Biografi Singkat KH. HASBIYALLAH, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Seluruh Indonesia

Biografi KH. HASBIYALLAH | Biografi Singkat K.H. HASBIYALLAH | Profil K.H. HASBIYALLAH | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com | 

Biografi Singkat KH. HASBIYALLAH : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

K.H. Hasbiyallah lahir di Klender pada tanggal 29 Oktober 1911 M, merupakan putra kedua K.H. Anwar (Muallim K.H. Gayar) bin K.H. Abdurrahim bin Syekh Ali Basa (Datuk Ba‟sa) bin K.H. Jamaludin (H. Gulen). Ayahnya yaitu Muallim K.H. Anwar atau yang lebih dikenal di lingkungan Klender dengan sebutan Muallim K.H. Gayar. Dia merupakan seorang saudagar dan sosok ulama yang hidup sezaman dengan Muallim K.H. Marzuki bin Mirshad (guru Marzuki Cipinang Muara).

Muallim K.H. Gayar dan Guru Marzuki bin Mirshad sama-sama menimba ilmu kepada Habib Utsman bin Yahya (Mufti Betawi), selain berguru kepada Habib Utsman bin Yahya keduanya pun sama-sama belajar di Makkah. Adapun guru-gurunya di Makkah adalah Sayyid Abbas al-Maliki (kakek dari Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Makili), Syekh Umar Hamdan al-Mahrisi (ulama besar Makkah) dan lain-lain. Ibu K.H. Hasbiyallah bernama Hj. Mamnin binti Ja‟man bin Sapariman, menurut informasi keturunan Rembang. Guru Sebih memiliki lima orang istri diantaranya: Hj. Asmaroh, Hj. Noramah (cerai), Hj. Tinah, Hj. Siti Zubaidah, Hj. Masturoh.

Kakeknya yaitu K.H. Abdurrahim. Dia merupakan sosok ulama yang sangat berjasa di Klender, salah satu jasanya yang terbesar adalah mendirikan Mesjid al-Makmur yang dahulu hanya mushallah kecil. Mesjid Al-Makmur sama seperti mesjid-mesjid kampung pada umumnya yaitu terdapat kompleks pemakaman. Akan tetapi tidak sembarang orang bisa dimakamkan disana, hanya dari kalangan keluarga yang mewakafkan tanahnya untuk masjid dan ulama yang memiliki pengaruh di Klender yang bisa dimakamkan disana, diantaranya: Muallim K.H. Gayar, K.H. Abdurrahim, K.H. Hasbiyallah, K.H. Hasbullah (kakak K.H. Hasbiyallah yang merupakan salah satu Pahlawan Nasional), K.H. Aselih Junaedi, K.H. Ayatullah Shaleh, dan K.H. Muhammad Yasin (adik K.H. Hasbiyallah sekaligus pendiri Yayasan Perguruan Islam Nurul Anwar/L-PINA Klender).

Melihat dari silsilah keturunannya, maka tidak heran jika dia menjadi ulama besar, karena memang terlahir dari keturunan alimulama dan saudagar kaya dan berdarah darah biru.

Pendidikan KH. Hasbiyallah

Keluarga K.H. Hasbiyallah termasuk keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Muallim K.H. Gayar adalah pimpinan pengajian Islam yang bernama Riyadhul Fityan (cikal bakal lembaga pendidikan Al-Wathoniyah). Melalui pengajian inilah, masyarakat Klender dan sekitarnya mendapatkan pendidikan keagamaan.

Situasi, kondisi keluarga dan kapasitas yang dimiliki oleh Muallim K.H. Gayar tentu sangat mempengaruhi cara berfikir dan berperilaku keluarganya, termasuk K.H. Hasbiyallah. Situasi dan kondisi yang terjadi dalam keluarga besarnya secara heredis (keturunan dan nasab) adalah terlahir dalam keluarga religius dan bangsawan.

Berdasarkan struktur biografi keluarga besar baik garis ke atas maupun ke bawah, maka bisa dilihat bahwa secara genetika dia adalah keturunan keluarga santri, mengingat ayahnya Muallim K.H. Gayar adalah seorang pemuka agama. Mungkin nama Muallim adalah kata sandang atau gelar dari fungsi sosial ayahnya, yaitu sebagai panutan para santri. Setiap orang tua tentu bercita-cita kelak keturunannya bisa meneruskan estafet perjuangannya. Begitu pula dengan Muallim K.H. Gayar yang memiliki keinginan kuat agar kelak keturunannya bisa meneruskan tugas sucinya sebagai pengajar agama Islam. Atas dasar menyebaran Islam itu pula, mungkin bisa dijadikan dugaan kuat adalah “trend” dikalangan para kyai bahwa dengan mereka melakukan poligami maka mereka akan semakin banyak memperoleh keturunan (anak). Dengan memiliki banyak keturunan, maka diharapkan akan semakin mempercepat dan memperlebar penyebaran Islam. Hal tersebut semakin dipastikan dengan diimplementasikan dalam bentuk menanamkan nilai-nilai serta kedisiplinan dan keilmuan keislaman. Maka sejak kecil, dengan berada dibawah bimbingan ayahandanya, Hasbiyallah kecil terus ditempa agar menjadi manusia yang berguna bagi agama Islam. Hingga saat ini putra-putri K.H. Hasbiyallah telah mendapat amanat untuk terus menjaga “api Islam” dengan media mengelola lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal yang bernafaskan Islam.

Pendidikan dasar yang ditempuh oleh K.H. Hasbiyallah adalah sekitar tahun 1918-1924 M ia mengikuti pendidikan IS (Inlandsche School) setingkat Sekolah dasar pemerintah colonial Hindia Belanda untuk masyarakat pribumi. Keluarganya mempunyai maksud tertentu lebih tepatnya politik pendidikan dalam hal memilih sekolah Belanda sebagai sarana pendidikan. Maksud tersebut adalah dia berusaha mengambil simpati dari pemerintah kolonial, karena ada sebuah keluarga ulama yang mau menyekolahkan anggota keluarganya di lembaga pendidikan milik Belanda. Politik simpatik ini menjadi pijakan awal agar pemerintah Belanda kehilangan konsentrasi dalam menghadapi strategi perlawanan rakyat Indonesia yaitu keluarga Hasbiyallah yang lebih memilih jalur pendidikan.

ketika bersekolah umum K.H. Hasbiyallah juga belajar ilmu agama yang diajarkan langsung oleh ayahnya sendiri, tetapi karena kesibukan ayahnya dalam berdagang, kemudian ia diserahkan kepada Muallim K.H. Ahmad Marzuki bin Mirshad (Guru Marzuki, Cipinang Muara) untuk dididik tentang kitab-kitab kuning dari 1918-1931 M, setelah bekal ilmu yang diberikan Guru Marzuki cukup, pada tahun 1931 M Guru Marzuki memerintahkan Hasbiyallah muda untuk belajar kepada K.H. Abbas di Buntet. Dibawah naungan Guru Abbas, Hasbiyallah belajar Qiro‟ah Sab‟ah sampai 1934 M. kemudian pada tahun 1934-1942 M dia dan K.H. Noer Ali berangkat ke Makkah untuk menimba ilmu, diantara guru-gurunya di Makkah adalah Syaikh Ali alMaliki, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Muhammad Habibullah as-Sanqithi, Syaikh Muhammad Amin Qutbi, Syaikh Umar Hamdan, Syaikh Hasan al-Masysyath, Syaikh Ali al-Yamani, Syaikh Zakaria Bila, Syaikh Ahmad Fathoni dan Syaikh Umar at-Turki.29 Setelah kembali ke tanah air tak membuat K.H. Hasbiyallah merasa puas dalam menuntut ilmu, dia melanjutkan belajar kepada pamannya (adik ipar dari ibu) yaitu K.H. Kholid (Guru Kholid, Gondangdia), KH. Abdul Majid (Guru Babah, Pekojan) yang sangat terkenal, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi Kwitang (Habib Ali Kwitang) dan Habib Ali bin Husein al-Attas Bungur (Habib Ali Bungur) yang merupakan satu dari wali min aulia illah.

Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa sejak kecil K.H. Hasbiyallah telah ditanamkan nilai-nilai keislaman seperti bidang aqidah, fiqih, tasawwuf maupun akhlak. Pertimbangan keluarganya saat itu adalah bagaimana mendidik keluarga muslim dengan jalan yang benar yaitu dengan metode yang sesuai ajaran agama Islam. Hal ini mungkin sebagai refleksi terhadap situasi dan kondisi lingkungan yang dirasakan sudah tidak ramah lagi bagi perkembangan dan pengembangan psikologi dan intelektual anak-anak muslim.

Muallim K.H. Gayar memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan intelektual K.H. Hasbiyallah tidak hanya ketika ia masih kecil, tetapi juga mewarnai wacana keilmuan dan mindset (pola pikir) ketika terjun di masyarakat.

K.H. Hasbiyallah juga mempunyai kredibilitas sebagai seseorang yang mewarisi “darah biru” keulamaan yang diperoleh dari ayahadanya, Muallim K.H. Gayar. Sebagaimana yang dicatat oleh Zamakhsyari Dhofier, bahwa dalam tradisi ulama atau kiayi di Indonesia hal tersebut membuktikan adanya kecengderungan sangat kuat, yang melebihi tradisi bisa dikategorikan sebagai sebuah ideologi pesantren, bahwa kealiman serta kewibawaan seorang kiayi harus terwariskan dalam citra diri para penerusnya yang tak lain adalah para keturunan sang kiayi itu sendiri. Hal ini dari sudut pandang psikologi, memiliki semacam implikasi yang sangat signifikan bagi para penerus dan keturunan kiayi di bidang motivasi (ghirrah) pendidikan (education) terutama di bidang keagamaan. Keturunan kiayi kebanyakan menempuh jalur pendidikan pesantren baik salafi (tradisional) maupun pesantren modern sebagai usaha preparing of leadership (mempersiapkan pemimpin) bagi peran kiayi, maka tak ayal lagi weltanschauung (pandangan dunia) kiayi telah menginternalisasi ke dalam wilayah kesadaran berfikir dari para keturunan dan penerusnya.

Karya-karya KH. Hasbiyallah

Semasa hidup K.H. Hasbiyallah menulis beberapa kitab diantaranya “Risalah Kaifiyah Sembahyang Tarawih, Pedoman Ziyarah Kubur”, “Sholat al-„Aidain” dan “Penolakan Muktamar Alim Ulama di Palembang.”. Ia kerap kali menjadi rujukan dan pendapat para ulama Betawi lainnya seperti K.H. Abdurahman Nawi (Pendiri Perguruan al-Awwabin) yang memintanya untuk mentashih (mengoreksi) risalah karangannya yang berjudul Manasik Haji. Selain itu juga dia mendirikan organisasi kematian yang bernama I‟anatul Mauta dan mendirikan banyak Majelis Taklim di Klender dan sekitarnya.

Menyusun kitab Manasik Haji pada tahun 1973 M menjadi sebuah implementasi praktis dari konsekuensi nasionalisme religius, dia benar-benar secara simultan dan konsisten untuk terus merangkul lapisan masyarakat. Bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk solusi untuk terus menggalang kesatuan emosional yang dibingkai dalam balutan kharismatik, maka K.H. Hasbiyallah menyediakan segala yang dimilikinya untuk kepentingan umat.

Salah satu bentuk “ikatan emosional” yang coba dibangun olehnya yaitu dengan dikarangnya buku panduan ibadah haji tersebut. Melalui kitab panduan itu K.H. Hasbiyalah memiliki tujuan yang besar, yaitu kitab tersebut didekikasikan sebagai alat untuk memotivasi keagamaan. Artinya, K.H. Hasbiyalah secara konsisten dan serius menuntun masyarakat di bidang ibadah haji beserta segala tata cara dan peraturannya. Hal ini dilakukan karena ia melihat masyarakat sangat membutuhkan tuntunan ibadah dalam bidang keagamaan yang elit dan rumit seperti ibadah haji. Sementara saat itu belum tersedianya literatur-literatur yang sifatnya praktis demi kepentingan ibadah haji. Biasanya literatur-literatur tersebut masih bersifat kitab kuning yang sulit difahami oleh orang-orang awam (belum faham kitab kuning) yang membacanya tidak bisa sembarangan karena membutuhkan ilmu Nahwu dan Sharaf.

Selain berjuang dengan penanya, guru Sebih pun berjuangan menggunakan tenaga dan harta yang beliau miliki dengan mempelopori berdirinya organisasi sosial dalam bidang kematian yang diberi nama I‟anatul Mauta. Organisasi ini memiliki visi bagaimana orang Islam baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal memiliki semangat tolong-menolong antar sesama. Misalnya, jika ada orang Islam yang fakir atau miskin meninggal dunia, sementara ahli warisnya tidak mampu untuk mengurus prosesi kematian, seperti memandikan, penguburan dan upacara-upacara mendoakan arwah, maka kaum muslimin yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk membantu ahli waris orang muslim fakir yang meninggal tersebut. Mekanisme organisasi I‟anatul Mauta, yaitu dengan cara para anggotanya akan menkoordinasikan bantuan untuk ahlu al-janazah (keluarga yang terkena musibah kematian), seperti menyumbang beras dan uang untuk keperluan jenazah, mulai dari pemandian, pengkafanan, upacara menguburkan jenazah sampai upacara mendoakan arwah (tahlilan) dari hari pertama dimakamkan sampai hari ketujuh, empat puluh, seratus hingga seribu hari pasca meninggalnya jenazah. Jadi prinsip dasar yang dibangun oleh K.H. Hasbiyallah adalah tolong-menolong yang tak mengenal batas waktu di antara kaum muslimin.

Hal yang patut untuk diperhatikan dalam obyek I‟anatul Mauta adalah, pertama, selain melakukan education move (pergerakan di bidang pendidikan dengan mendirikan pesantren Al-Wathoniyah), dia juga merambah sisi social move (pergerakan sosial) yaitu dengan mendirikan I‟anatul Mauta. Melalui social move, selain visi saling tolong-menolong di antara sesama muslim secara langgeng, maka sisi lain dari kepribadiannya semakin nampak, yaitu sifat careness (penuh perhatian) dengan kondisi umat Islam secara total.

Kedua, karena faktor social move tersebut, maka kharismanya di tengah masyarakat Klender dan murid-muridnya semakin kuat. Inilah salah satu faktor yang sangat mendukung pengembangan visi pertamanya (yaitu pendirian pesantren sebagai media pemberdayaan masyarakat). Sayangnya organisasi ini sekarang telah fakum (tidak aktif) sepeninggalnya dan para orang-orang terdahulu yang pernah terjun langsung bersama K.H. Hasbiyallah.

Kontribusi selanjutnya yang dibangun oleh K.H. Hasbiyallah adalah membangun dan mengembangkan tradisi majelis taklim. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam obyek majelis taklim ini. Pertama, secara kinerja, majelis taklim ini berbeda dengan metode pondok pesantren, karena jika model pondok pesantren, maka masyarakat yang datang atau bermukim di pesantren. Sedangkan dalam majelis taklim ini, ia melakukan politik “menjemput bola”. Artinya, dia yang datang ke mushallah, mesjid atau langar (semacam musholah) yang berada di Jakarta dan Bekasi.

Kedua, melalui majelis taklim ini pula, kegigihan dan dedikasinya di bidang pendidikan benar-benar dapat dibuktikan. Bisa dikatakan, semangatnya untuk mendidik umat Islam tidak hanya berhenti dengan telah didirikannya pondok pesantren Al-Wathoniyah. Seluruh jiwa, raga dan hartanya dipersembahkan untuk umat Islam agar mereka menjadi masyarakat yang tidak terbelakang dalam pendidikan.

Dengan membangun landasan ideologi nasionalisme religius yang meliputi elemen pesantren Al-Wathoniyah, merintis organisasi kematian I‟anatul Mauta dan memasyarakatkan majelis taklim, maka satu benang merah tentang kontribusi K.H. Hasbiyallah dalam pengembangan pesantren Al-Wathoniyah dapat diketahui. Sebenarnya kontribusi yang dilakukan olehnya adalah bagaimana melawan pembodohan dan keterbelakangan yang ditimbulkan oleh kolonialisme dengan menggunakan metode pembelajaran yang holistic (keagamaan). Pembelajaran holistic tersebut meliputi dua elemen sekaligus, yaitu elemen pemikiran yang dikategorikan dalam term nasionalisme religius, elemen praktis yaitu berupa implementasi dan konsistensi dari pemikiran tersebut berupa konsolidasi sosial berupa organisasi I‟anatul Mauta dan “safari pengajian” dalam rangka menyapa umat dengan menyebar luaskan majelis taklim, sebagai basis kultural bagi eksistensi pondok pesantren Al-Wathoniyah.

Related posts