Biografi Singkat KH. Maemoen Zubair, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Seluruh Indonesia

Biografi KH. Maemoen Zubair | Biografi Singkat KH. Maemoen Zubair | Profil KH. Maemoen Zubair | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat KH. Maemoen Zubair : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Tumbuhnya orang besar dari suatu keluarga besar maupun kecil merupakan anugerah dan kemurahan Allah yang diberikan kepada hamba yang dikehendakinya. KH. Maemoen Zubair adalah putra pertama dari pasangan suami istri yang bernama KH. Zubair Dahlan dan Hj. Mahmudah, beliau lahir di Rembang pada tanggal 28 Oktober 1928 dan tinggal di desa Karang mangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang. Beliau sejak kecil hidup di lingkungan pondok yang di asuh ayahnya. (wawancara dengan Son Haji alumni Pondok Pesantren Al-anwar pada tanggal 20 Oktober 2009)

Di usia yang ke 91 tahun KH. Maimoen Zubair wafat. KH. Maimoen Zubair wafat di Mekah pada Selasa Pon, 5 Zulhijjah 1440 H. yang bertepatan dengan 6 Agustus 2019 M., ketika ia tengah menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di Jannatul Ma’la Mekah usai disalati jenazahnya di Masjidil Haram.

Kabar meninggalnya KH. Maimoen Zubair ini sangat mengagetkan publik, tidak hanya di tanah air, juga di berbagai Negara, khususnya di Mekah, di mana waktu itu beliau memang sedang menunaikan haji. Apalagi kondisi KH. Maimoen Zubair sebelum berangkat ke tanah suci, nampak sehat.

Kendati kabar itu mengejutkan, namun meninggal di tanah suci ini memang telah menjadi impian (cita-cita) KH. Maimoen Zubair. Paling tidak, itulah yang yang dikatakan Kiai Majid Kamil, salah satu puteranya. Kiai Majid Kamil MZ mengetahui perihal keinginan ayahandanya agar kelak meninggalnya di Mekah dari salah satu orang dekat KH. Maimoen Zubair.

Namun begitu, kehilangan yang amat sangat tentu dirasakan umat Islam di tanah air, khususnya kalangan santri atau pesantren. Berbagai kenangan akan sosok dan pribadi KH. Maimoen Zubair pun menghiasi pemberitaan di berbagai media massa, baik cetak, elektronik maupun media online.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), misalnya, memiliki kenangan yang sangat dalam terhadap kiai kharismatik asal Sarang, Rembang, Jawa Tengah, itu. Yakni ketika dihadiahi sorban berwarna hijau ketika pencalonan presiden 2019-2024. Bahkan sang presiden hingga kini masih menyimpan sorban warna hijau pemberian KH. Maimoen Zubair.

Dalam pandangan Presiden Jokowi, KH. Maimoen Zubair adalah sosok yang menjadi rujukan umat Islam untuk bertanya, terutama dalam masalah fikih. Beliau juga sosok yang sangat gigih dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terkait nasionalisme KH. Maimoen Zubair, H. Taj Yasin MZ, salah satu puteranya mengatakan, bahwa ayahnya sempat berpesan kepadanya beberapa hal sebelum wafat, yaitu agar menjaga pesantren, menjaga Negara (Indonesia) dan mendukung pemerintahan.

Menteri Agama, H. Lukman Hakim Saifuddin, meluapkan rasa kehilangan atas wafatnya KH. Maimoen Zubair melalui sebait puisi yang diunggah di akun twitternya dan dikutip detik.com edisi 6 Agustus berikut:

// Mekkah mendung

Ada rintik hujan

Mentari bak rembulan

Selamat jalan Mbah Maimoen … //

Pandangan lain terkait sosok KH. Maimoen Zubair lain disampaikan KH. Yahya Cholil Tsaquf. Menurutnya, seiring dengan wafatnya KH. Maimoen Zubair, dunia kehilangan pengayom ruhani, yang tak henti-henti melakukan riyadhah dan tak henti-henti berdoa bagi keselamatan dan kemaslahatan seluruh umat manusia. Dan baginya, bangsa Indonesia bisa menjadi teladan dunia tentang kehidupan berbhinneka tunggal ika.

Selain itu, menurut KH. Yahya Cholil Tsaquf, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang tersebut memiliki pengaruh politik internasional yang sangat luas, namun namanya tidak mau disebarluaskan.

Silsilah KH. Maimoen Zubair

KH. Maimoen Zubair atau akrab disapa Mbah Moen merupakan seorang yang alim dan kharismatik. Ia juga seorang penggerak (muharrik) dan ahli dibidang fiqih. Banyak ulama Indonesia yang menggunakan ilmu fiqih Mbah Moen sebagai rujukan. Jika dilihat kembali, leluhur KH. Maimoen Zubair merupakan orang yang ahli dibidang ilmu agama. Para leluhur KH. Maimoen Zubair yaitu:

  • Kiai Ghozali bin Lanah (1770 – 1859)

Kiai Ghozali bin Lanah merupakan keturunan Mbah Lanah dari Madura. Ia lahir pada tahun 1770 M dan memiliki nama asli Saliyo. Nama Saliyo berganti menjadi Ghozali setelah kepulanganya dari tanah suci Makkah. Pengunaan nama Ghozali adalah bentuk tafa’ullan atau baktinya kepada Imam Ghozali. Ketika remaja Kiai Ghozali menuntut ilmu dipesantren yang ada di Belitung, Kalipang yang diasuh oleh Kiai Mursyidin. Kiai Ghozali dikenal sebagai Kiai yang ahli dibidang nahwu.

Kiai Ghozali juga pernah menuntut ilmu di Makam Agung Tuban untuk belajar ilmu fiqih. Disana dengan kamahirannya dalam ilmu nahwu ia dapat memikat Kiai Ma’ruf sehingga ia dijodohkan dengan adik dari istri Kiai Ma’ruf yang bernama Pinang binti Kiai Muhdlor dari Sidoarjo Jawa Timur. Setelah menikah, Kiai Ghozali dan Nyai Pinang pulang ke Sarang. Di Sarang mereka membangun masjid dan pesantren dari tanah waqaf H. Saman. Pesantren yang dibangun tersebut dikenal dengan pondok MIS (Ma’had Ilmi asy-Syar’iyyah).

Kiai Ghazali wafat pada 1859 M, selanjutnya pesantren yang ia bangun diasuh oleh keponakannya yaitu Kiai Umar bin Harun (1855-1910). Pada masa ini pesantren Sarang dikenal hingga ke Makkah.

  • Kiai Syu’aib bin Abdurrazzaq (1846 – 1939)

Kiai Syu’aib merupakan putra Kiai Abdurrazzaq. Ia adalah salah satu santri dari Kiai Ghozali yang terkenal alim. Kiai Syu’aib menikah dengan salah seorang putri dari Kiai Ghazali yang bernama ibu Nyai Sa’idah. Pernikahan tersebut merupakan bentuk cintanya kepada ulama dan keinginannya untuk menjadikan anak cucunya sebagai orang yang alim dalam hal ilmu agama. Pernikahannya dengan Nyai Sa’idah dikarunia putra putri antara lain Ibu Nyai Hasanah yang nantinya menjadi istri Kiai Dahlan, Ibu Nyai Zubaidah yang nanti diperistri oleh Kiai Abdullah, kiai Ahmad bin Syu’aib dan Kiai Imam Khalil.

  • Kiai Ahmad bin Syu’aib (1883 – 1966)

Kiai Ahmad bin Syu’aib merupakan Kiai yang ahli beribadah. Ia lahir pada tahun 1883. Kiai Ahmad dikenal giat beribadah dan menjalankan puasa Sunnah. Ia juga pernah belajar di Makkah pada Sayyid Umar Syatha. Kiai Ahmad pernah menikah dua kali. Yang pertama dengan putri Kiai Abdul Latif, Lasem namun umur pernikahannya tidak lama, setelah tiga tahun menikah dan tidak dkarunia anak, Kiai Ahmad menceraikannya dan menikah lagi dengan keturunan dari Kiai Ma’ruf, Makam Agung, Tuban yaitu Khadijah binti Kiai Utsman. Pernikahannya dengan Nyai Khadijah dikaruniai putra putri yaitu Ibu Nyai Mahmudah yang nantinya di perisitri oleh Kiai Zubair Dahlan, Kiai Abdul Jalil, Ibu Nyai Hamidah yang diperistri oleh Kiai Ridlwan, Kiai Abdul Hamid, Ibu Nyai Muhammadah yang dieperistri oleh Kiai Zubaidi dan Kiai Abdurrahim. Kemudian pada 1966 Kiai Ahmad bin Syu’aib wafat karena sakit.

  • Kiai Dahlan bin Warijo (1870 – 1924)

Kiai Dahlan merupakan keturunan dari Mbah Warijo. Pada masa remaja ia menuntut ilmu di Sarang dan belajar pada ulama di Sarang. Setelah itu ia belajar di pesantren yang di Blora yang diasuh oleh Kiai Hamzah. Kiai Dahlan juga pernah belajar di pesantren miliki Kiai Saleh Darat yang ada di Semarang. Setelah pengembaraannya menuntut ilmu, Kiai Dahlan kembali ke Sarang dan belajar kepada ulama-ulama sarang seperti Kiai Umar bin Harun dan Kiai Murtadla. Kiai Dahlan mempersunting putri dari Kiai Syu’aib yang bernama Nyai Hasanah. Pernikahan mereka di karuniai seorang putra dan dua orang putri yaitu Kiai Zubair Dahlan, Ibu Nyai Aisyah yang nantinya menikah dengan Kiai Husain dan Ibu Nyai Fatimah yang nantinya menikah dengan Kiai Munawwir. Kiai Dahlan dikenal sebagai orang yang ahli dibidang ilmu agama. Ia wafat pada 1924 M.

  • Kiai Zubair Dahlan (1905 – 1969)

Kiai Zubair Dahlah dilahirkan pada tahun 1905 di Karangmangu, Sarang, Rembang. Dalam mempelajari ilmu agama, Kiai Zubair dibimbing langsung oleh Kiai Dahlan dan kiai Syu’aib. Kiai Zubair juga menimba ilmu di Makkah, disana ia belajar banyak kitab. Setelah tiga tahun belajar di Makkah, Kiai Zubair pulang kembali ke Jawa dan belajar pada Kiai Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang Sedayu Gresik. Selesai belajar dari Gresi Kiai Zubair menunaikan ibadah Haji, selama menunaikan ibadah haji tersebut ia bertemu banyak ulama seperti Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani.

Kiai Zubair menikah diusia 24 tahun dengan Nyai Mahmudah yang merupakan putri dari Kiai Ahmad bin Syu’aib. Pernikahannya dengan Nyai Mahmudah dikarunia lima putra dan putri. Namun semuanya meningeal kecuali KH. Maimoen Zubair. Pada 1939 Nyai Mahmudah meninggal dan Kiai Zubair menikah dengan Aisyah binti Kiai Abdul Hadi dari desa Burna. Pernikahannya ini dikaruniai beberapa putri dan seorang putra antara lain; Ibu Nyai Halimah, Ibu Nyai Sa’idah, Ibu Nyai ‘Afifah, Ibu Nyai Shalihah, Ibu Nyai Salamah dan Kiai Ma’ruf Zubair. Pada 1969 Kiai Zubair wafat karena sakit panas, sebelum wafat ia sempat menghatamkan kitab ihya’ ulumuddin.

KH. Maemoen Zubair memiliki tiga orang istri diantaranya:

  1. Ibu Nyai Hj. Fahimah putri dari KH. Baidlowi Bin Abdul Aziz Lasem yang terkenal dalam bidang ilmu Thoriqoh. Beliau dikaruniai tujuh putra, empat meninggal dunia ketika masih kecil, sedangkan yang tiga orang anak masih menyertai beliau, diantaranya:
  2. KH. Abdullah Ubab

Sekembalinya menuntut ilmu kepada Sayyid Muhammad ‘Alawi Makkah beliau menikah dengan putrid dari KH. Abdul Ghofur bernama Raudhatul Jannah dari Senori Kabupaten Tuban Jawa Timur dan dianugrah putra putri sebanyak sepuluh orang.

  • Agus Muhammad Abid (Alm)
  • Neng Mas’adah (Alm)
  • Neng Azza (Alm)
  • KH. Muhammad Najih

Menempuh pendidikan di Darut Tauhid Makkah yang diasuh Sayyid Muhammad ‘Alawi dan di tengah-tengah studynya beliau menikah dengan putrid KH. Fathoni dari Brebes yang bernama Hj. Mutammimah.

  • Neng Rofiqoh (Alm)
  • Hj. Shobikhah Mustofa.

Dikaruniai empat orang anak dan hidup di daerah Pondok pesantren Al-anwar Karang Mangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang

  • Ibu Nyai Hj. Siti Masti’ah putri dari KH. Idris Cepu, yang dikaruniai delapan orang putra, satu meninggal dunia. Dan mereka adalah:
  • KH. Majid Kamil
  • Agus H. Abdul Ghofur
  • Agus H. Abdul Ro’uf
  • Agus H. Muhammad wafi’
  • Neng Hj. Rodliyah Ghorro’
  • Agus H. Taj Yasin
  • Agus H. Muhammad Idror
  • Ibu Nyai Heni Maryam dari Kudus Jawa Tengah (wawancara dengan Son Haji alumni Pondok Pesantren Al-anwar pada tanggal 20 Oktober 2009)

Latar belakang pendidikan KH. Maemoen Zubair

KH. Maemoen Zubair hidup dan tumbuh dikalangan ulama’ besar, awal beliau belajar pada orang tuanya sendiri (KH. Zubair Dahlan) murid dari As-Syeikh Sa’id Al-Yamany Al-Maliky dan juga murid pertama As-Seikh Hasan (putra As-Syeikh Sa’id) setelah wafatnya As-Syeikh Sa’id. Diantara ilmu yang beliau pelajari adalah Nahwu, Shorof, Mantiq, Balaghoh, Fatkhul Qorib, Fathul mu’in dan Fathul Wahab.

Pada tahun 1945-1949 beliau belajar di Pondok Pesantren Lirboyo Kedriri Jawa Timur kepada KH. Abdul Karim yang terkenal dengan sebutan Mbah Manaf, KH. Marzuki Dahlan, dan KH. Mahrus Ali. Beliau juga belajar ilmu adab pada As-Syeikh Ma’ruf yang bertempat tinggal di desa Kedunglo Kedri Jawa timur, selama belajar di pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur beliau mengikuti jejak ulama’ sufi sehingga ilmu mudah didapat. Diantaranya hafal Nadlom Al-fiyah hingga sekarang.

Pada bulan Muaharram tahun 1369 H beliau kembali ke Sarang, kemudian mendirikan Madrasah Al-Ghozaliyah yang dibantu ayahnya (KH. Zubair Dahlan), KH. Abdullah Abdurrahman, KH. Musa bin Nur Hadi, Ustadz Haramain Ma’shum, KH. Ali Masyfu’ bin KH. Fatkhurrahman, KH. Abdul Wahab bin Husain dan lain-lain.

Setelah itu pada tahun 1950 M beliau berangkat ke tanah suci Makkah bersama kakeknya KH. Ahmad Bin Syua’ib dan pamanya KH. Rohim bin Ahmad untuk belajar kepada As-Sayyid Alawy Al-Maliky. Diantara ilmu yang beliau pelajari adalah Mandhumatul Baiquniyah (ilmu Mustholah Hadist), Syarah Ibnu ‘Aqil, kepada As-Syeikh ahli Ushul Hadist Al-Imam Hasan Mastyath beliau belajar Nadlom Tholi’atul Anwar, kepada AsSyeikh Muhammad Al-Amin beliau belajar Riyadus Sholikhin, kepada As-Syeikh Abdul Qodir Al-Mindily beliau belajar Waroqot dan Sharahnya karangan Imam Jalal Al-mahally dan kepada AsSyeikh Yasin bin Isa Al-Fadany belaiu belajar Sunnah Abu Daud As-Sijistami. Beliau mengikuti kebudayaan dan peraturan dari teman-temanya yang ada di Makkah lebih-lebih KH. Imron Rosyadi.

Beliau belajar di Madrasah Darul Ulum Makkah pada Masyayikh yang alim dan mulia. Ilmu dan budi pekreti beliau sangatlah terkenal sebab beliau sering menimba ilmu dan bimbingan dari beberapa ulama serta para pemimpin diantara:

  1. KH. Baidhowi Bin Abdul Azis
  2. KH. Bisri Musthofa
  3. KH. Abdul Wahab Bin Hasbullah
  4. KH. Abdul Wahib bin KH. Abdul Wahab (mantan Menteri Agama)
  5. KH. Ma’syum Lasem
  6. KH. Bisri Syamsuri
  7. Habib Abdullah bin Abdul Qodir Malang
  8. Habib Ali bin Ahmad Al-‘Athos
  9. KH. Thohir (pengasuh yayasan At-thohiriyyah Jakarta)
  10. KH. Ali bin Ali Ma’sum Yogyakarta
  11. KH. Abdul Hamid Pasuruan
  12. KH. Muslih bin Abdur Rahman Demak
  13. KH. Abbas Buntet
  14. KH. Khudlori Tegalrejo
  15. KH. Asnawi Kudus
  16. KH. Ikhsan Jampes
  17. KH. Abu Fadhol Senori
  18. KH. Abu Khoir Jatirogo (wawancara dengan Son Haji alumni Pondok Pesantren Al-anwar pada tanggal 20 Oktober 2009).

Pembangunan Pesantren dan Madrasah oleh KH. Maimoen Zubair

Sepulang dari belajar di Makkah, banyak orang yang ingin nyantri ke KH. Maimoen. Orang-orang tersebut kemudian menjadi santri KH. Maimoen. Sanrisantri tersebut banyak yang ingin tinggal di pesantren Sarang, kemudian dibantu oleh ayahnya, pada tahun 1969 KH. Maimoen membangun Musholla sederhana sebagai tempat santri mengaji. Musholla inilah yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren al-Anwar. Karena banyaknya santri akhirnya pada 1967, ia mendirikan kamar sederhana didekat musholla dengan tujuan agar para santri dapat menginap dan fokus mengaji. Tempat tersebut oleh para santri disebut POHAMA yang merupakan singkatan dari “Pondok Haji Maimoen”. Nama POHAMA setelah beberapa tahun kemudian diganti dengan al-Anwar sesuai dengan nama Kiai Zubair sepulang dari ibadah haji. Seiring berjalannya waktu Pondok Pesantren mengalami perkembangan yang cukup pesat, santrinya bertambah banyak dan banyak gedunggedung mulai dibangun.

KH. Maimoen Zubair juga mendirikan Madrasah Diniyah yang diperuntukan bagi santri putra yang tidak mengikuti pendidikan di Madrasah alGhazaliyah asy-Syafi’iyah. Bersama istrinya, Nyai H. Masthiah ia membangun Pondok Pesantren al-Anwar Putri ditar belakangi oleh kondisi masyarakat yang belum secara rutin menunaikan ibadah sholat 5 waktu dan banyak yang belum bisa membaca al-Qur’an. Pondok pesantren al-Anwar putri juga mengalam perkembangan yang pesat hingga didirikannya lembaga pendidikan Muhadlarah putri pada tahun 1991.

Dibarengi dengan kemajuan dan berkembangnya zaman, pondok pesantren al-Anwar dibagi menjadi dua yaitu al-Anwar I sebagai tempat santri yang murni belajar ilmu agama dan al-Anwar II sebagai tempat santri yang ingin belajar ilmu pengetahuan umum namun tidak menginggalkan ilmu agama. Al-Anwar II ini bertempat tidak jauh dari al-Anwar I, al-Anwar II berada di desa Gondanrojo, Kalipang, Sarang. Pondok pesantren al-Anwar II pun berkembang dengan pesat bersama pendidikan formal yang didirikannya yaitu MI, MTs, dan MA al-Anwar. Pondok Pesantren al-Anwar II diasuh oleh putra KH. Maimoen Zubair dengan Ibu Nyai Hj. Fahimah yang merupakan istri pertamanya yaitu KH. Abdullah Ubab. Selanjutnya, pada tahun 2013 KH. Maimoen Zubair mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam al-Anwar (STAI) dibawah naungan pondok pesantren al-Anwar III yang diasuh oleh KH. Abdul Ghofur yang merupakan putra KH. Maimoen Zubair dengan Ibu Nyai Hj. Masthi’ah.

Kiprah KH. Maimoen Zubair

Terlahir di daerah pesisir yang mayoritas masyarakatnya dikenal memiliki perangai yang sangat keras, namun tidak demikian dengan Maimoen Zubair, yang justru tumbuh menjadi sosok yang lembut, penyayang, sabar, bijak namun penuh wibawa.

KH. Maimoen Zubair adalah salah satu ulama khas di negeri ini, yang kesehariannya mengaji bersama para santrinya di pondok pesantren yang diasuhnya dan masyarakat. Bisa dikatakan, KH. Maimoen Zubair adalah sosok yang telah “mewakafkan’’ seluruh waktunya untuk ilmu dan masyarakat.

Dalam bidang keilmuan, KH. Maimoen Zubair mengajar tidak sekadar kepada santri pondoknya, tetapi juga masyarakat. Selain itu, transfer of knowledge juga dilakukannya melalui banyak halaqah, seminar – seminar hingga pengajian – pengajian akbar di mana kiai didaulat untuk menyampaikan ceramah hingga pengajian – pengajian akbar di mana kiai didaulat untuk menyampaikan ceramah (tausiyah).

Setiap Ahad, KH. Maimoen Zubair istiqamah menggelar majelis taklim Tafsir Al – Jalalain di musala, di depan kediamannya. Pengajian yang mestinya menjadi pelajaran jam terakhir dari Madrasah Ghozaliyah Syafi’iyyah dan Muhadhoroh, ini juga diikuti oleh masyarakat sekitar.

Masyarakat pun merespons baik pengajian ini. Itu ditandai dengan banyaknya warga, baik kalangan muda maupun dewasa banyak yang datang mendengarkan kajian yang diasuh langsung oleh KH. Maimoen Zubair. Masyarakat merasa senang mengikuti majelis taklim yang diasuh KH. Maimoen Zubair, karena penjelasan yang disampaikan mudah dicerna, dengan perspektif yang luas, yang itu sekaligus menunjukkan kedalaman ilmunya.

Di bulan Ramadan, KH. Maimoen Zubair biasanya juga mengadakan kajian kilatan, dengan beragam kitab dari berbagai bidang ilmu agama yang dibacanya. Di antara kitab yang dibaca, yaitu Al – Shahihain Buchori Muslim, Riyadl Al – Shalihin, Al-Muwatha’, Al-Adzkar An-Nawawy, Al-Iqna’ AthThalibin, Kifayah Al-Akhyar, Tafsir An-Nawawy, Mahasin Al – Syari’ah, Fath Al – Mubin, Al-Isya’ah fi Asrath Al – Sa’ah dan masih banyak lagi lainnya.

Pergaulan KH. Maimoen Zubair pun melintas batas territorial. Tidak hanya dengan masyarakat sekitar dan publik di tanah air, tetapi relasinya dengan tokoh – tokoh internasional juga sangat luas.

Tokoh nasional di tanah air, mayoritas pernah sowan kepada KH. Maimoen Zubair. Antara lain Presiden RI Joko Widodo, KH. Ma’ruf Amin, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), KH. Hamzah Haz, Dr. Ir. M. Nuh DEA, Akbar Tanjung, Sutiyoso (Mantan Gubernur DKI), Luhut Panjaitan (Menko polhukam), Ganjar Pranowo, dan lain-lain.

Sedang relasinya dengan dunia internasional, ditandai dengan banyaknya tokoh yang pernah singgah dan bersilaturahim di kediamannya. Mereka antara lain Sayyid Muhammad Alawy al-Maliki (Makkah) dan Sayyid Abbas Alawy (Makkah), Habib Salim bin Umar As – Syatiry (Yaman), Syaikh Rajab Dib As – Subki (Mursyid Thariqah Naqsabandiyah, Syiria), Syaikh Shalahuddin bin Ahmad Kaftaro, Habib Ali bin Abdul Qodir Al – Khudhari Al – Madany, Dr. Syaikh Ali Al – Shabuny (Makkah), Syaikh Taisir (Abu Dhabi), Syaikh Zakaria Muhammad Marzuq (Al- Azhar, Mesir), Syaikh Daniel (Inggris) dan banyak lagi yang lain.

Tak hanya dekat dengan kalangan pejabat dan tokoh – tokoh publik saja KH. Maimoen Zubair dekat, juga dengan masyarakat dari semua lapisan, khususnya masyarakat lapisan bawah (rakyat biasa). Itu terbukti dengan banyak masyarakat datang untuk memintas nasihat dan solusi atas berbagai problem yang dihadapi.

Setiap Jumu’ah pagi, KH. Maimoen Zubair menggelar “open house” dikediamannya yang memang khusus disediakan bagi warga (masyarakat umum) yang hendak silaturahmi. Tak heran, jika setiap pada Jumu’ah pagi, kediamannya pun penuh sesak oleh masyarakat yang datang dari berbagai daerah.

Maksud dan tujuan masyarakat datang sangat beragam. Mulai dari yang meminta didoakan agar cepat diberi keturunan, minta doa restu dalam pendirian madrasah, masjid atau pondok, pun yang dengan tujuan sekadar tabarukan (mengharap barakah) dari KH. Maimoen.

Selain sebagai pelayan ilmu itu sendiri, KH. Maimoen juga merupakan sosok yang aktif dalam berorganisasi di tengah masyarakat. Tercatat beberapa jabatan yang pernah dipegang oleh KH. Maimoen yaitu :

  1. Mudhir ‘Am madrasah Al-Ghazaliyyah dari awal berdirinya hingga 2019
  2. Nadhir masjid Jami’ Sarang yang berada di sebelah Barat desa Sarang Rembang.
  3. Ketua badan pertolongan dan social kota Sarang (1967 – 1975 M)
  4. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat II Rembang (1971-1978)
  5. Anggota MPR RI dari utusan Jawa Tengah (1987 – 1999)
  6. Ketua Syuriah NU Provinsi Jawa tengah (1985 – 1990)
  7. Ketua MPP PPP (1995-1999)
  8. Ketua Majlis Syuriah PPP (2004 – 2019)

Karya-Karya KH. Maemoen Zubair

  • Taroojim

Kitab tarajim ini berisi tentang bigrafi dari beberapa ulama yang ada di Sarang. Mulai dari Mbah Ghozali yang merupakan keturunan Mbah Lanah yang berdarah Madura. Leluhur KH. Maimoen Zubair juga dibahas dalam kitab ini. Pembahasan mengenai perkembangan pesantren Sarang hingga perkembangannya masuk dalam pembahasan kitab tarajim. Dan fase-fase perkembangan pesantren Sarang hingga terbagi menjadi beberapa pesantren seperti MIS, MUS, al-Anwar dan yang lainnya. Al-Ulamaul Mujaddidun

Kitab ini berisi masalah untuk ijtihad dan pembaharu Islam diterbitkan tahun 2007

  • Nushuusul Akhyar

Kitab ini berisi masalah puasa dan hari raya yang diterbitkan pada tahun 1998. Dalam kitab yang ditulis oleh KH. Maimoen Zubair ini menjelaskan tentang penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal sebagai penentu waktu Hari Raya Idul Fitri pada 1418 H. Sebagaimana banyak diketahui, Indonesia merupakan salah satu Negara yang penduduknya mayoritas memeluk agama Islam . Masyarakat Muslim Indonesia sendiri terdiri dari berbagai organisasi masyarakat. Kitab ini merupakan jawaban dari perbedaan pendapat penentuan Ramadhan dan Syawal, Pada saat itu terjadi perbedaan pendapat antara umat Islam Indonesia untuk menentukan dua waktu tersebut.

Perbedaan pendapat tersebut antara lain umat Islam yang menggunakan metode hisab berpendapat bahwa hari raya jatuh pada hari senin sedangkan umat Islam yang menggunakan metode rukyatul hilal mengatakan bahwa hari raya jatuh pada hari selasa. Perbedaan pendapat ini mendapat tanggapan oleh KH. Maimoen Zubair. Ia menanggapinya dengan mengajak umat Islam kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits, yaitu dengan cara mentaati keputusan pemerintah sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW.

  • Taujihatul muslimin

Kitab ini berisi tentang cara mempersatukan golongan umat Islam dan diterbitkan 1999

  • Malakhulttanasukkil Maki

Kitab ini berisi tentang jalan ibadah Ulama Makkah dan penyempurnaanya

  • Yasiin Fadhilah

Kitab ini berisi tentang keutamaan Surat Yasiin dan diterbitkan pada tahun 1406 H

  • Al Fuyudhoturrabbaniyyah

Kitab ini berisi tentang masalah membangsakan pada Thoriqoh Naqsabandiyah diterbitkan pada tahun 2001 (wawancara dengan Muzakki penjaga perpustakaan PP Al-Anwar Tanggal 18 September 2009).

  • Tastunami Fii Biladina Indunisia Ahuwa ‘Adzabun am Mushibatun?

Kitab lain yang dikarang oleh KH. Maimoen Zubair adalah Tastunami Fii Biladina Indunisia Ahuwa ‘Adzabun am Mushibatun?. Bencana Tsunami yang menelan banyak korban di Indonesia beberapa tahun lalu juga mendapatkan tanggapan dari Kiai kharismatik ini. Dalam kitab ini menjawab pertanyaan mengenai bencana besar Tsunami yang melanda Aceh apakah sebuah adzab atau musibah. Penjelasan KH. Maimoen Zubair dalam kitab ini disertai landasan al-Qur’an dan hadits. Dirujuk juga dari peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya, seperti yang terjadi pada kaum “Ad pada masanya.

  • Maslaku al-Tanassuk

Kitab ini memuat tentang sanad dan hal-hal yang berhubungan dengan dzikir yang diterima oleh KH. Maimoen Zubair. Dalam hal dzikir, ia membaginya kedalam tiga tingkatan yaitu dzikir yang menggunakan hati, lisan dan yang menggunakan keduanya. Silsilah dzikir “lailaahaillah” dari KH. Maimoen Zubair hingga sampai pada Rasulullah SAW juga dibahasa.

Selain itu kitab ini juga menerangkan tentang sanad tareqat al-Idrisiyah yang diperoleh KH. Maimoen Zubair dari Sayyid Muhammad alawi al-Maliki yang memiliki sanad sambung dengan Syaikh Ahmad bin Idris, tidak lain adalah pendiri taerqat al-Idrisiyah. Doa dan sholawat karya Imam al-Bushiri juga ditulis dalam kitab ini dan ditambahkan beberapa bait hasil karya KH. Maimoen Zubair.

  • Al- ‘Ulama al-Mujaddidun

Kitab yang selesai ditulis pada hari Ahad tanggal 7 Shafar 1428 H / 25 Februari 2007 M, kitab al- ‘Ulama al-Mujaddidun merupakan kitab karangan KH. Maimoen Zubair yang berisi tentang pembaharuan dalam Islam. Tajdid (pembaharuan dalam Islam) menurut KH. Maimoen Zubair merupakan menghidupkan amalan-amalan yang telah terhapus menggunakan rujukan alQur’an dan al-Hadits. Kitab ini membahas dinamika pembaharuan yang dilakukan oleh para ulama dalam sejarah perkembangan Islam. Pembaharuan yang dilakukan oleh para ulama menghadapi perkambangan zaman agar tetap sesuai dengan syariat Islam. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini orang yang akan melakukan pembaharuan dalam urusan agama setiap seratus tahun terakhir”. Dalam kitab al- ‘Ulama al-Mujaddidun KH. Maimoen Zubair memberikan penjelasan mengenai maksud dari ulama pembaru yaitu; a. memberikan penjelasan mengenai hal yang Sunnah dan memisahkan hal tersebut dengan yang bid’ah. b. memperbanyak ilmu dengan mengajar dan belajar. c. memberikan pertolongan kepada umat. d. dengan berani menentang ahli bid’ah. Dalam kitab al- ‘Ulama al-Mujaddidun, KH. Maimoen Zubair memberikan pesan kepada generasi yang lahir diera seperti sekarang ini menggunakan teladan ulama dalam berperilaku dan berpendapat.

  • Jauhara at-Tauhid

Kitab ini merupakan kitab syarah tauhid yang ditulis oleh KH. Maimoen Zubiar. Penulisan kitab ini merujuk pada nadham jauhara at-taihid yang ditulis oleh Syaikh Ibrahim bin Hasan allaqani. Biasanya kitab ini dipelajari oleh santri kelas 1 tingkat Tsanawiyah (setara dengan tingkatan SMP) di Madrasah alGhazaliyah asy-Syafi’iyah (MGS), Sarang.

  • Munaqib

Kitab yang ditulis oleh KH. Maimoen Zubair ini berisi tentang biografi Sayyid Hamzah Syato Sedan.

Related posts