Biografi Singkat Kiai Ihsan Jampes, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Seluruh Indonesia

Biografi Kiai Ihsan Jampes | Biografi Singkat Kiai Ihsan Jampes | Profil Kiai Ihsan Jampes | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Kiai Ihsan Jampes : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Kiai Ihsan Jampes merupakan seorang ‘alim yang hidup pada abad ke20 di daerah Kediri. Riwayat hidup beliau tak terpisahkan dari dunia pondok pesantren. Belum ada fakta sejarah yang memastikan tanggal dan bulan kelahiran Kiai ini namun literatur yang ada menyebutkan bahwa beliau lahir pada tahun 1901 di lingkungan pesantren Jampes, dusun Putih Kecamatan Gampengrejo,Kediri Jawa Timur.

Beliau lahir di Jampes dari jalur nasab yang terpandang mulai ayahnya, Kiai Dahlan ialah kiai tersohor pada masanya dan juga perintis kembali berdirinya pondok pesantren Jampes pada tahun 1886 M yang sebelumnya pernah musnah akibat persengketaan tanah dengan warga setempat. Sebenarnya pesantren Jampes yang mengalami konflik tersebut bukanlah milik Kiai Dahlan tetapi pesantren yang lebih dulu ada di sana lalu pada saat bangunan lama itu tutup maka digunakanlah nama Jampes sebagai nama pesantren Kiai Dahlan.

Dari garis ayahnya, Kiai Dahlan adalah anak Kiai Saleh yang berasal dari Bogor, Jawa Barat. Lalu naik ke atas lagi didapati bahwa beliau masih keturunan Syarif Hidayatullah dari jajaran walisongo. Genealogi tersebut membuktikan pengaruh kualitas kesalehan terhadap keturunan yang baik pula. Riwayat hidup Kiai Saleh, kakek Kiai Ihsan yakni bertualang menimba ilmu ke Provinsi Jawa bagian timur sehingga mumpuni di bidang keagamaan. Hal inilah yang menarik perhatian ulama besar bernama Kiai Mesir kelak menjadinya mertuanya.

Jadi dapat dikatakan bahwa mulai dari ayah Kiai Ihsan ke atas kakeknya hingga sampai pada salah seorang ulama wali songo memiliki halhal yang serupa seperti gemar mengembara, semangat dan tekun mendalami ilmu-ilmu agama dan menyebarkan dakwah di lingkungan sekitar. Kakek Kiai Ihsan kemudian dinikahkan dengan putri dari Kiai Mesir yang saat itu bermukim di Trenggalek. Sementara dari jalur ibu Kiai Dahlan, nyai Isti’anah adalah cicit dari Kiai Ageng Hasan Besari yang masih tersambung kepada Sunan Ampel. Dari pernikahan Kiai Saleh dengan nyai Isti’anah dikaruniai empat putra, yakni Mubarak, Mabari, Muhajir, dan Muhaji. Mabari itulah yang kelak dipanggil Kiai Dahlan, ayah Kiai Ihsan.

Mabari dewasa meminang nyai Artimah, puteri Kiai Sholeh dari Banjarmelati. Beliau menjadi istri pertama Kiai Dahlan sebelum berpisah dan menikah kembali.nyai Artimah memberikan empat anak dari pernikahan ini antara lain: anak perempuan (meninggal sewaktu kecil), Bakri, Dasuki, dan Marzuqi. Lantas nama kecil Bakri kelak dirubah menjadi Ihsan sebagai penulis handal dalam ilmu tasawwuf.

Masa kecil Kiai Ihsan layaknya anak kecil umumnya yang bermain dengan seumurannya tetapi masih dalam pengawasan keluarga. Lambat laun Ihsan muda ikut terjun dalam judi, hal yang digemari anak muda saat itu. Ihsan muda bermaksud membagi hasil yang diperolehnya pada rekan-rekan sejawatnya agar tak ikut berjudi. Keluarga beliau khususnya nyai Isti’anah takut kebiasaan cucunya ini tak bisa ditinggalkan dan juga bertentangan dengan budaya santri. Dari sinilah terdapat dua ideologi antara budaya buruk dari kalangan bandar judi dengan budaya baik oleh santri turut mempengaruhi masa pertumbuhan Ihsan muda. Didikan tegas dari neneknya dan teladan tasawwuf ayahnya mengembalikan karakter Ihsan ke koridor-koridor seorang santri selain pengupayaan lewat jalan spiritual yang dilakukan oleh neneknya. Ihsan muda melancong ke beberapa pesantren terkemuka demi mencari ilmu.

Ihsan remaja juga memiliki keunikan tersendiri di banding rekanrekannya. Ia menyukai kebudayaan Jawa yakni di bidang kesenian dan sastra. Ia menggemari pertunjukan wayang kulit yang sering dipertontonkan di daerahnya bahkan tak segan-segan ketika ada pementasan wayang di luar desanya ia pun berangkat ke sana. Tak heran jika ia hafal seluk beluk wayang kulit dan bakatnya ini terkadang ditunjukkan di hadapan kawan-kawannya. Bakri yang kelak berganti nama Ihsan ini berbeda tingkat pemikirannya dari kawan seumurnya. Jika ia menemui perkara yang dianggap keliru atau salah maka ia tidak akan mendiamkan tanpa memberi saran atau kritikan.pemberian nasehat atau kritik ia tujukan baik kepada orang yang lebih tua terutama teman bermainnya. Contohnya saat ia menonton wayang kulit yang dimainkan di desanya oleh seorang dalang pemula. Menurut Bakri saat pertunjukan tengah berlangsung, dalang itu menyalahi sebagian cerita pewayangan yang telah ada. Hal ini membuat Bakri mendatanginya setelah pementasan selesai. Al hasil pendapat Bakri yang benar setelah diutarakan pada dalang senior di situ. Terhadap kawan bermainnya, ia selalu menasehati mereka agar tidak meneruskan permainan judi yang merugikan tersebut meskipun cara yang Bakri pakai kurang beradab menurut keluarganya yang merupakan tokoh agama di mata masyarakat. Kecerdasan dan kepekaan yang ia miliki adalah warisan yang berasal dari keluarganya yang kemudian membawa manfaat besar ketika dialihkan terhadap kemajuan umat Islam di dunia khususnya di negeri Indonesia, tanah kelahirannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Bakri dewasa akhirnya menunaikan ibadah haji. Dan dari sinilah nama Bakri kemudian diganti menjadi Ihsan. Jeda 2 tahun, ayahanda kiai Ihsan meninggal dunia. Setelah kepergian ayahnya tersebut, kiai Ihsan bergegas mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi gadis asal desa Sumberejo Poncokusumo Malang. Riwayat pernikahan kiai Ihsan tidak selalu bertahan lama, hingga ia menikah (berganti istri) sampai 5 kali, dan terakhir dengan Surati (nyai Zaenab).

Dari kisah tersebut nampaklah kecintaan Syekh Ihsan terhadap ilmu melebihi dari apapun termasuk keluarganya sendiri. Sebagian besar hidupnya dicurahkan untuk meladeni masyarakat khususnya pesantren dengan cara mengajar, menyampaikan keterangan-keterangan agama dan menulis kitabkitab yang menyentuh fenomena masyarakat setempat selain menjadi bahan ajar di pesantren.

Riwayat Mencari Ilmu

Sejarah perjalanan beliau dalam mengaji atau mondok patut dijadikan panutan sebab Kiai Ihsan telah menunjukkan betapa agungnya ilmu agama dan untuk memperoleh ilmu tersebut harus dengan cara yang baik yakni mengedepankan akhlak mulia serta ketekunan. Pendidikannya pertama ia dapatkan dari keluarganya, pertama kali dididik ayahnya diteruskan oleh neneknya, nyai Isti’anah masih dalam wilayah Pesantren milik Kiai Dahlan. Pada masa awal disebut Pesantren Jaten sebab menengok wilayahnya yang dipenuhi tumbuhan jati yang selanjutnya Kiai Dahlan merubah nama itu dengan Pondok Jam’iyyah Pesantren disingkat menjadi Jampes. Kiai Dahlan mengajarkan anaknya dasar-dasar pendidikan ala pesantren yaitu: Al-Qur’an dan bermacam kitab kuning dengan materi fiqh, ilmu kalam, tafsir dan tasawwuf. Selain ayah beliau turut membimbingnya Nyai Isti’anah, neneknya. Neneknya justru lebih besar perhatiannya pada Ihsan kecil sebab beliau memandang cucunya inu punya potensi besar menjadi alim dan mengemban Pesantren Jampes kelak. Keluarga beliau memang fanatik terhadap ilmu agama namun juga mengajarkan anak dan cucunya untuk berdakwah dengan santun, mengedepankan tenggang rasa.

Proses pewarisan pondok pesantren Jampes dari ayahnya kepada Kiai Ihsan anaknya melalui kebiasaan yang berlaku di pesantren umumnya. Pemindahan kepemimpinan terjadi setelah Syekh Ihsan telah mumpuni berbagai macam ilmu agama. Setelah menimba ilmu dari keluarganya sendiri pun tak membuat Syeikh Ihsan puas akan kemampuan dan intelektualnya sehingga beliau turut mengamalkan kebiasaan para ulama terdahulu yang tersohor dengan cara melancong ke beberapa pesantren yang kemudian memotivasi beliau menulis karya-karya saat memegang pesantren Jampes Kediri.

Ihsan muda kemudian keluar dari lingkungan pesantren ayahnya. Ia melakukan perjalanan ke pesantren-pesantren Jawa. Pada masa itu peranan Pesantren menurut opini masyarakat sangat berjasa bagi peralihan nilai-nilai lama yang buruk dan merugikan menuju akhlak mulia. Kiai Ihsan meliha potensi pesantren kala itu membuat semangat belajarnya kepada ulama-ulama semakin kuat yang kedepannya tidak hanya sebagai penerus ayahnya tetapi juga sebagai panutan masyarakat Kediri umumnya. Kiai Ihsan juga ingin mengajak mereka yang masih melakukan budaya buruk yang keluar dari aturan agama seperti judi, mabuk dan sebagainya.

Beliau mulai mengembara ke Pesantren Bendo Pare, Kediri di bawah asuhan Kiai Khozin, paman dari Kiai Ihsan sendiri. Setelah dirasa cukup, Kiai Ihsan berangkat ke Semarang demi meraup ilmu agama di pondok pesantren ternama seperti, Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren KH. Ahmad Dahlan Darat Semarang, Mangkang Semarang lalu Punduh Magelang. Perjalanan Kiai Ihsan berlanjut ke Jawa Timur lebih kepada mendalami ilmu-ilmu alat berkenaan nahwu dan sharaf. Kiai Ihsan singgah di Nganjuk lalu berguru kepada Syekh Kholil Bangkalan yang menurut penulis adalah guru ulama’ Jawa dan Madura di zamannya. Banyak para muballig terkenal hasil dari pengkaderan guru besar para ulama tersebut. Dari pencarian ilmu-ilmu kepada guru-guru yang berbeda intelektualitasnya tersebut menyebabkan keragaman ilmu yang Kiai Ihsan kuasai.

Banyak kisah-kisah dari beberapa sumber yang merekam perjuangan Kiai Ihsan saat menjadi santri. Bahkan beliau pernah mengabdi di pondok sebagai pelayan atau abdi dalem, misalnya waktu mengaji di pesantren Jamsaren, kisah lain masa beliau mondok di Punduh Magelang, Ihsan muda diistemewakan oleh Kiai Ma’shum. Setiap pengajian hendak dimulai beliau selalu menunggu Ihsan muda sehingga tiba di majlis dan hal itu itupun membuat heran para santrinya. Beliau yang gemar melakukan perjalanan ke beberapa pondok di atas selalu mengenalkan dirinya saat mendaftar dengan nama Bakri putra Abu Bakar. Beliau tidak bermaksud berbohong akan pribadi dan keluarganya. Ihsan muda tidak ingin diistemewakan daripada santri-santri lainnya sehingga dipandang sama dengan teman sejawatnya. Sudah barang tentu jika ia mengungkapkan jati dirinya maka ia akan dihormati karena kesohoran keluarga sehingga beliau tidak bisa menjalin hubungan akrab dengan kawan-kawan mondoknya.

Meskipun Kiai Ihsan tak mengenalkan dirinya putra seorang Kiai tampaknya penyembunyian identitas itu tidak berlangsung lama. Kiai Ihsan berpindah ke pesantren lain ketika asal-usulnya telah diketahui. Faktor ini agaknya menyebabkan Kiai Ihsan tidak menetap dalam jangka lama seperti santri umumnya. Paling lama tinggal di pesantren lain sekitar 2 bulan dan di tempat lain berkisar antara puluhan hari sampai satu bulan saja tetapi dalam jangka singkat itu penguasaan ilmu Kiai Ihsan di atas rata-rata.

Menurut hemat penulis tentang kisah mondoknya Kiai Ihsan bersumber penuturan keluarganya bahwasanya Kiai Ihsan saat mondok benarbenar melakukan khidmat yang istimewa pada gurunya. Sikap beliau yang sopan, rendah hati terhadap siapapun seperti tidak mengenalkan identitasnya sebagai putera kiai. Agaknya orang yang diperlakukan demikian menjadi senang bergaul dengan beliau sehingga Kiai Ihsan memperoleh bantuan dari kawan-kawannya jika menghadapi permasalahan berkaitan pemahaman ilmu. Dimungkinkan juga waktu tertentu Kiai Ihsan diajari pribadi oleh gurunya tersebut. Pengkhususan ini biasanya karena perihal santri itu cerdas atau tata kramanya melebihi dari lainnya maka perhatian guru otomatis tercurah pada anak didik tersebut.

Analisis terhadap model penyerapan ilmu agama oleh Ihsan muda dalam pengembaraannya yang tidak memakan waktu lama di setiap pesantren tetapi mampu mengambil ilmu gurunya di atas rata-rata sebab beliau menggabungkan metode kasbi dan sima’i. Cara belajar ini menggunakan aspek rasio, hati dan akal secara aktif. Beliau mampu mempelajari karakter gurugurunya yang mulia sehingga beliau ikut mendapat pengaruh positif atas mereka. Penulis menilai hal tersebut jarang dapat dilaksanakan kecuali dengan kesungguhan.

Atas titah ayahnya, Ihsan muda kembali ke tempat kelahirannya untuk membantu mengajar di Pondok Jampes. Kepemimpinan tidak diserahkan pada Kiai Ihsan namun saat itu masih dipegang Kiai Dahlan. Pada tahun 1928, tgl 25 syawal ayah Kiai Ihsan wafat dan otomatis pemimpin pesantren beralih pada keluarganya yakni adik Kiai Dahlan bernama Kholil. Ia mengemban amanat kakaknya sekitar 4 tahun. Akhirnya pesantren Jampes diwariskan pada Syeikh Ihsan tepatnya tahun 1932 bersamaan umurnya yang matang, 31 tahun Dengan pemindahan kepemimpinan Kiai Kholil kepada Kiai Ihsan maka tersemat pada diri beliau selain sebagai guru pendidik pesantren sekaligus manajer lembaga pondok Jampes. Lambat laun kiprah Kiai Ihsan Jampes tidak hanya dikungkung dalam pesantren saja, tetapi para saksi sejarah riwayat hidup beliau juga menyaksikan kemahiran beliau menulis, tokoh penggerak melawan penjajahan serta tokoh masyarakat yang disegani oleh penduduk sekitar.

Permulaan Kiai Ihsan dalam mengembangkan pesantren ayah beliau sampai wafat menemui beragam persoalan juga menghadapi kondisi-kondisi yang menganggu kemajuan pesantren dibawa asuhannya ini. Di runtut dari tahun beliau mengambil tampuk pesantren masih dalam kondisi penjajahan yang tengah gencarnya dilakukan di tanah air. Vander Plas, gubernur Belanda Wilayah Jawa Timur, yang pernah menawarkan bantuan kepada para santri tetapi Syeikh Ihsan tidak mau menerimanya karena beliau tidak mau membela penjajah. Demikianlah politik penjajah yang mengetahui bahwa sentral dari masyarakat pedesaan adalah tokoh agama atau Kyai. Kyai Ihsan yang faham hal tersebut malah mengikutsertakan sebagian santri-santri dalam kelompok Hizbullah pembela tanah air.

Di masyarakat desa masih kuat memegang konsep tokoh karismatik yang dianggap dapat memberi solusi-solusi dalam kehidupan terlebih lagi tokoh agama yang memiliki peran ganda dari sisi agama juga urusan duniawi. Memang tidak dibantah maju mundur pesantren terletak pada figur Kyai besar. Seorang Kyai yang berilmu tinggi membawa derajat pesantren yang diembannya semakin terpandang di mata khalayak. Dalam perkembangan dewasa ini aspek pertama itu penting tetapi perlu disertai aspek lain seperti, penambahan kurikulum, manajemen yang handal ikut andil membentengi lembaga itu dari keruntuhan.

Kiai Ihsan mengajarkan para anak didik agamanya berkreatifitas dengan menulis. Beliau pantas disandingkan dengan jajaran ulama Indonesia yang terkenal ke mancanegara. Karya-karya yang dihasilkan mendapat perhatian besar dari negara muslim lainnya. Setelah wafatpun beliau meninggalkan warisan kitab-kitab tulisan tangan Kiai Ihsan yang diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pendidikan Islam di Indonesia, generasi anak cucunya.

Karya-karya Kiai Ihsan Jampes

Kiai Ihsan memberikan sumbangsih besar bagi tradisi keilmuan pesantren. Hal ini terlihat dari karya-karya yang lahir asli karangan beliau. Karya-karya yang dinilai ilmuwan modern sebagai naskah tradisional konservatif karena keluaran pesantren ini nyatanya telah merambah ke berbagai negara muslim.Kitab-kitab warisan Pesantren Jampes berisi macammacam bahasan. Namun secara global dapat disimpulkan bahwa aspek tasawuf lebih menonjol dari banyak tulisan Kiai Ihsan Jampes. Maklum saja secara nasab keluarga Kiai Ihsan adalah pemegang ajaran tasawuf khususnya Kiai Dahlan, ayahnya. Lalu beliau juga menggemari model tasawuf Imam Al- Ghazali sebagai panutan madhab tasawuf nusantara. Dalam kitab-kitab berbahasa Arab itu, Kiai Ihsan berusaha memaparkan perkara-perkara yang tengah memasuki intelektual pesantren serta permasalahan Islam di Nusantara.

Wawasan Islam yang luas disertai pemahaman kondisi Nusantara memotivasi Kiai Ihsan membahas fenomena yang terjadi saat itu. Faktor tertuangnya pemikiran-pemikiran beliau dalam bahasa Arab alasannya dari internal pribadi Kiai Ihsan. Putera Kiai Dahlan tersebut merasa sukar menulis dalam bahasa ibunya, Jawa malah merasa mudah mengarang dalam bahasa Arab. Kebiasaan ini mungkin juga terbawa selama beliau mondok sehingga terbiasa dengan bahasa Arab ditambah penguasaan kaidah nahwu maupun sharaf dan sejenisnya. Dalam kesehariannya mendidik santri-santri tetap menggunakan bahasa Jawa agar mudah dipahami karena mereka belum menguasai secara tuntas.

Kitab-kitab Kiai Ihsan Jampes yang sudah diketahui sedikitnya 5 buah. Sumber lain menyebutkan beliau menghasilkan 12 buah kitab selama hidupnya, baru empat yang dicetak sedangkan yang lain masih berupa manuskrip. Pertama, Siraj al-Talibin syarh Minhaj al-‘Abidin buah pikiran Al-Ghazali. Kitab ini bisa dibilang sebagai karya utama beliau sebab kemashuran Kiai Ihsan mulai timbul sejak kitab ini beredar di dunia Timur. Siraj al-Talibin tersebut juga dicetak oleh percetakan luar negeri seperti Dār al-Fikr dan Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi intelektual pesantren sebab sebagaimana diketahui untuk sampai di percetakan Timur Tengah harus betul-betul karya yang berkualitas dari mulai judul dan tentu isinya. Dan dengan dicetaknya kitab ini menandakan pengakuan mereka terhadap keistimewaan bacaan karya ulama pesantren Jawa.

Kitab yang membahas tasawwuf Ghazali ini sekalipun hanya penjabaran teks dari kitab Minhaj al-‘Abidin menunjukkan kapasitas Kiai Ihsan sebagai penulis yang mahir. Bagaimana tidak beliau mengarangnya dalam kurun waktu tidak terlalu lama tetapi tetap memiliki kualitas dan kuantitas yang baik. Perkara ini sudah dipaparkan bahwa dalam belajar beliau menggabungkan aspek-aspek yang dapat meningkatkan kefokusan dan kefahaman di samping ketekunan pastinya.

Kitab dua jilid ini memuat beberapa tafsir al-Qur’an dari beberapa kitab ulama terdahulu. Kiai Ihsan Jampes berusaha mengumpulkan teks-teks tafsir yang telah ia pelajari dan hafal sebagai referensi penerjemahan beberapa ayat dalam kitab Siraj al-Talibin. Pengutipan terhadap karya-karya terdahulu sudah menjadi tradisi keilmuan pesantren maka Kiai Ihsan tetap menjaga kultur itu sekalipun punya pandangan sendiri yang dicantumkan dalam karyanya.

Penulis menemukan penelitian yang telah menganalisis sumbersumber yang digunakan Kiai Ihsan dalam kitab tersebut. Berikut ini pemaparan daftar rujukan Kiai Ihsan yang beliau kutip dan mencantumkannya dalam kitab Siraj al-Talibin. Bagian Pertama, berupa kitab-kitab tafsir yang sudah mashur di kalangan pesantren di antaranya, Lubāb al-Ta`wīl fī Ma’ānī al-Tanzīl (Tafsīr al-Khāzin), Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta`wīl (Tafsīr alBayḍāwī), Tafsīr al-Jalālayn, Madārik al-Tanzīl wa Ḥaqāiq al-Ta`wīl(Tafsīr al-Nasafī, Tanwīr al-Miqbās min Tafsīr Ibn ‘Abbās, al-Futūḥāt al-Ilahiyyah bi Tawḍīḥ Tafsīr al-Jalālain li al-Daqāiq al-Khafiyyah, Sirāj al-Munīr fī alI’ānah ‘alā Ma’rifah Ba’ḍi Ma’ānī Kalāmi Rabbinā al-Ḥakīm al-Khabīr, alJāmi’ li Aḥkām al-Qur`an, Mafātīḥ al-Gayb, Irshād al-‘Aql ilā Mazāyā alQur`an al-Karīm. Jenis pertama ini berjumlah sepuluh buah kitab.

Bagian kedua merupakan kitab-kitab tasawuf total hanya tiga. Salah satunya adalah karya Al-Ghazali yakni Iḥyā` ‘Ulūm al-Dīn yang merepresentasikan tasawuf Imam Al-Ghazali sehingga Syeikh Ihsan mencupliknya untuk memberi pengertian terhadap karya Minhaj al-‘Abidin, karya sang imam sendiri. Dua yang lain ialah Ittiḥāf al-Sādah dan al-Risālah al-Qushayriyyah. Masing-masing ialah tulisan Sayyid Muḥammad bin Muḥammad al-Ḥusaynī al-Zabīdī lalu Abū al-Qāsim ‘Abdul Karīm bin Hawāzin al-Qushayrī. Sedang yang lainnya beliau turut memakai kamus Arab seperti Miṣbāḥ al-Munīr juga Mukhtār al-Ṣiḥḥāḥ. Kemudian kitab ilmu Qur’an yang berjudul Lubāb al-Nuqūl fī Asbāb al-Nuzūl karya Imam al-Suyūṭī. Terakhir kitab ‘Uyūn al-Majālis dari al-Ḥaddādī, dua yang lain tidak diketahui berasal dari Muḥammad Sa’īd Bābaṣīl dan ‘Abdul Ḥaq.

Dari total 19 referensi di atas menunjukkan penguasaan macammacam ilmu yang dimiliki pengasuh pesantren Jampes pada pertengahan abad ke-20 tersebut. Data-data penafsiran yang beliau rujuk lebih banyak dari ulama’ klasik ditujukan untuk umat Islam kekinian. Kiai Ihsan tak melupakan jati diri sendirinya sebagai bangsa Indonesia. Beberapa pembahasan pun menyinggung permasalahan di tanah air misalnya, perayaan kelahiran Nabi Muhammad yang marak di makmurkan di penjuru negeri. Kiai Ihsan dalam perkara itu menghadirkan pendapat para Imam terdahulu serta riwayat yang berhubungan dengan hal ini. Beliau memilih pendapat membolehkan muludan dengan syarat selama di dalamnya tidak bertentangan syari’at Islam. Penulis menyimpulkan beliau dalam golongan moderat atau golongan tengah menyikapi persoalan baru. Dalam menafsiri teks dari kitab Minhaj al-‘Abidin pun tidak seluruhnya adalah kutipan. Ada bagian-bagian yang berakar dari ijtihad beliau yang berbaur dengan penukilan yang ada. Misal Kiai Ihsan memberikan pandangan tentang intropeksi diri dalam karyanya ini:

“hendaklah kamu meneliti diri sendiri atas biji-bijian dan seperenam dirham, mulai awal hidupmu sampai akhir hidup, sebelum dihisab di hari kiamat”

Proses panjang dalam mengumpulkan rangkaian kalimat-kalimat sehingga terbentuklah dua jilid kitab Siraj al-Talibin sebanding dengan prestasi yang beliau capai sebagai tokoh lokal pesantren. Kitab ini yang telah tercetak di Timur Tengah lantas menjadi kajian penting di sana. Tak hanya dunia ketimur-an yang menyebarluaskan bacaan tersebut, Belahan Barat yang umumnya mengagungkan aspek material pun turut menerjemahkan karya ulama’ Indonesia ini khususnya bagi mereka yang menyelami pemikiran AlGhazali. Jejak prestasi lain yang tidak kalah pentingnya yakni suatu waktu Kiai Ihsan diminta khusus oleh raja Farouk Mesir yang memimpin pada tahun 1936-1952 tujuannya agar Kiai Ihsan mengajar dan menjadi dosen di Universitas al-Azhar Mesir tetapi beliau tidak menerima tawaran mulia itu. Beliau kukuh menetap di pesantren Jampes melanjutkan amanah dari ayahnya yakni mendidik santri-santrinya. Karakteristik langka ini penulis sangka memacu sikap zuhud dan tawadu’ dimiliki santri-santri beliau yang menimba ilmu di Jampes.

Kedua, kitab berjudul Irshad al-Ikhwan li Bayani Ahkami Shurb alQahwah wa al-Dukhan. Dari judul pun dapat diketahui bahwa kitab ini mengupas hukum minum kopi dan rokok. Tercetusnya tulisan ini yang lalu dibukukan memang menilik pribadi beliau yang gemar merokok dan meminum kopi menjadi alasan khusus. Karya beliau yang satu ini hendak mendekati masalah publik yang cukup gencar diperdebatkan.

Tradisi merokok sudah mengakar kuat bagi pendahulu bangsa Indonesia ini. Hanya baru-baru ini perbincangan mengenai penetapan hukum rokok ini dilihat dari segi hukum Islam memunculkan kontradiksi pendapat dari para ulama’ yang menurut Kiai Ihsan hal inilah alasan kuat beliau menjabarkan dua masalah yakni kopi dan rokok dalam karyanya. Berbagai pendapat yang dilontarkan oleh para tokoh agama saat itu sangat diperhitungkan apalagi hukum. Kiai Ihsan ikut merasakan keramaian berbagai pemvonisan terhadap kalangan yang candu rokok atau kopi. Akhirnya beliau mengumpulkan keberagamaan tersebut hingga sempurnalah kitab ini.

Kitab ini tidak saja mengulas segi positif dan atau segi negatif kedua perkara di atas secara gamblang. Lebih dari itu kitab ini memaparkan mengenai upaya pemberian hukum syari’at tidak semata-mata mengerti hukum praktis tetapi penulis dan pengarangnya mengajak pembaca untuk mendalami proses penggalian dan pengambilan hukum yang nantinya menghasilkan apa yang disebut rasa saling menghargai perbedaan dalam umat ini. Pasti dalam hadirnya kitab yang mengulas ngopi dan ngrokok ini muncul dua kubu, antara pendukung sebab mereka penggemar keduanya atau penolak dengan dalih merugikan orang lain di samping material.

Irshad al-Ikhwan li Bayani Ahkami Shurb al-Qahwah wa al-Dukhan berbentuk kitab nazam atau puisi ciptaan Kiai Ihsan sendiri. Beliau mengadaptasi pada karya gurunya Kiai Dahlan Semarang yang punya tulisan Tazkirat al-Ikhwan fi Bayan al-Qahwah wa al-Dukhan. Sebagaimana Kiai Ihsan Jampes yang menulis masalah ini sebab perkara-perkara tersebut terjadi di lingkungan sekelilingnya maka agaknya Kiai Dahlan pun sama latar belakang penulisan kitabnya. Alhasil setiap pemikiran seseorang dipengaruhi oleh eksternal serta interaksi terhadap situasi zaman.

Kiai Ihsan mengelompokkan isi kitab ini dalam empat bab. Bab awal disinggung pula asal usul rokok maupun kopi dengan istilah-istilah yang jarang diketahui dalam konteks sekarang. Kemudian bab-bab selanjutnya tentang cendekiawan muslim yang mengharamkan rokok dan di pihak lain membolehkannya. Bab penutup dalam karya unik ini mengulas perkara ini dilihat dara kacamata fiqih. Kitab ini menurut penulis runtut dan bahasanya mudah dipahami oleh para santri tentunya. Kelebihan lain yang dimuat ialah pengulasan dari tata bahasa dan kesusasteraan mengkayakan keilmuan bagi peminat kitab ini.

Kiai Ihsan telah memberikan contoh dalam menghargai keberagaman, khususnya terkait dengan perbedaan pendapat, sehingga muncul adanya saling menghargai dan menghormati terhadap perbedaan yang muncul. Dalam karya satu ini beliau tidak memvonis tegas pada pecandu rokok. Dapat disimpulkan pendapat-pendapat yang ditampilkan hanyalah cuplikan-cuplikan dari para ulama’ terdahulu. Terhadap perbedaan fatwa tersebut, Kiai Ihsan tidak terlalu condong pada satu kubu melainkan mengambil jalan tengah yakni bila rokok atau kopi memberi manfaat pada pengonsumsinya maka halal hukumnya sedangkan jika memberi madharat maka hukumnya menjadi haram.

Ketiga, Manahij al-Imdad yang sejatinya komentar atas kitab Irshad al- ‘Ibad karangan Syeikh Zain al-Din ibn ‘Abd ‘Aziz ibn Zain al-Din alMalibari. Kitab ini mengandung kajian ketauhidan, fiqh dan tak ketinggalan tasawwuf sebagai jati diri Kiai Ihsan. Saat beliau masih hidup, kitab ini masih belum dicetak dan berupa manuskrip. Pekerjaan ini cocok untuk bidang sejarah yang hendak mendekati kebenaran data. Sebab manuskrip asli tulisan Kiai Ihsan harus dikaji ulang oleh cendekiawan muslim Indonesia supaya radisi keilmuan pesantren tetap berkesinambungan. hal lain yang dikhawatirkan ialah perubahan yang terjadi baik di sengaja maupun tidak yang menurut sebagian orang sepele namun bagi sejarawan perubahan sekecil apapun pada teks maka merubah makna teks tersebut berdampak pada pemahaman. Kitab yang ditorehkan dalam seribu halaman lebih menyuguhkan pada pembaca perkara fiqh bernuansa tasawuf. Jika umumnya fiqh terkesan kaku dan dianggap final maka kitab ini berusaha memperkaya wawasan sehingga selain mendapat pemahaman hukum juga pembaca dapat menilai etika dan estetika dalam Islam.

Proses pembuatan kitab ini dilakukan Kiai Jampes segera setelah kitab Siraj al-Talibin. Kedua kitab ini jika dilihat dari muatan nampak nuansa sufistik yang kental, dari segi kuantitas juga tidak berbeda jauh yakni memakan seribu halaman lebih. Maka tidak dapat dipungkiri keintelektualan dari beliau meskipun berasal dari pesantren lokal. Naskah asli setelah rampungnya karya ini dikirimke perpustakaan Kairo dan belum mengalami penerbitan sampai wafatnya sang penulis pada 1952. Berkat seorang santri beliau yang berhasil merampungkan salinan dari naskah itu, pihak keluarga Syeikh Ihsan dapat melakukan penerbitan sendiri. Kitab ini baru diterbitkan tahun 2005 sehingga menjadi tambahan kajian bagi kalangan pesantren.

Kemudian kitab yang membahas astronomi atau falak yakni Tashrih al-‘Ibarat diselesaikan tahun 1929.79 Penjabaran tentang ilmu falak di dalamnya mengikuti konteks tempat kelahiran beliau dimana penentuan hari besar ataupun bulan-bulan penting bagi aktivitas spiritual di lingkungannya lebih besar lagi masyarakat Indonesia menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Untuk itu pengkajian kitab-kitab beliau selayaknya dilestarikan di tanah air selain menambah wawasan juga mengingatkan riwayat hidup beliau yang patut dijadikan teladan. Sebenarnya karangan-karangan beliau yang telah diterangkan di atas memang sudah tak asing lagi apalagi pesantren tetapi menjadi persoalan pula bahwa tulisan beliau lebih daripada itu tidak diketahui jejaknya. Menurut informasi dari keluarga pondok sendiri juga mengutarakan ada hasil tulisan beliau yang hanya diajarkan pada santri-santrinya saja tidak sampai dicetak karena mungkin ada kendala atau semacamnya. Tercetaknya kitab yang kesohor di urutan tersebut membutuhkan perjuangan mulai mencari manuskripnya sampai ke percetakan.

Kitab yang mengulas panjang dari kitab Natij al-Miqat karya Ahmad Dahlan, guru Kiai Ihsan saat belajar ke Semarang. Kitab Natij al-Miqat ini kurang dikenal di khalayak umum. Kitab tersebut bahkan tak ditemukan waktu penulisan dan penerbitannya sehingga kemungkinan besar hilang dari pustaka pesantren. Beruntungnya atas kerja keras Kiai Ihsan sebagai muridnya kitab gurunya itu disalin dan dijelaskan dengan metode beliau menjadi sebuah kitab Tasrih al-Ibarat. Pencurahan fikiran dan tenaga menghadirkan karya ilmu Falak ini juga mengikuti jejak ayah Kiai Ihsan. Maklum Kiai Dahlan sangat mahir membidangi ilmu astronomi karena mendalaminya waktu muda di sebuah pesantren Jawa Tengah. Kemudian diikuti oleh Kiai Ihsan, anaknya.

Kitab astronomi tersebut menjelaskan penggunaan alat kuno yang dinamai kuadran/rubu’. Keuntungan yang beliau peroleh dengan sistem perhitungan ini ialah dapat membuat jadwal waktu pelaksanaan sholat seharihari kemudian pengiraan bulan-bulan penting seperti Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dan Dzulhijjah. Hal ini merupakan pembaruan metode yang cocok digunakan koteks sekarang ini selain pengayaan wawasan.

Akhirnya penulis menganalisa terhadap pendapat dan pemikiran beliau yang dituangkan dalam karya-karya monumental beliau merupakan bukti konkret dapat didamaikannya kebhinekaan atau keragaman melalui dialog rasional berdasar ilmu pengetahuan. Hal ini yang ditekankan pada saat ini menjadi jalan keluar alternatif meredam persinggungan antar golongan yang akhir-akhir ini mudah tersulut.

Penulis menduga masih banyak karya-karya yang sampai sekarang belum diterbitkan oleh pondok Jampes atau gagasan cemerlang beliau yang belum sempat digubah menjadi tulisan yang sangat berguna bagi generasi santri-santri di Indonesia karena sangat jarang dijumpai seorang cendekiawan muslim yang mampu menyikapi perkembangan dan kemajuan zaman dengan bijak. Dalam menghadapi perbedaan pandangan yang menimbulkan perdebatan panjang pun dapat di redam oleh pandangan serta petuah Kiai Ihsan.

Kiai Ihsan Jampes tutup usia setelah setengah abad lebih satu tahun. Beliau wafat pada hari Senin jam 12 tanggal 25 Dzulhijjah 1371 H/15 September 1952. Beliau mengalami sakit parah menjelang wafatnya didampingi famili-familinya. Dengan meninggalnya ulama’ sufi tersebut, keturunannya dan para santrinya meneruskan perjuangan dakwah beliau dan menjaga warisan beliau baik ilmu dan sifat luhur Al-Ghazali dari Timur itu.

Related posts