Bacaan Sujud (Arab, Latin dan Terjemah), Tata Cara Sujud dalam Sholat yang Benar, Dalil dan Keutamaan Membacanya

  • Whatsapp
Bacaan Sujud

Bacaan Sujud | Sujud dalam Sholat Adalah | Tata Cara Sujud dalam Sholat yang Benar | Bacaan Sujud Bahasa Arab | Bacaan Sujud Latin | Terjemah Bacaan Sujud | Dalil (Dasar Hukum) Sujud | Keutamaan Membaca Bacaan Sujud |

Apa yang Dimaksud Sujud dalam Sholat?

Secara bahasa sujud berarti turun dan condong. Sedangkan menurut syara’ sujud adalah menempelnya dahi orang yang shalat pada tempat sujudnya.

Sebagaimana diketahui bahwa di dalam shalat sujud merupakan salah satu rukun fi’li. Sebagai rukun maka orang yang shalat mau tidak mau harus melakukan sujud. Meninggalkannya atau melakukannya dengan tidak memenuhi syarat-syaratnya menjadikan shalatnya tidak sah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan kedekatan Allah dan hamba-Nya pada saat sujud sebagaimana keterangan dalam hadist Nabi Muhammad SAW riwayat HR Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i. Imam Al-Ghazali mengutip Al-Qur’an dan hadits yang menyebutkan hubungan sujud dan kedekatan Tuhan-hamba-Nya.


Imam Al-Ghazali mengutip Surat Al-Alaq ayat 19 sebagai berikut:

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Artinya, “Sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan),” (Surat Al-Alaq ayat 19).

Imam Al-Ghazali juga mengutip hadits riwayat HR Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i sebagai berikut:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Momentum terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa saat itu,’” (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i).

Tata Cara Sujud dalam Sholat yang Benar

Syekh Muhammad Nawawi Banten diberi penjelasan dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ sebagai berikut:

  • Bersujud di atas tujuh anggota badan. Di dalam pelaksanaannya sujud harus melibatkan 7 (tujuh) anggota badan, yakni kening, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua telapak kaki. Ini berdasarkan oleh hadis yang di antaranya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dimana Rasulullah SAW bersabda:
Baca Juga :   Surah Al-Ankabut Ayat 17 : Bacaan, Terjemah, Mufradat dan Isi Kandungan

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

Artinya: “Saya diperintah untuk bersujud di atas tujuh anggota badan, yakni dahi—sambil tangan beliau menunjuk pada hidungnya, kedua tangan, kedua kaki, dan ujung-ujung telapak kaki.” (HR. Imam Bukhari)

  • Kening dalam keadaan terbuka. Artinya ketika sujud tidak boleh ada sesuatu apapun yang menutupi kening kecuali bila ada udzur atau alasan tertentu seperti adanya rambut yang tumbuh di kening atau adanya perban yang bila dilepas maka akan menimbulkan bahaya.
  • Bertumpu pada kepala. Artinya ketika bersujud yang menjadi tumpuan adalah kening, bukan lainnya,di mana beban kepala menimpa tempatnya sujud. Dalam hal ini Dr. Musthafa Al-Khin dalam kitab Al-Fiqhul Manhajî memberikan satu gambaran bilamana di bawang kening tersebut terdapat kapas maka ia akan tertekan dan nampak jelas bekas sujudnya di kapas tersebut.
  • Jatuhnya badan bukan untuk selain sujud. Artinya turunnya badan ke posisi sujud bukan karena untuk suatu tujuan selain sujud. Sebagai contoh, ketika orang yang shalat dalam posisi i’tidal atau berdiri tegak setelah ruku ia didorong oleh anaknya sehingga terjatuh ke depan pada posisi sujud. Ini artinya turunnya badan pada posisi sujud tersebut bukan karena mau melakukan sujud tapi karena hal lain yakni terjatuh didorong oleh anak. Dalam kasus seperti ini bila ia meneruskan sujudnya maka tidak sah. Ia mesti berdiri lagi untuk kemudian menurunkan badan untuk bersujud.
  • Tidak bersujud di atas sesuatu yang dapat bergerak sebab gerakannya orang yang shalat. Sebagai contoh, orang yang shalat dengan menggunakan baju koko misalnya, dimana ujung lengannya lebih lebar. Ketika orang yang shalat ini melakukan gerakan-gerakan shalat dari berdiri ke ruku’, dari ruku’ ke i’tidal, dan seterusnya maka ujung lengan bajunya akan ikut bergerak. Itu artinya lengan baju tersebut adalah sesuatu yang tersambung dengan diri orang yang shalat dan bergerak karena gerakan orang tersebut.

Bila ketika sujud keningnya berada di atas ujung lengan baju maka sujudnya menjadi tidak sah karena bersujud di atas sesuatu yang bersambung dengan dirinya dan dapat bergerak karena gerakannya. Termasuk juga telapak tangannya sendiri. Bila ia bersujud di atas telapak tangannya maka sujudnya dianggap tidak sah karena telapak tangan diaanggap sebagai sesuatu yang bersambung dengannya.


  • Tubuh bagian bawah diangkat lebih tinggi dari tubuh bagian atas. Dengan syarat ini maka orang yang bersujud posisi pantatnya harus lebih tinggi dari posisi kepala dan kedua pundaknya, tidak boleh sejajar atau bahkan lebih rendah. Sebagai contoh kasus dalam hal ini adalah orang yang shalat di anak tangga, dimana posisi kakinya ada di anak tangga bagian bawah. Pada posisi demikian ketika ia melakukan sujud maka posisi kepala akan berada di anak tangga yang lebih atas. Bila dengan kondisi demikian posisi pantat sejajar dengan posisi kepala maka sujudnya tidak sah yang berarti juga menjadikan shalatnya tidak sah.
Baca Juga :   Hadits Tentang Guru dan Menuntut Ilmu (1) : Hadits dan Isi Kandungan Hadist

Syekh Nawawi memberikan kelonggaran bagi wanita yang sedang hamil. Bila ia kesulitan melakukan sujud dengan posisi pantat lebih tinggi dari kepala maka tak mengapa ia melakukannya sebisa yang ia mampu dan tidak ada kewajiban baginya untuk mengulangi shalatnya.

  • Tuma’ninah. Saat bersujud orang yang melakukannya harus disertai dengan tuma’ninah, yakni sikap dimana semua anggota badan terdiam tenang dengan waktu minimal selama orang mengucapkan kalimat tasbih subhânallâh. Ini juga berarti bahwa waktu paling cepat dalam melakukan sujud adalah selama orang mengucapkan kalimat tasbih tersebut.Wallâhu a’lam.

Bacaan Sujud Bahasa Arab

  • Sayyidatina Aisyah RA mengatakan bahwa ia mencari nabi pada suatu malam. “Kupikir beliau pergi untuk menemui salah seorang istrinya. Setelah kucari dan kukembali, ternyata aku mendapatinya sedang rukuk atau sujud. Ia membaca doa sebagai berikut:”

سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

  • Sayyidatina Aisyah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW membaca dalam rukuk dan sujudnya sebagai berikut:

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

  • Sahabat Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW berdoa dalam sujudnya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

Bacaan Sujud Latin

Terjemah Bacaan Sujud

  • Artinya, “Mahasuci Engkau. Segala puji bagi-Mu. Tiada tuhan selain Engkau.”
  • Artinya, “Maha bersih dan maha suci (Engkau), Tuhan malaikat dan roh”
  • Artinya, “Tuhanku, ampunilah aku dari segala dosa baik kecil maupun besar, awal maupun akhir, dan dosa yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.”

Dalil (Dasar Hukum) Sujud dalam Sholat

Sahabat Abu Hurairah RA meriwayatkan dari Sayyidatina Aisyah RA bahwa ia suatu malam mendapati Rasulullah SAW tidak di tempat tidur. Ia mencarinya dan tangannya jatuh pada telapak kedua kaki Rasulullah yang sedang sujud di masjid sambil berdoa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Artinya, “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu daripada siksa-Mu. Aku tidak sanggup membilang pujian atas diri-Mu sebagaimana Kau membilang pujian atas diri-Mu sendiri.” Wallahu a’lam.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ۩

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung”.

وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ

Dan segala apa yang ada di langit dan di bumi hanya bersujud kepada Allah yaitu semua makhluk bergerak (bernyawa) dan (juga) para malaikat, dan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.

Keutamaan Membaca Bacaan Sujud


Para ulama fiqih mendifinisikan shalat sebagai tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan itu selanjutnya dinamakan rukun dan pemenuhannya menjadi satu keharusan. Berarti, bila tidak dikerjakan mengakibatkan shalatnya batal. Atau disebut sunnah jika berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurnaan saja. Sehingga, kalau ditinggalkan, tidak sampai berakibat membatalkan shalat. Maka membaca bacaan sujud adalah sunnah, tidak membatalkan shalat tapi dianjurkan oleh Rosulullah sebagaimana beliau melakukannya.

Related posts