar.
KH. Badruzzaman lahir di Biru pada tahun 1900. Beliau adalah putra kelima dari sembilan bersaudara. Bapaknya bernama K.H. Raden Muhammad Faqih bin Kyai Raden Bagus Muhammad Ro’i yang lebih populer dengan panggilan “Ama Biru (Sesepuh Biru)”. K.H. Raden Muhammad Faqih adalah seorang ulama, yang terkenal ‘alim dan wara’ selalu berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah saw. Ibunya bernama Hj. Kulsum, seorang perempuan shalihah yang tekun melaksanakan ibadah, rajin melaksanakan dzikir, membaca shalawat, dan banyak membaca al-Quran; pada usia 110 tahun ia masih bisa melihat dan membaca ayat al-Quran dengan fasih tanpa harus menggunakan alat bantu (kacamata), sampai wafatnya pada usia 115 th. Secara geneologis, silsilah nasab K.H. Badruzzaman sampai kepada Sunan Gunung Djati atau Syekh Syarif Hidayatullah.
Kesembilan anak K.H. Raden Asnawi Muhammad Faqih hasil pernikahannya dengan Hj. Kulsum adalah: Ibu Amah, Ibu Nooh, Syaikhuna Iming, Ibu Iyam Siti Maryam, Syaikhuna Badruzzaman, Ibu Enjoh Khodijah, Ajengan Ajun, Ibu Entang, dan Ibu Icah (Siti Aisyah).
K.H. Syaikhuna Badruzzaman memiliki beberapa anak, di antaranya adalah: K.H. Ismail, K.H. Dadang Ridwan, K.H. Dr. Eng. Muchlis, DEA, K.H. Endeh Hidayat, K.H. Engking, K.H. Jamhur, K.H. Dr. Ikyan Syibaweh, M.A., Drs Adnan, M.A.
Riwayat Pendidikan
K.H. Syaikhuna Badruzzaman berguru kepada banyak ulama dari berbagai pesantren. Beliau mengaji dasar-dasar ilmu agama yang berkait dengan ubudiyyah dan akhlaq dari ayahnya. Ayahnya sendiri, K.H. Faqih adalah seorang ulama besar yang berpengaruh. K.H. Faqih pernah mengaji kepada sejumlah ulama di berbagai pesantren, yaitu antara lain:
- Kepada al-Syekh Muhammad Syaubari al-Kamil fi alWaro’i, Ciwedus, Kuningan.
- Kepada al-Syekh Muhammad Hasbulloh di Makkah al-Musyarrofah.
- Kepada al-Syekh Muhammad Nawawi Banten di Makkah al-Musyarrofah.
- Kepada Kyai Cibunut di Makkah al-Musyarrofah
Semasa kecil K.H. Badruzzaman diajari mengaji dasar-dasar ilmu agama oleh ayahnya dalam rumah tangga yang bersyi’arkan agama Islam baik yang terkait dengan ubudiyah maupun akhlaq al-karimah.
Ketika memasuki usia sembilan tahun ia berguru Ilmu Tata Bahasa Arab dan Fikih kepada pamannya K.H. Rd. Qurtubi (Paman dari pihak Ibu) di Pesantren Pangkalan Tarogong. Ketika ia menjadi santri di pesantren ini terdapat dua hal menarik: pertama; apabila sedang mengaji bersama-sama kawannya ia sering kelihatan oleh mereka tertidur, mereka mengira ia sedang tertidur pulas. Namun apabila disuruh membaca atau ditanya oleh gurunya, maka ia langsung membaca atau menjawabnya. Kedua; pada suatu malam, ketika itu di Pesantren Pangkalan para santri sedang mengaji, tiba-tiba lampu yang ada di ruangan pengajian (madrasah) padam, ketika itu semua santri yang hadir dikagetkan oleh munculnya cahaya (sinar) dari tubuh seorang santri. Kemudian seluruh santri yang ada mengerumuninya dan temyata tubuh santri yang memancarkan cahaya tersebut adalah K.H. Badruzzaman muda.
Dari pesantren ini, K.H. Badruzzaman muda pindah ke pondok yang diasuh oleh kakaknya, K.H. Bunyamin (dikenal dengan sebutan Syaikhuna Iming) di Ciparay Bandung. Lepas dari situ, kemudian ia mendalami ilmu di Pondok Pesantren Cilenga Sukamanah, Singaparna, Pesantren Darul Falah Jambudipa Cianjur, dan di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Balerante-Cirebon.
Bila dibuatkan daftar kiayi-kiayi dan pesantren tempat beliau mengaji yaitu:
- Kiayi Abdul Hamid di Cileungsi
- Kiayi Emid di Sukaraja Selatan
- Kiayi Ibrohim di Sukaraja Utara
- K.H. Anhar di Nagrak Garut
- Kiayi Muhammad Ramli di Haurkuning, Leles, Garut
- Kiayi Abdul Muti di Cimangsi
- K.H. Hasyim di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur
- Pesantren Cilenga, Sukamanah, Singaparna
- Pesantren Darul Falah, Jambudipa, Cianjur
- Pesantren Nurul Hidayah, Balerante, Cirebon.
Pada tahun 1922, K.H. Badruzzaman bersama kakaknya K.H. Bunyamin berangkat ke Makkah, dengan maksud mendalami ilmu agama. Ia mendalami Fikih dan Ushul Fikih kepada Syekh Said al-Yamani, seorang Mufti Makkah dari Madzhab Syafi’iyah. Selai itu, K.H. Syaikhuna Badruzzaman berguru juga kepada sejumlah ulama di Makkah al-Mukarromah. Guru-guru beliau di sana antara lain adalah:
- al-Salim al-Allamah Mufti Syafi’iyyah al-Syekh Muhammad Said al-Jamud al-Syafi’i.
- al-Syekh Umar Bajunaed al-Hadromi as-Syafi’i
- al-Syekh Ali Mufti Malikiyyah Maliki
- al-Syekh Muhammad Jamaluddin Mufti Malikiyyah Maliki
- al-Syekh Umar Hamdan al-Faqih Muhaddits Maliki
- al-Syekh Muhammad Mukhtar bin Muhammad al-Thorid al-Syafi’i.
Pada satu kesempatan, K.H. Badruzzaman diperintah gurunya untuk berpuasa selama 40 hari; dan ia pun menyanggupinya untuk kemudian ia melaksanakan tugas tersebut. Hal yang sangat menakjubkan, ketika ia melaksanakan puasa; apabila datang waktu berbuka puasa, sering secara tiba-tiba ia didatangi seseorang yang meminta makanan yang hendak disantapnya dan ia pun memberikan makanan tersebut, hal ini terjadi berulangulang. Dan orang yang sering datang itu adalah orang yang sama. Dengan kata lain, orangnya masih itu juga.
Setelah selesai melaksanakan puasa selama 40 hari, ia menghadap gurunya untuk mendiskusikan kajadian yang dialaminya selama berpuasa. Ketika sedang berdialog dengan gurunya, tiba-tiba datang seseorang yang sudah dikenalnya, di mana orang tersebut adalah orang yang biasa datang meminta makanan ketika ia akan berbuka puasa. Kemudian ia menceritakan tentang ihwal orang tersebut kepada gurunya. Kemudian gurunya menjelaskan inilah Hidhir. Selanjutnya ia membaca takbir, tasbih dan tahmid, kemudian mereka bertiga saling berpelukan, sampai akhimya Hidhir menghilang.
Hal lain ketika ia bermukim di Makkah, setiap kali ia akan berangkat dari pemondokan – ketika itu di Jabal Gubesy – mengaji ke Masjid al-Haram ia sering berangkat setelah orang lain terlebih dahulu berangkat. Namun ketika kawan-kawannya sampai di halaqah pengajian di Masjid al-Haram, K.H. Badruzzaman telah hadir terlebih dahulu. Pada kesempatan ini K.H. Badruzzaman bermukim di Makkah selama tiga tahun, untuk kemudian ia kembali ke Indonesia.
Pada tahun 1926, K.H. Badruzzaman berangkat ke Makkah untuk kedua kalinya bersama keluarga. Pada kesempatan ini, K.H. Badruzzaman mendalami fikih dan ushul fikih dari Syekh Ali Maliki, seorang Mufti Makkah Madzhab Mafikiyah. Sebagai seorang mufti, Syekh Ali Maliki sering mengadakan halaqah ilmiyah berbagai masalah agama (bahtsulmasail). Beliau sering melakukan pembahasan masalah bersama murid-muridnya dan K.H. Badruzzaman secara aktif mengikuti halaqah tersebut. Dalam setiap halaqah, K.H. Badruzzaman selalu aktif mengungkapkan pikiran-pikiran yang menarik; sehingga membuat gurunya kagum. Untuk itu, gurunya ingin mengetahui secara lebih jauh tentang murid yang satu ini.
Pada satu kesempatan K.H. Badruzzaman dipanggil gurunya; beliau bertanya tentang latar belakang muridnya. KH. Badruzzaman menjelaskan: “Saya dari Indonesia dari Pulau Jawa, keturunan Sunan Gunung Jati, Cirebon”, selanjutnya Syekh Ali Maliki memberi gelar kepada K.H. Badruzzarnan “anta rijal al-Jawi, anta Lughah al-Jawi” (Anda Jago Jawa, Lisan Jawa).
Selanjutnya Syekh Ali Maliki mengungkapkan keinginannya untuk memperistri salah seorang dari keluarga K.H. Badruzzarnan. Beliau dinikahkan dengan Hj. Titi bibi K.H. Badruzzarnan dari pihak ayah seorang ahli Qiraat dan hafadz al-Qur’an ketika itu bersama-sama K.H. Badruzzaman sedang bermukim di Makkah. Pada kesempatan ini K.H. Badruzzarnan mukim di Makkah selarna dua tahun.
Apabila pada kesempatan mukim di Makkah yang pertarna ia mendalarni fikih dan ushul fikih Madzhab Syafi’iyah, maka pada kesempatan kedua, ia mendalarni fikih dan ushul Fikih Madzhab Malikiyah. Ini berarti ia mendalami fikih dan ushul fikih dua madzhab yakni Malikiyah dan Syafi’iyah. Sedangkan pendalaman Hadits dan ‘Ulum al-Hadits demikian juga Taftir dan Ilmu Tafsir diperoleh dari Syekh Umar Hamdan, seorang Muhadditsin dari Madzhab Malikiyyah di Madinah.
Pada tahun 1928 K.H. Badruzzarnan kembali ke Indonesia, ia langsung memimpin pengembangan Pesantren al-Falah Biru bersama-sama dengan kakaknya K.H. Bunyamin dan adiknya K.H. Bahruddin.
Sepulangnya dari Makkah yang kedua kalinya dapat diduga K.H. Badruzzaman telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman yang mendalam tentang ilmu agama. Ia telah menguasai Ilmu Fikih dan Ushl Fikih dari dua madzhab yakni Madzhab Syafi’iyah dan Madzhab Malikiyah ia juga telah mendalami hadits dan ‘Ulum al-Hadits juga tafsir dan ilmu tafsir.
Melihat latar belakang intelektual K.H. Badruzzarnan, tidak heran apabila dalam mengembangkan tugas keulamaannya ia berusaha mempersatukan segenap ummat Islam yang berbeda faham, baik dari kalangan NU, Muhammadiyah maupun Persis. Ia sering menjadi Hakim dalam melakukan Tarjih pemecahan berbagai masalah agarna. Pada masa kepemimpinan K.H. Badruzzarnan, Pondok Pesantren al-Falah Biru terkenal di seluruh Jawa Barat. Hal ini dikarenakan selain peran keulamaan yang ditampilkannya, ia juga tampil dalam bidang pendidikan sosial dan politik.
Karya KH. Syaikhuna Badruzzaman
K.H. Syaikhuna Badruzzaman selain sebagai ulama yang banyak memberikan pelajaran keagamaan kepada santri dan masyarakat luas dan seorang pejuang yang turut turun tangan membela bangsa dan negara, beliau pun seorang ilmuwan yang menulis buku-buku keagamaan. Buku-buku yang beliau tulis meliputi hampir seluruh bidang keilmuan seperti bidang tauhid, fikih, gramatika bahasa Arab, dan tasawwuf.
Karya-karya tulis K.H. Syaikhuna Badruzzaman antara lain:
- Bidang Tauhid: (1)Risalah Tauhid (2)Allohu Robbuna
- Bidang Fikih: (3)Kaifiyat Shalat (4)Kaifiyat Wudhu (5)Nadhom Taqrib (6)Syarah Safinah al-Najah
- Bidang Nahu-Shorof: (7)Risalah Ilmu Nahwu (8)Risalah Ilmu Shorof (9)Nadho Jurumiyyah
- Bidang Tasawwuf: (10) Nadhom Ilmu Bayan (11) Siklus Sunni






