Biografi Singkat Al Alusi, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Lengkap

Biografi Al Alusi | Biografi Singkat Al Alusi | Profil Al Alusi | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Al Alusi : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

Al-Alusi nama lengkapnya al-Alusi ditulis Abu al-Fadhl Syihab al-Din alSayyid Mahmud Affandi al-Alusi al-Baghdadi. Tapi al-Dzahabi dalam kitabnya alTafsir wa al Mufassirun menulis Abu al-Tsana’sebagai ganti Abu al-Fadhl. Ternyata dalam muqaddimah yang ditulis oleh al-Alusi sendiri tertulis sebagaimana yang ditulis oleh al-Dzahabi di atas. Al-Alusi lahir di Baghdad tahun 1217 H / 1802 M. Alusi adalah nama sebuah desa yang terletak di sebuah pulau di tengah-tengah sungai Efrat. Dari desa itulah nenek moyang al-Alusi berasal. Ia seorang jenius, mula-mula belajar pada ayahnya sendiri yang juga seorang ulama besar, kemudian pada Syekh Khlmid al-Naqsyabandi dan Syekh Ali al-Suwaidi. Pada usia 13 tahun ia sudah mampu mengajarkan dan mengarang. Kitab tafsirnya di atas mulai ditulisnya pada waktu ia masih usia 23 tahun.

Sebelumnya ia telah mempunyai keinginan untuk mengarang kitab tafsir sendiri, tetapi ia mengalami kebimbangan. Sampai pada suatu malam, bulan Rajab tahun 1252 H dia bermimpi rasanya Allah memerintahkan kepadanya untuk mempertemukan langit dan bumi. Lalu ia mengangkat tangannya yang satu dan membenamkan yang satunya lagi kedasar lautan. Dia berusaha mencari makna mimpi tersebut, yang itu merupakan isyarat baginya untuk menulis tafsir. Tidak heran dia dikenal sebagai „allamah (ulama besar), baik dalam bidang ilmu naqli maupun aqli, dengan apresiasi yang dalam setiap cabang dan dasar kedua bidang tersebut. Sejak usia muda ia sudah mulai giat mengajar dan mengarang. Ia mengajar di berbagai perguruan. Selain dari negeri tempat ia mengajar, murid-muridnya berasal dari berbagai negeri yang jauh. Banyak anak didiknya yang menjadi tokoh di negerinya sendiri. Al-Alusi tercatat sebagai seorang penanggungjawab Wakaf Madrasah Marjaniyah, sebuah yayasan pendidikan yang mensyaratkan penanggungjawabnya seorang tokoh ilmuwan di negeri itu.

Dia dikenal sebagai seorang pendidik yang sangat memperhatikan sandang pangan dan perumahan bagi murid-muridnya. Ia memberikan pemondokan yang lebih baik dari tempat tinggalnya sendiri, sehingga orang-orang semakin menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan. Dengan wawasan ilmu yang luas, al-Alusi mendiktekan penjelasan-penjelasannya dengan cara yang sangat mudah ditangkap dan mengemukakan perumpamaan-perumpamaan dengan jelas dan dapat dimengerti.

Tahun 1248 H al-Alusi mengikuti fatwa-fatwa kalangan mazhab Hanafi. Ia menghayati dan mengetahui perbedaan-perbedaan mazhab serta berbagai corak pemikiran dan aliran akidah. Ia menganut akidah salaf dan bermazhab Syafi’i meskipun dalam banyak hal ia adalah pengikut Imam Abu Hanifah. Namun ia juga memiliki kecenderungan untuk berijtihad.

Pada tahun ini pula ia menduduki jabatan mufti dalam Mazhab Hanafi yang dilepasnya pada tahun 1263 H, lalu membulatkan perhatiannya pada penyelesaian penulisan kitab tafsirnya. Setelah penulisan itu selesai tahun 1267 H, ia berangkat ke Konstantinopel untuk memperlihatkan tafsirnya kepada Sultan Abd al-Majid, dan memperoleh restunya. Ia kembali ke Baghdad pada tahun 1269 M7 dan ia meninggal dunia pada hari Jum’at tanggal 25 Dzul Qaidah tahun 1270 H / 1854 M dan dikuburkan di pekuburan Al-Syaikh Ma’ruf al-Karkhi di al-Kargh, Baghdad, Irak.

Tafsir Ruhul Ma’ani

Tafsir ini buah karya Imam al-Alusi seorang ulama dari Irak. Terdiri dari 30 Juz dalam 15 Jilid. Pertama kali dicetak pada tahun 1301 H.Kemudian pada cetakan kedua di Baghdad dan Mesir pada tahun 1553 Hterdiri dari 30 Juz dalam 10 Jilid. Dicetak ulang oleh percetakan Idarah al-Taba’ah al-Munirah di Mesir dan Dar Ihya al-Turats al-Arabiy, pada tahun1405 H.33.

Al-Alusi mulai menulis tafsirnya tanggal 16 Sya’ban 1252 H, yang sebelumnya didahului oleh mimpi mempertemukan langit dan bumi. Penulisan ini berlangsung selama 10 tahun lebih.34 Kitab tafsir Ruh al-Ma‟ani berisi berbagai pandangan baik dari kalangan ulama salaf maupunkhalaf dan juga menerangkan pendapat tafsir-tafsir sebelumnya, misalnyaIbn Aliyah, Ibn Hayyan, al-Kassyaf, Abi al-Su’ud, al-Baidhowi dan al-Fahral-Razi. Ketika dia menukil dari tafsir Abu alSu’ud biasanya denganmemakai kalimat “Qala Syaikh al-Islam”. Ketika menukil dari tafsir al-Baidhowi dia memakai kalimat “Qala Qadhi”. Ketika menukil dari tafsiralFahr al-Razi memakai kalimat “Qala al-Imam”.

Berbicara mengenai metodologi pada prinsipnya adalah berbicara tentang proses dan prosedur dalam melakukan penelitian atau penulisan. Yang termasuk dalam komponen metodologi adalah metode, pendekatan, sistematika penyajian dan sumber-sumber penafsiran. Sacara leksikal metode diartikan sebagai way of doing anything, yaitu suatu cara yang ditempuh untuk mengerjakan sesuatu agar sampai kepada suatu tujuan. Sedangkan pendekatan (approach) adalah perspektif yang dipakai mufassir dalam melakukan penafsiran.

Metode yang dipakai oleh al-Alusi dalam menafsirkan al-Quran adalah metode tahlili. Salah satu yang menonjol dalam tahlili (analisis) adalah bahwa seorang mufassir akan berusaha menganalisis berbagai dimensi yang terdapat dalam ayat yang ditafsirkan. Maka biasanya mufassir akan menganalisis dari segi bahasa, asbab al-nuzul, nasikh-mansukhnya dan lain-lain. Hal ini juga yang menyebabkan beliau termasuk orang yang sangat selektif terhadap riwayat-riwayat israiliyyat, disebabkan karena beliau mau menekuni ilmu hadis. Namun biasanya metode tahlili tidak mampu menyajikan sebuah tafsir komprehensif, sehingga seringkali terkesan parsial. Akibatnya pendangan dunia (world view) al-Quran mengenai persoalan yang dibicarakan sering dikesampingkan.

Konsep Cinta Dalam Pandangan Al Alusi

Sementara cinta (hub) menurut Al Alusi adalah secara bahasa di pinjam dari istilah habbah al-qalb (biji hati) dan warna ke hitam hitamannya yang terpecah darinya cinta. Cinta ilahi menurut Al Alusi adalah cinta yang autentik kepada Tuhan tanpa di dasari dengan cinta yang lain serta mengagungkan dan meluliakannya. Sementara cinta Allah adalah adalah cinta yang paling utama, sementara cinta kepada manusia harus berlandaskan cinta karena Tuhan. Cinta yang di konsepsikan Al Alusi bagi orang musliam adalah dalam aspek spritualisme dan moralitas. Ruhani manusia dalam hiruk pikuknya modernitas mengalami kehampaan karena kehilangan orentasi dan makna dalam kehidupannya. Sebangai pelampiasan kehampaan ruhani itu, manusia cendrung larut dalam gaya hidup hedonis dan tindak kekerasan dalam menghadapi gemerlap materi duniawi. Gaya hidup ini mengakibatkan degradasi moral. Pendapat al- Alusi bahwa kecintaan hamba kepada allah suatu kecintaan yang murni di tujukan hanya kepadanya memberikan makna ruhani dengan adanya tujuan hidup di tengah pegapnya hiruk-pikuk modernitas. Dia juga menawarkan pembebasan manusia dari pemujaan materi. Kehidupan dunia di bolehkan selama tidak menjrumuskan manusia pada penghambaan selain allah. Selain itu al-Alusi juga berdendapat bahwa untuk mendapatkan ridha Allah seorang mukmin harus senatiasa berakhlak mulia. Dengan menghudupkan sikap-sikap mulia yang di cintai Allah dan memasung sikap-sikap tidak terpuji yang tidak di cintai Allah niscaya, dengan ketetapan iman, godaan-godaan nafsu duniawi yang bersifat negatif dapat di tanggulangi. Kepribadian mulia yang tertanam dalam jiwa seorang muslim akan dapat dijadikan bekal dalam menghadapi kenyataan hidup.

Cinta dalam pandangan Al Alusi adalah merupakan iradah Tuhan yang maha kuasa yang di berikan kepada manusia, tidak lain adalah untuk melakukan ritual ibadah kepada_Nya. Seseoang harus melakukan pengorbanan jika ia benar benar mencitai Allah dan Rasulnya, karena menurutnya cinta yang tanpa pengorbanan hanya kepalsuan, dan Allah sama sekali tidak menyukai kepalsuan.

Sesuai dengan konsep cinta yang di bangun oleh Al Alusi, bahwa kepada manusia (Hablum Min An nas) haruslah berlandaskan cinta kepada Allah. Dalam hal ini, prioritas cinta yang di bangun oleh Al Alusi adalah cinta kepada Tuhan. Sedikit berbeda dengan konsep cinta yang di bangun oleh Rabi’ah Al Adawiyah bahwa cinta kepada manusia hanya sebagai penghabat kerinduannya kepada Allah, sementara cinta yang dibangun oleh Al Alusi cinta kepada manusia adalah iradah dari Tuhan, karena makna dasar dari cinta adalah penyatuan diri dari seseorang yang mencintai dan orang yang di cintai. Singkatnya, Al Alusi memberikan satu konsep bahwa cinta kepada Allah tidak harus menafikan cinta kepada manusia, karena cinta kepada manusia adalah sebagian dari kekuaasaan Tuhan kepada manusia.

Karya Karya Al Alusi

Sebagai mufassir, ia juga menaruh perhatian kepada beberapa ilmu, seperti ilmu Qiraah, ilmu Munasabah, dan ilmu Asbabun Nuzul. Ia banyak melihat syairsyair Arab yang mengungkapkan suatu kata, dalam menentukan Asbabun Nuzulnya. Sekitar tahun 1248 H, al-Allusi mengikuti fatwa-fatwa para kalangan Hanafiyah. Ia sudah mendalami dalam perbedaan madzhab-madzhab serta berbagai corak pemikiran dan aliran akidah. Ia beraliran salaf dan bermadzhab Syafii, meskipun ia banyak mengikuti Imam Hanafi dalam banyak hal, namun, ia banyak menggunakan ijtihad.

Hasil karya tulisan beliau antara lain:

  1. Syarh al-Muslim fi al-Manthiqi
  2. Al-Ajwibah al-„Iraqiyyah „ani al-As‟ilati al-Lāhū tiyyah
  3. Al-Ajwibah al-„Iraqiyyah ‘ala al-As‟ilati al-Iraniyyah
  4. Hasyiyah ‘ala al-Qatr al-Salim tentang ilmu logika,
  5. Durrah al-Gawas fi Awham al-Khawass,
  6. al-Nafakhat al-Qudsiyyah fi Adab al-Bahs
  7. Ruh al-Maani fi Tafsir al-Quran al-Azmi wa al-Sab‟i al-Masani dan lain-lain

Beliau wafat pada tanggal 25 Zulhijjah 1270 H, dimakamkan di dekat kuburan Syaikh Ma’ruf al-Karkhi, salah seorang tokoh sufi yang sangat terkenal di kota Kurkh. Setelah meninggal, kitab Ruh al-Maani disempurnakan oleh anaknya, asSayyid Nu’man al-Alusi.Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia disebutkan bahwa setelah kembali dari Istambul al-Alusi menulis tiga karya lagi, yaitu: Nasywat alSyamsu fi al-Dzahab al-Istanbul, Nasywat al-Mudan fi al-‘awd ila Dar al-Salam dan Ghara’ib al-Ightirah wa Nuzhat al-Albab, yang diterbitkan diBaghdad dua kali antara tahun 1291-1293 H/1874-1876 M dan yang ketigakalinya pada tahun 1327 H/1909 M.

Related posts