Tujuan Menikah Dalam Islam Untuk Laki-Laki dan Perempuan

Tujuan Menikah Dalam Islam

Tujuan Menikah Dalam Islam | Menurut Islam | Al Quran | Hadits | Untuk Laki-Laki | Perempuan |

Pengertian Pernikahan Menurut Para Ahli

Sebelum masuk pada pembahasan “Tujuan Menikah dalam Islam”, mari kita terlebih dahulu memahami, apa itu pernikahan sendiri?

Di bawah ini adalah beberapa pengertian menurut para ahli yang dikumpulkan dari berbagai sumber, dengan harapan pembaca punya banyak pandangan untuk kemudian menjadi bijak dalam memaknai arti pernikahan:

  1. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, pernikahan adalah akad yang memberikan faedah hukum kebolehan melakukan hubungan keluarga (suami istri) antara pria dan wanita dan mengadakan tolong menolong dan memberikan batasan bagi pemiliknya serta peraturan bagi masing-masing.
  2. Menurut Ulama Hanafiyah dalam Al Fiqh ‘Ala Mazahib Al-‘Arba’ah juz 4 karya Abdurrahman Al-Jaziri, pernikahan adalah akad yang memberikan faedah dimilikinya kenikmatan dengan sengaja, maksudnya adalah untuk menghalalkan seorang laki-laki memperoleh kesenangan (istimta‘) dari wanita, dan yang dimaksud dengan memiliki di sini adalah bukan makna yang hakiki.
  3. Menurut ulama Shafi‘iyah dalam Al Fiqh ‘Ala Mazahib Al-‘Arba’ah juz 4 karya Abdurrahman Al-Jaziri, pernikahan adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan seksual dengan lafaz nikah atau tajwiz atau semakna dengan keduanya.
  4. Menurut Ulama Malikiyah, pernikahan adalah akad perjanjian untuk menghalalkan meraih kenikmatan dengan wanita yang bukan mahram, atau wanita Majusiyah, wanita Ahli kitab melalui sebuah ikrar.
  5. Menurut Ulama Hanabilah, pernikahan adalah sebuah perjanjian yang didalamnya, terdapat lafaz nikah atau tajwiz atau terjemahan (dalam bahasa lainnya) yang dijadikan sebagai pedoman.
  6. Menurut Abdul Muhaimin AS, pernikahan adalah aqadah antara calon suami untuk pemenuhan hajat melalui pernikahan yang diatur menurut tuntutan agama Islam sehingga keduanya diperbolehkan bergaul sebagai suami isteri. Sehingga senantiasa selalu merasa damai, tenang dalam menikmati hubungan seksnya. Dan yang dimaksud akadah adalah ijab pihak wali perempuan atau wakil perempuan dan qabul calon suami atau wakilnya.
  7. Menurut H. Djamaan Nur, Pernikahan adalah akad yang memberikan faedah hukum dan kebolehan dalam mengadakan hubungan keluarga (suami isteri) antara pria dan wanita dengan tujuan mengembangkan keturunan dan mengadakan tolong menolong serta memberi batas hak bagi pemiliknya dalam pemenuhan kewajiban masing-masing.
Baca Juga :   Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Insan Kamil dan Penelitian Tentangnya

Dalil Pernikahan dalam Al Quran dan Hadits

Berikut adalah dasar hukum atau dalil pernikahan dalam Islam (Al Quran dan Hadits):


Dalil Pernikahan dalam Al Quran

  • Surah Az-Zariyat Ayat 49 (Dan segala sesuatu Kami Ciptakan Berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.)
  • Surah An Nisa Ayat 1 (Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu Yang menciptakan kamu dari satu jiwa dan darinya Dia menciptakan jodohnya, dan mengembang-biakan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan; dan bertakwalah kepada Allah SWT yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya, terutama mengenai hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah SWT adalah pengawas atas kamu.)
  • Surah Al-Qiyamah Ayat 39 (Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.)
  • Surah Ar Rum Ayat 21 (Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.)
  • Surah An Nur Ayat 32 (Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.)
  • Surah An Nahl Ayat 72 (Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?)
  • Surah Al Fathir ayat 11 (Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.)

Dalil Pernikahan dalam Hadits Nabi Muhammad SAW

  • Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka ia tidak mengikuti jalanku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” (HR Ibnu Majah)
  • Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan-perempuan merdeka itu baiknya rumah, sedangkan budak-budak perempuan itu rusaknya rumah.” (HR Ad-Dailami dan Ats-Tsa’labi)
  • Dari Anas Bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang ingin bertemu Allah dalam keadaan suci dan disucikan, maka menikahlah dengan perempuan-perempuan merdeka.” (HR Ibnu Majah).
  • Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Carilah rezeki dengan menikah.” (HR Ad-Dailami).
  • Dari Anas Bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang menikah maka sungguh ia telah diberi setengahnya ibadah.” (HR Abu Ya’la).
  • Dari Al-Miqdam bin Ma’di Kariba, Rasulullah SAW bersabda: “Apa yang kamu nafkahkan kepada istrimu, maka bagimu hal itu adalah sedekah.” (HR Ahmad dan Ath-Thabarani).
Baca Juga :   Surat An Nur Ayat 26, Bacaan, Arti Perkata (Mufrodat), Terjemahan, Kandungan, Tafsir dan Asbabun Nuzul

Tujuan Pernikahan Dalam Islam Untuk Laki Laki dan Perempuan

Tujuan pernikahan yang akan dibahas adalah tujuan bersama, pengantin laki laki dan perempuan. Karena secara sepintas yang bisa tergambar adalah tujuan pernikahan ialah “mendapatkan anugerah besar dari Allah SWT, berupa peningkatan kualitas diri, pasangan dan keturunan, dalam hal ruhani dan jasmani”.


Menjalankan Perintah Allah

Menjalankan perintah Allah SWT adalah hal yang penting bagi umat Islam, dalam hal ini adalah menikah. Karena sesuai dengan Al Quran, surah An Nuur ayat 32.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32)

Menyempurnakan Separuh Agama

Masih dalam konteks menjalankan perintah Allah SWT dan rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW), tujuan menikah merupakan wujud dari upaya penyempurnaan agama. Atau bisa dikenal dengan “menyempurnakan separuh agama”.


Hal ini karena berdasar pada hadits nabi:

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)

Melaksanakan Sunah Rasulullah SAW

Sunah adalah bagian penting bagi umat Islam, karena posisinya sebagai dasar hukum yang mengikat setiap aktivitas ruhani dan fisik kita semua.

Dalam konteks ini, Baginda Nabi Muhammad SAW begitu terang dan jelas dalam menjelaskan posisi pernikahan dalam Islam:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِيْ فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ” رواه ابن ماجه

Dari Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka ia tidak mengikuti jalanku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” HR. Ibnu Majah.

Meningkatkan Ibadah Kepada Allah

Masih terikat pada tiga tujuan menikah sebelumnya, tujuan menikah ini adalah untuk meningkatkan nilai ibadah dihadapan Sang Pencipta, Allah SWT.

Baca Juga :   Surat Al Anbiya Ayat 30, Bacaan, Arti Perkata (Mufrodat), Terjemahan, Kandungan dan Tafsir

Bagaimana tidak, berumah tangga adalah symbol dari dari “ladang ibadah”, bahkan dalam hubungan suami istripun yang sudah halal ini adalah ibadah, yang bernilai pahala.

Gambaran semua dalam bingkai pernikahan adalah ibadah, terlihat jelas dalam hadits nabi, yang artinya:

“… Seseorang di antara kalian bersetubuh dengan istrinya adalah sedekah!” (Mendengar sabda Rasulullah, para sahabat keheranan) lalu bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya terhadap istrinya akan mendapat pahala?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Bagaimana menurut kalian jika ia (seorang suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah ia berdosa? Begitu pula jika ia bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), dia akan memperoleh pahala’.” (HR. Bukhari dan Muslim)” 

Membentengi diri dan Menjaga Pandangan

Menjaga diri dan pandangan adalah isu penting yang menjadi tujuan pernikahan. Hal ini dijadikan tujuan, bahkan ditetapkan secara langsung dalam Islam, karena semata hukum Islam, ingin umat Islam terhindar dari zina.

Gambaran tentang ini terlihat jelas dalam hadits Baginda Nabi Muhammad SAW, yang artinya:

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya)

Ketenangan Hati

Setelah di-covernya juga terhindar dari zina, hal yang prinsip dari tujuan pernikahan adalah ketenangan hati.

Hal ini harus ditetapkan sebagai tujuan dari menikah, karena mendasar pada firman Allah Ta’ala dalam Al Quran Surah Ar-Ruum ayat 21, yang artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Ruum: 21)

Mendapatkan Keturunan yang Sholeh dan Sholehah

Salah satu tujuan penting dalam penikahan adalah mendapatkaan keturunan yang sholeh dan sholehah.

Hal ini bukan hanya harapan dan tujuan, tetapi menjadi sebuah ketetapan Allah SWT yang tergambar dalam firman Allah dalam Al Quran Surah An-Nahl ayat 72:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ


“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl: 72)

Related posts