Biografi Singkat | Biografi KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi | Profil KH. Achmad Asrori Al Ishaqy | Pendidikan | Karya | Pemikiran |
Biografi Singkat KH. Achmad Asrori Al Ishaqy: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
KH. Ahmad Asrori Al Ishaqy dilahirkan di Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1951, beliau adalah putra ke-empat dari sepuluh bersaudara. Ayahnya bernama KH. Muhammad Utsman Al Ishaqy dan ibunya bernama Nyai Hj. Siti Qomariyah binti KH. Munadi. Jika dirunut, nasab KH. Asrori bersambung dengan Nabi Muhammad SAW pada urutan yang ke-38. Berikut silsilah nasab Kyai Asrori : Achmad Asrori al Ishaqy – Muhammad Utsman al-Ishaqi – Nyai Surati – Kyai Abdullah- Embah Dasha- Embah SalbengEmbah Jarangan – Kyai Ageng Mas- Kyai Panembahan Bagus- Kyai Ageng Pangeran Sadang Rono – Panembahan Agung Sido Mergi- Pangeran Kawis Guwa- asy-Syaikh Fadhlullah (Sunan Prapen) – asy-Syaikh Ali Sumadiroasy-Syaikh Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) – asy-Syaikh Maulana Ishaq – asy-Syaikh Ibrohim Akbar (Ibrohim Asmorokondi) – asy-Syaikh Jamaluddin Akbar (asy-Syaikh Jumadil Kubro) – asy-Syaikh Ahmad Syah Jalal Amir – asy-Syaikh Abdullah Khon – asy-Syaikh Alwi – asy-Syaikh Abdullah- asy-Syaikh Ahmad Muhajir – asy-Syaikh Isa ar-Rumi – asy-Syaikh Muhammad Naqib- asy-Syaikh Ali al-‘Iridhi- asy-Syaikh Ja’far Shodik – asySyaikh Muhammad al-Baqir – Sayyid Ali Zainul ‘Abidin – Sayyid Imam alHusain – Sayyidah Fathimah az-Zahro – Nabi Muhammad SAW.
Tanda-tanda Kyai Asrori akan menjadi seorang tokoh panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Setelah menuntut ilmu di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, Kyai Asrori muda berdakwah kepada anak-anak atau pemuda jalanan. Padahal, di rumahnya yang berlokasi di Jl. Jatipurwo, kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir, ayahnya sendiri juga masih memerlukan tenaganya untuk membantu mengajar di Pondok Pesantren Raudhatul Muta’allimin Darul Ubudiyyah yang diasuh oleh ayahnya itu.
Dengan metode dakwahnya yang unik, yaitu dengan mengikuti hobi anak-anak jalanan seperti bermain musik, nongkrong, dan sebagainya, anakanak muda tersebut sedikit demi sedikit bisa menerima ilmu yang diselipkan oleh Gus Rori –begitu Kyai Asrori muda akrab dipanggil- melalui obrolan ringan ketika mereka semua sedang berkumpul.
Meskipun dalam skala yang lebih kecil, metode dakwah semacam ini mirip dengan apa yang dulu pernah dilakukan oleh para pendakwah Islam generasi awal di Indonesia, khususnya di tanah Jawa (Wali songo). Dimana, cara Wali Songo berdakwah pada waktu itu adalah melalui proses akulturasi budaya Islam dan budaya lokal yang telah mengakar kuat di masyarakat. Mereka tak lantas langsung ‘membabat habis’ budaya-budaya lokal yang pada waktu itu bisa dibilang ‘tidak Islami’ seperti wayangan, gendingan, gendorenan, dan lain sebagainya. Namun, budaya-budaya lokal tersebut justru digunakan sebagai sarana pendekatan ataupun sarana untuk menarik minat penduduk pribumi terhadap Islam. Sehingga, setelah timbul ketertarikan dalam diri mereka, pada tahap selanjutnya, secara psiklogis mereka tentu juga akan lebih siap untuk menerima dakwah Islam.
Apa yang dilakukan oleh Kyai Rori muda pun kurang lebih juga seperti itu. Ia tak langsung melarang aktivitas-aktivitas kurang produktif – untuk tak menyebutnya: kurang bermanfaat, seperti nyangkrukan dan lainnya- yang telah menjadi kebiasaan para pemuda jalanan yang menjadi obyek dakwahnya pada waktu itu. Namun, aktivitas-aktivitas tersebut justru dijadikan oleh Kyai Rori muda menjadi semacam ‘pintu masuk’ untuk mulai mendakwahi dan membimbing mereka. Secara spesifik lagi, dalam hal ini, meskipun pelan namun pasti, mereka dibimbing agar tak hanya mau ngumpul-ngumpul dengan sesama komunitasnya sendiri saja. Namun mereka juga dibimbing agar mau ngumpul-ngumpul bersama dengan orang-orang shaleh melalui majlis dzikir.
Seiring berjalannya waktu, semakin lama semakin banyak pula pemuda yang tertarik dengan metode ataupun konsep dakwah yang dilakukan oleh Gus Rori. Hingga pada akhirnya, Gus Rori mengajak mereka untuk mengadakan majlis manaqiban dan pengajian di Gresik. Majlis yang pertama kali ini dilaksanakan di kampung Bedilan, yang di kemudian hari diadakan secara rutin pada tiap bulannya di tempat tersebut. Majlis ini diisi dengan pembacaan Manaqib Syeikh Abdul Qodir al Jilany, pembacaan Maulid, dan tanya jawab keagamaan. Majlis ini awalnya diberi nama jama’ah KACA yang merupakan akronim dari Karunia Cahaya Agung. Namun agar lebih familiar, Gus Rori menyebut anggota jama’ah KACA dengan sebutan Orong-Orong. Secara harfiah, Orong-Orong adalah binatang melata yang biasa keluar pada malam hari. Secara filosofis, pemberian nama semacam ini disesuaikan dengan perilaku anak-anak muda pengikut Gus Rori yang ratarata memang mempunyai kebiasaan keluar pada waktu malam hari. Dalam perkembangannya, nama Orong-Orong ini kemudian menjadi lebih terkenal dibandingkan dengan nama KACA. Dan jama’ah Orong-Orong inilah yang kelak, di kemudian hari ‘bermetamorfosis’ dan menjadi embrio dari lahirnya jama’ah Al Khidmah.
Meski masih muda, ketokohan Gus Rori yang kharismatik dan netral serta sikapnya yang non partisan terhadap kelompok keagamaan tertentu ataupun terhadap partai politik tertentu, pada akhirnya membuatnya disegani oleh berbagai kalangan masyarakat dari strata sosial dan kelompok yang berbeda-beda. Majlis-majlisnya bersifat inklusif serta terbuka bagi siapapun dan dari kelompok manapun. Sehingga, karena tidak adanya kesan eksklusivisme ini, tak mengherankan jika dalam majlis-majlis yang dipimpinnya, para pejabat sipil maupun pemerintahan yang notabenenya mempunyai pandangan keagamaan atau politik yang berbeda-beda, sering kali terlihat rukun serta duduk bersama-sama dalam sebuah majlis.
Pada tahun 1983, Gus Rori membuat mushola di Kelurahan Tanah Kali Kedinding. Dalam perkembangannya, ternyata banyak masyarakat sekitar yang antusias serta tertarik untuk memondokkan anak-anak mereka di kediaman baru Gus Rori itu. Akhirnya, Gus Rori mendirikan masjid dan pondok pesantren yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren As Salafi Al Fithrah.
Pada tahun 1989, Gus Rori menikah dengan ibu nyai Dra. Hj. Moethia Setjawati. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai dua orang putra dan tiga orang putri. Secara berurutan dari yang paling sulung, mereka adalah: Sierra en-Nadia, Saviera es-Salafia, Mohammad Ayn el-Yaqin, Mohammad Nur el-Yaqin, dan Sheila ash-Shabarina KH. Ahmad Asrori meningggal pada tahun 2009, tepatnya pada hari selasa tanggal 18 Agustus bertepatan dengan tanggal 26 sya’ban 1430 H. dalam usia 58 tahun, setelah menderita sakit kurang-lebih selama tiga tahun. Ia dimakamkan di masjid lama yang berada di kompleks area Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Pada bulan itu, Kyai Asrori masih sempat memimpin Haul Akbar di Pondok Pesantren Al Fithrah dengan menggunakan tabung oksigen sebagai alat bantu pernafasan yang disediakan oleh dokter pribadinya dan diletakkan di sampingnya. Selama menderita sakit berkepanjangan, Kyai Asrori tetap istiqomah menghadiri majlis-majlis dzikir yang telah puluhan tahun dibinanya di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan kegigihan Kyai Asrori dalam mensyiarkan amalan-amalan para ulama salaf shalih. Hal itu sekaligus juga merupakan wujud nyata kecintaannya kepada para jama’ahnya. Dan Haul pada tahun 2009 di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah tersebut menjadi kebersamaannya yang terakhir kalinya bersama ratusan ribu jama’ah dan santrinya.
Meninggalnya Kyai Asrori merupakan kehilangan besar bagi para murid Thariqah al-Qadiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah yang dipimpinnya dan telah tersebar hampir di seluruh Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara. Meninggalnya Guru Tarekat yang santun ini sekaligus juga meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi para pecinta dan pengagumnya yang tergabung dalam organisasi Jama’ah Alkhidmah yang dibentuknya pada tahun 2005.
Latar Belakang Pendidikan KH. Achmad Asrori Al Ishaqy
KH. Achmad Asrori hanya mengenyam pendidikan formal sampai kelas tiga Sekolah Dasar. Selanjutnya, seperti umumnya putra kyai di daerah Jawa, Kyai Asrori menimba ilmu di pondok pesantren sebagai persiapan untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dari ayahnya. Sesuai dengan keinginan ayahnya, KH. Muhammad Utsman, pada tahun 1966, pondok pesantren yang pertama kali menjadi tempat belajarnya adalah pondok pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang yang diasuh oleh KH. Dr. Musta’in Romly , yang juga seorang mursyid tarekat al-Qodiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah.
Setelah setahun menimba ilmu pada KH. Musta’in, Kyai Asrori melanjutkan studinya ke pondok pesantren di desa Tretek, Pare, Kediri yang diasuh oleh KH. Juwaini. Di pesantren ini, Kyai Asrori mengaji selama tiga tahun. Kitab-kitab yang didalami kebanyakan adalah kitab tasawuf seperti kitab Ihya Ulum al-Din karya al-Ghazali. Meski terhitung cukup singkat, namun banyak sekali kitab yang dikhatamkan oleh Kyai Asrori di pondok asuhan Kyai Juwaini ini.
Selepas dari Kediri, Kyai Asrori melanjutkan belajarnya ke Pondok Pesantren al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta, di bawah asuhan KH. Ali Ma’shum. Di pesantren ini, durasi belajar Kyai Asrori hanya mampu bertahan selama beberapa bulan saja. Selanjutnya, ia belajar di salah satu pesantren di desa Buntet, Cirebon yang diasuh oleh KH. Abdullah Abbas. Di pesantren ini, Kyai Asrori hanya belajar selama setengah tahun.
Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya
Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah adalah lembaga pendidikan Islam yang lahir, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, yang salah satu tujuannya adalah melestarikan dan mengembangkan akhlaqul karimah dan nilai-nilai amaliah salafushsholeh.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi dan informasi, serta guna memberikan landasan yang kuat dengan didikan yang akhlaqul karimah, maka dalam hidup dan kehidupan ini, pendidikan -khususnya agama Islam- dan tatanan hidup yang akhlaqul karimah sangat diperlukan untuk membentengi dan melindungi diri, keluarga khususnya anak – anak. Anak sebagai generasi penerus, dalam perkembangannya sangat membutuhkan pendidikan agama dan akhlaqul karimah sejak dini, guna melindungi diri dan kehidupannya, agar tidak terseret dalam arus globalisasi dan informasi yang menyesatkan.
Dalam rangka melindungi, membentengi dan memberikan tuntunan dan didikan agama Islam dan tata laku akhlaqul karimah, maka pada tahun 1985, Romo KH.Achmad Asrori El Ishaqy ra. merintis berdirinya Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah, yang berlokasi di jalan Kedinding Lor 99 Surabaya.
Bangunan pondok bermula dari kediaman Hadhrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy. dan musalla pada tahun 1985, dan diikuti dengan 3 santri senior Pondok Pesantren Darul ‘Ubudiyah Jati Purwo Surabaya ( Ust. Zainal Arif, Ust. Wahdi Alawy dan Ust. Khoiruddin ).
Pada tahun 1990 datanglah beberapa santri sekitar 4 santri (Abdul Manan, Ramli, Utsman dan Zulfikar ), dengan kegiatan ‘ubudiyah dan mengaji secara bandongan di musola. Dalam perkembangannya jumlah anak yang ingin mengaji dan mondok semakin banyak ( 25 orang ), sehingga pada tahun 1994 Hadhrotusy Syaikh memutuskan untuk mendirikan Pondok Pesantern dan mengatur pendidikan agama dan umum secara klasikal.
Pondok pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya semakin berkembang dan dikenal di masharakat secara luas, sehingga banyak masharakat yang memohon kepada Kyai untuk menerima santri putri. Atas dorongan itulah pada tahun 2003 Kyai membuka pendaftaran santri putri dan terdaftarlah 77 santri putri.
Seiring animo masharakat untuk memondokkan anak sejak usia dini, Pondok Pesantren assafi Al Fithrah sebagai wujud dan tanggung jawab, maka pada hari senin 3 Dzulqo’dah 1431 bertepatan dengan 11 Oktober 2010 membuka pondok pesantren usia dini untuk putra dan putri. Pendidikan di pondok pesantren Assalafi Al Fithrah dilaksanakan pada pagi hari dan siang hari, sedangkan pendidikan malam hari diperuntukkan bagi santri yang tidak menetap atau masharakat sekitar pondok yang pada pagi harinya sekolah pendidikan umum diluar pondok.
Karya-Karyanya
Kyai Asrori biasa berdakwah secara lisan melalui pengajian rutin yang diadakan setiap bulannnya di Pondok Pesantren As Salafi Al Fithrah yang dipimpinnya. Ia juga sering memberikan pengajian melalui majlis-majlis dzikir Al Khidmah yang diadakan di berbagai daerah. Selain itu, Kyai Asrori juga sangat aktif serta produktif dalam menghasilkan karya tulis. Banyak sekali buku atau kitab yang telah dikarangnya, yaitu:
- Al Muntakhobat fi Rabithah al-Qalbiyah wa-Shilat Al-Ruhiyah
Kitab ini adalah karya terbesar Kyai Asrori yang disusun selama ia menderita sakit yang pada akhirnya mengantarkannya kembali ke hadirat Allah. Kitab al-Muntakhobat terdiri dari lima jilid. Masing-masing jilidnya berisi tak kurang dari 350 halaman. Kandungannya seratus persen adalah tentang tasawuf dan tarekat yang diuraikan dengan gaya bahasa yang indah dan sangat gamblang. Dalam kitab ini juga dikupas tuntas tentang seluk-beluk dan hal-ihwal kemursyidan yang jarang diungkap oleh penulis lain pada kitab-kitab yang juga bergenre tasawuf.
Banyak ulama’ besar, terutama dari kalangan haba’ib -baik dari dalam maupun luar negeri- yang memberikan kata pengantar terhadap kitab al-Muntakhobat ini. Di antaranya adalah al-Habib Umar ibn Hamid al-Jailany, seorang ulama’ yang bermukim di kota Makkah yang juga masih keturunan langsung dari asy-Syaikh Abdul Qodir al-Jailany.
Sebagain dari kata pengantarnya yang berisi pujian kepada Kyai Asrori adalah : “Di antara sesuatu yang menjadikan kesejukan serta ketentraman hati, membuat dada menjadi lapang, dan menjadikan kami sangat gembira adalah jerih payah dan kesungguhan (dalam mengarang kitab) ini. Yakni, sesuatu yang telah dilakukan oleh seorang yang memiliki keutamaan, akhlak yang mulia dan agung, al-Alim al-rabbaniy, dimana Allah telah menghimpun hati orang-orang untuk mencintainya. Sehingga, para pengikutnya selalu mendengarkan dan mematuhi bimbingan serta tuntunannya. Kemudian mereka disatukan untuk bertakwa, berdzikir, dan mencintai Allah serta mencintai rasul-Nya, segenap keluaga, para shahabat serta orang-orang shalih. Ia adalah seorang guru mursyid yang selalu mendaki ketinggian derajat, dan telah meneguk segarnya ilmu agama dan penyucian jiwa. Ia, tak lain dan tak bukan adalah asy-Syaikh Achmad Asrori bin Muhammad Utsman al-Ishaqi”.
Kitab ini pernah dicetak sebanyak dua kali. Pertama, ketika masih terdiri dari dua jilid yang masing-masing jilidnya terdiri dari 500 halaman. Kedua, ketika kitab ini sudah mendapatkan beberapa tambahan atau revisi yang kemudian mencapai lima jilid.
- Al-Nuqthah wa al-Baqiyah al-Shalihah wa al-‘Aqibah al-Khairah wa-Al- Khatimah al-Hasanah.
Kitab ini terdiri dari dua bagian. Pertama, kitab al-Nuqthah karangan KH. Muhammad Utsman al-Ishaqy, ayahanda Kyai Asrori, yang menjelaskan tentang hakikat rabithah. Dan yang kedua adalah kitab al-Baqiyah al-Shalihah karangan Kyai Asrori yang merupakan penjelas (al-Syarh) terhadap kitab al-Nuqthah. Di dalam kitab ini terdapat tambahan penjelasan tentang permasalahan al-muraqabah dan wuquf al-qalby. Kitab ini dicetak pertama kali oleh penerbit al Wava-Surabaya pada tahun 2007.
- Al Muntakhabat fi Ma Huwa al-Manaqib (tentang Manaqib).
Kitab ini berisi tentang dalil-dalil serta argumen tentang urgensi dari mengadakan majlis manaqib. Hujjah-hujjah yang dikutip dari al-Qur’an, al-hadis, maupun pendapat para tokoh tasawuf dan tarekat yang ada dalam kitab ini pada akhirnya menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan yang biasa disebut dengan istilah manaqiban adalah satu hal yang legal secara syara’. Kitab ini dicetak pada tahun 2007 oleh penerbit al-Wava Surabaya pada tahun 2007
- Basya’ir al- Ikhwan fi Tabrid al-Muridin ‘an Hararat al-Fitan wa Inqadzihim ‘an Syabakat al-Hirman.
Kitab ini adalah kitab pertama yang dikarang oleh Kyai Asrori dan mengulas tentang t}arikat. Di dalamnya diulas tentang tatakrama apa saja yang harus dilakukan oleh seorang murid t}arikat kepada syaikh-nya dan apa yang tidak boleh dilakukan agar ia berhasil dalam menempuh perjalanan t}arikatnya. Kitab ini diterbitkan oleh percetakan as-Saqafiyyah Surabaya pada tahun 1979 atau satu tahun setelah Kyai Asrori diangkat sebagai seorang mursyid oleh ayahnya.
- Ar Risalah Asy Syafiyah fi Tarjamati Tsamrot Ar Roudhot Asy Syahiyah bi Lughot Al Maduriyah .
Kitab ini mungkin adalah kitab pertama dari karya Kyai Asrori. Di dalamnya berisi tentang tanya jawab permasalahan fikih dengan susunan bab yang sama persis dengan kitab-kitab fikih pada umumnya. Akan tetapi, sistematika penyusunannya menggunakan metode tanya jawab. Sesuai namanya, kitab ini adalah kitab terjemahan dan menggunakan bahasa Madura dengan menggunakan tulisan Arab pegon. Penggunaan bahasa Madura sebagai bahasa ysng dipilih untuk menerjemahkan, kemungkinan besar adalah karena faktor pesantren Raudhatul Muta’allimin Darul Ubudiyyah – dimana Kyai Asrori tinggal pada waktu itu- lingkungan masyarakatnya mayoritas merupakan etnis Madura. Namun demikian, semua catatan kaki serta penjelasan dalam bagian bawah kitab ini menggunakan bahasa Arab dengan mencantumkan namanama kitab aslinya sebagai sumber rujukan. Kitab ini diterbitkan oleh percetakan Assegaf Surabaya pada tahun 1976.
- Lailatul Qodar .
Kitab yang mengulas tentang lailatul qodar ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan oleh penerbit al-Wava Surabaya pada tahun 2012.
- Pedoman Kepemimpinan dan Kepengurusan dalam Kegiatan dan Amaliyah Ath Thoriqoh dan Al Khidmah.
Buku ini adalah buku putih yang mengatur keorganisasian Tarekat al-Qodiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah al-Utsmaniyyah dan jama’ah Al Khidmah yang didirikan oleh Kyai Asrori. Buku ini telah mengalami tujuh kali cetak dan diterbitkan oleh penerbit alWava Surabaya. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2005.
- Mir’ah al-Jinan fi al-Istighotsat wa al-Adzkar wa al-Da’wat ‘Inda Khotmi al-Qur’an ma’a Du’a’ Birri al-Walidain Irtibath bi alGhauts Al Jilany.
Kitab ini berisi do’a yang dibaca setiap kali mengkhatamkan al-Qur’an. Doanya sangat panjang dan rutin dibaca serta diamalkan pada momen tahunan seperti haul akbar dan malam 27 Ramadlan di Pondok Pessantren Assalafi Alfithrah. Diterbitkan pada tahun 2007.
- Al Fathah al-Nuriyyah
Kitab ini terdiri dari tiga jilid. Jilid pertama berisi wiridan yang istiqomah diamalkan oleh para pengikut tarekat al-Qodiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah al-Utsmaniyyah setiap selesai mengerjakan sholat wajib. Jilid kedua berisi tentang tuntunan sholat-sholat sunah yang dilakukan pada malam hari. Sedangkan jilid ketiga berisi tentang tuntunan sholat-sholat sunah yang dilakukan pada waktu siang hari. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2006.
- Al-Nafahat fi Ma Yata’allaqu bi al-Tarawih wa al-Witr wa alTasbih wa al-Hajat.
Ini adalah karyanya yang lain tentang amaliyah yang diamalkan khusus oleh para pengikut Tarekat al-Qodiriyyah wa alNaqsyabandiyyah al-Utsmaniyyah dan jama’ah Alkhidmah, namun khusus dibaca pada malam-malam bulan Ramadhan saja. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2006.
- Bahjah al-Wisyah fi Dzikri Nubdzah min Maulidi Khoiril Bariyah SAW
Kitab ini berisi tentang rangkaian maulid Nabi Muhammad SAW yang dibaca pada majlis-majlis dzikir yang diselenggarakan oleh jama’ah Alkhidmah. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2009.
- Al Waqi’ah al-Fadhilah wa Yasin al-Fadhilah
Berisi tentang bacaan surat al-waqi’ah dan Yasin Fadhilah beserta doanya yang dianjurkan untuk dibaca setiap hari oleh para jama’ah pengikutnya. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2007.
- Al-Anwar Al Khushushiyah al-Khotmiyyah
Berisi dzikir wajib yang harus dilaksanakan oleh para pengikut Kyai Asrori yang telah berbai’at Tarekat al-Qodiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah al-Utsmaniyyah. Kitab ini telah berkali-kali dicetak, Diterbitkan pertama kali pada tahun 1999.
- Al- Shalawat al-Husainiyah
Berisi bacaan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW yang dianjurkan untuk dibaca sesering mungkin oleh siapapun yang berkenan untuk membacanya. Kitab ini termasuk kitab best seller yang juga telah dicetak berkali-kali dan telah terjual puluhan ribu eksemplar. Dicetak sejak tahun 1990-an.
- Al Iklil fi Al Istighotsat wa Al Adzkar wa Al Da’wat fi Al Tahlil
Kitab ini berisi tentang bacaan majlis istighatsah dan berkirim do’a yang khas dilakukan oleh jama’ah Alkidmah. Telah belasan kali mengalami cetak ulang dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1989.
- Al Faidh al-Rahmani Liman Yadlillu Tahta al-Saqf al-‘Utsmani fi al-Manaqib asy-Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jilany
Kitab ini berisi tentang panduan serta petunjuk teknis dalam menyelenggarakan majlis manaqib asy-Syaikh Abdul Qodir alJailany yang dilaksanakan oleh para pengikut Kyai Asrory. Isinya tak banyak berbeda dengan kitab-kitab manaqib terbitan lainnya. Hanya saja, dalam kitab Al Faidh Ar Rohmani ini juga dilengkapi dengan tawassul, istighatsah, dan bacaan-bacaan tertentu yang menjadi ciri khas para pengikut T}arikat al-Qodiriyyah wa alNaqsyabandiyyah al-Utsmaniyyah dan anggota jama’ah Alkhidmah






