Aliran Asy’ariyah | Pengertian Aliran Asy’ariyah | Tokoh Aliran Asy’ariyah | Doktrin Aliran Asy’ariyah |
Pengertian Aliran Asy’ariyah
Aliran Asy`ariyah adalah sebuah paham akidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al Asy`ariy. Nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al Asy’ari. Kelompok Asy’ariyah menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asy’ariyah.
Abul Hasan Al Asya’ari dilahirkan pada tahun 260 H/874 M di Bashrah dan meninggal dunia di Baghdad pada tahun 324 H/936 M. Ia berguru kepada Abu Ishaq Al Marwazi, seorang fakih madzhab Syafi’i di Masjid Al Manshur, Baghdad. Ia belajar ilmu kalam dari Al Jubba’i, seorang ketua Mu’tazilah di Bashrah.
Abu Hasan Al Asy’ari menjelaskan bahwa ia menolak pemikirian Mu’tazilah, Qadariyah, Jahmiyah, Hururiyah, Rafidhah, dan Murji’ah. Dalam beragama ia berpegang pada Al Qur’an, Sunnah Nabi, dan apa yang diriwayatkan dari para shahabat, tabiin, serta imam ahli hadits.
Tokoh Aliran Asy’ariyah
- Abu Ishaq AsySyirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)
- Al-Qadhi Abu Bakar AlBaqilani (328-402 H/950-1013 M)
- Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
- Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
- Al-Imam Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
Doktrin Aliran Asy’ariyah
- Sifat-sifat Tuhan
Menurutnya, Tuhan memiliki sifat sebagaimana disebutkan di dalam Al Qur’an, yang disebut sebagai sifat-sifat yang azali, Qadim (tidak bermula), dan tetap pada zat Tuhan. Sifat-sifat itu bukanlah zat Tuhan dan bukan pula lain dari zatnya.
- Al Qur’an
Menurutnya, Al Qur’an yang merupakan sifat kalam Allah adalah qadim dan bukan makhluk diciptakan.
- Melihat Tuhan
Menurutnya, Tuhan dapat dilihat dengan mata oleh manusia di akhirat nanti.
- Perbuatan Manusia
Menurutnya, perbuatan manusia di ciptakan Tuhan, bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri.
- Keadilan Tuhan
Menurutnya, Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menentukan tempat manusia di akhirat. Sebab semua itu merupakan kehendak mutlak Tuhan dan Tuhan Maha Kuasa atas segalanya.
- Muslim yang berbuat dosa
Menurutnya, yang berbuat dosa dan tidak sempat bertobat diakhir hidupnya tidaklah kafir dan tetap mukmin. Di akherat kelak tergantung kehendak Tuhan, adakalanya mendapatkan ampunan dan adakalanya tidak diampuni. Jika tidak diampuni maka orang tersebut akan disiksa untuk sementara waktu dan pada akhirnya dimasukkan ke dalam surga.
Pengikut Asy’ari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam yang beraliran Ahlussunnah wal jamaah ialah Imam Al Ghazali. Tampaknya paham teologi cenderung kembali pada paham-paham Asy’ari. Al Ghazali meyakini bahwa:
- Tuhan mempunyai sifat-sifat qadim yang tidak identik dengan zat Tuhan danmempunyai wujud di luar zat.
- Al Qur’an bersifat qadim dan tidak diciptakan.
- Mengenai perbuatan manusia, Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatanTuhan dapat dilihat karena tiap-tiap yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat.
- Tuhan tidak berkewajiban menjaga kemaslahatan (ash-shalah wal ashlah) manusia, tidak wajib memberi ganjaran pada manusia, dan bahkan Tuhan boleh memberi beban yang tak dapat dipikul kepada manusia.






