Biografi Singkat Imam Abu Dawud, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Lengkap

Biografi Imam Abu Dawud | Biografi Singkat Imam Abu Dawud | Profil Imam Abu Dawud | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Imam Abu Dawud : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Nama lengkap Imām Abū Dāwud adalah Abū Dāwud Sulaimān bin al-Asy‟as bin Ishāq al-Azdy al-Sijistāniy. Ia dilahirkan pada 202 H di Sijistani. Suatu kota di Basrah. Beliau lahir Bertepatan masa dinasti Abasiyah yang dijabat oleh khalifah alMa‟mun. Azdiy adalah sebuah suku besar di Yaman yang merupakan bakal tunas imigrasi kekota Yasrib (Madinah) dan merupakan inti kelompok al-Anshar (penerima) di Madinah. Sedangkan kata al-Sijistani memberikan tanda bahwa beliau berasal dari daerah tersebut yaitu daerah terkenal di India bagian selatan, akan tetapi ada yang berpendapat (Ibn al-Subki dan Ibn Hallikan) ia merupakan nama daerah di Yaman dan ada yang berpendapat bahwa Sijistani adalah area yang terletak antara Iran dan Afganistan (Kabul). Sebagai ulama Mutaqaddimin yang produktif, beliau selalu memanfaatkan waktunya untuk menuntut ilmu dan beribadah. Namun sangat disayangkan, informasi kehidupan Abū Dāwud di masa kecil sangat sedikit. Sedangkan masa dewasanya banyak riwayat yang mengatakan bahwa beliau termasuk ulama ḥadīts yang terkenal.

Imām Abū Dāwud terlahir di tengah keluarga yang agamis. Mengawali intelektualitasnya, ia mempelajari al-Qur‟an dan literatur (bahasa) Arab serta sejumlah materi lainnya sebelum mempelajari ḥadīts, sebagaimana tradisi masyarakat saat itu.

Disamping itu Imām Abū Dāwud juga diperkenalkan kepada ḥadīts Nabi, sehingga ia pun tertarik untuk mengaji dan mendalaminya, kecendrungannya untuk menelaah dan mengaji hadis begitu menggelora. Berbagai ilmu ḥadīts pun dikuasai dengan baik. Ia hafal banyak hadis dan juga rajin megoleksinya. hampir semua guru besar hadis dinegrinya ia datangi. Ia mendengar langsung penyampaian hadis dari mereka, tidak jarang ia membacakan sebuah hadis dibawah arah mereka. Disamping itu, masih banyak lagi tata cara mendapatkan hadis yang ia lakukan kepada para gurunya. Masa perkenalan dan pendalaman terhadap hadis di negerinya terhitung cukup lama. Mulai balig sampai berusia 19 tahun. Hingga usia tersebut, ia hanya belajar kepada para guru hadits di negerinya. Baru ketika berusia kurang lebih 20 tahun, ia berkelana ke Bagdad.

Beliau memulai perjalanannya ke Baghdad (Iraq) dan menemui kematian Imam Affan bin Muslim, sebagaimana yang beliau katakan: ‘Aku menyaksikan jenazahnya dan menshalatkannya’ (Tarikh Al Baghdady). Walaupun sebelumnya Beliau telah pergi ke negeri-negeri tetangga Sajistaan, seperti Khurasan, Baghlan, Harran, Rai dan Naisabur.

Setelah beliau masuk kota Baghdad, beliau diminta oleh Amir Abu Ahmad Al Muwaffaq untuk tinggal dan menetap di Bashrah, dan beliau menerimanya, akan tetapi hal itu tidak membuat beliau berhenti dalam mencari hadits, bahkan pada tahun 221 H beliau datang ke Kuffah dan mengambil hadits dari Al Hafidz Al Hasan bin Rabi’ Al Bajaly dan Al Hafidz Ahmad bin Abdillah bin Yunus Al Yarbu‟iy (mereka berdua termasuk guru-gurunya Imam Muslim).

Sebelumnya beliau berkelana ke Makkah dan meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Maslamah Al Qa’naby (Wafat tahun 221 H), demikian juga ke Damaskus (ibu kota Suria sekarang) dan mengambil hadits dari Ishaq bin Ibrohim Al Faradisy dan Hisyam bin Ammaar, lalu pada tahun 224 H pergi ke Himshi dan mengambil hadits dari Imam Hayawah bin Syuraih Al Himshy, dan mengambil hadits dari Abu Ja’far An Nafiry di Harran juga pergi ke Halab dan mengambil hadits dari Abu Taubah Rabi’ bin Nafi’ Al Halab, lalu berkelana ke Mesir dan mengambil hadits dari Ahmad bin Shaleh Ath Thabary, kemudian beliau tidak berhenti mencari ilmu di negeri-negeri tersebut bahkan sering sekali bepergian ke Baghdad untuk menemui Imam Ahmad bin Hambal disana dan menerima serta menimba ilmu darinya. Walaupun demikian beliaupun mendengar dan menerima ilmu dari ulamaulama Bashroh, seperti: Abu Salamah At Tabudzaky, Abul Walid Ath-Thayalisy dan yang lain-lainnya. Karena itulah beliau menjadi seorang imam ahli ḥadīts yang terkenal banyak berkelana dalam mencari ilmu.

Setelah dewasa, beliau melakukan rihlah dengan intensif untuk mempelajari ḥadīts. Ia melakukan perjalanan ke Hijaz, Syam, Irak, Jazirah Arab dan Khurasan untuk bertemu ulama-ulama Hadits. Pengembaraanya yang sangat panjang dan melelahkan ini ternyata membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Melalui rihlah keilmuan inilah Abū Dāwud mendapatkan hadis yang sangat banyak untuk dijadikan referensi dalam penyusunan kitab sunannya.

Pola hidup sederhana tercermin dalam kehidupannya. Hal ini terlihat dari cara berpakaiannya, yaitu salah satu lengan bajunya lebar dan satunya lagi sempit. Menurutnya, lengan yang ini (lebar) untuk membawa kitab sedang yang satunya tidak diperlukan, kalau lebar berarti pemborosan. Maka tidak heran jika banyak ulama yang semasanya atau sesudahnya memberikan gelar Zaid (mampu meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi) dan Wara‟ (teguh atau tegar dalam menyikapi kehidupan).

Imām Abū Dāwud berhasil meraih reputasi tinggi dalam hidupnya di Basrah, setelah Basrah mengalami kegersangan ilmu pasca serbuan Zarji pada tahun 257 H. Gubernur Basrah pada waktu itu mengunjungi Imām Abū Dāwud di Baghdad untuk meminta Imām Abū Dāwud pindah ke Basrah. Diriwayatkan oleh al-Kahttabi dari Abdillāh bin Muḥammad al-Miski dari Abū Bakar bin Jabir (pembantu Abū Dāwud), dia berkata: ‘Bahwa Amir Abū Aḥmad al-Muffaq minta untuk bertemu Imām Abū Dāwud, lalu Imām Abū Dāwud bertanya: ‘Apa yang mendorong Amir ke sini?’, Amir menjawab: ‘Hendaknya anda mengajarkan Sunan kepada anakanakmu’. Yang kedua tanya Imām Abū Dāwud, Amir menjawab: ‘Hendaknya anda membuat majlis tersendiri untuk mengajarkan ḥadīts kepada keluarga khalifah, sebab mereka enggan duduk bersama orang umum’. Imām Abū Dāwud menjawab: ‘Permintaan kedua tidak bisa aku kabulkan, sebab derajat manusia itu baik pejabat terhormat maupun rakyat jelata, dalam menuntut ilmu dipandang sama’. Jabir berkata: ‘Sejak itulah putera-putera khalifah menghadiri majlis ta‟lim, duduk bersama orang umum dan diberi tirai pemisah’. Atas permintaan Gubernur Abū Aḥmad tersebut, maka Imām Abū Dāwud pindah ke Basrah dan menetap di sana hingga wafat. Pada tahun 275 H Imām Abū Dāwud al-Sijistāniy menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 73 tahun atau tepatnya pada tanggal 16 syawal 275 H di Basrah. Dikuburkan di samping kuburan Imām Sufyan at-Tsauri.

Selain itu, Imām Abū Dāwud juga dikenal sebagai seorang yang jujur, taqwa dan adil, hal tersebut diakui oleh banyak ulama. Selain sebagai periwayat hadits, pengumpul dan penyusun hadits, Imām Abū Dāwud juga dikenal sebagai ahli hukum dan sekaligus kritikus hadits yang baik, sehingga beliau dijuluki sebagai alHifz at-Tamm al-‘Ilm al-Wafir dan juga al-Fahm al-Tsaqib fi al-Ḥadits. Oleh karenanya, banyak ulama yang memberikan pujian dan penghargaan kepada beliu, di antaranya dari guru beliau sendiri, yaitu Imām Ahmad bin Hanbal.

Guru-guru dan Murid-murid Imām Abū Dāwud

Guru-guru Imām Abū Dāwud tercatat sekitar 49 orang ulama, diantaranya:

  1. Aḥmad bin Ḥanbal,
  2. Qutaibah bin Sa‟ad
  3. Yahya bin Ma‟in Abu Zakariya,
  4. Al-Hafihz Abu Ja‟far an-Nufailiy,
  5. Ishaq bin Rahawaih
  6. Ahmad bin Shalih,
  7. Sa‟id bin Manshur bin Syu‟bah al-Jauzajaniy al-Baghdadiy,
  8. Amru bin Aun
  9. Shafwan bin Shalih
  10. Haiwah bin Syuraih al-Himshiy
  11. Hisyam bin Ammar
  12. Amru bin Marzuq
  13. Musaddad bin Masarhad
  14. Abu Abdurrahman Utsman bin Muhammad bin Abi Sufinah

Murid-murid beliau, di antaranya :

  1. Al-Hafizh Abu Ali bin Ahmad bin Amr al-Lu’lu’i al-Bashriy,
  2. Abu Isa Muhammad bin „Isa bin Saurah bin Musa at-Tirmidzi,
  3. Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad al-A’rabiy,
  4. Al-Hafizh Abdurrahman Ahmad bin Syu‟aib bin Ali bin Sinan bin Bahr bin Dinar an-Nasa’i,
  5. Abdullah bin Sulaiman bin al-Asy’ats (anaknya)
  6. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khilal,
  7. Abu Bisyr ad-Daulabiy
  8. Muhammad bin Ja’far al-Faryabiy,
  9. Muhamad bin Makhlad bin al-Aththar al-Khatib,
  10. Abu Awanah Ya‟qub bin Ishaq al-Isfaraayainiy
  11. Isma’il bin Muhammad as-Shafar,
  12. Harb bin Isma’il, dll.

Dalam bidang fiqih, Imām Abū Dāwud dihubungkan oleh sejumlah ulama dengan mazhab Hanbali. Abu Ishaq al-Syirazi, umpamanya, di dalam Tabaqat al-Fuqaha’ memasukkan Imām Abū Dāwud ke dalam kelompok murid Imām Ahmad bin Hanbal. Bahkan Qadhi Abu al-Husain bin al-Qadhi Abu Ya‟la mencantumkan Imām Abū Dāwud di dalam Tabaqat al-Hanabilah. Akan tetapi, ada di antara ulama yang menghubungkan Imām Abū Dāwud dengan mazhab as-Syafi‟i.

Karya-karya Imām Abū Dāwud

Adapun karya yang dihasilkan oleh Imām Abū Dāwud adalah sebagai berikut:

  1. Al-Marāsil, kitab ini merupakan kumpulan ḥadīts-ḥadīts mursal (gugur perawinya), yang disusun secara tematik, adapun jumlah haditsnya adalah 6000 ḥadīts.
  2. Masa‟il al-Imam Aḥmad
  3. Al-Naskh wa al-Mansukh
  4. Risalah fi Wasf Kitab Sunan
  5. Al-Zuhd
  6. Ijabat al-Salawat al-Ajjuri
  7. As’illah Aḥmad bin Hanbal
  8. Tasmiyah al-Akhwan
  9. Qaul Adar
  10. Al-Ba’as wa Al-Nusyur
  11. Al-Masa’il allati Halaf Alaihi Al-Imam Aḥmad
  12. Dala’il Al-Ansar
  13. Fadha’il Al-Ansar
  14. Musnad Malik
  15. Al-Du’a
  16. Ibtida’ Al-Waḥyi
  17. Al-Tafarrud fi Sunan
  18. Akhbar Al-Khawarij
  19. A’lam Al-Nubuwwat
  20. Sunan Abū Dāwud

Dari karya-karya tersebut di atas, yang paling populer adalah kitab Sunan Imām Abū Dāwud. Menurut riwayat Abū Ali bin Aḥmad bin „Amr Al-Lu‟lui Al-Basri, seorang ulama‟ ḥadīts mengatakan: “ḥadīts telah dilunakkan Abū Dāwud, sebagaimana besi telah dilunakkan Nabi Dāwud ‘Alaihi as-Salām”. Ungkapan tersebut adalah perumpamaan bagi seorang ahli ḥadīts, yang telah mempermudah yang rumit dan mendekatkan yang jauh, serta memudahkan yang sukar.

Related posts