Aliran Jabbariyah, Pengertian, Tokoh dan Doktrin

Aliran Jabbariyah, Pengertian, Tokoh dan Doktrin

Aliran Jabbariyah | Pengertian Aliran Jabbariyah | Tokoh Aliran Jabbariyah | Doktrin Ajaran Aliran Jabbariyah |

Pengertian Aliran Jabbariyah

Secara bahasa Jabbariyah berasal dari kata جبر  َyang mengandung pengertian memaksa. Di dalam kamus Al-Munjid dijelaskan bahwa nama Jabbariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Jabara yang berarti memeksa atau terpaksa. Sedangkan secara istilah, Jabbariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur).

Menurut Al-Syahrastany, Al-Jabr berarti maniadakan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyadarkan perbuatan itu kepada Tuhan. Menurut paham ini, manusia tidak kuasa atas sesuatu. Oleh karena itu manusia tidak dapat diberi sifat mampu (Isthitha’ah). Manusia, sebagai dikatakan Jahm ibn Saffan, terpaksa atas perbuatan-perbuatannya, tanpa ada kuasa (Qudrah), kehendak (Iradah), dan pilihan bebas (al-Ikhtiyar). Tuhanlah yang menciptakan perbuatan manusia, sebagaimana perbuatan tuhan atas benda-benda mati. Jadi, nama Jabbariyah diambil dari kata Jabara yang mengandung arti terpaksa. Memang dalam aliran ini terdapat paham bahwa manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam istilah bahasa Ingris paham ini disebut Fatalism atau Predistintion. Perbuatan manusia telah ditentukan sejak semula oleh Qodha dan Qhadar tuhan demikian Harun Nasution menyimpulkan.

Tokoh Aliran Jabbariyah

  • Jahm bin Shafwan
  • AlJa’ad Bin Dirham
  • Husain Bin Muhammad Al Najjar
  • Dirar Ibn ‘Amr

Doktrin Ajaran Aliran Jabbariyah

Aliran Ekstrim

Tokoh aliran ekstrim adalah Jahm bin Shofwan, dengan doktrin pokok adalah:

  • Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.
  • Surga dan neraka tidak kekal, dan yang kekal hanya Allah.
  • Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dengan hati, dan hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah.
  • Kalam Tuhan adalah makhluk.
  • Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia sehingga tidak disifati berbicara, mendengar, dan melihat.
  • Allah tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat kelak.

Aliran Moderat

Jabbariyah moderat ini sangat berbeda dengan aliran Jabbariyah yang ekstrim. Jabbariyah moderat berpendapat dan mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik dari perbuatan jahat maupun perbuatan baik. Tetapi manusia memiliki bagian di dalamnya yakni tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek dan tujuan untuk mewujudkan perbuatannya itu sendiri dan inilah yang disebut dengan faham Kasab. Adapun menurut faham Kasab manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh Tuhan) dan tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan sendiri, tetapi manusia memperoleh perbuatan itu dari sang pencipta dan yang diciptakan oleh-Nya.

Tokoh aliran Jabbariyah dalam pemikiran moderat ini adalah Husain bin Muhammad al Najjar dia menyatakan pokok-pokok teologinya berikut ini:

  • Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu sendiri. Maka dari itu inilah yang dinamakan dengan Kasab.
  • Tuhan itu tidak dapat dilihat di akhirat kelak, tetapi menurut al-Najjar Tuhan itu dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata, sehingga manusia sendiri dapat melihat Tuhan.

Qadha dan qadar tidak memiliki arti lain kecuali terbinanya sistem sebab akibat umum atas dasar pengetahuan dan kehendak Ilahi. Di antara konsekuensi penerimaan teori kausal dan kemestian terjadinya akibat pada saat adanya penyebab, serta keaslian hubungan antara keduanya, ialah bahwa kita harus mengatakan bahwa nasib setiap yang telah terjadi berkaitan dengan sebab-sebab yang mendahuluinya. Dari makna ini, kita berani mengatakan bahwa ucapan yang menyebutkan bahwa kepercayaan Jabbariyah berasal dari kepercayaan kepada qadha dan qadar Ilahi, sungguh merupakan puncak kelemahan. Oleh sebab itu, wajiblah kita menyanggah kepercayaan seperti ini agar terlepas dari kesimpulan tersebut. Pandangan sekilas tentang indikasi-indikasi paham Jabariah, merupakan refleksi dari kehidupan manusia yang secara langsung maupun tidak lansung, sengaja ataupun tidak berpulang kepada tawakal atau kepasrahan kepada Tuhannya. Hal ini menimbulkan ketenangan tersendiri setelah adanya usaha ataupun ikhtiar yang dilakukan oleh seorang hamba.

Secara garis besar, pokok ajaran Jabbariyah Moderat adalah sebagai berikut:

  • Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.
  • Manusia tidak dipaksa dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan.
  • Tuhan tidak dapat dilihat di akherat

Related posts