Bahasa Bali Adalah | Pengertian Bahasa Bali Menurut Para Ahli | Fungsi Bahasa Bali | Tingkatan (Kruna) dalam Bahasa Bali |
Pengertian Bahasa Bali Menurut Para Ahli
Berikut adalah pengertian bahasa bali menurut para ahli yang dikutip dari beberapa referensi:
- Menurut Desi Saraswati, Bahasa Bali adalah sebuah bahasa Austronesia dari anak cabang BaliSasak. Bahasa ini terutama dipertuturkan di pulau Bali, pulau Lombok bagian barat, dan sedikit di ujung timur pulau Jawa.
- Menurut I Nym. Anom Fajaraditya, A.A. Gede Dalem Kemara Putra, Bahasa Bali yang sekarang sebenarnya adalah merupakan bahasa campuran diantara bahasa Bali-Kuna dengan bahsa Jawa-Kuna, Sansekerta, Belanda, Inggris, Tionghoa, Arab, Portugis, Tamil dan bahasa bahasa asing lainnya. Yang banyak diantaranya mempengaruhi ialah bahasa jawa-Kuna dan Sansekerta. (1) Bahasa Bali adalah bahasa ibu sebagai media untuk membentuk manusia Pancasila. (2) Bahasa Bali adalah sebagai bahasa pengantar dalam pergaulan masyarakat Bali. (3) Bahasa Bali adalah sebagai pendukung agama dan kebudayaan daerah Bali. (4) Bahasa Bali sebagai salah satu bahasa daerah yang memberikan pupuk pembinaan yang penting bagi kemajuan bahasa Indonesia.
- Menurut Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Bahasa, Aksara, Dan Sastra Bali, Bahasa Bali adalah bahasa daerah yang digunakan oleh orang Bali dan penutur lainnya, yang dipelihara dan dikembangkan sebagai pengemban Kebudayaan Bali dan tata kemasyarakatan Bali.
- Menurut Dr. Drs. I Nyoman Suwija, M.Hum., A.Ma. Drs. I Nyoman Rajeg Mulyawan, M.Pd. Dr. Dra. Ida Ayu Iran Adhiti, M.Si., Bahasa Bali merupakan alat komunikasi yang masih hidup dan digunakan sebagai alat komunikasi intrasuku Bali.
- Menurut I Nyoman Anom Fajaraditya Setiawan, Putu Wirayudi Aditama, Ni Luh Putu Juniartini, Bahasa Bali adalah sarana media komunikasi dalam kehidupan seharihari masyarakat Bali.
Fungsi Bahasa Bali
Berikut adalah penjelasan tentang fungsi bahasa bali:
Sebagai alat komunikasi
Fungsi Bahasa Bali sebagai alat komunikasi berhubungan di dalam keluarga maupun masyarakat, terlihat pada pembicaraan antar anggota keluarga, dalam pertemuan-pertemuan kemasyarakatan, seperti: rapat desa, rapat banjar, rapat subak, rapat sekaa, dan sebagainya
Lambang kebanggaan daerah Bali
Bahasa Bali dalam fungsinya sebagai lambang kebanggaan daerah terlihat dalam kehidupan kesenian Bali, baik dalam seni sastra maupun seni pentas. Melalui bahasa, masyarakat mengungkapkan harga dirinya serta rasa bangganya terhadap kebudayaan.
Lambang Identitas daerah Bali
Bahasa Bali dalam fungsinya sebagai lambang identitas daerah terlihat dalam pembicaraan intra etnis pada suasana dan tempat tertentu Suasana yang dimaksud seperti suasana yang sebenarnya sangat memungkinkan untuk memakai bahasa lain, namun Bahasa Bali tetap digunakan oleh sesama etnis Bali.
Tingkatan dalam Bahasa Bali
Berikut adalah penjelasan tentang tingkatan dalam Bahasa Bali :
Bahasa Bali memiliki tingkat-tingkatan kruna.
- Ada kruna andap (lepas hormat)
- Kruna alus (kata hormat).
Kruna Alus
Kruna alus yang dimaksudkan di sini adalah kosakata bahasa Bali yang memiliki nilai rasa halus atau bersifat menghormat yang dipakai menghormati golongan terhormat atau juga digunakan untuk merendahkan orang lain ketika berbahasa Bali halus, tergantung status sosial orangnya, orang yang berbicara, orang yang diajak berbicara maupun yang dibicarakan.
Berdasarkan pemahaman tersebut, maka kosakata basa alus ini dibedakan atas:
Kruna alus mider (Ami)
Kruna alus mider adalah kata bahasa Bali yang mempunyai nilai rasa halus, dan mempunyai dua fungsi, bisa dipakai menghormat (nyinggihang sang singgih) dan juga dipakai merendahkan golongan bawah (ngesorang sang sor).
Kruna alus madia (Ama)
Kruna alus madia (Ama) adalah kata-kata yang bahasanya berada di antara alus singgih (Asi) dan alus sor (Aso). Kruna alus madia kelihatan sebagai variasi kruna alus lainnya.
Kruna alus singgih (Asi)
Kata-kata alus yang dipakai menghormati orang yang patut dihormati disebut kruna alus singgih. Perbedaannya dengan kruna Ami, bahwasanya Kruna Asi pasti mempunyai bentuk andap, juga mempunyai bentuk alus sor (Aso).
Kruna alus sor (Aso).
Kruna alus sor adalah kata-kata yang mempunyai nilai rasa halus atau menghormat, dipakai merendahkan diri atau merendahkan orang lain yang status sosialnya lebih rendah. Jadinya, yang akan berbahasa alus sor dalam pergaulan, semua masyarakat Bali yang mengangap diri mempunyai status soaial lebih rendah dalam berbicara.
Kruna Nénten Alus
Di samping kata-kata yang nilai rasanya halus, ada pula katakata yang tidak halus (kruna nénten alus). Dahulu, kruna-kruna nénten alus ini disebut kata lepas hormat. Yang termasuk jenis kata nénten alus ada tiga jenis, yaitu: (1) Kruna andap (kata biasa, memiliki bentuk halus), (2) Kruna mider (kata biasa, tidak memiliki bentuk alus), dan (3) Kruna kasar (kata yang nilai rasanya jelek).
Kruna Mider
Pengertian kruna mider kalau dibandingkan dengan kruna alus mider (Ami) sering menimbulkan pemikiran yang membingungkan. Yang menyebabkan demikian, karena baik kruna mider maupun kruna alus mider, bisa dipakai menghormati (nyinggihang), juga bisa dipakai merendahkan (ngasorang) Perbedaannya, kruna alus mider mempunyai bentuk andap, sementara kruna mider sama sekali tidak mempunyai bentuk lain.
Kruna Andap
Kruna andap ini disebut kruna lepas hormat atau kruna kapara. Kruna andap adalah kata-kata yang nilai rasanya biasa, lepas hormat atau andap (rendah), tidak halus dan tidak kasar. Kata-kata tersebutlah yang membentuk kalimat-kalimat andap. Dipakai berbicara oleh orang-orang yang berkasta sama atau sama status atau kelahirannya. Selain itu, kata-kata andap tersebut setelah membentuk kalimat, bisa dipakai berbicara oleh sang singgih (golongan terhormat) terhadap sang sor (golongan penghormat).
Kruna Kasar
Kruna kasar yaitu kata bahasa Bali yang rasa bahasannya jelek (kaon). Kata-kata kasar dipakai untuk membentuk komunikasi kasar. Itulah sebabnya kata-kata kasar biasa dipakai berbicara pada saat marah, saat bertengkar atau mencaci-maki. Dalam berkomunikasi, kata-kata kasar sebagai unsur utama dalam membentuk kalimat kasar, sebagai dasar pula dalam membentuk basa kasar






