Biografi Singkat KH Chudlori, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Seluruh Indonesia

Biografi K.H Chudlori | Biografi Singkat K.H Chudlori | Profil K.H Chudlori | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat KH Chudlori : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

K.H Chudlori dilahirkan di Tegalrejo, anak dari pasangan bapak Ikhsan dan Ibu Mujirah, anak kedua dari sepuluh bersaudara. Ayah nya (Ikhsan) adalah seorang pegawai (penghulu) yang menangani administrasi urusan agama di daerah pedalaman kabupaten Magelang yang meliputi kecamatan Candimulyo, Mertoyudan, Mungkid dan Tegalrejo. Pada zaman Belanda, seorang penghulu dan keluarganya dihormati sebagai priyayi, sedangkan Ibu Mujirah adalah putri Karto Diwiryo yang menjadi Lurah di Kali Tengah. Dari sebelas bersaudara hanya K.H Chudlori yang menjadi Kiai, anak yang lain menjadi pegawai, ada yang jadi guru dan ada yang jadi pengulu seperti ayah nya. K.H Chudlori ketika masih belajar di Pesantren Bendo, seorang kiai yang sangat terkemuka di daerah Magelang, yakni Kiai Dalhar, pimpinan pesantren Watu Congol menawari Chudlori untuk menikahi putrinya. Namun pada tahun 1937 baru saja pindah dari Pesantren Bendo ke Pesantren Lasem, ayahnya, Ihsan meninggal dunia sehingga pernikahannya ditunda. Dua tahun kemudian, ketika keluarganya diminta Kiai Dalhar untuk melaksanakan akad nikah, Chudlori pergi dari Lasem tanpa sepengetahuan keluarganya. Seorang kerabat yang tinggal di Surabaya menemukan Chudlori sedang menjalani uzlah di makan ‘keramat’ Batu Ampar, di Pulau Madura. Dia menghabiskan waktu hampir dua tahun untuk menjalankan praktek mistik di kuburan keramat Batu Ampar. Di sana dia dijemput oleh keluarganya dan tahun 1940 akhirnya Chudlori mengakhiri status lajangnya dengan menikahi putri Kiai Dalhar (Pengasuh Pondok Pesantren Watu Congol Muntilan). Setelah pernikahannya, Chudlori diminta mertuanya (Kiai Dalhar) tinggal dan mengajar di pesantren Watu Congol, Muntilan, 22 km barat daya Tegalrejo. Sebagai menantu seorang Kiai terkenal dan seorang Kiai muda di pesantren terkenal, Chudlori mulai menempati posisi yang relatif tinggi, khususnya dalam konteks dunia pesantren sendiri di desa kelahirannya, Tegalrejo.

K.H Chudlori dikarunia sepuluh putra, putri. Semua Putranya adalah seorang Kiai dan meneruskan perjuangan dakwah nya dengan merawat dan mengembangkan Pondok pesantren API Tegalrejo, perjuangan dipartai politik dan sebagai da’i.

Setelah sakit parah, Kiai Chudlori wafat pada tanggal 28 Agustus 1977. Beliau meninggalkan surat warisan tertulis yang disampaikan kepada Kiai Ibrahim, Ketua P4SK dan pimpinan pesantren Jawar, Wonosobo, Kiai Ubaidah, salah seorang pegawai Kantor Pengadilan Agama, Kiai Muslih, pimpinan Pesantren Salam Kanci dan wakil ketua DPRD Kabupaten Magelang, dan Abdurrahman, putra pertamanya yang telah dikader untuk menggantikannya. Dokumen tersebut berisi pesan-pesan berikut ini: Kedamaian, rahmat dan karunia Allah semoga senantiasa bersamamu. Segala puji hanya kepunyaan Allah, yang memberikan kehidupan dan menciptakan kematian. Kemurahan dari berkah untuk utusan terpilih, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti kebenaran dan menepati janjinya. Perkenankanlah kami mengajak saudara untuk bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya, taqwa kepada Allah merupakan inti dari watak yang terpuji. Hai anak-anakku Kiai Ibrahim, ubaidah, Radi Muslih, Abdurrahman dan yang lainnya! Yakinlah bahwa kamu semua akan merasakan lebih berat untuk melanjutkan perjuangan P4SK dan Majelis Muqimien, karena aku sendiri merasakan seperti itu. Perjuangan kita seharusnya mampu menjadi lokomotif. Ini berarti mendorong para orang tua dan menarik kalangan muda. Meskipun usaha ini berat, perjuangan yang terus menerus dilakukan, disertai dengan memohon bantuan Allah secara terus-menerus P4SK harus mampu memperkuat Majelis Muqimien. Begitu juga Majelis Muqimien harus mampu memperkuat kesatuan di kalangan pesantren. Meskipun perjuangan ini berat, tapi harus dilakukan karena pesantren merupakan instrumen yang Islami dan pasti menumbuhkembangkan kemuliaan Islam. Jika pesantren lenyap, Islam akan habis. Inilah wasiatku.

Wasiat Kiai Chudlori untuk para santrinya sebagai berikut: Untuk semua santri yang tulus, perkenankan aku meminta bantuanmu. Pertama, bagi santri yang sudah selesai belajar membaca Al-Qur’an, aku minta masing-masing kamu mengkhatamkan al-Qur’an disekat pusaraku paling tidak sekali, jika lebih dari sekali, aku sangat berteri makasih. Insya Allah, Allah akan memberikan ilmu yang bermanfaat kepadamu. Kedua, bagi para santri yang masih belajar membaca alQur’an, aku meminta masing-masing kamu untuk menyenandungkan dzikir sebanyak 70.000 kali. Ketiga, setelah tamat belajar di pesantren ini kamu harus mengajarkan agama kepada masyarakat semampumu.

Pendidikan

Pada tahun 1923, setelah menyelesaikan studinya di HIS (Hollandsch Inlandcsh School) Chudlori dikirim ayahnya belajar di Pesantren Payaman, sebuah pesantren terkenal di kabupaten Magelang yang diasuh oleh Kiai Siroj. Disini, K.H Chudlori menghabiskan waktu dua tahun. Pesantren Koripan diasuh oleh Kiai Abdan ketika K.H Chudlori belajar disana. Kemudian K.H Chudlori pindah mengaji di Pesantren Kiai Rohmat di Gragab hingga tahun 1928. Setelah menguasai beberapa kitab, khususnya kitab Fatchul Qorrib, K.H Chudlori semakin bersemangat dan antusias sehingga pindah ke pesantren Tebu Ireng Jawa Timur (Pesantren yang paling terkenal saat itu), yang dipimpin oleh Hadrotusy Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari. Di Tebu Ireng, K.H Chudlori menemukan tanah air spiritualnya. Walaupun selama empat tahun K.H Chudlori mempelajari tata bahasa dan sastra Arab seperti al-jumuriyah, al-Umrithi, Izzi, Maqshud, Qowaidi I’rab dan al-Fiyah, tapi masih ingin memperluas pengetahuan agamanya. Pada tahun 1933 pindah ke pesantren Bendo, Pare, Jawa Timur untuk menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Disini K.H Chudlori mendalami fiqih dan mencurahkan tenaganya pada tasawuf, dengan menguasai kitab tasawuf terkenal dengan Ihya’ Ulum ad-Din karya Imam Ghazali. Setelah empat tahun, K.H Chudlori pindah ke Pesantren Sedayu Jawa Timur untuk mempelajari Qiratul Qur’an, selama tujuh bulan. Tahun 1937 pindah ke pesantren terakhir, Pesantren Lasem. Pesantren yang berada di timur laut Jawa Tengah ini diasuh oleh dua orang kiai terkenal yaitu Kiai Haji Ma’shum dan K.H Baidlowi. Ketika sudah menguasai semua kitab yang diajarkan, K.H Chudlori sering diminta oleh Kiai Baidlowi untuk mengajar para santri lainnya. Di pesantren inilah Chudlori menggali bakatnya sebagai seorang Kiai. Meskipun tetap tinggal di sana, Chudlori tidak begitu banyak balajar, karena harus mengabdi pada kiai agar memperoleh karomah untuk memastikan bahwa dimasa yang akan datang itu yang diperoleh dari para Kiai itu akan tetap memiliki potensi spiritual dan berkualitas. Catatan sejarah kehidupan K.H Chudlori selama belajar di berbagai pesantren (nyantri) penuh dengan cerita-cerita perjuangannya yang keras, keteguhan, kesalehan dan kezuhudannya. Misalnya, ketika sedang belajar di pesantren Payaman, 12 km sebelah barat laut Tegalrejo, sebulan sekali pulang mengambil perbekalan yang dibawa dengan cara dipanggul. Anak muda yang baru memasuki umur belasan, harus memanggul satu karung beras dan perbekalan lain di pundaknya, merupakan pekerjaan yang tidak pantas dan sesuatu yang luar biasa bila dilakukan oleh seorang priyayi. Ketika Chudlori belajar di Tebu Ireng, ayahnya mengirim uang sebanyak Rp. 750 rupiah perbulan, tetapi K.H Chudlori hanya menghabiskan Rp.150 rupiah dan mengembalikan sisanya. K.H Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. K.H Chudlori melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri (Mutharom, Biografi K.H Chudlori,1984: 9).

MENDIRIKAN PESANTREN

Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Di Tegalrejo Magelang.

Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejodidirikan pada tanggal 15 September 1944 oleh KH. Chudlori yaitu seorang ulama yang juga berasal dari desa Tegalrejo. Beliau adalah menantu dari KH. Dalhar pengasuh Pondok Pesantren ”Darus Salam” Watucongol Muntilan Magelang. KH. Chudlori mendirikan Pondok Pesantren di Tegalrejo pada awalnya tanpa memberikan nama sebagaimana layaknya Pondok Pesantren yang lain. Baru setelah berkalai-kali beliau mendapatkan saran dan usulan dari rekan seperjuangannya pada tahun 1947 di tetapkanlah nama Asrama Perguruan Islam (API). Nama ini ditentukannya sendiri yang tentunya merupakan hasil dari sholat Istikharoh. Dengan lahirnya nama Asrama Perguruan Islam, beliau berharap agar para santrinya kelak di masyarakat mampu dan mau menjadi guruyang mengajarkan dan mengembangkan syariat-syariat Islam.

Adapun yang melatar belakangi berdirinya Asrama Perguruan Islam adalah adanya semangat jihad ”I’Lai kalimatillah” yang mengkristal dalam jiwa sang pendiri itu sendiri. Dimana kondisi masyarakat Tegalrejo pada waktu itu masih banyak yang bergelumuran dengan perbuatan-perbuatan syirik dan anti pati dengan tata nilai sosial yang Islami. Respon Masyarakat Tegalrejo atas didirikannya Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo pada waktu itu sangat memprihatinkan. Karena pada saat itu masyarakat masih kental dengan aliran kejawen. Tidak jarang mereka melakukan hal-hal yang negatif yang mengakibatkan berhentinya kegiatan ta’lim wa-taa’llum (kegiatan belajar-mengajar). Sebagai seorang ulama yang telah digembleng jiwanya bertahun-tahun di berbagai pesantren, KH. Chudlori tetap tegar dalam menghadapi dan menangani segala hambatan dan tantangn yang datang.

Persatuan pengasuh Pondok Pesantren Se-Karisidenan Kedu (P4SK).

Menyadari akan posisi lembaga Ulama’ bagi surujuddunya dan mashobihul-akhiroh, maka dengan penuh hikmah dan kearifan Jumhurul Ulama’ (Pengasuh Pondok esantren) se-Eks Karesidenan Kedu yang terdiri antara lain beliau Bapak KH. Chudlori Tegalrejo Magelang, Bapak KH. Alwi Magelang, Bapak KH. Muntaha Wonosobo, Bapak KH. Mandzur Temanggung, Bapak KH. Sururuddin Kebumen, Bapak KH. Nawawi Puruorejo dan lainlain, pada tanggal 14-15 Syawal 1392 H muwaffiq tanggal 20-21 Nopembier 1972 M memprakarsai berdirinya Ukhuwatul Ma’ahidil lslamiyyah atau Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah se-Karesidenan Kedu yang disingkat P4SK.

Keputusan penting pembentukan jam’iyah dimaksud, sebagai bukti keterpanggilan dan didorong rasa tanggungiawab yang besar bagi kelahgsungan dan kelestarian hakikat periuangan pembinaan ummat dalam mengembangkan nilai-nilai ajaran lslam Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah-tengah ummat (masyarakat) dalam berbagai aspek kehidupan sekaligus berusaha membentengi kecenderungan degradasi nilai-nilai ajaran lslam dari pengaruh budaya global yang sangat rentan dengan pergeseran nilai-nilai kehidupan di masyarakat.

Setelah berjalan dan menapaki usianya yang ke-16 tahun dan dirasakan adanya perkembangan.yang positif, maka oleh para Utama’ generasi penerus (di bawah pimpinan rois KH. Abd.urrohman. Khudlori), P4SK diting katkah statusnya menjadi lembaga berbadan hukum denqan bentuk yavasan yaitu Yayasan Persatuan Pengasuh pondok pesantren Salafiyah Kedu yang dikukuhkan dengan Akta Notaris Ny. Kunsri Haituti Nomor 4 tertanggal 4 Juni 1988. Denqan demikian eksistensi P4SK secara yuridis formal semakin kuat dan mantap.

Dalam perkembangan perjalanan P4SK ini, dirasa perlu adanya pembenahan dan penyempurnaan kelembagaan. Maka pada AlLiqo’ul A’la pertama P4SK pada tanggal 16 Jumadal’Akhiroh 1418 H muwaffiq tanggal 18 0ktober1997 M di pondok Al-Asnawi Salamkanci Bandongan, Magelang telah meletakkan dasar-dasar adanya reorientasi kelembagaan P4SK khususnya dalam tata organisasidan pola manajemennya.

Dalam perkembangan selanjutnya pada Al-Liqo’ul A’la kedua P4SK di Jawar, Wonosobo tanggal 3-14 JumadalAkhiroh 1423 H muwaffiq tanggal 22Agustus 2002 M , P4SK memandanq perlu adanya revisi Anggaran Dasar yang sifatnya lebih pada penyesuaian kebutuhan internal dan eksternal. Pengembangan P4SK dimaksud tetap menggunakan prinsip : “At-Muhafadhotu ‘alal qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” dalam arti penyesuaian tersebut harus tetap berpegang teguh pada kerangka asasi yang telah dicanangkan oleh para mu’assis P4SK. Setelah P4SK berkembang pesat dengan berdirinya perwaklan-perwakilan di daerah-daerah di luar wilayah Kedu, maka P4SK perlu dirubah singkatannya. Huruf K yang semula berarti Kedu perlu ditinjau kembali untuk kemudian diganti dengan makna Kaffah agar nantinya lebih leluasa berkembang. Disamping status “Yayasan” yang selama ini belum biasa dimanfaatkan oleh P4SK, bahkan terasa memberatkan terkait dengan terbitnya UU Rl Nomor 16 Tahun 2001 tentang yayasan yang sangat ketat. Sehingga pengembalian P4SK kepada lembaga non yayasan akan lebih memberikan ruang jarak kepada pengurus dalam melaksanakan program P4SK.

P4SK atau Persatuan Pengasuh Pondok Pesantren seKaresidenan Kedu pada tanggal 14-15 Syawal 1392 H bertepatan pula dengan tanggal 20-21 Nopember 1972 M telah resmi dan disahkan oleh para Alim Ulama se-Karesidenan Kedu pada Pertemuan Silaturrochmi dan Halal Bihalal para pengasuh Pondok Pesantren se-Karesidenan Kedu yang diselenggarakan di A.P.I Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang.

Related posts