Biografi Singkat KH. Alawy Muhammad, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Seluruh Indonesia

Biografi KH. Alawy Muhammad | Biografi Singkat KH. Alawy Muhammad | Profil KH. Alawy Muhammad | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com | 

Biografi Singkat KH. Alawy Muhammad : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

KH. Alawy Muhammad yang dikalangan masyarakat dikenal dengan Kyai Alawy lahir di Desa Karongan Tenggumung Sampang pada tahun 1928. Beliau adalah putra dari Kyai Muhammad Rofi’i dari Batu Ampar Pamekasan dengan Ibu Fatturiyah dari Karongan Tenggumung Sampang, dan masih mempunyai garis keturunan dengan Kyai dari Batu Ampar, Kyai Husein dari pondok pesantren Batu Ampar, Pamekasan.

Masa remajanya lebih banyak dihabiskan untuk merantau. Pada usia 16 tahun beliau sudah merantau ke Jawa. Pada awalnya merantau ke Jember, Jawa Timur. Hal ini dikarenakan hasil sawah kedua orang tuanya tidak mencukupi untuk menghidupi seluruh keluarganya.

Ketika di Kabupaten Jember, KH. Alawy Muhammad atau sering dipanggil Alawy ketika masih muda, mengajak kedua orang tuanya. Di Kabupaten Jember, Alawy tinggal di Kecamatan Balung dan Kecamatan Kencong. Di sana beliau berdagang. Biasa membeli kain tenun dari Pasuruan, lantas beliau jual ke desa-desa di Jember. Ketika itu, orang tuanya tinggal di Desa Mloko, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Jember.

Pada usia 20 tahun, Alawy menikah dengan seorang gadis asal Pasuruan yang sangat santun dan sholihah bernama Karimah. ketika itu umur Karimah 16. Pernikahannya berjalan langgeng. Beliau dikaruniai 12 anak, tetapi anak perempuannya yang nomor dua meninggal dunia ketika masih kecil. Kini anaknya tinggal 11 orang. Setelah menikah Alawy menetap di Malang sampai adiknya KH. Ma’mun Muhammad pendiri pondok pesantren At-Taroqi meninggal pada tahun 1973.

Setelah adiknya meninggal, Alawy Muhammad kembali ke Sampang untuk meneruskan perjuangan adiknya dalam mengasuh Pondok Pesantren peninggalan adiknya yaitu Pondok Pesantren At-Taroqi. Dalam kepemimpinanya KH. Alawy Muhammad mempunyai karisma yang sangat besar, beliau sangat disegani oleh masyarakat dan para santri yang belajar di Pondok Pesantren At-Taroqi.

Selain karisma yang dimiliki oleh KH. Alawy Muhammad, beliau juga dikenal dengan Istiqomahnya, beliau mempunyai beberapa keistiqomahan yang setiap hari dilakukan, yaitu selalu memakai jubah dan sorban ketika hendak salat. Di mana pada umumnya, cukup mengenakan pakaian yang bersih dan suci.

Pada masa Alawy Muhammad atau lebih dikenal dengan KH. Alawy Muhammad setelah menjadi pengasuh pondok pesantren At-Taroqi, pondoknya masih berupa gedek, belum ada mesin diesel untuk menyedot air dari sungai. Untuk mandi dan wudhu, para santri harus memikul air dari sungai. Santri melakukan kegiatan tersebut tanpa rasa mengeluh. Menurutnya, hidup di pondok harus penuh keikhlasan. Oleh karena itu, KH. Alawy Muhammad tidak mau memungut uang gedung kepada para santri.

Pondok pesantren At-Taroqi yang berlokasi di Desa Karongan Tanggumung Sampang Madura didirikan pada tahun 1968 oleh KH. Ma’mun Muhammad, adiknya. Misi yang melandasi adalah untuk mengembangkan ajaran Islam lewat pendidikan. Melalui lembaga pendidikan pondok pesantren, agama Islam dapat menyebar di kalangan masyarakat bawah, sekaligus dapat membekali masyarakat bawah ilmu agama.

Keinginan pendiri membekali masyarakat bawah dengan ilmu agama ini, sekarang dapat dirasakan hasilnya. Anggota masyarakat yang meninggalkan salat (tarikus shalah) semakin kecil jumlahnya. Tidak salah kiranya, pondok pesantren ini diberi nama At-Taroqi yang berarti peningkatan, memang untuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah. Dengan didirikan pondok pesantren At-Taroqi, pengetahuan keagamaan masyarakat sekitar meningkat, demikian pula nilai moral mereka juga meningkat. Sehingga sekarang, mereka cenderung meninggalkan hal-hal yang bersifat negatif dan sebaliknya cenderung lebih suka melakukan halhal yang positif. Imbasnya sekarang, perekonomian masyarakat sekitar pondok pesantren baik di bidang pertanian maupun perdagangan pun jauh lebih baik dibandingkan sebelum ada pondok pesantren.

Setelah KH. Ma’mun wafat, kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan oleh KH. Alawy Muhammad hingga sekarang. Sejak berdiri hingga sekarang, pengelolaan pondok pesantren At-Taroqi menganut manajemen “tradisional” dengan figur sentral seorang Kyai. Status kepemilikannya adalah milik keluarga kyai secara turun-temurun dan kepengurusannya juga dilakukan oleh keluarga kyai.

Pendidikan sekolah yang diselenggarakan di pondok pesantren At-Taroqi adalah tingkat tamhidi dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), meskipun hanya sampai pada tingkat ibtidaiyah, alumni dari pondok pesantren At-Taroqi dikenal oleh masyarakat luas memiliki kelebihan dalam ilmu fiqih. Hal ini dapat dimaklumi, karena kitab-kitab yang dijadikan literatur adalah kitab-kitab besar. Misalnya, Kitab Bajuri Sarah dan Kitab Taqrib sudah dibaca di kelas empat ibtidaiyah. Sebagai perbandingan, di beberapa pondok pesantren di Jombang Kitab Taqrib dijadikan sebagai bahan literatur di tingkat tsanawiyah atau aliyah dan Kitab Bajuri hanya dikaji dalam pengajian weton oleh santri-santri dewasa yang pada umumnya sudah tamat aliyah.

Metode pengajaran yang diterapkan KH. Alawy Muhammad dalam mengembangkan Pondok pesantren At-Taroqi, menggunakan cara sorogan dan dengan model kelas. Pengajaran kitab-kitab klasik atau yang kemudian disebut dengan kitab kuning dilakukan melalui metode sorogan dan bandongan. Metode sorogan adalah metode dimana santri menyodorkan sebuah kitab kepada kyai untuk dibaca di hadapannya, kesalahan pada bacaan langsung dibetulkan oleh kyai. Istilah sorogan berasal dari kata “sorog” (Jawa) yang berarti menyodorkan kitab kepada kiai. Metode ini dapat disebut sebagai proses belajar individual. Sedangkan bandongan adalah metode dimana seorang kyai membacakan dan menjelaskan isi sebuah kitab, dikerumuni oleh sejumlah santri, masing-masing memegang kitabnya sendiri, mendengar, menyimak dan mencatat keterangan kyai.

Metode sorogan berbeda dengan bandongan. Dalam bandongan pengetahuan santri tentang tata bahasa Arab dianggap cukup, sehingga acara ini diadakan untuk mereka yang sudah memperoleh pemahaman dasar tentang bahasa Arab dan Al-Qur’an. Sebaliknya, sorogan diberikan kepada siapa saja yang ingin mendapatkan penjelasan yang lebih detil tentang berbagai masalh yang dibahas dalam sebuah kitab.

Pondok yang dikelola KH. Alawy Muhammad, dahulu khusus menerima santri putra. Baru pada tahun 1981 beliau mulai menerima santri putri, atas permintaan para wali murid yang ingin memondokkan putrinya di pesantren tersebut. Sebelum menerima santri putri, beliau juga meminta pendapat kepada Syeikh Yasin Al Padangi, salah satu ulama di Mekah, dan Syeikh tersebut menyetujuinya.

Sekarang, santri yang mendalami ilmu agama di pondok pesantren yang di asuh KH. Alawy Muhammad berjumlah kurang lebih 1.403 santri yang terdiri dari 950 santri putra dan 453 santri putri. Di pondok pesantren At-Taroqi semua santri wajib tinggal (mukim) di pondok pesantren. Para santri putra yang berjumlah 950 orang itu belajar di tingkat tamhidi sebanyak 200 santri dan di tingkat MI sebanyak 750 santri. Sedangkan santri putri yang berjumlah 453 orang itu dibagi menjadi santri tingkat tamhidi sebanyak 150 orang dan MI sebanyak 303 orang. Asal para santri mayoritas dari Madura ada pula yang dari pulau Jawa, khususnya Jawa Timur. Para santri tersebut dibimbing oleh lima orang Kyai, tiga orang Nyai, 27 ustadz dan enam ustadzah. Para ustad yang mengajar di pondok pesantren At-Taroqi berasal dari daerah setempat.

Hubungan KH. Alawy Muhammad dengan santri-santrinya seperti hubungan antara bapak dan anak. Selain dianggap sebagai guru mengajar pengetahauan agama, KH. Alawy Muhammad juga dianggap bapak atau orang tuanya sendiri oleh santri. Mereka menempatkan KH. Alawy Muhammad sebagai seorang bapak yang luas jangkauan pengaruhnya kepada para santri dan seorang yang disegani, dihormati, dipatuhi dan menjadi sumber petunjuk ilmu pengetahuan. Karena kewibawaan KH. Alawy Muhammad, santri tidak pernah membantah apa yang dilakukan dan diperintahkan oleh KH. Alawy Muhammad.

Mengenai pendidikan KH. Alawy Muhammad, beliau belajar agama kepada ulama-ulama besar di Mekah ketika menunaikan haji. KH. Alawy Muhammad menunaikan ibadah haji sebanyak tiga kali, tahun 1955, 1970, dan 1985. Selama di Mekah itulah KH. Alawy Muhammad belajar kepada Sayyid Alawy Abbas alMaliky al-Hasany, Sayyid Amin, Seikh Yasin Al Padangi, dan masih banyak lagi gurunya yang lain. Baginya, belajar langsung kepada ulama-ulama besar itu, lebih dari cukup. Dari mereka beliau belajar kitab-kitab karangan ulama besar.

Selain belajar kepada ulama di Mekah, sebelumnya KH. Alawy Muhammad pernah belajar mengaji kepada pamannya, Kyai Ali Wafa, Kyai Haji Damanhuri pengasuh pondok pesantren Duak Putih Sampang, dan ayahnya sendiri. Baginya, kedudukan ilmu agama itu yang paling penting, karena ilmu agama merupakan kunci kehidupan. Ilmu kedokteran, ilmu ekonomi, ilmu politik itu juga ilmu agama. Ilmu politik itu fardu ain, sedangkan ilmu ekonomi dan ilmu kedokteran itu fardu kifayah. Menurutnya, tujuan semua ilmu itu untuk kemaslahatan umat. Hanya derajatnya yang berbeda.

Selain sebagai pemimpin pondok pesantren At-Taroqi, KH. Alawy Muhammad juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Sering ada orang yang datang kepada beliau untuk meminta nasehat. Pada banyak kasus, peran kyai dalam masyarakat pedesaan tidak hanya terbatas pada persoalan-persoalan yang menyangkut keagamaan. Di tengah kebudayaan yang didominasi ketokohan kyai, berbagai masalah sehari-hari menyangkut urusan rumah tangga, perjodohan, perekonomian, bahkan pengobatan sering menempatkan kyai sebagai tumpuan. Hal ini tentu saja melahirkan hubungan emosional yang diliputi ketergantungan dengan tingkat kepercayaan yang tidak perlu dipertanyakan.

Ketaatan mutlak sebagai sikap sami’na wa atha’na (mendengar dan mengimaminya dengan penuh ketaatan) yang diberikan oleh santri dan masyarakat terhadap kyai, memunculkan sebuah penghormatan yang berlebihan terhadap kyai yang dipercaya berkharisma tinggi.

Keterlibatan KH. Alawy Muhammad dalam Dunia Perpolitikan

Sebagai pemimpin agama, kyai memiliki pengaruh yang cukup dominan yang diakui kepemimpinanya oleh masyarakat. Kenyataan yang ada pengaruh kyai di mata masyarakat tidak hanya terlibat dalam urusan ritual keagamaan, hampir semua persoalan kehidupan masyarkat dikonsultasikan kepada kiainya. Oleh karena itu, sangat wajar jika kiai sangat berpeluang untuk ikut terlibat dalam dunia perpolitikan. Hal ini tidak terlepas dari definisi kyai yaitu pemimpin nonformal sekaligus pemimipin spiritual, dan posisinya sangat dekat dengan kelompok-kelompok masyarakat lapisan bawah di desa-desa.

Sebagai pemimpin masyarakat, kyai memiliki jema’ah komunitas yang diikat oleh hubungan keguyuban yang erat dan ikatan budaya paternalistik. Petuah-petuahnya selaku didengar, diikuti dan dilaksakan oleh jamaahnya. Jelasnya, kyai menjadi seorang yang dituakan oleh masyarakat, atau menjadi bapak masyarakat terutama masyarakat desa.

Kyai mempunyai posisi yang sangat kuat dalam masyarakat. Bahkan, kyai dapat mempengaruhi masyarakat dengan karisma yang dimiliki. Terdapat bebera faktor yang mendukung posisi kuat kyai dalam masyarakat yaitu, pertama, kyai adalah orang berpengetahuan luas yang kepadanya penduduk desa belajar pengetahuan. Kepandaian dan pengetahuan yang luas tentang Islam menyebabkan kyai selalu mempunyai pengikut, baik para pendengar informal yang senantiasa menghadiri pengajian atau ceramahnya, maupun para santri yang tinggal di pondok pesantrennya. Kedua, kyai biasanya berasal dari keluarga yang berada. Dengan kekayaanya, kyai mengadakan pola patronase yang menghubungkannya dengan orang-orang tertentu dalam masyarakat. Dengan kedua faktor ini, kyai dapat mempunyai pengikut atau santri yang banyak.

Kyai sebagai elite agama yang juga sekaligus sebagai pemimpin informal dalam sejarahnya, selalu terlibat dalam kegiatan politik, baik ditingkat desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, hingga tingkat pusat pemerentihan negara. Hal ini disebabkan, karena kyai terlibat dalam peran-peran sosial untuk kepentingan masyarakat. Selain itu, keterlibatan politik kyai juga dugunakan sebagai media mereka untuk berdakwah.

Di sini sengaja dipilih untuk memilih kata “terlibat”, bukan “partisipasi”. Hal ini memberikan penegasan, agar mendekati ketepatan makna sehubungan dengan kedudukan kyai dalam masyarakat, karena partisipasi lebih memberi nuansa aktif dan dilakukan dengan kesengajaan. Sedangkan istilah “terlibat” menggambarkan, bahwa kyai sesungguhnya tidak aktif dan tidak sengaja ikut mengambil bagian. Akan tetapi, karena posisinya sebagai pihak yang memiliki pengaruh, maka dilibatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan kepentingan politik. Akibatnya, sebagai pemimpin umat yang memiliki banyak pengikut, kyai dianggap potensial untuk mengarahkan massa kepada organisasi politik tertentu. Oleh karena itu, kyai seringkali diperebutkan oleh berbagai kepentingan untuk memperoleh massa dan jumlah suara pada saat pemilu.

Dalam konteks kepartaian, KH. Alawy Muhammad pernah aktif menjadi juru kampanye PPP di Kabupaten Sampang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP). Menurut KH. Alawy Muhammad, ilmu politik itu fardu ain atau wajib hukumnya bagi umat Islam. Di samping itu, ilmu politik juga merupakan fondasi agama. Oleh karena itu, menurut KH. Alawy Muhammad dengan ilmu politik umat Islam dapat mengatur pemerintahan. Itu sebabnya sejak NU, Masyumi, PSII, dan Perti fusi menjadi PPP tahun 1973, KH. Alawy Muhammad aktif menjadi juru kampanye PPP di Kabupaten Sampang. Sebelum itu, beliau pendukung NU.

Bagi KH. Alawy Muhammad, PPP merupakan wadah umat Islam untuk berjuang di bidang politik. Sebab, PPP segaris dengan perintah Islam untuk berjuang berbuat kebajikan dan memerangi kebatilan atau yang disebut amar ma’ruf nahi munkar.

KH. Alawy Muhammad berpendapat, jika umat Islam mau berjuang lewat PPP, beliau yakin kehidupan bernegara dan berbangsa akan bernapas Islam.

KH. Alawy Muhammad menjadi juru kampanye PPP. Beliau di PPP Sampang menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP). Anaknya, Fauroq, di Nahdhatul Ulama (NU) Sampang sebagai Ketua I Syuriah NU Sampang. Meski sebagai juru kampanye PPP, KH. Alawy Muhammad tidak duduk di DPRD atau DPR. Menurutnya, kalau beliau duduk di DPR, lantas siapa yang mengontrol DPR. Pada tahun 1987, persis sehari menjelang kampanye berakhir, KH. Alawy Muhammad pernah dicekal tidak boleh berkampanye untuk PPP di Sampang. Beliau dianggap kampanyenya terlalu keras, dan juga dianggap menyerang Partai Golkar. Setelah dicekal tahun 1987, beliau masih bisa tampil lagi. Tahun 1992 KH. Alawy Muhammad masih berkampanye untuk PPP. Bahkan, kesibukannya tidak hanya untuk PPP saja. Bahkan, beliau diundang mahasiswa ITS, IAIN, Unibraw, dan UGM untuk berpidato dan dimintai pendapat tentang 21 mahasiswa yang ditahan karena demonstrasi. beliau menjawab, seharusnya pemerintah berbuat seadil-adilnya kepada mereka. Jika mahasiswa demonstrasi, itu wajar-wajar saja. Anak muda semangatnya memang penuh gelora. Harus diingat pula, bahwa menyampaikan pendapat itu memang dibolehkan. Pemerintah yang bijaksana seharusnya menerima kritik, termasuk kritik yang tidak enak sekalipun.

Pandangan Masyarakat terhadap KH. Alawy Muhammad.

Sebagaimana masyarakat patrimonial yang memegang teguh hierarki, pandangan masyarakat Madura terhadap seorang kyai, kyai merupakan seorang pemimpin keagamaan yang mempunyai peran sangat penting. Tidak hanya terbatas pada persoalan-persoalan yang menyangkut keagamaan saja. Akan tetapi, juga berbagai masalah sehari-hari menyangkut urusan rumah tangga, perjodohan, perekonomian. Bahkan, pengobatan sering menempatkan kyai sebagai tumpuan. Hal ini tentu saja melahirkan hubungan emosional yang diliputi ketergantungan dengan tingkat kepercayaan yang tidak perlu dipertanyakan. Bagi masyarakat Madura, kyai menjadi pemimpin informal yang lebih didengar petuah dan keputusannya dibanding tokoh manapun.

Kyai dengan kelebihannya, terutama pengetahuannya tentang agama Islam, seringkali dilihat sebagai orang yang dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam, dan karenanya mereka dianggap memiliki kedudukan yang tidak terjangkau, terutama oleh kebanyakan orang awam. Dalam beberapa hal mereka menunjukkan kekhususannya dengan bentuk pakaian yang merupakan simbol kealiman dan ketqwaan berupa kopiah dan sorban.

Kepatuhan kepada guru merupakan aturan yang sangat normatif yang menjadi dasar bagi setiap makhluk di dunia. Akan tetapi, bagi orang Madura, guru (kyai) merupaka jaminan masalah moralitas dan masalah-masalah ukhrawi, maka kepatuhan orang Madura kepada guru didasarkan pada alasan tersebut. Sementara ratu (pemerintah) dalam sejarah Madura banyak dipegang oleh para kyai. Dari sinilah filosofi tersebut sangat kuat dan menjadi penanda identitas kultural orang Madura. Dari filosofi ini, jelas sekali bahwa masyarakat Madura lebih patuh kepada ulama/ kyai daripada pemerintah. Karenanya, apapun upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan di Madura, sebisa mungkin dikoordinasikan dengan para ulama dan kyai di Madura. Karakteristik esensial ulama/ kyai adalah iman, ilmu dan amal yang mendalam.

Dari ketiga karakteristik itu melekat erat pada pribadi KH. Alawy Muhammad, dan sebagai ulama beliau sudah mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari masyarkat secara kultural. Beliau senantiasa melayani siapapun yang datang kepada beliau untuk belajar, baik itu dari kalangan atas maupun dari kalangan bawah. Bahkan, beliau juga meyediakan tempat bagi mereka yang ingin belajar dengan beliau akan tetapi tidak mempunyai dana untuk pulang pergi ke tempat beliau.

Keluhuran budi pekerti dan sikap sopan santun yang dimilki oleh KH. Alawy Muhammad ini telah mampu melahirkan sikap hormat, tidak saja dari para santri dan murid-muridnya melainkan juga dari masyarakat luas. Sikap ini kemudian mengukuhkan beliau Sebagai seorang tokoh ulama yang kharismtik yang mempunyai pengaruh yang sangat besar di kawasan Sampang dan sekitarnya.

Selain karisma yang dimiliki oleh KH. Alawy Muhammad, beliau juga dikenal dengan Istiqomahnya, beliau mempunyai beberapa keistiqomahan yang setiap hari dilakukan, yaitu selalu memakai jubah dan sorban ketika hendak salat. Di mana pada umumnya, cukup mengenakan pakaian yang bersih dan suci.

Bagi masyarakat, terutama para santri yang tinggal di bawah asuhan KH. Alawy Muhammad di ponpdok pesantren At-Taroqi, KH. Alawy Muhammad merupakan sosok seorang kyai yang kharismatik dan disegani oleh masyarakat di daerahnya. Beliau dikenal oleh masyarakat sebagai seorang kyai yang keseluruhan hidupnya dicurahkan untuk kegiatan-kegiatan sosial masyarakat Madura, Sampang khususnya, di samping kesibukanya sebagai pengurus pondok pesantren At-Taroqi.

Di pondok pesantren At-Taroqi, KH. Alawy Muhammad adalah orang yang sangat berperan di dalamnya. Semua santri sangat tawadlu’ dan sopan kepada beliau. Hubungan KH. Alawy Muhammad dengan santri-santrinya seperti hubungan antara bapak dan anak. Selain dianggap sebagai guru mengajar pengetahauan agama, KH. Alawy Muhammad juga dianggap bapak atau orang tuanya sendiri oleh santri. Mereka menempatkan KH. Alawy Muhammad sebagai seorang bapak yang luas jangkauan pengaruhnya kepada para santri dan seorang yang disegani, dihormati, dipatuhi dan menjadi sumber petunjuk ilmu pengetahuan. Karena kewibawaan KH. Alawy Muhammad, santri tidak pernah membantah apa yang dilakukan dan diperintahkan oleh KH. Alawy Muhammad.

Jadi, dapat dikatakan bahwa KH. Alawy Muhammad merupakan sosok orang yang kharismatik dan disegani oleh masyarakat di daerahnya. Beliau dikenal oleh masyarakat sebagai kyai yang keseluruhan hidupnya dicurahkan untuk kegiatan-kegiatan sosial masyarakat Sampang

Related posts