Asbābun Nuzūl, Pengertian, Bentuk, Sikap dan Faedah

Asbābun Nuzūl, Pengertian, Bentuk, Sikap dan Faedah

Asbābun Nuzūl | Pengertian Asbābun Nuzūl | Pengertian Asbābun nuzūl Menurut Para Ulama | Susunan atau Bentuk Redaksi Asbābun Nuzūl | Sikap Para Mufassir Terhadap Riwayat Asbābun Nuzūl  | Faedah Mengetahui Asbābun Nuzūl |

Pengertian Asbābun Nuzūl

Ungkapan asbābun nuzūl merupakan bentuk iḍāfah dari kata “asbāb” berbentuk jama’, mufrad-nya adalah sabab artinya “sebab” dan nuzūl yang artinya adalah “turun”. Secara etimologi, asbābun nuzūl adalah sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu. Ayat-ayat al-Qur`an turun ada yang tanpa sabab dan ada yang didahului sabab.

Pengertian Asbābun Nuzūl Menurut Para Ulama

  • Menurut Az-Zarqānī (w. 1948 M)

sesuatu yang turun (berupa) satu ayat atau beberapa ayat yang berbicara tentangnya (sesuatu itu) atau menjelaskan ketentuan-ketentun hukum yang terjadi pada waktu terjadinya peristiwa tersebut.

  • Menurut Mannā’ al-Qaṭṭān (w. 1999 M)

sesuatu yang menyebabkan diturunkannya al-Qur`an berkenaan dengan keadaan al-Qur`an ketika ia turun, seperti (karena disebabkan) adanya sebuah peristiwa atau adanya pertanyaan.

Susunan atau Bentuk Redaksi Asbābun Nuzūl

Ayat yang ber-asbābun nuzūl ada yang secara tegas tergambar dalam ayat, dan ada pula yang tidak dinyatakan secara jelas dalam ayat yang bersangkutan. Ayat yang secara tegas menyatakan asbābun nuzūl, antara lain tergambar dalam ayat yang memuat kata-kata يسألونك (mereka bertanya kepadamu) atau يستفتونك (mereka meminta fatwa kepadamu). Sedang ayat yang tidak memuat secara tegas asbābun nuzūl-nya, dipelajari melalui hadis.

Bentuk redaksi dari hadis tentang asbābun nuzūl adalah :

  • Bentuk redaksi yang tegas berbunyi …. سبب نزول الابة كذا
  • Adanya huruf fā as-sababiyah yang masuk pada riwayat yang dikaitkan dengan turunnya ayat. Misalnya, …………. فنزلت الاية
  • Adanya keterangan yang menjelaskan, bahwa Rasulullah Saw. ditanya sesuatu kemudian diikuti dengan turunnya ayat sebagai jawabannya.

Sikap Para Mufassir Terhadap Riwayat Asbābun Nuzūl

Al-Wāḥidī berpendapat bahwa untuk mengetahui tafsir sesuatu ayat Al-Qur`an, tidak mungkin tanpa mengetahui, latar belakang peristiwa dan kejadian tentang penurunannya. Ibn Daqīqul ’īd berpendapat bahwa keterangan tentang kejadian turunnya ayat merupakan cara yang kuat untuk memahami makna ayat Al-Qur`an. Juga, Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa mengetahui asbābun nuzūl ayat, menolong kita memahami makna ayat, karena mengetahui kejadian turunnya itu memberikan dasar untuk mengetahui penyebabnya.

Faedah Mengetahui Asbābun Nuzūl

  • Memberi petunjuk tentang hikmah yang dikehendaki Allah atas apa yang telah ditetapkan hukumnya.
  • Memberi petunjuk tentang adanya ayat-ayat tertentu yang memiliki kekhususan hukum tertentu.
  • Merupakan cara yang efisien untuk memahami makna yang terkandung dalam al Qur`an.
  • Menghindari keraguan tentang ketentuan pembatasan (al-Hasyr) yang terdapat dalam al-Qur`an. Misal;

قُل لَّا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Ayat ini turun saat orang-orang kafir mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan sebaliknya menghalalkan yang diharamkan Allah. Dan ayat ini tidak dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa selain yang disebutkan itu halal semua karena penekanan ayat terletak pada pengharaman bukan penghalalan.

  • Menghilangkan kemusykilan memahami ayat, sebagaimana yang kebingungan yang dialami Marwan bin Al-Hakam yang diriwayatkan oleh Bukhāri, ketika memahami QS Ali ‘Imrān [3] : 188

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

“janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah ananda menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”

Menurutnya, bagaimana mungkin orang yang gembira dengan apa yang diperbuat dan senang dipuji atas apa yang diperbuat, disiksa oleh Allah. Dijelaskan oleh Ibn Abbas bahwa ayat turun berkenaan dengan orang Yahudi yang ditanya oleh Nabi. Mereka tidak menjawab bahkan menceritakan apa yang tidak ditanyakan. Mereka menganggap hal itu akan mendapatkan pujian dari Nabi dan merasa senang atas perbuatannya.

  • Membantu memudahkan penghafalan ayat dan pengungkapan makna yang terkandung di dalamnya.

Related posts