Biografi Singkat KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek), Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Seluruh Indonesia

Biografi Gus Miek | Biografi KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek) | Biografi Singkat KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek) | Profil KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek) | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek): Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

KH. Hamim Tohari Djazuli berasal dari Kediri, sosok Ulama yang lahir dari kultur pesantren tradisional. Peran kontradiksi dijalaninya dengan gemar mondok pada alam semesta, mencari ilmu berdasarkan realita masyarakat dari pada harus menghafal rumus-rumus matan Alfiyah Ibn Malik dan sorogan kitab kuning pada beberapa guru. Kemampuan dan keinginannya yang begitu dalam melakukan tirakat merupakan titisan dari ayahnya yang dijuluki Sang Blawong atau KH. Ahmad Djazuli Utsman. Beliau adalah seorang bapak bagi KH. Hamim Tohari Djazuli dan sekaligus seorang Ulama bagi santrinya.

KH. Ahmad Djazuli Utsman adalah pendiri pertama Pondok Pesantren AlFalah Ploso Kediri. Pesantren ini merupakan pesantren berpengaruh dan penyumbang kontribusi besar dalam mencetak kader-kader Islam di Nusantara. Untuk itu agar lebih mempermudah memahami kisah hidup KH. Hamim Tohari Djazuli, kita lihat terlebih dahulu sosok ayah yang mempunyai peran besar dalam mendidik mental spiritual yang melekat kuat pada karakter KH. Hamim Tohari Djazuli.

KH. Ahmad Djazuli Utsman adalah anak ketujuh dari tiga belas bersaudara, putra seorang pejabat naib pemerintah agama KUA (Kantor Urusan Agama) Desa Ploso. Desa ini berada sekitar 15 kilometer Selatan kota Kediri, tepatnya di pinggiran sungai Brantas Kecamatan Mojo. Mas‟ud, itulah nama kecil KH. Ahmad Djazuli Usman. Ia lahir pada tanggal 16 Mei 1900 di Ploso, sebuah desa yang pada masa lalu penuh dengan aneka kemaksiatan dan kemungkaran. Lingkungan sosial yang demikian rusaknya membuat Mas‟ud mendapat perhatian dan pengawasan yang begitu ketat dari orang tuanya.

Mas‟ud ketika masih kecil merupakan sosok anak yang memiliki sifat pendiam, tak heran jika ia disepelekan dan dianggap tolol oleh teman sepermainannya. Namun itu semua tidak membuatnya berkecil hati. Anggapan miring itu malah ia jadikan cambuk untuk lebih tekun menata pribadi dan mempertinggi cita-citanya. Keuntungan sebagai putra pegawai negeri memberikannya kemudahan dalam menempuh dunia pendidikan. Tiga tahun lamanya Mas‟ud duduk di bangku sekolah Cap Jago, sebuah sekolah yang berada di wilayah distrik Ploso yang diperuntukkan bagi lima desa yaitu Ploso, Tambi Bendo, Kraton, Kedawung dan Maesan. Mas„ud kemudian meneruskan pendidikannya ke Inlandsche Vervolg School, suatu sekolah lanjutan dengan masa pendidikan selama dua tahun.

Seusai dari Inlandsche Vervolg School dengan nilai yang sangat memuaskan, Mas‟ud melanjutkan lagi tingkat pendidikannya di sebuah sekolah yang bernama Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Cringging-Grogol Kediri. Ketekunannya dalam belajar membuatnya menonjol dalam semua mata pelajaran yang diikutinya. Inilah kemudian yang membuat pak Naib Utsman, ayahnya begitu bangga dengan kemampuan yang dimiliki oleh putranya ini. Hingga dikemudian hari berdasarkan hasil musyawarah anggota keluarga, Mas‟ud diizinkan melanjutkan study pada jurusan kedokteran di Jakarta, sebuah kelas cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Keberangkatan ke Jakarta disaksikan oleh masyarakat desa dan sambutan khusus kepala stasiun Kota Kediri akan cita-cita luhur pemuda kampung dengan harapan mengangkat sosial di daerah kelak.

Drama sesungguhnya bukanlah dari keberhasilan meraih predikat terbaik di tingkat SLTA kemudian mampu kuliah di Jakarta, melainkan konsistensinya berada dijalur yang sesuai dengan cita-cita yang diharapkan. Setelah tiga bulan lamanya berada di Jakarta menempuh pendidikan dokter, Mas„ud mendapat surat dari ayahandanya untuk tidak meneruskan pendidikannya tersebut. Surat dari ayahandanya berisi pesan untuk melanjutkan pendidikan di Pesantren. Hal ini secara radikal memutus cita-citanya sebagai calon dokter. Surat tertulis ayahandanya itu merupakan dawuh dan pesan dari KH. Ma‟ruf Kedunglo ketika silaturahmi ke kediaman ayahandanya. Saat itu pula KH. Ma‟ruf Kedunglo dawuh bahwa akan lebih bagus bila Mas‟ud disuruh pulang dan melanjutkan pendidikannya di pesantren saja, sebab dipesantrenlah kelak kemuliaannya akan semakin tampak.

Berada di antara dua pilihan yang sulit dipilih, antara menjadi dokter atau menjadi santri, Mas‟ud ternyata patuh kepada kedua orang tua. Kepatuhannya yang begitu tinggi akan perintah orang tuanya membuat Mas‟ud dengan mantap pulang ke Kediri untuk menjadi santri. Dunia pesantren merubah sikap dan mental Mas„ud, sehingga gelar “Blawong”disandangnya saat nyantri di pesantren Mojosari Nganjuk Asuhan KH. Mojosari.

Pilihan hidupnya untuk menjadi santri pada akhirnya terbukti di kemudian hari. Mas‟ud menjadi seorang Ulama besar dengan putra dan putri karismatik. Pernikahannya dengan Nyai Rodhiyah melahirkan putra dan putri seperti Ahmad Zainuddin Dzajuli, Nurul Huda Djazuli, Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek), Fuad Mun‟im Djazuli, Munif Djazuli dan terakhir Lailatus Badriyah. Merekalah penerus KH. Ahmad Djazuli Utsman di Pesantren Al-Falah Ploso yang sampai sekarang pesantren ini tetap menggunakan metode salaf.

Jika pak Naib yang berprofesi sebagai seorang penghulu pernikahan memiliki putra bernama Mas‟ud atau KH. Ahmad Djazuli Utsman sebagai putra yang paling menonjol diantara putra-putranya yang lain, maka KH. Ahmad Djazuli Utsman memiliki putra dengan sifat yang nyeleneh dalam kehidupannya. Dialah KH. Hamim Tohari Djazuli atau akrab dikenal dengan nama Gus Miek. Semasa kecil Gus Miek akrab dipanggil dengan nama panggilan Amie‟, panggilan tersebut diambil dari nama beliau sendiri yakni “Chamim”. Adapun maksud menggunakan kata“nyeleneh”dibanding kata“menonjol”pada diri KH. Hamim Tohari Djazuli, karena kata menonjol lebih memberikan tekanan makna keunggulan normatif, sedangkan kata nyeleneh merujuk pada sikap KH. Hamim Tohari Djazuli yang qoriqul ‘adat, keluar dari kebiasaan para ulama dalam upaya menyebarkan dakwahnya. Inilah cermin beda yang kontradiktif antara KH. Ahmad Djazuli Utsman dan putranya, KH. Hamim Tohari Djazuli.

Latar Belakang Pendidikan

Tidak mudah bila berbicara tentang sosok KH. Hamim Tohari Djazuli. Orang banyak merasa dekat dengan KH. Hamim Tohari Djazuli dari berbagai persepsinya. Para sahabat dan santri KH. Hamim Tohari Djazuli sepertinya kompak dalam satu isyarat untuk menutup mulut tentang sejarah beliau. Mereka merasa tidak pantas untuk membeberkan riwayat beliau, selain juga tidak mengetahui pribadi dan aktivitas secara menyeluruh, mereka takut hal itu akan disebut fitnah dan besarnya rasa hormat pada keluarga Pondok Pesantren AlFalah. Disinilah kesulitan yang dihadapi penulis ketika mencoba memperoleh data tentang biografi KH. Hamim Tohari Djazuli. Para sahabat dan santrinya satu suara dalam hal ini, bahwa untuk mengetahui lebih jauh biografi beliau, penulis disarankan untuk langsung silaturahmi pada keluarga besar KH. Hamim Tohari Djazuli. Hal ini terbukti saat penulis mencoba menggali beberapa informasi data tentang biografi KH. Hamim Tohari Djazuli pada beberapa informan yang diwawancarai. Penulis selalu saja mendapatkan info yang berbeda tentangnya.

Pengalaman mencari informasi KH. Hamim Tohari Djazuli sangatlah sulit, namun itu tidak berarti mematahkan tujuan awal penulis untuk membuat biografi beliau. Penulis dapat bertemu dengan istri beliau, yaitu Hj. Lilik Suyati. Atas izin Hj. Lilik Suyati inilah penulis direstui menulis karya ilmiah tentang KH. Hamim Tohari Djazuli dengan bantuan informasinya.

Menurut Hj. Lilik Suyati, meskipun beliau adalah istri KH. Hamim Tohari Djazuli tetapi beliau jarang sekali bertemu dengan suaminya. Kondisi yang dialami Ibu Hj. Lilik Suyati ini berbeda halnya dengan istri-istri pada umumnya yang hampir tiap hari bertemu dengan suaminya. Sebagai seorang istri, Hj. Lilik Suyati beliau pernah mengeluh karena KH. Hamim Tohari Djazuli sering meninggalkan rumah. Kadang sampai berbulan-bulan keduanya tidak bertemu. Bahkan anak-anaknya tidak mendapat belaian perhatian penuh secara langsung, baik itu berupa kasih sayang maupun pendidikan. Tetapi hal itu bisa dimaklumi oleh anak-anak KH. Hamim Tohari Djazuli dan Hj. Lilik Suyati.

Salah satu yang membuat Hj. Lilik Suyati bersabar, tabah, dan terhibur karena seringnya KH. Hamid Kajoran selaku sahabat karib KH. Hamim Tohari Djazuli mengunjunginya. KH. Hamid Kajoran menyatakan bahwa anak yang dikandungnya itulah (KH. Agus Sabut Panoto Projo) yang akan mewarisi karomah ayahnya, terutama dalam hal kemampuan mengorganisir jama‟ah. Bahkan menurut KH. Hamid Kajoran, KH. Hamim Tohari Djazuli melebihi anaknya tiga kali lipat. KH. Hamid Kajoran menyarankan Hj. Lilik Suyati untuk tabah karena KH. Hamim Tohari Djazuli ditugaskan oleh Allah untuk tuntunan dakwah menyadarkan umat agar kembali kejalan yang benar.

Menurut KH. Ahmad Zainuddin Djazuli selaku putra pertama KH. Ahmad Djazuli Usman dengan Nyai Hj. Rodhiyah, KH. Hamim Tohari Djazuli lahir pada tanggal 17 Agustus 1940. Kelahirannya dinanti-nanti oleh Hj. Lilik Suyati karena selama dalam kandungan beliau sering bermimpi dan juga mengalami peristiwa-peristiwa aneh yang diluar nalar manusia. Meskipun sudah mengandung dan melahirkan untuk yang keempat kali, tapi kehamilannya saat ini berbeda dengan sebelumnya.

Sebagaimana keyakinan Ulama terdahulu bahwa pada saat-saat tertentu mimpi memiliki arti penting dan merupakan isyarat bagi sang ibu terhadap calon anak yang akan dilahirkannya. Di masa kecil, KH. Hamim Tohari Djazuli memiliki jiwa yang halus dan lembut, tutur kata dan tingkah lakunya mengagumkan. Sehingga membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya merasa tenang dan penuh kedamaian. Ketika berjalan, beliau selalu menundukkan muka dan langkahnya penuh kehati-hatian seakan mencerminkan kerendahan hati yang bisa membuat orang kagum padanya. Beliau tak banyak bicara dan suka menyendiri berbeda dengan saudara-saudaranya atau teman sebayanya yang lebih senang dekat dengan ibu mereka.

Dalam hal bermain pun beliau suka sendiri dan asyik mempermainkan permainannya sendirian. Beliau juga memiliki suara yang merdu, lebih menonjol daripada saudara-saudaranya yang lain, saat membaca Al-Qur‟an. Bacaannya fasih dan dapat menyejukkan hati orang-orang yang mendengarkannya. KH. Hamim Tohari Djazuli pada masa remaja hingga akhir perjuangannya tidak selalu berada di kota kelahirannya. Hanya saja KH. Hamim Tohari Djazuli akan memilih kota terakhirnya sebagai tempat peristirahatan terakhir. Nyeleneh dan unik sejak kecil adalah ciri khas KH. Hamim Tohari Djazuli. Di masa kecilnya saja ia sudah memiliki ikatan spiritual dengan waliwali besar di tanah Jawa, diantaranya Kyai Ramli, seorang pemimpin t}ariqah sekaligus pendiri pesantren Darul Ulum Jombang dan Kyai Hamid Pasuruan. Di Kediri KH. Hamim Tohari Djazuli juga memiliki ikatan spiritual dengan KH. Abdul Majid Ma‟rof, pendiri jamaah sholawat Wahidiyah dan KH. Mubasir Mundzir Kediri.

Hubungan spiritual dan silaturrahmi KH. Hamim Tohari Djazuli dengan Kyai Ramli Jombang dibangunnya saat ia berumur tujuh tahun dan sering pulang pergi Kediri-Jombang tanpa seorang kawanpun yang menemani. Sedangkan kedekatan spiritual dengan KH. Hamid Pasuruan terjalin saat ia berumur sembilan tahun, silaturahmi dilakukannya dari Kediri ke Pasuruan juga tanpa teman.

Bila dilakukan perhitungan secara matematis, jarak antara Kediri dan Pasuruan lebih dari seratus kilo jarak tempuh. Sedangkan dilihat dari sisi sosial, jika KH. Hamim Tohari Djazuli saat itu berumur sembilan tahun, maka waktu itu gejolak sosial masyarakat Indonesia belumlah bisa dikatakan stabil. Sebab tahun pada 1949 adalah tahun dimana keamanan dan kestabilan politik di Indonesia belum sepenuhnya final pasca kemerdekaan. Di masa itu pula kendaraan belum seramai saat ini. Hal ini bisa dijadikan salah satu indikasi betapa perjuangan KH. Hamim Tohari Djazuli untuk menemui seseorang yang diyakininya sebagai Waliallah yakni KH. Hamid Pasuruan sangatlah tinggi. Hal ini di kemudian hari dijadikan pendapat umum di kalangan santri KH. Hamim Tohari Djazuli yang berkata bahwa di manapun KH. Hamim Tohari Djazuli berada pasti disitu ada Waliallah, baik wali yang masih hidup atau bersifat petilasan Waliallah.

KH. Hamim Tohari Djazuli memiliki kepribadian yang luhur, beliaulah guru para santrinya. Beliau memiliki metode dan sasaran dakwah tersendiri yang berbeda dengan para ulama kebanyakan. Selain memiliki kelebihan dari manusia pada umumnya dan kadang berperilaku layaknya orang gila atau qoriqul ‘adat. KH. Hamim Tohari Djazuli juga memiliki kecakapan spiritual yang begitu tinggi. Inilah yang kemudian mengantarkan kedekatannya kepada Allah hingga terbimbing olehNya dan mengerti sesuatu yang tersembunyi dalam hidup. Beliau menjadi tahu terhadap sesuatu yang akan terjadi pada masyarakat atau weruh sak durunge winarah.

Dalam hal pendidikan formal, KH. Hamim Tohari Djazuli pernah mengenyam di bangku Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1946. Sewaktu memasuki sistem sekolah formal ini (SR), KH. Hamim Tohari Djazuli menampakkan ketidak seriusannya terhadap pendidikan tersebut. Dan ironis dengan gemilang pengetahuannya pada masa yang akan datang. Bila sampai di sekolah dia sering menghabiskan waktu bermain dan menggambar daripada menulis atau memperhatikan pelajaran. Maka dalam hal pendidikan formal bisa dikatakan gagal. Beliau memilih untuk mengakhiri sekolah di bangku kelas tiga Sekolah Rakyat (SR). KH. Hamim Tohari Djazuli keluar dan melanjutkan hobinya mengembara, melakukan silaturahmi atau sowan pada para Waliallah.

Sifat suka mengembara ini menjadikan KH. Hamim Tohari Djazuli seperti putra yang hilang. KH. Ahmad Djazuli Utsman sebagai seorang Ulama yang didengar fatwanya dan sebagai respon sifat manusiawinya merasa gelisah jika melihat kepribadian anak yang tidak sesuai dengan harapannya. KH. Ahmad Djazuli Utsman sempat gelisah menghadapi sikap ke-nyeleneh-an KH. Hamim Tohari Djazuli ini. Maka setiap kali KH. Ahmad Djazuli Utsman sowan atau silaturrahmi pada kyai manapun, ia memohon do‟a agar diberi kesabaran dalam menghadapi ke-nyleneh-an KH. Hamim Tohari Djazuli.

Kebetulan pada suatu hari, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH. Mahrus Ali datang bersilaturrahmi ke Ploso. Mendengar keluhan KH. Ahmad Djazuli Utsman, KH. Mahrus Ali berinisiatif mengajak KH. Hamim Tohari Djazuli kecil yang saat itu berusia tiga belas tahun untuk ikut pulang ke Lirboyo sekaligus mondok di sana. KH. Hamim Tohari Djazuli tanpa berkemas dan berpikir panjang ikut ke Lirboyo. Kemauan KH. Hamim Tohari Djazuli untuk ikut berangkat bersama KH. Mahrus Ali ke Lirboyo, sedikit mengobati rasa gelisah yang menimpa KH. Ahmad Djazuli Utsman dan Hj. Rodhiyah sebagai orang tuanya.

Namun lagi-lagi Pondok Pesantren Lirboyo bukanlah jaminan menyadarkan KH. Hamim Tohari Djazuli. Baru dua minggu di Lirboyo, KH. Hamim Tohari Djazuli sudah Boyong pulang ke Ploso. Seakan dibuat kaget melihat KH. Hamim Tohari Djazuli sudah pulang dari Lirboyo, di malam harinya KH. Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Rodhiyah diskusi ringan sambil menyinggung sikap KH. Hamim Tohari Djazuli. KH. Ahmad Djazuli Usman sedikit menggerutu dan khawatir akan masa depan KH. Hamim Tohari Djazuli karena sikapnya dalam mencari ilmu di Lirboyo yang hanya enam belas hari saja. KH. Hamim Tohari Djazuli yang sedang berada diruangan sebelah dimana diskusi ringan itu terjadi, mendengar dan merespon percakapan orang tuanya. KH. Hamim Tohari Djazuli menyarankan pada KH. Ahmad Djazuli Usman agar keesokan harinya untuk istirahat saja, sementara untuk urusan belajar mengajar di pesantren diserahkan padanya.

sok harinya ucapannya itu ternyata ditepatinya. Dari pengajian sehabis subuh hingga malam harinya, tugas KH. Ahmad Djazuli Utsman dalam mengajar para santri diambil alih olehnya. Beragam kitab dibacanya dihadapan para santri. Dari kitab fiqh taqrib sampai kitab fiqh Ihya‘Ulum ad-din karya Abu Hamid muhammad al- Ghazali.

Kemahiran KH. Hamim Tohari Djazuli memahami kitab kuning juga terjadi pada saat kakaknya KH. Nurul Huda mendapatkan istri dari kota Malang. KH. Hamim Tohari Djazuli secara spontan memberikan rujukan dalil pada ayahnya KH. Ahmad Djazuli Utsman tentang prosesi nikah ditinjau dari segi fiqh. Pada saat itu KH. Ahmad Djazuli Utsman terhenyak akan kemampuan KH. Hamim Tohari Djazuli yang bisa berargumentasi dengan dalil-dalil yang ada dalam berbagai kitab fiqh. Padahal sepengetahuan KH. Ahmad Djazuli Usman, KH. Hamim Tohari Djazuli tak sekalipun pernah serius mengaji kitab-kitab klasik karya ulama fiqh. Semenjak kejadian-kejadian itu, sikap KH. Ahmad Djazuli Utsman mulai berubah terhadap KH. Hamim Tohari Djazuli. Dia membiarkan jika sikap nyeleneh KH. Hamim Tohari Djazuli muncul. KH. Ahmad Djazuli Usman berkesimpulan bahwa sikap nyeleneh KH. Hamim Tohari Djazuli itu bukanlah karena nakal, melainkan tugas dakwah yang berat, sehingga apapun cara untuk mengevaluasi hanya akan melahirkan kesia-siaan belaka.

KH. Hamim Tohari Djazuli juga pernah nyantri pada KH. Dalhar Watucongol, pengasuh pesantren Darussalam Magelang Jawa Tengah. Di Watucongol ini belajarnya relatif cukup lama dibanding di Lirboyo. Namun lama secara kuantitas bukanlah sebuah jaminan ada perubahan kualitas dan sikapnya yang nyeleneh itu. Ngajinya sebatas ngobrol dengan santri lain tanpa ikut pengajian secara formal. Di Watucongol ini metode belajar KH. Hamim Tohari Djazuli lebih pada bentuk pengabdian pada KH. Dalhar. Layaknya adab seorang santri pada Kyai-nya, jika KH. Dalhar berangkat mengaji, KH. Hamim Tohari Djazuli selalu setia membawa kitab KH. Dalhar, begitu seterusnya hingga kurang lebih tiga bulan lamanya.

Proses dialektik dan kedekatan secara individu pada para ulama pada akhirnya membentuk karakter spiritual pada diri KH. Hamim Tohari Djazuli. Karakter spiritual KH. Hamim Tohari Djazuli dikonstruks tidak saja dari nyantri di pesantren, melainkan karena melakukan hubungan yang intens dan sering bersilaturrahmi pada para Ulama. KH. Abdul Ma‟rof Kedunglo, KH. Hamid Pasuruan, KH. Mubazir Mundzir Kediri, dan KH. Hamid Kajoran Magelang adalah beberapa nama ulama yang mempunyai jasa besar dalam membentuk karakter itu. Pola bergaul yang intens KH. Hamim Tohari Djazuli dengan para ulama besar itu dijadikannya instrumen untuk mengasah spiritualnya. Obrolan ringan yang bermanfaat dikemasnya dengan sedikit dalildalil agama untuk mensinergikan pergaulan-pergaulan mulia.

Dari itulah tidak ada analisis khusus terhadap tipologi kewalian yang melekat pada KH. Hamim Tohari Djazuli, baik dilihat dari tingkatan Wali Ghauth, Wali Abdal, Wali Autad atau tingkatan kewalian dibawahnya. Dikisahkan, KH. Hamid Kajoran Magelang seorang Waliallah dua puluh tahun lebih tua dari KH. Hamim Tohari Djazuli jauh-jauh dari Magelang datang ke Ploso Kediri untuk bersilaturrahmi dengan KH. Hamim Tohari Djazuli. Di Ploso, KH. Hamid Kajoran disambut KH. Ahmad Djazuli Utsman sambil bertanya keberadaan KH. Hamim Tohari Djazuli. Namun KH. Ahmad Djazuli Usman menyarankan agar lebih baik jika KH. Hamim Tohari Djazuli saja yang dipanggil untuk ke Magelang mengingat usia KH. Hamid Kajoran yang lebih sepuh. Penolakan halus disampaikan oleh KH. Hamid Kajoran yang menganggap bahwa tak pantas kiranya jika memanggil KH. Hamim Tohari Djazuli untuk datang ke Magelang.

Dalam keadaan mabuk mistis KH. Hamim Tohari Djazuli pernah memperlihatkan kegaibannnya pada KH. Hamid Kajoran. Itu terjadi saat KH. Hamid Kajoran menjadi Imam sholat jamaah, ditengah-tengah sholat KH. Hamim Tohari Djazuli keluar berteriak-teriak memanggil tukang bakso. Hal itu merupakan sebuah isyarat sekaligus sindiran pada imam, karena ketika mengimami sholat, KH. Hamid Kajoran dalam keadaan lapar sambil berimajinasi pada makanan.

Penjelasan-penjelasan spiritual tentang KH. Hamim Tohari Djazuli dalam kedaan mabuk mistis banyak diterjemahkan pada keluarga Ploso melalui sahabat-sahabatnya sesama Waliallah. Misalnya saat KH. Hamim Tohari Djazuli masih usia belia dan berada dalam proses belajar, sering kali ayahandanya, KH. Ahmad Djazuli Utsman di buat pusing dengan kenakalannya.Tingginya orientasi spiritual KH. Hamim Tohari Djazuli saat itu mampu diredam oleh KH. Mubasir Mundzir Kediri pada KH. Ahmad Djazuli Utsman. Beliau menyarankan pada KH. Ahmad Djazuli Usman untuk membiarkan saja prilaku nyeleneh putranya dikarenakan pada diri KH. Hamim Tohari Djazuli terdapat karomah dari Syekh Abdul Qadir Jailani

Prilaku irasional lainnya dari KH. Hamim Tohari Djazuli adalah saat memilih jodoh yang akan mendampingi perjalanan hidupnya. Proses perjodohan pertama terjadi saat KH. Hamim Tohari Djazuli berusia tujuh belas tahun.Saat itu dia dijodohkan oleh KH. Ahmad Djazuli Utsman dengan Zaenab , putri Kyai Muhammad ( kakak ipar KH. Ahmad Djazuli Utsman saat menikah dengan Nyai Hannah) dari dusun Karangkates, Desa Bendo, kecamatan Mojo kota Kediri.

Malam pertama dilaluinya tidak sebagaimana layaknya para pengantin yang sedang memadu kasih, karena setelah resepsi pernikahan KH. Hamim Tohari Djazuli kembali hidup mengembara. Tidak kurang selama enam bulan dari pernikahannya KH. Hamim Tohari Djazuli tidak pernah kumpul dengan istrinya. Merasa kasihan dengan Zainab, KH. Ahmad Djazuli Utsman dan kyai Muhammad memutuskan untuk mengakhiri pernikahan KH. Hamim Tohari Djazuli dengan Zainab.

Lalu kurang lebih selama dua tahun setelah perceraiannya dengan Zainab, baru KH. Hamim Tohari Djazuli bertemu dengan jodoh pilihannya sendiri. Pertemuan itu terjadi ketika KH. Hamim Tohari Djazuli gemar berziarah ke makam Waliallah Kyai Wasil Syamsuddin Setonogedong. Meskipun pada mulanya sejak kecil KH. Hamim Tohari Djazuli sering ziarah ke Setonogedong, namun pertemuan baru terjalin dua tahun setelah perpisahannya dengan Nyai Zainab.

Perempuan Setonogedong tersebut adalah Lilik Suyati. Dia anak perawan dari Pak Samin, Dansek Setonogedong. Disinilah kembali terulang bagaimana peran para ulama lain yang mencoba menganalisa dan menterjemahkan prilaku unik dan nyeleneh KH. Hamim Tohari Djazuli. Sebagaimana layaknya tradisi dalam keluarga Kyai yang memiliki pesantren besar, seyogyanya putranyapun harus memilih istri dari komunitas pesantren pula. Namun hal ini tak berlaku bagi KH. Hamim Tohari Djazuli. Dia yang mempunyai keinginan untuk memperistri Lilik Suyati, putri dari seorang anak anggota kepolisian, harus mengalami penolakan dari keluarga besar pondok pesantren Al-Falah Ploso.

Niat baik KH. Hamim Tohari Djazuli untuk memperistri Lilik Suyati ini kemudian dijelaskan oleh tiga sahabatnya, yaitu KH. Abdul Majid Ma‟rof Kedunglo, KH. Mubasir Mundzir Bandar Kidul Kediri, dan KH. Hamid Kajoran Magelang kepada ayahandanya, KH. Ahmad Djazuli Usman. Ketiganya memberikan saran pada KH. Ahmad Djazuli Usman bahwa Lilik Suyati inilah yang akan menjadi jodoh KH. Hamim Tohari Djazuli di dunia dan akhirat.

Setelah mendapatkan pesan dan isyarat dari ketiga ulama besar tersebut, keluarga besar Ploso pada akhirnya bisa menerima keputusan KH. Hamim Tohari Djazuli untuk menikahi Lilik Suyati. Lalu KH. Zaenuddin Djazuli (kakak tertua KH. Hamim Tohari Djazuli) berangkat ke Setonogedong melamar Lilik Suyati sebagai istri KH. Hamim Tohari Djazuli. Pernikahan terakhir ini di karuniai tujuh putra-putri, namun putra kelima meninggal saat masih kecil, dan tersisa enam putra-putri hingga sekarang, yaitu: Tajuddin Heru Cokro, Tsabut Panoto Projo, Tijani Robert Saifun Nawas, Orbar Sadewo Ahmad, Fitria Tahta Lafina dan terakhir Riyadin Danis Fatusunnah.

Kehidupan berumah tangga dan memiliki putra ternyata bukan sebuah jaminan mengubah pola hidup KH. Hamim Tohari Djazuli pada kehidupan normal. Keluarga baik istri ataupun anak-anaknya selalu mencari dan mengikuti kabar ke manapun KH. Hamim Tohari Djazuli berada. Meski tanpa hasil, mereka terus mencari dimana keberadaan KH. Hamim Tohari Djazuli.

Putra kedua KH. Hamim Tohari Djazuli, Gus Sabut, menuturkan bahwa dulu ia dan saudara-saudaranya pernah mengikuti jejak KH. Hamim Tohari Djazuli di Tulungagung. Kira-kira selama sepuluh tahun lamanya mereka berada di Tulungagung. Mencari dan mencoba mengikuti jejak ayahnya dengan tidak memiliki modal hidup sendiri, melainkan numpang di kediaman santri KH. Hamim Tohari Djazuli. Dari ketidak jelasan mengikuti KH. Hamim Tohari Djazuli yang selalu berpindah-pindah kota, akhirnya ibu Hj Rodhiyah (ibu KH. Hamim Tohari Djazuli) membangun rumah untuk istri KH. Hamim Tohari Djazuli dan anak-anaknya di Ploso. Rumah tersebut ditempati oleh ibu Hj. Lilik Suyati di samping pesantren al-Falah Ploso hingga sekarang.

Sakit dan Wafatnya Gus Miek

Sejak pertengahan tahun 1992, KH. Hamim Tohari Djazuli tidak diketahui keberadaannya. Hampir satu tahun hingga pertengahan tahun 1993, KH. Hamim Tohari Djazuli menghilang dari pergaulan dengan para jamaah, keluarga, anak dan istrinya. Hanya orang-orang terdekat saja yang tahu di mana KH. Hamim Tohari Djazuli berada. Diantaranya adalah Mas Nur Bandar, seorang supir pribadi KH. Hamim Tohari Djazuli dan Gus Ali Muhammad, sahabat yang selalu setia mengatur dan mengurusi segala keperluan KH. Hamim Tohari Djazuli saat terbaring lemah dan sakit di Rumah Sakit Budi Mulia Surabaya.

Penjagaan ketat, rahasia serta larangan KH. Hamim Tohari Djazuli untuk memberitahukan keberadaannya yang sedang terbaring lemah karena sakit tidak hanya diberlakukan bagi santri-santrinya, tapi juga bagi istri dan putraputrinya. Keluarga besar Ploso pun tidak bisa bertemu KH. Hamim Tohari Djazuli. Gus Munif (adik KH. Hamim Tohari Djazuli) lebih dari tujuh kali ke Surabaya tidak mendapatkan izin KH. Hamim Tohari Djazuli untuk bertemu dengannya. Kerahasian benar-benar dijaga oleh KH. Hamim Tohari Djazuli. Hingga ia memalsukan identitas dirinya dengan nama Edi.

Dua bulan sebelum KH. Hamim Tohari Djazuli wafat, Gus Sabut (putra KH.Hamim Tohari Djazuli) sering bermimpi berjumpa dengan ayahnya. Pertanda kepergian selamanya KH.Hamim Tohari Djazuli selalu saja hadir dalam mimpi Gus Sabut ditiap malamnya. Isyarat kepergian KH. Hamim Tohari Djazuli juga dirasakan oleh Gus Munif pada hari Jum‟at malam sekitar jam 22.00 WIB.

Satu hari sebelum KH. Hamim Tohari Djazuli wafat, Gus Munif datang ke kediaman Mas Nur. Layaknya adab seorang santri pada Kyainya, Mas Nur mengajak Gus Munif masuk ke dalam rumah, tapi Gus Munif menolak dan mengajak Mas Nur keluar rumah sambil membisikan bahwa besok KH.Hamim Tohari Djazuli akan pulang. Mas Nur mengangguk dan Gus Munif pergi. Anggukan Mas Nur tersebut bukan berarti paham dengan apa yang dikatakan oleh Gus Munif. Anggukan itu pertanda bingung dengan apa yang dimaksud oleh Gus Munif. Padahal pada satu hari sebelumnya, tepatnya di hari jum‟at pagi, Mas Nur pergi ke Surabaya dan bertemu dengan KH. Hamim Tohari Djazuli. Di Surabaya itu KH. Hamim Tohari Djazuli menitip pesan pada Mas Nur untuk menyampaikan kabar pada keluarga Ploso bahwa dirinya baik-baik saja.

Pesan selanjutnya yang semakin tidak mengerti oleh Mas Nur dari KH. Hamim Tohari Djazuli adalah bahwa keesokan harinya beliau akan menelponnya.Ternyata benar, tepat di hari Sabtu tanggal 3 juni 1993 jam 12.00 WIB KH. Hamim Tohari Djazuli menelpon Mas Nur, ditengah-tengah pembicaraan digantikan oleh perawat dan menyatakan kondisi pak Edi (KH. Hamim Tohari Djazuli) semakin menurun, akhirnya sekitar jam 15.00 WIB KH. Hamim Tohari Djazuli benar-benar menghembuskan nafasnya yang terakhir untuk berjumpa dengan Kekasih Abadi.

Kabar meninggalnya KH. Hamim Tohari Djazuli disampaikan Mas Nur ke Ploso, orang pertama yang ditemui olehnya adalah ibu Nyai Rodhiyah (ibu KH. Hamim Tohari Djazuli). Dengan gugup dan khawatir untuk menyampaikan berita wafatnya KH. Hamim Tohari Djazuli, ternyata Nyai Rodhiyah sudah tahu akan berita itu. Kabar meninggalnya KH. Hamim Tohari Djazuli terus disampaikan Mas Nur kepada kakak-kakak KH. Hamim Tohari Djazuli hingga adik-adiknya.

Jenazah KH. Hamim Tohari Djazuli datang dari Surabaya langsung dibawa ke kamar Nyai Rodhiyah sekaligus dimandikan dikamar itu. Hal itu dilakukan saat melihat keadaan diluar dimana ribuan santri KH. Hamim Tohari Djazuli dari berbagai daerah datang ke Ploso.Tidak memungkinkan kiranya bila jenazah KH. Hamim Tohari Djazuli dimandikan diluar ruangan. Dengan lantunan gema sholawat dan puji-pujian untuk Allah SWT dan Rasulnya, KH. Hamim Tohari Djazuli diantar ribuan santri, penggemar, pejabat, tokoh elit, dan Kyai-kyai tersohor yang kesemuanya antri berdesakan untuk mengantar KH. Hamim Tohari Djazuli ke tempat persitirahatannya yang terakhir, yaitu komplek makam Tambak.

Dzikrul Ghofilin

Dzikrul ghofilin pertama kali didirikan oleh KH Hamim Djazuli atau Gus Miek. Dzikrul ghofilin yang dikonsep oleh Gus Miek sangat berbeda dengan tarekat. Tarekat merupakan sekelompok orang yang terhimpun dalam suatu wadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berikrar (bai’at) yang dibimbing langsung oleh seorang mursyid. Biasanya tarekat terdiri dari mursyid, murid, dan pengikut tarekat serta mempunyai kitab-kitab rujukan dan metode zikir.

Sejarah dzikrul ghofilin tidak terlepas dari kegiatan zikir sebelumnya yaitu zikir layliyah. Zikir layliyah sudah diamalkan terlebih dahulu oleh Gus Miek dan pengikutnya sebelum nama dzikrul ghofilin muncul. Isi dari zikir layliah diyakini sama dengan isi dari dzikrul ghofilin, kecuali syair-syair pada akhir dzikrul ghofilin. Dapat dikatakan sama karena amalan ini sudah dilakukan sejak Gus Miek masih melakukan zikir layliyah. Ada pendapat lain mengatakan bahwa ajaran dzikrul ghofilin merupakan penyempurna dari zikir layliyah atau dapat dikatakan bahwa ajaran dzikrul ghofilin merupakan penyempurna dari zikir tersebut. setelah kurun waktu empat tahun (1971-1973) Gus Miek mulai mencetak lembaran dari tulisannya bersama KH. Ahmad Shiddiq. Karena pada waktu itu yang mempunyai percetakan ialah KH. Ahmad Shiddiq.

Penyebaran dzikrul ghofilin dilakukan diwilayah Jember oleh KH. Ahmad Shiddiq atas perintah Gus Miek. Pada waktu itu sempat terjadi silang pendapat dari pengikut Gus Miek terkait dengan kepemimpinan dzikrul ghofilin. Gus Miek menyebarkan dzikrul ghofilin mulai dari Jember, Surabaya, Tulungagung dan baru sekitar Sembilan tahun setelahnya menyebarkan di Kediri pada tahun 1982. Meskipun jemaah belum mendapatkan ijazah, bagi Gus Miek tetap boleh mengamalkan amalan tersebut. Dalam dzikrul ghofilin yang ditekankan adalah rasa senang dan keistiqomahan dalam mengikutinya.

Seiring berjalannya waktu terdapat konflik terkait imam dzikrul ghofilin dari dalam jemaah. Ada tiga kelompok yang berbeda menurut Maisikinuddin Ali perihal siapa pencetus pertama dari dzikrul ghofilin. Pada kelompok pertama, meyakini bahwa dzikrul ghofilin murni dari hasil pemikiran KH. Hamim Djazuli. Karena dilihat dari sejarahnya, sebelum ada dzikrul ghofilin, Gus Miek sudah mengajari para pengikutnya melakukan zikir yang disebut dengan jemaah layliyah.

Kelompok kedua, mereka meyakini bahwa dzikrul ghofilin dicetuskan dari pemikiran tiga tokoh, Gus Miek, KH. Ahmad Shiddiq, dan KH. Hamid Pasuruan. Pendapat ini mempunyai rujukan dari buku dzikrul ghofilin pada edisi tertentu dibawah koordinasi FORISKA (Forum Komunikasi Keluarga Alumni PPI As-Shiddiq). Dalam buku tersebut tercantum text pidato dari KH. Ahmad Shiddiq tentang perumusan dzikrul ghofilin. Pada pidato tersebut KH. Ahmad Shiddiq menjelaskan bahwa dzikrul ghofilin diramu oleh tiga orang dengan berbagai proses. Kelompok ketiga, kelompok yang bersifat netral, mereka meyakini bahwa amalan ini baik dan tidak menghiraukan kedua pendapat tersebut. Dzikrul ghofilin adalah doa baik tanpa harus mempermasalahkan sejarahnya.

Sejarahnya dalam penerbitan buku dzikrul ghofilin Gus Miek meminta hanya mencantumkan nama KH. Ahmad Shiddiq, dan tidak perlu mencantumkan nama Gus Miek. Hal ini terdapat dua kemungkinan, pertama ini merupakan strategi dakwah Gus Miek, karena saat itu orang banyak yang sinis terhadap Gus Miek akibat perilakunya yang sering bergaul di kafe-kafe dan tempat pelacuran, dan orang lebih kenal dan mau menerima KH. Ahmad Shiddiq sebagai Ulama’ dan sesepuh Nahdlatul Ulama’. Kedua, ini memang sifat dakwah Gus Miek yang selalu menyembunyikan identitasnya ketika berbuat baik walupun sekecil pun semenjak lahir.

Dalam mengkonsep dzikrul ghofilin, Gus Miek tidak main-main dan membutuhkan proses yang lama. Pada suatu kosempatan Gus Miek mengungkapkan secara berani bahwa beliau menjamin keselamatan kepada para pengamal dzikrul ghofilin dan beliau berjanji bahwa siapa saja yang mengamalkannya kelak akan dikumpulkan bersama dengan para auliya’ dan orang-orang shaleh. Dekatlah dengan Allah, namun kalau tidak bisa, dekatlah dengan orang-orang yang dekat dengan Allah. Dari keterangan tersebut, Gus Miek menekankan pentingnya tawasul dalam meraih kedekatan kita kepada Allah. Adapun yang dilakukan disini yakni dengan berzikir (mengingat). Arti tawasul di dalam kitab dzikrul ghofilin sendiri yaitu dengan membaca al-fatihah, Asma’ alHusna, ayat kurssi, tahlil dan shalawat kepada nabi dan keluarga nabi, auliya’, para orang-orang shaleh dan kaum muslimin. Seringkali waliyullah mendapatkan sodoran doa dan kiriman dari para pengikutnya yang senantiasa mengagungkan dan menghormatinya, menjadikannya perantara dalam meminta pertolongan kepada Allah.

Ajaran Gus Miek menekankan tentang pentingnya sebuah wasilah. Rahasia pelaksanaan tawasul menurut KH. Maksum terdapat lima hal: pertama, tidak beranggapan bahwa para nabi atau wali yang ditawasuli menjadi tempat memohon, tetapi hanya Allah-lah tempat meminta dan mengabulkan permohonan. Kedua, seseorang yang merasa dirinya penuh dosa, sering berbuat maksiat maka akan lebih bak jika mereka melalui perantara (wasilah) para wali yang paling berhak dikabulkan permohonannya. Ketiga, cara yang etis dalam berdoa dan memohon kepada Allah adalah dengan tawasul. Keempat, sebagai makhluk kita harus mematuhi segala peraturan Allah. Kelima, sudah menjadi keniscayaan bahwa Allah memberikan segala sesuatu melalui perantara sesuatu.

Orang-orang yang dikirimi al-Fatihah dalam dzikrul ghofilin menurut Gus Miek di akhir kelak akan diikuti oleh para pengikutnya, sebagaimana yang di dawuh-kan Gus Miek “ulama sesepuh sing difatihahi kalih tiyang-tiyang sing tertera, tercantum dalam dzikrul ghofilin, niku sing badhe kulo penjenengan dhereki fil akhirat”. Ulama yang dimaksud Gus Miek tersebut berjumlah lebih kurang 48 orang mencakup tokoh-tokoh sufi dalam aqidah Islam seperti alBustami, al-Muhasibi, Junaid al-Baghdadi, Suhrawardi, al-Hallaj, tokoh-tokoh sufi dalam tarekat seperti Abdul Qadir al-Jilani, An Naqsabandi, Ar-Rifa’I, tokohtokoh sufi dari Iran seperti Ibrahim bin Adham, As-Syari Asyaqati, san Ma’ruf alKharkh, serta tokoh-tokoh sufi dari Mesir dan Syam.

Ajaran tentang tawasul dalam dzikrul ghofilin tidak terlepas dari adanya ajaran tentang tabarruq. Tabarruq merupakan upaya pencarian keberkahan. Gus Miek mengajarkan ajaran tabarruq dalam dzikrul ghofilin dengan tiga cara: pertama, dengan memperbanyak mengirimi al-Fatihah, Asma’ al-Husna, ayat kursi, tahlil, dan shalawat. Kedua, mencari keberkahan dari pembacaan zikir dalam dzikrul ghofilin, contohnya fadhilah pembacaan surat al- Fatihah. Ketiga, mendoakan kepada kaum muslimin dan muslimat. Keempat, berkumpul dalam sebuah wadah mencari keberkahan, seperti majelis zikir. Kelima, mencari keberkahan dari makam auliya, karena makam auliya merupakan tempat dikabulkannya doa.

Menurut Gus Miek, dzikrul ghofilin merupakan sebagai hiburan masyarakat. Karena sebagai hiburan maka yang hadir dan ikut serta dalam majelis tersebut akan merasa bahagia dan tenang, sesuai dengan makna dzikrul ghofilin sendiri yaitu “mengingat sampai lupa”. Maksudnya adalah mengingat zikir sampai lupa pada kesibukan-kesibukan dunia hal tersebut dimaksudkan agar lebih fokus untuk mengingat Allah.

Related posts