Biografi HOS Tjokroaminoto | Biografi Singkat HOS Tjokroaminoto | Profil H.O.S Tjokroaminoto | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com |
Biografi Singkat H.O.S Tjokroaminoto : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
Gerakan rakyat hari ini seperti berkumpul, mengeluarkan pendapat dan lain-lain adalah sebuah warisan dari zaman pergerakan Indonesia zaman dahulu. Perjuangan dalam mencari status hukum yang sederajat dengan bangsa-bangsa yang lain merupakan suatu ikhtiar dari pendahulu negara ini. Dibagi-baginya status hukum warga Hindia Belanda di kala penjajahan Belanda menimbulkan diskriminasi dalam kehidupan sosial kala itu. Pergerakan bangsa Indonesia muncul di awal abad ke-20. Gerakan-gerakan rakyat yang menampakan diri dalam surat kabar, rapat dan pertemuan besar, organisasi dan serikat pekerja merupakan fenomena diawal kebangkitan bumi putra.
Tokoh-tokoh pergerakan pada waktu itu banyak bermunculan. Kemunculan mereka tak lain adalah untuk menuntut status yang sama bagi golongan bumiputra. Salah satu tokoh yang kemunculannya disebut-sebut sebagai Ramalan Jayabaya adalah Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto. Dalam sebuah proses kehidupan seseorang, sebelum ia mencapai suatu tingkat kematangannya, baik itu cara berpikir atau berperilaku, maupun peranannya di dalam masyarakat sebagai pedagang, ulama, atau politikus, tentunya ia dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya baik itu menyangkut kehidupan masa kecilnya maupun latar belakang kehidupan keluarganya. Besar atau kecil, pengaruh dari variabel yang seperti itu pasti ada. Demikian pula halnya dengan Tjokroaminoto, seorang pahlawan nasional yang dalam perjalanan hidupnya telah meraih respek dan apresiasi dari berbagai golongan terutama golongan Islam Nasionalis. Maka, merupakan sesuatu yang layak untuk mengulas kembali biografinya sebelum memahami pemikirannya secara lebih mendalam.
Dalam penulisan sejarah Indonesia, Tjokroaminoto sering digambarkan sebagai tokoh tua yang merintis gerakan nasional Indonesia. Kebanyakan dari para penulis sejarah melihat gerakan pemuda baru muncul pada saat adanya Jong Islamiten Bond (JIB), sehingga baru melihat adanya pemuda Islam yang terjun dalam gerakan nasional jauh terbelakang dari “pemuda-pemuda Jawa.” Anggapan Tjokroaminoto sebagai tokoh tua, besar kemungkinan karena Tjokroaminoto telah menyandang gelar haji. Dibayangkan setiap pemilik gelar haji ini umurnya telah tua, tetapi para penulis lupa bahwa gelar haji yang dimiliki Tjokroaminoto baru sekitar tahun 1926. Jadi setelah berjuang dalam Sarekat Islam, Central Sarekat Islam, dan Partai Sarekat Islam Indonesia.
Akibat anggapan inilah besar kemungkinan terjadinya perbedaan penulisan sejarah mengenai peranan generasi muda Islam dalam gerakan nasional pada awal abad ke-20, sehingga yang lebih banyak ditampilkan adalah Jong Java yang dirasakan lebih representative sebagai pelopornya. Kebanyakan orang lupa bahwa Tjokroaminoto mulai bergerak memimpin sarekat Islam pada tahun 1912. Saat itu beliau baru berusia 30 tahun (16 Agustus 1882 – 10 September 1912). Usia 30 tahun ini termasuk kategori pemuda, belum termasuk golongan tua.
Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto, begitulah nama lengkapnya, lahir di desa Bakur pada tanggal 16 Agustus 1882, beliau termasuk salah satu tokoh yang sangat berperan dalam memperjuangkan bangsa dan agama dari penindasan kolonial Belanda, sehingga diberi anugerah atau penghargaan oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional. Di dalam tubuh Tjokroaminoto mengalir darah kyai dan priyayi, bangsawan budi dan bangsawan darah sekaligus. Karenanya, dalam perkembangan jalan hidupnya di kemudian hari kedua unsur tadi sangat mempengaruhinya. Oleh Soekarno beliau diakui sebagai gurunya, sedangkan oleh penjajah Belanda disebut sebagai: De Ongekronnde Koning Von Java (raja Jawa yang tak dinobatkan).
Desa Bakur tempat beliau dilahirkan adalah sebuah desa yang sepi, terkenal sebagai daerah santri dan taat menjalankan ajaran agama Islam. Desa ini terletak di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Adapun keluarganya adalah keluarga yang terhormat dan dikagumi dikalangan masyarakat, ayah dari Tjokroaminoto adalah seorang pejabat pemerintah yang berkedudukan sebagai wedono di kawasan Kletjo, Ngawi.
Beliau dilahirkan dengan nama Raden Oemar Said, sesudah menunaikan ibadah haji beliau meninggalkan gelar keningratannya dan lebih suka mengenalkan diri dengan nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau lebih dikenal dengan H.O.S Tjokroaminoto. Gelar “Raden Mas” baginya adalah merupakan hak yang dapat dipergunakannya, sebagaimana ningrat-ningrat lainnya, sebab dalam dirinya mengalir darah ningrat, bangsawan dari Surakarta, cucu Susuhunan. Demikian pula dengan halnya gelar “Haji” yang merupakan lambang dari kealiman, ketaatan seseorang dalam menjalankan ajaran-ajaran agama Islam. Tjokroaminoto berangkat ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji tepatnya pada tahun 1926. Lambat laun akhirnya dengan sendirinya masyarakat menambahkan gelar haji didepan namanya, sesuai dengan kebiasaan orang Indonesia yang selalu menambahkan sebutan atau gelar haji kepada orang seusai ia manjalankan salah satu rukun Islam yaitu berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji tersebut. Sehingga orang selanjutnya menyebut dengan sebutan “Raden Haji Oemar Said Tjokroaminoto.” Bagi Tjokroaminoto taat menjalankan perintah agama Islam bukanlah sesuatu yang asing karena beliau adalah keturunan pemuka agama ternama, yaitu Kyai Bagus Kesan Besari. Seorang ulama yang memiliki pondok pesantren di daerah Tegal Sari, Kabupaten Ponorogo, Karesidenan Madiun, Jawa Timur yang kemudian memperistri seorang putri dari susuhunan II, yaitu Raden Ayu Moertosijah. Setelah menikah dengan Raden Ayu Moertosijah, Kyai Bagus Kesan Besari selanjutnya menjadi anggota keluarga keraton Surakarta.
Dari pernikahannya dengan Raden Ayu Moertosijah, Kyai Bagus Kesan Besari dikaruniai seorang putra, yaitu Raden Mas Adipati Tjokronegoro. Dalam menjalani kehidupannya, Tjokronegoro tidak mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang kyai termasyhur atau menjadi pemimpin pondok pesantren, Tjokronegoro menerjuni pekerjaan dibidang pamong praja sebagai pegawai pemerintah. Selama menjalani karirnya itu, Tjokronegoro pernah menduduki jabatan-jabatan penting, diantaranya sebagai Bupati di Ponorogo. Oleh karena jasanya pada negeri, beliau dianugerahi bintang jasa Ridder de Nederlansche Leew.
Tjokronegoro menikah dengan Raden Ayu Ismojowati, dan kemudian dikaruniai seorang putra bernama Raden Mas Tjokroamiseno. Tjokroamiseno mengikuti jejak ayahnya dengan menekuni pekerjaan sebagai pegawai pamong praja pula. Tjokroamiseno juga pernah menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan, antara lain sebagai wedana di Kewedanan Kletjo, Madiun. Madiun. Raden Mas Tjokroamiseno inilah ayah dari Tjokroaminoto. Tjokroamiseno mempunyai dua belas orang anak, berturut-turut:
- Raden Mas Oemar Djaman Tjokroprawiro, seorang pensiunan Wedana
- Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto
- Raden Ayu Tjokrodisoerjo, seorang istri almarhum mantan Bupati Purwokerto
- Raden Mas Poerwadi Tjokrosoedirjo, seorang bupati yang diperbantukan kepada Residen Bojonegoro
- Raden Mas Oemar Sabib Tjokrosoeprodjo, seorang pensiunan Wedana yang kemudian masuk PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) dan Masyumi yang kemudian meninggal di Madiun di zaman yang terkenal dengan istilah “Madiun Affair”
- Raden Ajeng Adiati
- Raden Ayu Mamowinoto, seorang istri pensiunan pegawai tinggi
- Raden Mas Abikoesno Tjokrosoejoso, seorang arsitek terkenal yang juga politikus ulung yang pernah menjadi ketua PSII dan sempat menjabat sebagai menteri di Kabinet Republik Indonesia
- Raden Ajeng Istingatin
- Raden Mas Poewoto
- Raden Adjeng Istidjah Tjokrosoedarmo seorang pegawai tinggi kehutanan;
- Raden Aju Istirah Mohammad Soebari, seorang pegawai tinggi Kementrian Perhubungan.
kumisnya melentik keatas badannya tegak dan sikapnya penuh keagungan, walaupun beliau sudah tidak menghiraukan lagi gelar Raden Mas yang terdapat didepan namanya, orang masih menganggap bahwa beliau masih mempunyai kharisma yang tinggi, sehingga hampir setiap orang hormat dan kagum kepadanya. Seorang Indo-Belanda melukiskan bahwa Tjokroaminoto perawakannya mengagumkan suka kerja keras dan tidak mengenal lelah, mempunyai suara indah dan hebat, mudah didengar oleh beribu-ribu orang, hampir setiap orang terpaku bila mendengar pidatonya yang lancar dan penuh keyakinan. Sedangkan Amelz menggambarkan watak Tjokroaminoto sebagai berikut: Tjokroaminoto mempunyai watak yang pendiam, pada muka wajah beliau memperlihatkan kekerasan, sifat istimewa, keras terhadap diri sendiri, tidak mudah mengatakan kalah hanya karena gertakan saja, sifat ini tidak mengherankan, kalau diingat pada masa mudanya sebagai tukang berkelahi sekalipun hidup sehari-hari tidak lepas dari lingkungan biasa pada masyarakat, tetapi wajahnya menampakkan wajah keningratan.
Begitu juga Drs. Masyhur Amin dalam bukunya “Saham H.O.S Tjokroaminoto dalam kebangunan nasional di Indonesia” mengatakan: perawakan Tjokroaminoto tegap, termasuk perawakan lelaki tulen dan bergas, artinya tanpa banyak solek dan gayanya banyak memikat hati orang lain, budi pekertinya sangat luhur, ringan tangan, mau menolong sesama, berani dan teguh pendiriannya, disiplin waktu dan pantang mundur menghadapi lawan serta bukan main manisnya dalam pergaulan beserta kawan-kawannya. Beliau juga seorang pemimpin yang terkenal, namun juga teguh beribadah dan tak kuasa rasanya melukiskan tentang kepribadiannya, bahkan sampai cara berpakaian pun menunjukkan ciri nasionalnnya, sementara banyak teman-temannya menggunakan ciri Barat, tetapi beliau masih menggunakan pakaian Jawa asli. Dan pakaian inilah yang selalu dipakai kapan dan dimana saja tanpa rendah diri.
Di samping sebagai tokoh politik, H.O.S Tjokroaminoto juga memiliki keahlian-keahlian antara lain: Seorang seniman, beliau termasuk pencipta dan pecinta kesenian Jawa, gamelan Jawa, bahkan pernah menjadi peran aktor anoman melawan dasamuka. Ketika beliau dalam penjara pernah menulis puisi jeritan hati menurut rakyat pribumi dan kemudian terkenal dengan fragmen dalam bahasa Belanda.
Tjokroaminoto juga seorang pemimpin serta organisator yang ulung bagi pergerakan bangsanya terutama dalam pergerakan Sarikat Islam. Seorang wartawan, karir ini dirintisnya sejak berada di Surabaya, dsengan tulisan yang tajam lagi jitu di surat kabar, dan pernah menjadi pembantu surat kabar Suara Surabaya, disaat Sarekat Islam ada dalam kepemimpinannya maka mendirikan surat kabar Oetoesan Hindia dengan nama Fajar Asia dan majalah Al-Jihad, bersama kawan seperjuangannya.
Beliau juga seorang orator yang berbakat, hal ini pernah dilukiskan oleh P.P Dahler dalam pidatonya sebagai berikut: “Perawakannya mengagumkan, beekerja yang keras dan tidak mengenal lelah, mempunyai suara yang indah dan berat mudah didengar oleh beribu-ribu orang yang seolah-olah terpaku pada bibirnya apabila ia berpidato dengan lancar dan keyakinan yang sungguh-sungguh.” Begitu pula pernah dilukiskan oleh Wondoamiseno, bahwa Tjokroaminoto: “Kalau bicara tidak banyak agitasi, bicaranya lempang lurus tegas dan jitu, alasan-alasannya mengandung dalildalil yang benar, sehingga sukar untuk dibantah dan biasanya mengandung semangat berwibawa yang menyala-nyala bagi mereka yang mendengarkannya sehingga terbakar hatinya, bagi pihak musuh tunduk karena tepat dan benar.”
Tjokroaminoto adalah seorang ahli hukum: pada suatu ketika menghadap penghakiman sebagai tertuduh dan juga pembela. Perdebatan sengit membuat hakim kesal seraya berkata: “Tuan Tjokro saya mengakui kepandaian tuan, tetapi sayang tuan bukan seorang yuridist,” lalu spontan dijawab dengan jitu “tetapi lebih baik daripada seorang yuridist yang suka lupa seperti tuan,” lalu sang hakim berkata denga angkuhnya “Tuan Tjokro, apakah tuan tahu berhadapan dengan siapa anda berdiri?”. Dan tidak dijawab, lalu hakim berkata: “tahukah tuan bahwa tuan berdiri dihadapan Vorzter Raad Van Justisi.” Tjokroaminoto dengan tegas menjawab: “Tuan Vorzter Raad Van Justisi tahukah tuan berhadapan dengan siapa tuan duduk? Tuan duduk dihadapan pemimpin Central Sarekat Islam.”
Riwayat Pendidikan Haji Oemar Said Tjokroaminoto
Kondisi sosial di masa Tjorkoaminoto dibesarkan adalah masyarakat yang penuh dengan penerapan-penerapan norma agama Islam. Paling tidak sejak kecil beliau telah terbiasa dengan tata cara semacam itu. Dalam bidang pendidikan, oleh ayahnya, beliau dimasukkan dalam lembaga formal yang saat itu masih berada dibawah naungan kolonialis. Hal ini terjadi karena Tjokroaminoto termasuk dalam golongan kelas ningrat, sehingga tidak ada hambatan dan kesulitan untuk belajar sebagaimana anak-anak ningrat dan anak-anak pejabat lainnya.
Ayahnya mempunyai sifat yang tegas dalam mendidik, hal itu menurun pada Tjokroaminoto yang memiliki sifat tegas, tercermin dari ketegasannya ketika menentang pemerintahan kolonial Belanda. Beliau memandang semua manusia sama tingkatnya, tidak ada yang lebih tinggi kecuali Allah SWT. Dari sinilah dapat dilihat bahwa Tjokroaminoto dibesarkan di lingkungan priyayi, namun beliau dekat dengan rakyat biasa dan bahkan kemudian memperjuangkan kepentingan-kepentingan mereka melalui berbagai saluran yang ditempuh, terutama melalui Sarekat Islam.
H.O.S Tjokroaminoto adalah seorang anak yang nakal dan pemberani, karena kenakalan dan keberaniannya inilah maka semasa dibangku sekolah beliau sering dikeluarkan dari sekolah satu ke sekolah lain. Walaupun demikian, karena kecerdasan otaknya, setelah menamatkan pendidikan dasarnya beliau dapat juga masuk ke OSVIA (Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren atau Sekolah Calon Pegawai Pemerintah) di Magelang dan pada tahun 1902 beliau berhasil menyelesaikan studinya disana. Tidak begitu mengherankan sebenarnya beliau dapat masuk ke sekolah OSVIA tersebut, karena sudah menjadi tradisi anak-anak priyayi B.B (Binnenland Bestuur) disekolahkan oleh orang tuanya di sekolah Ambtenar. Karena itulah beliau dapat mengenyam pendidikan secara baik. Orang tua Tjokroaminoto sengaja memasukkannya ke OSVIA tentu saja dengan harapan dapat menjadi seorang pejabat dalam dunia priyayi. OSVIA adalah sekolah pendidikan bagi calon pegawai-pegawai bumiputera pada zaman Hindia Belanda. Setelah lulus mereka dipekerjakan dalam pemerintahan kolonial Belanda sebagai Pamong Praja. Sekolah ini termasuk dalam sekolah keterampilan tingkat menengah dan mempelajari soal-soal administrasi pemerintahan. Pada awalnya masa belajar di OSVIA ini adalah selama lima tahun, namun kemudian pada tahun 1908 masa belajar di sekolah tersebut ditambah menjadi tujuh tahun. Pada umumnya murid yang diterima di sekolah ini berusia 12-16 tahun. Soal keturunan merupakan faktor penting dalam penerimaan siswa di OSVIA. Hal ini ditetapkan dalam suatu peraturan yang dikeluarkan tahun 1919 oleh pemerintah Belanda. Meskipun uang pembayaran sekolah disesuaikan dengan penghasilan orang tua, bagi keluarga berpenghasilan rendah yang menyekolahkan anaknya di OSVIA biaya itu tetap dirasakan terlalu mahal. Penerimaan siswa pun sering harus disertai surat rekomendasi pribadi pejabat BB (Binnenland Bestuur) dan para bupati. Bupati-bupati dan pejabat BB itu dapat menggunakan haknya untuk mengajukan sanak saudaranya dan orang-orang yang disukainya. Oleh karena itu secara tidak langsung hanya golongan priyayi saja yang mampu menyekolahkan anak-anak mereka di OSVIA.
Sejak awal memasuki OSVIA, Tjokroaminoto telah memperlihatkan kegemaran membaca buku, majalah, surat kabar dan karya-karya ilmiah lainnya. Bahkan di bidang seni Jawa, misalnya tari dan gamelan, beliau bisa dikatakan sangat mahir. Tjokroaminoto juga menguasai bahasa Belanda, yang pada masa itu digunakan sebagai bahasa komunikasi secara formal. Tjokroaminoto juga pernah mempelajari buku-buku kemasyarakatan seperti Islam, Sosialisme, Komunikasi, dan buku-buku lainnya. Tjokroaminoto menguasai bahasa Jawa, Belanda, Melayu dan bahasa Inggris. Seperti yang telah diketahui, bahasa Jawa mengandung kelembutan dalam bentuk dan wujudnya, juga dalam pengucapannya. Namun, dalam kata-kata lembut itu, termuat maksud dan isi yang tak kalah menohok, dan itulah yang sering dilakukan Tjokroaminoto untuk “menghabisi” lawan bicaranya.
Tjokroaminoto menjalani pendidikannya pada sekolah yang dipersiapkan untuk menjadi seorang pegawai pemerintah, itulah yang diharapkan oleh orang tuanya agar nantinya dapat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pegawai pemerintah. Setelah lulus dari pendidikannya, beliau bekerja sebagai pejabat pangreh praja atau juru tulis di kesatuan pegawai administratif bumiputera di Ngawi, meskipun di tahun 1905 pada akhirnya beliau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai bentuk penolakannya terhadap budaya feodal sembah meyembah dan politik elitis yang terjadi didalamnya. Beliau menganggap pekerjaan tersebut kurang sesuai dengan kepribadiannya. Untuk menyambung hidupnya, Tjokroaminoto kemudian menjadi kuli pelabuhan yang kelak membuatnya bertemu banyak pekerja kelas bawah dan menyadarkan kesadaran politik proletarnya sampai akhirnya membentuk “Sarekat Sekerja” dengan tujuan untuk mengakat harkat para kelas pekerja.
Diantara banyak pekerjaan yang dilakoninya, pekerjaan sebagai jurnalistik adalah yang paling disukai oleh Tjokroaminoto. Beliau mengembangkan bakatnya dalam bidang itu dengan memasukkan tulisantulisannya dalam berbagai surat kabar pada masa itu, serta pernah bekerja pada sebuah surat kabar di kota Surabaya, yaitu Suara Surabaya. Bakatnya ini semakin tampak jelas semasa beliau menjadi pemimpin Sarekat Islam dan PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) dimana beliau mampu menerbitkan beberapa surat kabar harian dan mingguan serta majalah, contohnya surat kabar Oetoesan Hindia, surat kabar Fajar Asia, dan majalah Al-Jihad. Pada semua penerbitan itu beliau selalu menjadi pemimpin redaksi. Tjokroaminoto memang menyadari batapa pentingnya fungsi surat kabar dan majalah sebagai salah satu alat perjuangan.
Merasa sulit berkembang di kota Semarang, beliau kemudian memutuskan pindah ke Surabaya. Di kota Surabaya ini beliau bekerja pada sebuah firma yang bernama Kooy & Co, antara tahun 1907-1910. Disamping bekerja, beliau juga tidak lupa meluangkan waktu untuk menambah ilmu pengetahuannya. Beliau melanjutkan pendidikan di sekolah B.A.S (Burgerlijke Avond School). B.A.S adalah sebuah pendidikan teknik yang diadakan pada malam hari, beliau mengambil jurusan mesin. Setelah menamatkan sekolahnya di B.A.S, agaknya Tjokroaminoto sudah tidak tertarik lagi untuk meneruskan pekerjaannya di perusahaan Firma Kooy & Co. Kemudian beliau berhenti dan bekerja sebagai Learning Machinis (magang ahli mesin) selama satu tahun lamanya, yaitu dari tahun 1911 sampai 1912. Kemudian beliau pindah bekerja lagi ke sebuah pabrik gula, di daerah Rogojampi, di dekat kota Surabaya sebagai seorang Chemiker ahli kimia analisis.
Sekalipun Tjokroaminoto bukanlah tamatan perguruan tinggi yang ada saat itu, secara formal kemampuannya menghadapi permasalahan sosial dan politik sangat diperhitungkan oleh pihak kolonial Belanda. Pemerintah Belanda sadar dan tahu betapa besar pengaruh Tjokroaminoto, pada rakyat Jawa terutama, maka sewaktu didirikan Volksraad Tjorkoaminoto diangkat menjadi anggotanya sebagai wakil dari Sarekat Islam, bersama Abdul Moeis. Itu adalah buah dari berbagai pengalaman yang didapatnya dari mulai ketika masih hidup di Semarang hingga tinggal di Surabaya yang sebelumnya tidak didapat dari pendidikannya yang memberikan masukan cukup berarti, dan dari pengalaman itu pernah dilihat dalam kegiatan intelektualnya dari tulisan-tulisan yang bersifat jurnalistik yang kemudian dimuat dalam surat kabar. Dari tulisannya tersebut kemudian dibicarakan secara akademis didalam rumah kediamannya bersama para pelajar yang indekos. Adapun yang mengikuti dan sekaligus sebagai muridnya adalah: Bung Karno, Kartosuwiryo, Alimin, Musso, Abikusno, Kartowisastro, Sampurno, dan lain-lain.
Dari percakapan mereka tidak semata-mata murni akademis tetapi juga bersifat idealis, sebab percakapan itu diadakan untuk menjawab secara konsepsional tantangan sejarah pada saat itu, baik dalam bentuk kemasyarakatan maupun konsep kenegaraan. Dan dari forum ini lahirlah tokoh-tokoh yang berlainan ideologi, misalnya Soekarno dengan ideologi Nasionalis, Semaoen dengan ideologi Kolonialnya, Kartosoewijo dengan ideologi Islam Fundamentalisnya dan Tjokroaminoto sendiri dengan ideologi Islam.
Karya-karya Haji Oemar Said Tjokroaminoto
Diantara karya intelektual Tjokroaminoto, baik yang berupa buku maupun dalam bentuk lainnya adalah sebagai berikut:
- Tarikh Agama Islam (1963). Buku ini diterbitkan oleh penggalian dan penghimpunan Sejarah Revolusi Indonesia, Jakarta, 1963. Buku ini ditulis berdasarkan literatur diantaranya: The Spirit Of Islam, karya Amir Ali, dan The Ideal of Prophet.
- Islam dan Sosialisme (1924). Buku ini merupakan Magnum Opus Tjokroaminoto, yang ditulis di Mataram pada bulan November 1924, dan diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang Jakarta.
- Reglament Umum Bagi Umat Islam (1934). Karya ini selesai ditulis pada tanggal 4 Februari 1934, dan disahkan oleh kongres PSII di Banjarnegara pada tanggal 20-26 Mei 1934 yang mengupas tenang Akhlaq, Aqidah, Perkawinan, Ekonomi, Amar Ma’ruf Nahiy Munkar serta perjuangan.
- Kultur dan Adat Islam tahun (1933).
- Tafsir program dan Azaz Tandim (1965)
- Al Islam (1916). Majalah ini diterbitkan oleh Sarekat Islam pusat di Solo yang dipimpin oleh Tjokroaminoto, majalah ini umumnya menerbitkan tulisan-tulisan mengenai keagamaan.
- Bendera Islam (1924-1927). Majalah dua mingguan yang diterbitkan oleh tokoh-tokoh utama Muhammadiyah dan Sarekat Islam di Yogyakarta. Dipimpin oleh Tjokroaminoto, majalah ini bertujuan untuk mempertahankan bangsa dan tanah air berdasarkan agama Islam.
- Bintang Islam (1923-1926). Majalah dua mingguan ini diterbitkan oleh tokoh utama Muhammadiyah dan Sarekat Islam yang dipimpin oleh Tjokroaminoto, isinya membahas peristiwa-peristiwa di dalam dan di luar negeri yang perlu diperhatikan oleh kaum Muslimin di Indonesia.
- Fadjar Asia (1927-1930). Majalah berita ini diterbitkan oleh tokoh Sarekat Islam yang dipimpin oleh Tjokroaminoto yang berisi mengenai pandanganpandangan partai Sarekat Islam.
- Oetoesan Belanda. Ini adalah Koran harian Islam diterbitkan oleh Tjokroaminoto yang bertujuan untuk mengembangkan aspirasi anggota Sarekat Islam.






