Biografi Ibnu Hazm | Biografi Singkat Ibnu Hazm | Profil Ibnu Hazm | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com |
Biografi Singkat Ibnu Hazm : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
Nama lengkap Ibnu Hazm adalah Ali Ibnu Ahmad Ibnu Said Ibnu Hazm Ibnu Ghalib Ibnu Shalih Ibnu Khalaf Ibnu Ma’dan Ibnu Sufyan Ibnu Sufyan. Ia dilahirkan hari Rabu pada tanggal 7 November 994 M bertepatan dengan hari akhir bulan Ramadhan 384 H, yaitu pada waktu sesudah terbit fajar sebelum munculnya matahari pagi Idul Fitri di Cordova, Spanyol.
Banyak ulama klasik dan kontemporer memakai nama singkatnya dengan sebutan Ibnu Hazm dan terkadang dihubungkan dengan panggilan al- Qurthubi atau al-Andalusi yang dinisbatkan pada tempat kelahirannya, Cordova dan Andalus. Kadang Ia dikenal dengan sebutan al-Zahiri sehubungan dengan aliran fiqh dan pola fikir al-Zahiri yang dianutnya.
Kakek Ibnu Hazm beserta keluarga Bani Umayyah pindah ke Andalusia, sementara keluarga Bani Hazm tinggal di Manta Lisyam, kota kecil yang menjadi pemukiman orang Arab di Andalusia. Di sana mereka hidup dengan kemewahan dan kedudukan terhormat. Oleh karena itu IbnuHazm dan keluarganya memihak Bani Umayyah.
Ayah Ibnu Hazm bernama Ahmad Ibnu Said berpendidikan cukup tinggi, ia menjadi pejabat di lingkungan kerajaan Khalifah Abu Amir Muhammad IbnuAbi Amir (Al-Mansur) dan kemudian menjadi wazir (menteri) al-Mansur pada tahun 381 H/991 M. Ia tinggal bersama keluarganya di Muniyyat al-Mughirat, pemukiman pejabat istana di bagian Timur Cordova dekat istana al-Zahirat, pusat kerajaan al-Mansur. Ia juga sempat menjabat wazir di masa pemerintahan al-Muzaffar yang wafat pada tahun 402 H.
Pendidikan Ibnu Hazm
Pada masa kecilnya, Ibnu Hazm diasuh oleh wanita-wanita istana. Ia dibimbing dan diasuh oleh guru-guru wanita yang mengajarkannya membaca dan menghafal al-Qur’an, syair dan melatihnya menulis.Di saat usianya menginjak remaja, ia diajak oleh ayahnya menghadiri majelis-majelis ilmiah dan budaya yang sering diadakan khalifah al-Mansur dan dihadiri pula oleh ahli-ahli syair dan ilmuwan. Ia juga belajar kepada seorang guru yang alim dan wara’ yaitu Abu al-Husain Ibnu Ali al-Farisi. Ibnu Hazm selalu disamping guru pilihan ayahnya itu, seorang guru yang melenyapkan dorongan-dorongan nafsu diri murid muda seperti Ibnu Hazm. Ketika itu wanita tidak berhijab di depan kaum pria, menurut Ibnu Hazm adalah merupakan hal yang biasa di dalam dunia pendidikan di Andalusia. Dengan kecepatan daya tangkap, kekuatan daya ingat dan kecermatan pemahamannya, Ibnu Hazm menjadi pemuda yang nyaris mengungguli guru-gurunya.
Guru Ibnu Hazm lainnya adalah Abu al-Qasim Abd al-Rahman Ibnu Abi Yazid al-Misri (wafat tahun 410 H). Ibnu Hazm diajak untuk menghadiri majelis untuk belajar ilmu hadits dan sastra Arab.
Ilmu yang mula-mula dipelajari oleh Ibnu Hazm adalah ilmu hadits setelah ia menghafal al-Qur’an dan ilmu sya’ir bahasa Arab. Ilmu hadis juga dipelajarinya dari al-Hamazani dan Abu Bakar Muhammad ibnu Ishaq.
Ilmu fiqh pertama kali diperoleh dari fiqh mazhab Maliki, karena mazhab ini yang banyak dianut oleh masyarakat Andalusia. Bahkan bisa dikatakan mazhab Maliki adalah mazhab resmi negara. Diriwayatkan bahwa Ibnu Hazm pernah berkata bahwa di masanya ada dua mazhab yang tersebar karena didukung oleh penguasa negeri, yaitu mazhab Abu Hanifah di Timur (wilayah Irak dan sekitarnya) dan mazhab Maliki di Barat (Spanyol dan sekitarnya).
Faktor mengapa Ibnu Hazm mendalami ilmu fiqh dijelaskan seperti yang diriwayatkan dari Abu Muhammad Ibnual-‘Arabi, yaitu ketika Ibnu Hazm datang ke masjid untuk shalat jenazah bagi seorang pembesar saudara ayahnya, ia langsung duduk tanpa shalat tahiyyat masjid, guru pembimbingnya memberi isyarat untuk bangkit berdiri dan shalat tahiyyat masjid namun Ibnu Hazm tidak melakukannya. Banyak orang di sekitarnya berkata (seakan mengejek), Sudah sedewasa ini usiamu namun kamu belum mengerti bahwa shalat tahiyyat masjid itu wajib. Usianya kala itu 26 tahun. Ibnu Hazam berkata, Lalu aku bangkit dan mengerjakan Salat tahiyyat masjid, aku baru paham isyarat guruku tadi.
Di waktu lain ketika Ibnu Hazm masuk masjid, ia mau mengerjakan salat tahiyyat masjid, saat itu waktu sudah menjelang maghrib, tetapi orang yang berada di sebelahnya menegurnya, duduklah, sekarang bukan waktunya untuk shalat. Ibnu Hazm merasa bingung dan gelisah dengan keadaan ini. Akhirnya kepada guru pembimbingnya ia minta diantarkan ke ulama’ ahli fiqh. Ulama’ itu adalah Abu Abdullah Ibnu Dahun, seorang mufti ternama di Cordova. Ia lalu mengajarkan kepada Ibnu Hazm kitab al-Muwatta’ karangan Imam Malik Ibnu Anas. Ibnu Hazm mempelajari kitab ini selama tiga tahun dan setelah menguasainya, ia mulai aktif melakukan diskusi dan munazarah (perdebatan) tentang fiqh.
Ibnu Hazm juga banyak menimba ilmu dari ulama-ulama berpengaruh di masanya, seperti Ibnu Abdulal-Barr al-Maliki dan Abdullah al-Azdi (wafat tahun 403 H) yang dikenal dengan sebutan Ibnu al-Fardhli, seorang qadi Valencia. Ia mempelajari ilmu fiqh dan hadits darinya. Di samping ahli dalam bidang fiqh dan hadis, Ibnu al-Fardhli juga ahli dalam bidang sastra dan sejarah, khususnya tentang biografi para ulama’ Andalusia. Ibnu al-Fardhli wafat dibunuh oleh tentara Barbar tahun 403 H. Guru Ibnu Hazm lainnya adalah Muhammad Ibnu al-Hasan al-Mazhaji yang lebih dikenal dengan nama Ibnu al-Katani dan juga Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Abdul Waris. Dari gurunya tersebut Ibnu Hazm mempelajari ilmumantiq (logika) dan filsafat.
Pencarian Ibnu Hazm akan ilmu tidak selesai saja pada mazhab Maliki, ia melanjutkan pendalaman fiqh mazhab Syafi’i yang kurang populer di Andalusia. Ibnu Hazm mempelajari fiqh Syafi’i secara otodidak, juga ilmu muqaran (fiqh perbandingan), tafsir dan hadits dari kitab-kitab karya ulama’ yang amat tinggi nilainya, misalnya kitab tafsir karya Baqi Ibnu Makhlad dan kitab Ahkam al-Qur’an karya Ibn Umayyah al-Hijazi, ulama’ yang bermazhab Syafi’i, serta kitab tafsir karya seorang ulama’ pembela mazhab al-Dawudi (al-Zahiri) Abu al-Hakam Munzir ibn Sai’d.
Di Madrasah Andalusiyyah Ibnu Hazm belajar fiqh dengan metode pembahasan yang berpedoman pada atsar (riwayat sahabat) dalam berijtihad. Tokoh-tokoh yang mengajar di madrasah tersebut banyak menulis buku- buku yang berharga dan berpengaruh bagi pemikiran Ibnu Hazm seperti kitab-kitab di bidang hadits, ahkam al-Qur’an, tarikh dan fiqh karya Qasim bin Asbagh al- Qurthubi, Ahmad Ibnu Khalid dan Muhammad Ibnu Aiman.
Ada seorang guru yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran Ibnu Hazm yaitu Mas’ud Ibnu Sulaiman Ibnu Muflit Abu al-Khiyar (wafat tahun 426 H), seorang ulama’ ahli fiqh muqaran yang bermazhab al-Zahiri. Gurunya ini cenderung mengambil arti zahir dari nash dan mempunyai daya pilih di antara berbagai mazhab. Yang menarik adalah sikapnya yang bebas untuk berpikir dan tidak terikat dengan mazhab tertentu. Dari pergaulan dengan gurunya ini Ibnu Hazm sampai pada suatu pendirian sehingga ia berkata, aku mengikuti kebenaran, aku berijtihad dan aku tidak terikat oleh mazhab.
Dibekali dengan ilmu yang makin luas, serta karunia intlektualitasyang tinggi ditambah dengan kondisinya yang selalu berpindah-pindah dan dimanfaatkan untuk mengembara mencari ilmu, Ibnu Hazm banyak melakukan perdebatan-perdebatan dengan ulama-ulama di masanya. Ia tidak hanya dikenal sebagi seorang muhaddits dan faqih saja, namun ia juga ahli dalam berbagai bidang, seperti ushul fiqh, sastra Arab, sejarah, mantiq, filsafat, ilmu kalam dan ilmu perbandingan agama.
Di samping itu suasana keilmuan pada masa Ibnu Hazm sangat mendukung dalam pencariannya akan ilmu pengetahuan, seperti perpustakaan dan universitas Cordoba yang berkembang pesat serta di Toledo (Spanyol) menjadi pusat kegiatan penerjemahan ilmu-ilmu Yunani, baik filsafat, matematika dan kedokteran.
Ibnu Hazm adalah pengembang mazhab al-Zahiri, bahkan ia dinilai sebagai pendiri kedua setelah Daud al-Zahiri. Ketika Ibnu Hazm menginjak remaja yaitu dalam usia lima belas tahun, terjadi pemberontakan yang melibatkan ayah Ibnu Hazm, setelah terjadi kekacauan yang terjadi lantaran perebutan kekuasaan, ayah Ibnu Hazm meninggalkan lapangan politik serta pindah dari bagian Timur Cordova ke bagian baratnya, kemudian wafat di sana pada tahun 402 H.
Dalam bidang politik, Ibn Hazm pernah menjadi pemimpin pasukan di Granada dan berkali-kali diangkat menjadi wazir pada masa dinasti Bani Umayyah.
Pada tahun 399 H, Ibnu Hazm dan keluarganya terpaksa harus terusir dari istananya di Cordova. Saat itu terjadi pertempuran sengit untuk merebut kekuasaan (kudeta) dari tangan penguasa oleh pemberontak yang didukung pasukan nasrani dari Eropa. Keluarga Ibnu Hazm mengalami kesukaran- kesukaran, selalu berpindah-pindah tempat, ia sering mengalami pengasingan dan dalam kesulitan hidup, kepindahan-kepindahannya dari kota ke kota kadang-kadang dengan jalan paksaan dan kadang untuk mencari ketenangan ia ingin melihat wajah tenpat kelahirannya. Ibnu hazm menggambarkan dirinya dan masyarakat Andalusia saat itu diliputi dengan kegelisahan, ketakutan, mereka pun kehilangan mata pencaharian, tidak ada hukum yang jelas. Menurutnya satu-satunya cara untuk mengatasi dan menghilangkan hal itu semua adalah kembali kepada hukum Tuhan. Ibnu Hazm pernah berdiam disuatu pulau mengepalai jama’ah ditempat itu, di pulau itu iamendapat kebebasan untuk berdiskusi, untuk mengembangkan pikiran dan pendapat- pendapatnya.
Ia berkiprah dalam kancah politik hingga tahun 422 H setelah berakhirnya kekuasaan dinasti Bani Umayyah di Andalusia. Kondisi sosial politik yang dialaminya telah membentuk karakter Ibnu Hazm menjadi sangat keras. Ia sering dikucilkan oleh ulama-ulama semasanya karena pemikirannyadan kritik-kritik tajamnya. al-Maraghi pernah mencatat bahwa yang mau belajar dengan Ibnu Hazm adalah orang-orang yang berani menanggung resiko senasib dengan Ibnu Hazm sendiri.Akan tetapi diceritakan oleh al-Zirikli bahwa Ibnu Hazm sempat juga menghasilkan sekelompok ulama’ yang menamakan diri mereka al-Hazmiyyah (para pengikut Ibnu Hazm) di Spanyol.
Di antara murid-murid Ibnu Hazm adalah Muhammad bin Futuh bin Id yang memperdalan ilmu sejarah, Abu Abdillah al-Humaidi al-Andalusi yang mendalami dan mengajarkan buku-buku karya Ibnu Hazm sendiri. Kemudian putra-putra Ibnu Hazm, yaitu Abu Rafi’ al-Fadl bin Ali, Abu Sulaiman al Musa’ab bin Ali, dan Abu Usamah Ya’qub bin Ali.
Bagi Ibnu Hazm ada suatu peristiwa yang sangat menyakitkan baginya, yaitu saat Spanyol terpecah-pecah menjadi beberapa negara kecil yang masing-masing dikepalai oleh Amir-amir Muluk Thawaif, seperti al- Mu’tadlid (berkuasa tahun 439-464 H) yang mencurigai Ibnu Hazm akan membahayakan kekuasaannya. al-Mu’tadlid bertindak tegas dengan membakar kitab-kitab karya Ibnu Hazm secara terang-terangan.
Ibnu Hazm akhirnya kembali ke kampung halamannya di Manta Lisyam, di sana ia memusatkan perhatiannya kepada ilmu dan penulisan kitab- kitabnya kembali hingga ia wafat pada akhir Sya’ban tahun 456 H dalam usia 71 tahun.
Karya-karya Ibnu Hazm
Ibnu Hazm sangat mencurahkan tenaga dan pikirannya dalam ilmu, terutama saat ia mengundurkan diri dari politik praktis. Ia merasa bebas untuk mengkritik siapapun, baik ulama Muslim, Yahudi dan Nasrani. Ibnu Hazm dikenal sangat produktif dalam menulis berbagai bidang keilmuan. Ibnu Hayyan mengatakan bahwa Ibnu Hazm menguasai bidang tafsir, hadits, fiqh, tarikh, sastra Arab, perbandingan agama, filsafat dan mantiq.
Berikut ini adalah karya-karya Ibnu Hazm yang sangat berharga, meliputi beraneka ragam bidang keilmuan yaitu :
- Bidang Ilmu Jadal (ilmu debat terhadap faham-faham keagamaan). Dalam bidang ini Ibnu Hazm mengarang al-Fisal Baina Ahl al- Ara’ wa al-Nihal, al-Shadi wa al-Radi ‘ala Man Kaffara Ahl al- Ta’wil min Firaq al- Muslim
- Bidang Politik. Karya Ibnu Hazm dalam bidang ini adalah al-Imamah wa al-Siyasah.
- Bidang ilmu jiwa. Karya Ibnu Hazm dalam bidang ilmu jiwa adalah Akhlaq al-Nafs. Dan masih banyak lagi karya Ibnu Hazm yang lainnya. Bahkan dituturkan oleh putranya, Abu Rafi’ al- Fadl, bahwa jumlah kitab-kitab karya Ibnu Hazm tak kurang dari 400 jilid yang terdiri dari 80.000 lembar kertas yang ditulis olehnya sendiri.
Adapun karya beliau yang terkenal dan dijadikan referensi oleh para cendikiawan kontemporer adalah :
- Thauq al-Hamamah, kitab ini pertama kali ditulis oleh Ibnu Hazm di Jativa tahun 418 H. Kitab ini semacam otobiografi yang meliputi pemikiran dan perkembangan pendidikan serta kejiwaannya. Di dalamnya memuat sastra yang tinggi dan sya’ir-sya’ir tentang cinta.
- Naqth al-Arus fi tawarikh al-Khulafa’, kitab ini berisi sejarah para khalifah dan pembesar-pembesar Spanyol di masa Ibnu Hazm.
- Al-Fisal fi al-Milal wa al-Ahwa’I wa al-Nihal, kitab inibercerita tentang agama-agama dan aliran-aliran pemahaman dalam Islam. Merupakan kitab perbandingan agama pertama yang sangat komprehensif.
- Al-Muhalla, kitab ini menghimpun masalah-masalah fiqh dari berbagai mazhab sekaligus berisi kritikan-kritikan Ibnu Hazm, terdiri dari 11 jilid. Dalam kitab ini Ibnu Hazm sangat berpegang pada arti zahir nash, baik al- Qur’an maupun Hadits. Al-Muhalla merupakan kitab fiqh mazhab al- Zahiri yang paling lengkap.
- Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, di sini Ibnu Hazm mengungkapkan metode ijtihadnya dan banyak mengkritik metode ijtihad bi al-ra’yi, istihsan dan istislah. Kitab ini terdiri dari delapan volume dan menjadi kitab ushul fiqh mazhab al-Zahiri.
Apabila diteliti, banyak karya-karya Ibnu Hazm yang berisi kritikan-kritikan pedas terhadap ulama-ulama yang berbeda pendapat dengannya. Hal demikian sangat dipengaruhi oleh kondisi dan situasi politik yang melatarbelakangi penulisannya, juga untuk menunjukkan ketidak setujuannya terhadap teori-teori pemikiran yang berkembang saat itu.






