Biografi Singkat K.H Musthofa | Profil K.H Musthofa | Pendidikan | Karya | Pemikiran |
Biografi Singkat KH Musthofa: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
K.H Musthofa dilahirkan pada bulan Sya’ban 1291 Hijriyah/Oktober 1871 Masehi didesa Tebuwung, kecamatan Dukun, kabupaten Gresik (masalah tanggal kelahiran, karena kebiasaan masyarakat setempat tidak mencatumkan tanggal kelahiran) . K.H Musthofa lahir dari hasil perkawinan K.H. Abd. Karim dengan Ny. Khodijah dan dikaruniai lima orang anak, salah satunya yaitu K.H Musthofa. KH. Abdul Karim adalah keturunan kesebelas dari Sunan Drajat atau Raden Qosim, yaitu Abdul Karim bin Abdul Qohar bin Darus bin Kinan bin Ali Mas’udi bin Ahmad Rifa’i bin Bisri bin Dahlan bin Mohammad Ali bin Hamid bin Sunan Drajad/Raden Qosim. KH. Abdul Karim dilahirkan pada tahun 1238 H/1822 M di Desa Drajat Paciran Lamongan dari pasangan Suami istri yang bernama KH. Abdul Qohar dan Nyai Sarwilah. Kedua tersebut asli warga desa Drajat Paciran Lamongan.
Semenjak Abdul Karim kecil hidup bersama ayah tirinya yang bernama Kyai Asnawi. Mula-mula KH. Abdul Karim dikirim ke pondok Pesantren Mbah Suto Sendang Paciran Lamongan. Kemudian melajutkan ke pondok Pesantren Tugu Yogyakarta. Kedati ilmu yang diserap dari kedua Pondok Pesantren tersebut cukup banyak, bagi KH. Abdul Karim belum merupakan perolehan yang optimal. Kehausan akan ilmu agama mencenangkan niatnya untuk memperdalamnya dikota Makkah Saudi Arabiyah. Setelah beberapa tahun lamanya di kota Makkah beliau pulang kekota Sidayu. Untuk membantu mengajarkan ilmu agama juga ikut berdagang kain dipasar. Semakin lama nama beliau semakin dikenal orang. Kemasyhurannya bukan hanya lantaran guru agama dan pedagang yang berhasil, melainkan dikenal juga sebagai tokoh muda ahli agama yang disegai, baik oleh penduduk maupun pemerintah Belanda. Karenanya Belanda bermaksud mengangkat hakim agama dikabupaten Sidayu. Mendengar kabar tersebut beliau merasa sedih. Pada saat yang bersamaan, Pak Utsman Kepala desa Tebuwung tengah mencari seorang Ulama’ yang sanggup membina masyarakatnya serta inggal didesanya pula. Atas kehendak Allah yang kuasa, pak Utsman datang menghadap KH. Abdul Karim ia memohon kesediaan beliau untuk membina masyarakat Tebuwung dan sekitarnya yang pada waktu itu sangat rendah agamanya, kemudian dengan senang hati tawaran tersebut diterimanya sesuai dengan panggilan jiwanya.
Pada tahun 1862 KH. Abdul Karim meninggalkan kota sidayu menuju desa Tebuwung. Suasana dilingkungan batu ini jauh sekali berbeda dengan kota sidayu. Dimana-mana termasuk Sidayu pendidikan dan pengajaran Islam selalu dalam tekanan dan pengawasan yang ketat dari pemerintah Belanda. Sementara itu ia lebih leluasa mengajarkan agama di desa Tebuwung. Sebagai sarana mengajar para santri tahun 1864 didirikan sebuah pondok dan surau di daerah hutan bendo desa Tebuwung yang sangat sederhana. Kemudian tahun tersebut sampai sekarang sebagai tahun berdirinya Pondok Pesantren Al-Karimi yang dulu dikenal dengan sebuta Pondok Bendo. Cara beliau mendidik para santri tak ubahnya seperti di pondok-pondok salaf yang lain. Sistem Wetonan dan Sorogan merupakan Tradisi ilmiyah pesantren.
Semasa hayatnya KH. Abdul Karim dikaruniai Lima Putra putri. Dari ke Lima anak K.H. Abd Karim tersebut, K.H Musthofa, Putra pertama yang lahir pada tahun 1871, adalah yang paling menonjol.
K.H Musthofa dilahirkan dan diasuh ditengah keluarga santri yang sangat taat dalam menjalankan agama. ilmu-ilmu agama langsung diterimanya dari sang ayah K.H Abd Karim. Karena didapat dengan materi yang baik, dalam wadah dan lingkungan yang agamis serta diampu oleh guru terkemuka menjadikan K.H Musthofa anak yang sangat penurut tekun dan pada saatnya nanti menjadi tokoh kharismatik yang sangat menjunjung tinggi supermasi syariat.
Pendidikan dan Aktivitas
Mengawali pengembarannya dalam rangka thalabul ‘ilmi, KH. Musthofa menerima pendidikan Islam tingkat dasar dari ayahnya sendiri, KH. Abd Karim, pendiri pondok pesantren Al-Karimi Tebuwung Dukun. Kemudian ia melanjutkan pelajarannya ke pondok pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik yang saat itu diasuh oleh Kyai Mohammad Sholeh Tsani selama 5 tahun. Disini terutama ia memperdalam pengetahuannya tentang fiqih. Setelah itu ia melanjutkan pelajarannya ke pondok pesantren Langitan, Tuban, yang saat itu diasuh oleh Kyai Ahmad Sholih, Selama 3 tahun. Ilmu yang ditekuninya ketika di pondok Langitan ialah Tata Bahasa Arab diantaranya seperti Nahwu, Shorof, Balaghah. Kemudian ia pindah ke pondok Baurno, Bojonegoro selama Dua tahun. Setelah itu ia pergi ke pesantren Kademangan di Bangkalan, Madura, disana ia berguru kepada seorang kyai yang paling masyhur diseluruh Jawa dan Madura di akhir abad ke-19 dan permulaanya abad ke 20 yaitu Kyai Kholil. Ia tinggal di pesantren kurang lebih 2 tahun dan memperdalam pengetahuannya dalam bidang tata bahasa Arab, linguistik dan kesustraan Arab. Setelah menyelesaikan pelajarannya dipesantren ini , ia kembali kepondok pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik dan kemudian ia diambil menantu oleh Kyai Moh. Sholeh Tsani mendapat putrinya bernama Aminah tahun 1321 H/1895 M. Satu Tahun kemudian ia menunaikan ibadah haji ke tanah suci makkah pada tanggal 4 juli 1896 M.
Bagi seorang cinta ilmu, perjalanan ibadah haji bukan hanya untuk menjalankan manasik saja, akan tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk “ngangsu kaweruh” kepada para masyayikh yang ada disana . apalagi perjalanan ke Makkah saat itu dengan naik kapal layar yang membutuhkan waktu yang relative panjang KH. Musthofa berkesempatan belajar “mudzakarah’ kepada para masyayikh di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama 6 bulan. Perjalanan dari Nusantara menuju Masjidil Haram dan Masjidil Nabawi membutuhkan waktu 2 hingga 6 bulan lamanya karena perjalanan dahulu hanya ditempuh dengan kapal layar. Bayangkan berapa banyak perbekalan berupa makanan dan pakaian yang harus dipersiapkan pada saat itu.
Sebelum berdirinya Pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah atau dulunya orang menyebut “Pondok Kranji”, masyarakat desa kranji dan sekitarnya adalah masyarakat abangan. yaitu masyarakat yang melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan Syariat Islam, misalnya pemberian sesaji pohon, laut dan lain-lain. Kondisi masyarakat yang semacam itu, membuat sebagian masyarakat Kranji menghendaki adanya adanya sebuah tempat pengajian semacam pesantren sebagai benteng moraldan agama mereka. Namun kehendak mereka tersebut tidak bisa begitu mudah terwujud. Karena waktu itu desa Kranji mengalami krisis figur yang dapat menjadi penyeimbang dalam kehidupan bermasyarakat, panutan dan tempat memperdalam Agama Islam. Akhirnya masyarakat kranji membuat suatu pertemua yang dipelopori oleh H. Harun, K. Taqrib, K. Abdul Hadi, H. Utsman, H. Ibrahim, K. Mukmin, H. Asyraf. untuk mengambil seorang guru mengaji. Hasil pertemuan rapat mereka sepakat mengambil guru mengaji . Pilihan tersebut tertuju kepada KH. Musthofa agar berkenan mukim sekaligus bertempat tinggal di Kranji.
Pada tahun 1900 M. KH. Musthofa bersama keluarganya hijrah ke Kranji menempati Rumah yang sekarang masih baik. selang beberapa tahun kemudian santri semakin banyak, bahkan ada yang datang diluar daerah Kranji, maka beliau membangun asrama tempat pemukiman, mengulang pelajaran, menghafal, dan lain sebagainya. Asrama sederhana tersebut letaknya disebelah selatan bangunan langgar (Musholla). Model pengajaran yang dilakukan dalam penyampaian di pondok pesantren Kranji adalah model sorogan dan kadang kala juga menggunakan cara wetonan dan menggunakan tradisional lainnya. Sistem model pengajaran seperti ini dikategorikan sebagai lembaga pendidikan tradisional mempunyai sistem pengajaran tersendiri, dan itu menjadi ciri khas sistem pengajaran yang membedakan dari sistem-sistem pengajaran yang dilakukan di lembaga pendidikan formal. Ada metode pengajaran yang diberlakukan dipesantren-pesantren, diantaranya adalah sorogan, dan wetonan. Metode-metode pembelajaran tersebut tentunya yang ada dipondok pesantren, tetapi setidaknya paling banyak diterapkan dilembaga pendidikan tersebut.
Adapun sorogan tersebut berasal dari kata bahasa Jawa yakni “sorog” yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan kyai atau pembantunya (asisten kyai). sisitem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru/kyai, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercita-cita sebagai orang alim. Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam mengiasai bahasa arab. Dalam metode sorogan, murid membaca kitab kuning dan memberi makna, sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan, komentar, atau bimbingan bila diperlukan. Akan tetapi dalam metode ini, dialog atara guru dengan murid belum atau tidak terjadi. Metode ini tepat bila diberikan kepada murid-murid seusai tingkat dasar (Ibtidaiyah) dan tingkat menengah (tsanawiyah) yang segala sesuatunya perlu diberi atau dibekali.
Sementara wetonan, kata wetonan ini berasal dari kata Bahasa jawa yakni “wektu” yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu, sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardhu. Metode weton ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. Dan metode wetonan ini cara penyampaiannya dimana seorang guru, kyai, atau ustadz membacakan aerta menjelaskan isi kandungan kitab kuning, sementara santri, murid, atau siswa mendengarkan, memberi makna dan menerima. Jadi guru berperan aktif sementara murid bersifat pasif. dan metode wetonan ini dapat bermanfaat ketika jumlah muridnya cukup besar dan waktu yang bersedia relatif sedikit, sementara materi yang harus disampaikan cukup banyak. Penyampaian tradisional lainnya adalah memberikan pengajaran secara umum kepada semua santri kemudian beliau menguji santri santrinya dengan cara menghafal satu persatu, mengulang pelajaran, mempraktekkan ilmu yang telah disampaikan. Adapun materi yang disampaikan yakni Al-Quran, Tafsir Al-Quran dan Al-Hadist, Fiqih, Nahwu, Shorof, Balaghoh, dan ilmu Tasawuf dan beberapa keterampilan lainnya.
K.H Musthofa adalah sosok pribadi yang istiqomah dan sangat menghargai waktu. Tiada waktu luang yang hilang begitu saja kecuali selalu diisi dengan aktifitas-aktifitas. Diantaranya, disela-sela mengajar mengaji Al-qur’an, beliau membuat tampar dari bahan lulup. Dari kerajinan tangan yang ditekuni setiap pagi itu, akhirnya sampai menghasilkan tampar yang cukup banyak dengan berbagai ukuran, dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Tampar produksi tangan KH. Musthofa itu memiliki keistimewaan, kendatipun kelihatan cukup kecil tapi cukup kuat untuk menarik beban yang besar. Bahkan akhirnya, masyarakat Kranji dan sekitarnya sangat menyenangi tampar buatan KH. Musthofa, karena kuat, murah dan bahkan sering tampar itu hanya dipinjamkan atau diberikan saja. Disamping itu KH. Musthofa adalah seorang ahli Falaq. Hal itu karena dari kebiasaan beliau diminta oleh masyarakat yang akan membangun masjid dalam menentukan arah kiblat. Mengingat pada saat itu belum ada alat kompas yang cukup mewadahi, maka untuk menentukan arah kiblat, peranan seorang ahli falak sangatlah dominan. Selain itu, KH. Musthofa juga ahli rancang bangun, karena bangunan-bangunan yang ada di komplek pondok kranji adalah hasil arsitektur beliau. Paling tidak, beliau aktif mengamati setiap hari terhadap pekerjaan bangunan para tukang batu maupun tukang kayu yang sedang menangani pembangunan pondok Kranji. Komposisi yang tepat dari campuran bahan bahan yang digunakan untuk lolo sungguh memerlukan keahlian tersendiri, mengingat waktu itu belum ada semen, tapi nyatanya sampai sekarang bangunan tembok masih kuat. Salah satu kelebihan yang lain adalah bahwa KH. Musthofa itu sangat gemar bersilaturahim kesanak saudaranya. Kebiasaan melakukan silaturahim tersebut biasa dilakukan pada hari libur ngajinya para santri, yaitu hari Jumat.
Disamping itu KH. Musthofa adalah salah seorang pengamal tharekat Samaniyah yang amalannya populer dengan sebutan “dzikir saman”. Ketika berbicara tentang tarekat maka persoalan mengenai tasawuf akan ikut dibahas, hal ini dikarenakan antara tarekat dan tasawuf saling berhubungan satu sama lain secara subtansial dan fungsional. Tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah, dan inilah yang menghubungkan antara tarekat dan tasawuf. Tarekat Samaniyah merupakan salah satu tarekat yang mu’tabarah di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Nahdhatul Ulama yang mencermati perkembangan tarekat di Indonesia dengan melakukan kualifikasi atas tarekat-tarekat yang ada. Ada sekitar 45 tarekat di Indonesia masuk dalam kategori tarekat mu’tabarah. Adapun syarat sebuah tarekat menjadi tarekat mu’tabarah adalah tarekat tersebut mempunyai sanad (mata rantai) yang tidak terputus atau bersambung kepada Rasulullah SAW dan karena itu absah untuk diamalkan.
Tarekat samaniyah mulai menyebar ke Indonesia pada penghujung abad ke-18. Tarekat ini, yang pertamanya mengacu pada nama Syaikh Muhammad Ibn Abd al-Karim al-Saman, merupakan perpaduan dari metode-metode dan bacaan tarekat Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah. Bahkan menurut KH. Zuber Abd Karim (alm) mengatakan bahwa yang membawa amalan dzikir Saman ke Sampurnan Bungah adalah mbah KH. Musthofa. Sebagai pengikut tarekat pada umumnya memiliki identifikasi khusus yang tidak dimiliki oleh umumnya orang. Maka demikian pula halnya KH. Musthofa, beliau banyak menyembuyikan sesuatau yang khalayak ramai, dengan alasan takut popularitas, takut disanjung orang sehingga menimbulkan sifat takabbur dan riya’ yang dapat merusak pahala. Dapat dipahami apa dan mengapa rahasia dzikir Saman itu dilakukan pada malam hari dengan memadamkan lampu-lampu dan dzikir-dzikir yang dibaca pun dengan tanpa suara atau dengan suara yang lirih, nyaris tak terdengar. Rahasianya adalah mengandung suatu pesan atau ajaran bahwa dalam melakukan hal- hal tertentu sebaiknya dengan niat yang ikhlas khalishan mukhlishan liwajhillah, tanpa pamrih itu dan ini. Dzikir saman yang dilakukan pada malam ke-28 Ramadhan Sampurnan Bungah tepatnya di Pondok Pesantren Qomaruddin, dzikir saman sudah tidak asing lagi menjadi suatu budaya dan sering dilakukan di pondok pesantren Qomaruddin sehingga para tamu berdatangan dari sesepuh desa hingga tetangga desa ikut hadir dan berkumpul di sebuah Musholla yang bernama Langgar Agung.
Dalam sebuah cerita pengalaman Mohammad Djabir ketika masa kecilnya, dimana ia dalam mengikuti ngaji qur’an selalu dipaksa oleh ayahnya pada urutan pertama. Ngaji tidak akan dimulai sebelum Moh, Djabir nongol duduk pada urutan bangku yang pertama. Itulah kesan masa kecilnya ketika dibawah asuhan ayahanda KH. Musthofa. Bahkan secara khusus ada semacam wasiat bahwa : “Muhammad, jangan sekali kali engkau tinggalkan mengajar ngaji al-qur’an, walau sesibuk apapun. Sempatkan hal itu sebagai wiridan seumur-umur, insya Allah hidupmu akan barokah”. KH. Musthofa adalah salah satu seorang ulama salaf yang sangat mengutamakan keterampilan baca al-quran bagi para keluarga dan santri-santrinya.
Selain itu, KH. Musthofa juga seorang yang humoris, suka bercanda berkelakar. Suatu hari beliau kedatangan tamu dari desa Kemantren kecamatan Paciran dengan tujuan minta jampi-jampi dan barokah demi kesembuhan anaknya yang sudah cukup lama terkena penyakit gatal-gatal. Sudah kesana kemari berikhtiar mencari obat demi kesembuhan anaknya, namun selalu gatal. Tiba-tiba suatu malam orang itu mimpi bertemu dengan KH. Musthofa dan kontan saja pada pagi harinya ia sowan ke pondok Kranji bertamu kepada beliau. Setelah diceritakan bahwa anaknya bertahun-tahun mengalami sakit gatal-gatal dan sudah berikhtiyar kemana-mana tidak ada hasilnya, lalu ia minta jampi-jampi pengobatan kepada beliau sesuai pesan dalam mimpi tersebut. Karena mbah KH. Musthofa bukan seorag dukun, thabib atau bakul jamu, maka dijawab oleh KH. Musthofa dengan santai berbahasa Jawa. “menawi sampun mekaten, inggih kajaran kemawon”. (Artinya: jika memang sudah demikian, ya biarkan saja menunggu nasib). Tapi jawaban sederhana itu dipahami oleh sang tamu sebagai suatu jawaban yang sangat melegakan. Ia menafsiri ucapan KH. Musthofa itu bahwa: “Jika memang sudah demikian, ya berilah daun-daun pohon kajaran”. Maka pulanglah tamu itu dengan membawa resep “daun kajaran” dengan I’tiqad yang mantap dan yakin sebagai obat alternative yang mujarab.
Selang beberapa bulan kemudian, datang kembali tamu orang kematren tersebut ke pondok Kranji dengan membawa kendaraan cikar didalamnya penuh dengan buah-buahan, beras, lauk pauk dan lain-lainnya. KH. Musthofa sangatlah terkejut dengan pemandangan itu, sebab merasa tidak besanan dengan orang itu, dengan membawa buah tangan satu cikar seperti layaknya orang mau ngajak besanan saja. Setelah ditanya :” ada apa sampean iki ?”, jawabnya :” ya berterima kasih atas kesembuhan anak saya, dan ini buah tangan sebagai tanda mengembalikan obat/resep yang pernah diberikan oleh mbah Musthofa yaitu “kajaran”. Jadi maunya kelakar semata-mata, tapi diaggap serius, akhirnya sembuh atas pertolongan Allah.
Dalam bidang kaderisasi, KH. Musthofa sangat memperhatikan sungguh-sungguh. Misalnya dengan seringnya beliau menugaskan kepada para anak cucu dan santri-santri senior untuk tampil dalam setiap kesempatan, seperti menjadi imam shalat rawatib, sementara KH. Musthofa turut hadir menjad makmum dibelakngnya. ini sungguh sesuatu “uswah” yang luar biasa sebagai tokoh sentral tetapi tidak egois, tidak merasa pintar sendiri, sementara orang lain dianggap tidak apa-apanya. Gaya-gaya ego sentris seperti itu justru menjadi ciri khas pada umumnya kyai-kyai tradisional. Mereka pada umumnya mengabaikan kaderisasi. Gaya kepemimpinanya mengguakan sistem “kepemimpinan Gajah mada”, dimana kerajaan menjadi kuat karena didukung oleh kekuatannya sendiri. jika ada yang berpotensi dikanan-kirinya yang tidak mau loyal (sami’naa wa atho’na), segera ditumpas karena merasa akan menyaingi bahkan menutupi kebesara dirinya. Akibatnya setelah Gajah mada meninggal, maka kerajaan majapahit merosot tajam dan kemudian hancur akibat sikap kepemimpinanya yang egois, otoriter tanpa mau berpikir bagaimana mempersiapkan generasi masa depan.
Sebagai perintis dan pengasuh pertama operasional pesantren sepenuhnya masih bergantung dan berpusat pada figur KH. Musthofa. Beliau belum memperbantukan potensi para santri atau para putraputrinya. baru kemudian pada tahun 1924 M, sekembalinya salah satu puteranya, Kyai Abdul Karim Musthofa, yang belajar di pondok pesantren Tebuireng Jombang pulang ke Kranji Paciran Lamongan. Beliau mulai mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama “Tarbiyatut Tholabah”. Menurut KH. Ahmad Thohir saudara kandung KH. Mohammad Baqir Adelan. Bahwa, nama Tabiyatut Tholabah adalah pemberian/hadiah dari Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, ketika KH. Abdul Karim selesai belajar dipondok pesantren tersebut. Pondok pesantrennya sendiri pada saat itu masih dikenal dengan Pondok Kranji.
Sementara kurikulum madrasah yang didirikannya disesuaikan dengan kurikulum Madrasah Salafiyah Tebuireng Jombang, tempat Kyai Abdul Karim menuntut ilmu. Pada tahun 1928 M, Kyai Abdul Karim Musthofa pergi lagi menuntut ilmu ke Tebuireng dan kepemimpinannya sementara diserahkan kepada adik iparnya, Kyai Adelan dari Kranji, suami dari Nyai Shofiyah Musthofa. Setelah berada dipondok pesantren Tebuireng kurang lebih Lima tahun, tepatnya tahun 1933 M KH. Abdul Karim Musthofa pulang ke Kranji untuk yang kedua kalinya meneruskan dan memajukan kepemimpinannya banyak menghasilkan santri luar daerah yang mempunyai kapasitas intelektual dan bahkan cendekiawan muslim, seperti KH. Moh. Tholchah Hasan (dari sidayu dan sekarang menetap di Malang), Kyai Abdul Karim Rosyid (dari Gelap Laren), KH. Abdur Rahman Syamsuri (pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Karangasem Paciran), KH. Abdur Rahim Thoyyib (mantan pegawai DEPAG RI-Delegan Panceng) dan masih banyak lagi lulusan pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji yang menjadi kyai lingkungan pondok pesantren Kranji dan daerah lainnya.
Sebelum kedatangan jepang, Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji pernah mengalami libur panjang, ketika penduduk Desa Kranji diperintahkan oleh Kyai Amin Musthofa ke desa Payaman untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini terjadi pada tahun 1941 M dan tahun 1942 M (adanya agresi Belanda yang menumpang tentara NICA). Ketika situasi sudah normal kembali, aktivitas pendidikan dan pengajaran pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji pun mulai berjalan dengan baik, bahkan pada waktu itu telah dibuka kegiatan olah raga senam yang dikenal dengan taiso. Taiso adalah bahasa jepang yang artinya senam atau bisa diartikan senam kesegaran jasmani. Taiso bisa dilakukan di koridor atau tempat yang memungkinkan untuk melakukan taiso. Musik taiso yang meruoakan dentingan piano yang lembut, selalu terdengar setiap menjelang jam kerja pada jam yang sama, musik sudah disetel secara otomatis. Maka, siapapun yang mendengar musik taiso, secara otomatis orang-orang akan bergerombol membentuk barisan, lingkaran atau depan belakang. Pada zaman dahulu, musik taiso ini hanya didengar melalui radio Taiso. Taiso sudah menjadi tradisi nasional jepang. Dari anak-anak sampai orang lajut usia. Taiso ini merupakan program Nasional yang pertama kali diselenggarakan oleh radio NHK pada tahun 1928. Taiso menjadi sangat populer di Jepang, yaitu setelah perang dunia II dan sampai sekarang masih dilakukan dikalangan mahasiswa, pelajar maupun pekerja. Lebih dari itu di pesantren ini pernah diberi pelajaran bahasa jepang ketika KH. Abdul Karim Musthofa mempunyai teman akrab dari jepang yang masuk Islam namanya Abdul Hamid. Pada tahun 1943 M KH. Abdul Karim Musthofa diberi kedudukan oleh Jepang menjadi pegawai sumo kacuk (pada saat itu Pegawai Agama atau sekarang PNS DEPAG) di Bojonegoro, maka kepemimpinan pondok pesantren diwakilkan kepada adiknya KH. Amin Musthofa. KH. Amin Musthofa telah mempunyai pondok pesantren dan Madrasah Al Islam Wal Iman di Tunggul Paciran Lamongan. Setelah itu, KH. Amin Musthofa mendapat panggilan ayahnya (KH. Musthofa), akhirnya madrasah Al-Islam Wal Iman digabung dengan madrasah Tarbiyatut Tholabah. Namun Kepemimpinan KH. Mohammad amin dalam kepemimpinannya dipondok pesantren bisa dikatakan kurang aktif, mengingat tuntutan bergerilya di medan perang sebagai seorang militer, ia dituntut untuk turut bela negara, mengusir penjajah dari bumi pertiwi tercinta, ia menjadi tentara Hizbullah setelah pulang dari pondok tebuireng tahun 1934 bersama kakaknya, kyai ahmad Muhtadi. Pada peristiwa 10 Nopember 1945 ia sebagai komandan pasukan Hisbullah dengan pangkat setingkat Letkol bersama saudaranya. Pada tahun 1949 Kyai Amin bersama kakaknya, Kyai ahmad Muhtadi gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa, tertawan oleh tentara Belanda kemudian dieksekusi, ditembak mati dilapangan Sebanteng desa Dagan kecamatan Solokuro dan dimakamkan disana satu lobang untuk berdua.
Pada tahun 1950 kepemimpinan pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah dipegang oleh KH. Adelan, kepemimpinan KH. Adelan ini merupakan Tradisi Baru, dimana seorang menantu dapat menduduki kepemimpinan pesantren. Hal ini karena anak-anak KH. Musthofa yang lain sudah bermukim dan mempunyai tugas diluar seperti Kyai Sholeh memimpin pondok pesantren Qomaruddin Bungah, KH. Abdul Karim sedang bertugas sebagai pegawai Departemen Agama Gresik, Kyai Abd Rahman sudah menetap didesa Payaman. Disamping itu tentu ada faktor lain yang menjadi pertimbangan kuat pengangkatan KH. Adelan setelah KH. Musthofa wafat tahun 1950 adalah karena kualitas keilmuan, senioritas, serta pengabdian dan loyalitasnya terhadap perjuangan Pondok Tarbiyatut Tholabah Kranji.
Dalam Mengendalikan kepemimpinan pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan, KH. Adelan dibantu oleh para tokoh daerah sekitar seperti Mbah Abu Bakrin, Bapak Martokan dan lain sebagainya. Pada masa itu pondok Tarbiyatut Tholabah merekrut tenaga pengajar dari luar maupun tenaga pengajar dari keluarga Bani Musthofa yang sudah menamatkan belajarnya diluar, seperti KH. Moh. Baqir Adelan yang waktu itu belajar di pondok pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang.
Pada masa kepemimpinan KH. Adelan memangku pondok pesantren sejak tahun 1958 tugas kependidikan diserahkan kepada KH. Moh. Baqir Adelan, anaknya yang keenam. Dengan demikian maka sebenarnya kiprah pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh KH. Moh. Baqir Adelan di Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan itu sudah dimulai sejak sebelum ia memangku pondok pesantren. Sejak saat itu pendidikan di pondok Kranji mengalami kemajuan, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Pada tanggal 21 Desember 1976 KH. Adelan wafat dan dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Bani Musthofa Kranji Paciran Lamongan.
Pada tahun 1976 KH. Moh. Baqir Adelan memimpin pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan setelah ayahnya KH. Adelan. KH Moh. Baqir Adelan adalah putra dari KH. Adelan dan Nyai Shofiyah, KH. Moh. Baqir Adelan sejak kecil sudah terlihat rajin belajar daya mempunyai daya intelegensia. Karena pada usia 11-12 tahun beliau sudah hafal beberapa kitab antara lain, Alfiyah Ibnu Malik (nahwu), Imrithy (nahwu), Zubad (fiqh), Faraid Albahiyah (qawaid fiqhiyah), ‘Iddat al faridl (ilmu mewaris). Beliau anak yang patuh kepada orang tuanya dan memiliki jiwa wirausaha sejati, karena dengan kemampuannya menjual kue-kue dengan duduk didepan bilik-bilik pondok yang waktu itu santrinya masih sedikit.
Kristalasi pemikiran KH. Moh. Baqir Adelan sangat bermanfaat untuk masyarakat desa Kranji dan sekitarnya seperti bidang pendidikan, bidang dakwah, bidang sosial kemasyarakatan, dan bidang perekonomian. Pada prinsipnya upaya ini dilakukan untuk memberikan suri tauladan kepada santri agar mereka mempunyai jiwa kemandirian ketika lulus dari pesantren Tarbiyatut Tholabah. Dalam kepemimpinan KH. Moh. Baqir Adelan, beliau membangun dan mengebangkan sentral multi keterampilan di lingkungan pesantren bukan tanpa tujuan. Hadirnya sentra multi keterampilan yang digagas oleh beliau yang pertama, sebagian masyarakat sekitar pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah sangat bergantung pada hasil melaut, kedua, sebagaimana anjuran dalam AlQuran, bahwa mencari rizqi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ketiga, bahwa laut menyimpan sumberdaya yang sangat melimpah baik dari sumberdaya alam hayati dan juga non hayati. dalam kepemimpinan KH. Moh. Baqir Adelan Pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah mengalami kemajuan seperti dalam bidang Karya, bidang Dakwah, pendidikan, bidang sosial kemasyarakatan, dan bidang perekonomian. Pada tanggal 15 Mei 2006 M KH. Moh. Baqir Adelan menghembuskan Nafas Terakhir menghadap Allah Bikhusnul Khotimah Insyaallah. Inna lillahi wa inna Ilaihi Roji’un. Tepatnya pada tanggal 17 Robi’ul Akhir 1427 H.
Pada tahun 2006 setelah wafatnya KH. Moh. Baqir Adelan kepemimpinan pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah diteruskan oleh putranya KH. Moh. Nasrullah Baqir sampai sekarang.






