Bahasa Jawa Adalah | Pengertian Bahasa Jawa Menurut Para Ahli | Fungsi Bahasa Jawa | Tingkatan (Unggah-Ungguh) Bahasa Jawa | Tujuan Pembelajaran Bahasa Jawa |
Pengertian Bahasa Jawa Menurut Para Ahli
Berikut adalah beberapa pengertian Bahasa jawa menurut para ahli yang dikutip dari beberapa sumber :
- Menurut Surono, Bahasa Jawa adalah bahasa yang tumbuh dan berkembang dari bahasa Jawa tengahan dan Jawa kuna.
- Menurut Gloria R. Poedjosoedarmo, Wedhawati, Laginem., Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa yang termasuk rumpun bahasa Austronesia.
- Menurut Marsono, Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah dari 500-an bahasa daerah yang ada di Indonesai. Jumlah penuturnya sekitar 75.500.000 orang, merupakan bahasa daerah terbesar.
- Menurut Raminah Baribin, Bahasa Jawa merupakan lambang nilai sosial budaya yang mencerminkan dan terikat pada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat mereka.
- Menurut Dyah Tavipa, Bahasa Jawa merupakan bahasa yang hidup , dalam arti digunakan secara aktif dan dinamis oleh masyarakat penuturnya yang berada di antara bahasa dan budaya lain di Indonesia.
Fungsi Bahasa Jawa
Berikut adalah penjelasan tentang fungsi Bahasa Jawa:
- bahasa Jawa adalah bahasa budaya di samping berfungsi komunikatif juga berperan sebagai sarana perwujudan sikap budaya yang sarat dengan nilainilai luhur,
- sopan santun berbahasa Jawa berarti mengetahui akan batas-batas sopan santun, mengetahui cara menggunakan adat yang baik dan mempunyai rasa tanggungjawab untuk perbaikan hidup bersama, dan
- agar mencapai kesopanan yang dapat menjadi hiasan diri pribadi seseorang, maka syarat yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1) Pandai menegangkan perasaan orang lain di dalam pergaulan, 2) pandai menghormati kawan maupun lawan, dan 3) pandai menjaga tutur kata, tidak kasar, dan tidak menyakiti hati orang lain
Tingkatan dalam Bahasa Jawa
Berikut adalah penjelasan tentang tingkatan dalam Bahasa jawa :
Unggah-ungguh bahasa Jawa secara emik dapat dibedakan menjadi dua yaitu bentuk ngoko (ragam ngoko) dan krama (ragam krama).
Ragam Ngoko
Ragam Ngoko Adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang berintikan leksikon ngoko, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam ngoko adalah leksikon ngoko, bukan leksikon lain. Afiks yang muncul dalam ragam semuanya menggunakan ragam ngoko yaitu afiks di-, -e, dan –ake. ragam ngoko dapat dibedakan menjadi dua yaitu ngoko lugu dan ngoko alus.
Ngoko Lugu
Ngoko lugu adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya berbentuk ngoko atau netral (leksikon ngoko lan netral) tanpa terselip krama, krama inggil, atau krama andhap Afiks yang digunakan dalam raga mini adalah afiks di-, -e, dan –ake bukan afiks dipun-, -ipun, dan –aken.
Berikut ini contoh ngoko lugu:
Akeh wit aren kang ditegor seperlu dijupuk pathin.
‘banyak pohon enau yang ditebang untuk diambil sarinya’
Bengi iku uga Ayunda mlebu rumah sakit diterake bapak lan ibune.
‘malam itu juga Ayunda dibawa ke rumah sakit diantar bapak dan ibunya’
Ngoko Alus
Ngoko alus adalah bentuk unggah-ungguh yang didalamnya bukan hanya terdiri atas leksikon ngoko dan netral saja, melainkan juga terdiri atas leksikon krama inggil, krama andhap, dan krama. Afiks yang dipakai dalam ngoko alus ini yaitu di-, -e, dan –ne.
Berikut ini contoh ngoko alus:
Dhuwite mau wis diasta apa durung, Mas?
‘Uangnya tadi sudah dibawa atau belum, Kak?’
Sing ireng manis kae garwane Bu Mulyani.
‘Yang hitam manis itu suami Bu Mulyani’
Ragam Krama
Ragam krama adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang berintikan leksikon krama, atau yang menjadi unsur inti di dalam ragam krama, bukan leksikon lain. Afiks yang digunakan dalam ragam krama yaitu afiks dipun-, -ipun, dan –aken. Ragam krama mempunyai dua bentuk varian yaitu krama lugu dan krama alus.
Krama Lugu / Krama Madya
Ragam krama lugu dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk ragam krama yang kadar kehalusannya rendah. Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan ngoko alus, ragam krama lugu tetap menunjukkan kadar kehalusannya. Masyarakat awam menyebut ragam ini dengan sebutan krama madya. Ragam krama lugu sering muncul afiks ngoko di-, -e, dan –ake daripada afiks dipun-, -ipun, dan –aken. Selain afiks ngoko, klitik madya mang- juga sering muncul dalam ragam ini.
Berikut ini contoh krama lugu / krama madya:
Mbak, njenengan wau dipadosi bapak.
‘Mbak, Anda tadi dicari bapak.’
Griya tipe 21 niku sitine wiyare pinten meter?
‘Rumah tipe 21 itu luas tanahnya berapa meter?’
Krama Alus
Krama alus adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya terdiri atas leksikon krama dan dapat ditambah dengan leksikon krama inggil atau krama andhap. Meskipun begitu, yang menjadi leksikon inti dalam ragam ini hanyalah leksikon yang berbentuk krama. Leksikon madya dan leksikon ngoko tidak pernah muncul di dalam tingkat tutur ini. Leksikon krama inggil dan andhap selalu digunakan untuk penghormatan terhadap mitra wicara.
Berikut beberapa contoh krama alus.
Sapunika ngaten kemawon Mbak, Dhik Handoko punika dipunsuwuni bantuan pinten?
‘Sekarang begini saja Mbak, Dik Handoko dimintai bantuan berapa?’
Ing wekdal semanten kathah tiyang sami risak watak lan budi pakartinipun.
‘Saat itu banyak orang yang rusak perangai dan budi pekertinya’
Tujuan Pembelajaran Bahasa Jawa
Berikut adalah penjelasan tentang tujuan pembelajaran bahasa jawa :
- siswa menghargai dan membanggakan bahasa Jawa sebagai bahasa daerah dan berkewajiban mengembangkan serta melestarikannya,
- siswa memahami bahasa Jawa dari segi bentuk, makna dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat untuk bermacam-macam tujuan keperluan, keadaan, misalnya di sekolah, dirumah, di masyarakat dengan baik dan benar,
- siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Jawa yang baik benar,
- siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar untuk meningkatkan keterampilan, kemampuan intelektrual (berfikir kreatif menggunakan akal sehat, menerapkan kemampuan yang berguna, menggeluti konsep abstrak, dan memecahkan masalah), kematangan emosional dan sosial, dan
- siswa dapat bersikap positif dalam tata kehidupan sehari-hari di lingkungannya.






