Biografi Singkat KH. Abdul Hannan Ma’shum, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Seluruh Indonesia

Biografi KH. Abdul Hannan Ma’shum | Biografi Singkat KH. Abdul Hannan Ma’shum | Profil KH. Abdul Hannan Ma’shum | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat KH. Abdul Hannan Ma’shum : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Beliau dilahirkan pada tahun 1953M di Boto Putih kecamatan Canggu (± 5 Km sebelah utara Dusun Kwagean). Dengan nama Hannan dari pasangan Bapak Ma‟shum asal Boto Putih dan Ibu Siti Nu‟amah asal Krecek Pare. Nama yang saat ini beliau gunakan adalah Abdul Hannan Ma‟shum. Terdapat cerita kenapa saat ini beliau memiliki nama tersebut, ketika beliau menimba ilmu di kencong guru beliau KH. Zamroji sering memanggil beliau dengan panggilan “dul”, kemudian karena ngalap berkah maka beliau menambahkan “abdul” di didepan nama “Hannan” sedangkan nama “Ma‟shum” merupakan pengambilan dari nama bapak beliau sendiri. Sejak kecil beliau sudah nampak rajin dan tekun serta ta’at kepada orang tuanya. karena di lahirkan dan hidup dalam lingkungan yang penuh dalan kesederhanaan, sejak kecil dituntut untuk membantu orang tua dengan mengembala kambing, merumput (Angon) serta memelihara hewan piaraan lainnya antara lain ayam, Itik dalan lainlain. Beliau adalah putra ke-4 dari 12 bersaudara, yaitu:

  1. Bapak Khozin (Boto Putih)
  2. Ibu Binti (Mangiran Pare).
  3. Agus Khodim (wafat pada usia 2 tahun).
  4. KH. Abdul Hannan Ma‟shum (Pengasuh Pondok PFU).
  5. Agus Shohib (wafat pada umur 1 tahun).
  6. Ning Umaiyah (wafat pada umur setengah tahun).
  7. Agus Kholil (wafat pada umur 1 tahun).
  8. Ibu Istiqomah (Bringin Pare).
  9. Bapak Habib (Boto Putih)
  10. K. Romdli Anwar (Kebon Sari).

Sedang dua diantaranya sudah meninggal dan belum diketahui namanya oleh penyusun. Karena dilahirkan dan hidup dalam lingkungan yang penuh dengan kesederhanaan, beliau rela menjadi buruh menanam singkong di kebun orang lain dengan upah beberapa singkong saja, ini dilakukan hingga beliau tamat SR (Sekolah Rakyat).

Berbudi luhur, tawadlu‟ dan ketekunan beliau sudah terlihat sejak kecil, bahkan kalau bicara dengan orang lain beliau selalu menggunakan bahasa halus (Kromo Inggil). Sehingga orang yang bertemu langsung mengenal bahwa ini adalah Hanan Putra bapak Ma‟shum. Masa kecil beliau tidak seperti anak kecil lainnya yang hanya suka bermain, akan tetapi lebih suka membantu orang tua dengan menggembala kambing, merumput, memelihara hewan peliharaan, seperti: itik, ayam dan lain- lain, walaupun demikian beliau juga suka mencari burung. Kerendahan hati beliau serta tindak tanduknya yang lembut inilah yang hingga kini masih beliau jaga, bahkan ketika bercakap-cakap dengan santrinya pun KH. Abdul Hannan Ma‟shum juga menggunakan bahasa halus (kromo inggil). Sikap inilah yang dicontoh oleh santri-santrinya di pondok pesantren Fath al-‘Ulum Kwagean. Seluruh santri menggunakan bahasa kromo inggil dalam percakapannya dan antara satu dengan yang lainnya saling menghormati, sebagaimana yang telah KH. Abdul Hannan Ma‟shum contohkan.


Riwayat Pendidikan KH. Abdul Hannan Ma’shum

Seperti kebanyakan anak-anak pada masa itu, beliau juga sekolah di sekolah rakyat (SR, sekarang SD) di desa Canggu, kemudian beliau meneruskan di Madrasah Wajib Belajar (MWB) sampai tingkat MTT kurang lebih selama 8 tahun dan tamat pada tahun 1965. Dengan tekat yang kuat dan penuh semangat biarpun hanya gantung kepuh (pakean nempel di badan) setelah menamatkan di SR dan MWB dalam usia kurang lebih 12 tahun, beliau mulai melangkahkan kakinya ke Pondok Raudlotul Ulum Kencong yang di asuh oleh Romo KH. Ahmadi dan Romo KH. Zamrozi Syairozi. Dengan semangat dan didasari kecintaan pada ilmu beliau juga dapat menghafalkan Al-Fiyyah 1002 bait dan Uqudu al-Juman 1010 bait. Pendidikan keras dan santun yang diajarkan sang guru membentuk karakter beliau menjadi seorang yang demokratis dalam berfikir. Terdapat beberapa nasehat guru beliau KH. Zamroji, nasehat tersebut adalah:

  • Saiki totonen kitabmu mulai cilik nganthi gedhe (sekarang tatalah kitabmu mulai yang kecil sampai yang besar, red).
  • Ora usah poso-posonan, selagi iseh kuat bancik orausah mangan (tidak perlu berpuasa, selagi masih kuat berdiri jangan makan, red).
  • Nek dijaluk’i ngaji sopowae gelemo, senajan jam 12 bengi (Ketika diminta mengaji oleh siapa saja, terimalah meskipun jam 12 malam, red).
Baca Juga :   Sejarah Kabupaten Takalar (Sejarah dan Profil)

Di Pesantren inilah beliau banyak menimba ilmu selama kurang lebih 15 tahun selain itu beliau juga pernah mengikuti pengajian kilatan di Pesantren-pesantren lain, diantaranya PP. Lirboyo, PP Sarang, PP Futuhiyah Mranggen, PP Batukan, PP Langitan dll. Pengajian kilatan yang beliau jalani selama nyantri di pondok Kencong ini, biasa dilakukan pada bulan Sya‟ban hingga akhir bulan Ramadhan. Dari kilatan-kilatan inilah beliau banyak mendapatkan ijazah-ijazah mengenai amalanamalan tertentu yang diijazahkan oleh guru-guru beliau ketika akhir pengajian.

Ketekunan dan Kemandirian

Dalam pandangan sesama kawan santri, Abdul Hanan muda dikenal sebagai santri yang tekun dan sangat ta’zim (hormat kepada guru). Sebagai santri beliau mempunyai jiwa sosial dan loyalitas yang tinggi, baik kepada kawan sesama santri maupun kepada pesantren yang telah membimbing dan mendidiknya. Sikap loyalitas beliau antara lain sebagai tukang sapu, penimba kolah, pengajian al-Qur’an dan juga merangkap sebagai bendahara. Setelah didasari dengan ketekunan dan keseriusan beliau di tunjuk sebagai kepala madrasah dan dewan hakim, di samping itu beliau juga mengurusi lampu-lampu untuk penerangan Pondok Pesantren. Untuk menopang kebutuhannya dalam menimba ilmu, setelah biaya dari rumah non aktif (Putus), beliau menjadi buruh juru tulis al-Fiyyah. Keadaan ini berlangsung kurang lebih selama 9 tahun dan disamping itu beliau melakukan ritual riyadoh antara lain: Puasa ngrowot, Puasa Mutih dan Ziarah ke Makam-makam ‘Ulama dan Auliya’. Bahkan beliau pernah selama 3 tahun tidak pernah meninggalkan shalat fardu secara berjama’ah, dilanjutkan dengan wiridan setiap pagi bersama Romo KH. Ahmadi.


Bidang Ilmu yang Dikuasai

Dalam penelitian dan telaah yang penulis lakukan selama penelitian di pesantren Fath al-‘Ulum Kwagean, penulis mendapat pemahaman dari apa yang dipaparkan oleh para santri serta pengalaman penulis sendiri. Diantara ilmu-ilmu yang dikuasai oleh KH. Abdul Hannan Ma‟shum adalah Ilmu alat (nahwu, sharaf serta balaqah), Ilmu Hadis, Tasawwuf dan ilmu Hikmah.


Baca Juga :   Biografi Singkat Wahbah Az-Zuhailli : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Hal ini dapat dengan mudah dirasakan oleh para santri serta orangorang yang menimba ilmu dan meminta nasehat terhadap beliau serta perilaku beliau yang selalu rendah hati pada siapapun. Kemahiran biliau dalam ilmu alat dapat dirasakan ketika beliau memaparkan kaidah-kaidah ilmu alat dalam setiap pengajian yang beliau lakukan.

Dari Pesantren ke Pelaminan

Atas dorongan guru beliau dan persetujuan orang tua serta keluarga, dalam usia kurang lebih 27 tahun pada bulan Maulud tahun 1980M menjadi peristiwa penting yakni pernikahan beliau dengan Siti Munawwarah, dara ayu putri dari Bapak Haji Anwar asal desa Kwagean yang saat itu masih berumur 16 tahun. Dari pernikahan yang beliau jalani, KH. Abdul Hannan Mashum dikaruniai putra dan putri, yaitu:

  • H. Muhammad Miftahuddin Mukhtar
  • Nur Habibah (w. 11 Desember 1999)
  • H. Muhammad Muhdloruddin
  • Muhammad Muslim Aziz
  • Rif‟atul Hasanah Ulya
  • Muhammad Bariz
  • Zakiyah Milah
  • Muhammad Idris
  • Muhammad Baha‟uddin
  • Dzuhrotul Wafiyah
  • Fa‟idatus Sirriyah
  • Ahmad Muhammad

Pendiri dan Pengasuh Pesantren

Setelah melaksanakan pernikahan, untuk sementara waktu beliau tinggal di rumah mertua kurang lebih selama 2 tahun. Dari Sinilah embrio Fath al-‘Ulum tumbuh yang bermula dari rasa simpati temanteman untuk berguru atas dasar kelebihan dan keistimewaan beliau. Diceritakan salah seorang santri bernama Imam Mawardi dan Abdul Karim membuat prosur (surat edaran) tanpa sepengetahuan beliau dan berkat brosul ini para santri berdatangan sedikit demi sedikit hingga mencapai 96 santri, diisi dengan kajian kitab kuning sebanyak 40 kitab. Pengajian ini berjalan kurang lebih selama 11 bulan, dengan semakin bertambahnya santri dan kurangnya sarana dan prasarana yang memadai akhirnya beliau berinisiatif untuk pindah ke Kwagean bagian Utara, setelah beliau menyurvei keadaan lingkungan daerah itu dan berbekal istikharah serta restu dari KH. Zamrozi dan KH. Ahmadi.

Meskipun sudah mempunyai santri, beliau belum mempunyai tempat tinggal yang permanen. Pada waktu itu beliau membuat gubuk yang sangat sederhana yang atapnya terbuat dari teple (ayaman dari daun kelapa). Namun 15 hari kemuadian bilau membuat angkring (sekarang ada di depan ndalem dengan permanen). Di angkring ini beliau menetap selama kurang lebih 3 tahun. Sedangkan gubuknya diberikan kepada santri untuk dijadikan kamar bagi santri.

Baca Juga :   Sunan Bonang : Biografi, Pengembangan Islam dan Sikap Positif

Karena sudah pisah dengan dari orang tua dan mertua tanggung jawab beliau menjadi ganda, baik terhadap sandang papan dan pangan keluarga maupun terhadap rutinitas pengajian bagi para santri. untuk bisa menopang semua kebutuhannya dan keluarga disamping tetap menjalankan rutinitas pengajian, beliau berjualan singkong goreng sampai bisa membeli ayam kampung hingga berlanjut dapat membeli ayam horen yang jumlahnya ±400 ekor dan dengan modal itulah beliu dapat membeli sepetak tanah yang akhirnya jadilah Pondok Pessantren.

Kini pondok pesantren Fath al-‘Ulum Kwagean telah berkembang dan telah memiliki badan usaha berupa toko buku serta percetakan sendiri. Menurut Zainul Muhibbin yang sempat berbincang-bincang dengan KH. Abdul Hannan Ma’shum, kini penghasilan pesantren dari percetakan maupaun toko buku serta usaha-usaha lainnya mampu menghasilkan sekitar 700 juta rupiah setiap tahunnya.

Karya KH. Abdul Hannan Ma’shum

Kitab Sullam al-Futuhat, merupakan karya monumental yang dimiliki oleh KH. Abdul Hannan Ma‟shum. Kitab ini berisi tentang berbagai amalan yang beliau ambil dari berbagai kitab yang telah beliau pelajari selama menuntut ilmu. Di dalam kitab Sullam al-Futuhat ini terdapat amalanamalan yang bersumber dari ayat-ayat al-Qur‟an serta huruf per huruf yang terangkai tersendiri yang sering disebut sebagai rajah. Kitab Sullam alFutuhat dikarang oleh KH. Abdul Hannan Mashum secara bertahap. Ketika tulisan ini penulis susun, kitab Sullam al-Futuhat telah memiliki 20 Jilid dan kemungkinan jumlah jilid yang dimiliki kitab ini akan terus bertambah. Kitab Sullam al-Futuhat pada awalnya merupakan lembaran-lembaran yang terserak. Amalan yang terdapat dalam kitab Sullam al-Futuhat merupakan amalan yang diberikan oleh Kyai Hannan kepada orang-orang yang meminta ijazah amalan, baik mahabbah, penglarisan dan masih banyak lagi pada saat itu masih berupa tulisan tangan beliau. Kemudian dengan inisiatif dari Kyai Hannan sendiri beliau membukukan amalan-amalan tersebut dalam sebuah kitab. Pembukuan pertama terjadi pada tahun 1996M/1417H pada malam jum‟at bulan Safar minggu ke dua dan kyai sendiri yang menyusun urutan-urutan amalan tersebut. Menurut Kyai Abdul Qadir penulistan kitab Sullam al-Futuhat merupakan permintaan dari masyarakat yang mengikuti pengajian rutinan pada malam rabu, yang ingin mengamalkan amalan-amalan yang biasanya KH. Abdul Hannan Ma‟shum lakukan. Sedangkan pemberian amalan-amalan tersebut telah dilakukan sejak tahun 1982M ketika jumlah santri masih sekitar 50 santri.


Setiap jilid yang menyusun kitab Sullam al-Futuhat memiliki amalanamalan tersendiri, dan untuk memudahkan bagi seseorang yang ingin mengamalkan amalan yang terdapat dalam kitab Sullam al-Futuhat ini KH Abdul Hannan Maksum juga memberikan pedoman atau cara-cara pengamalan amalan yang terdapat didalam kitab Sullam al-Futuhat.

Related posts