Dahulu kala, gemintang memandu langkah,
Guru dihormati, seperti dewa dalam kebahagiaan,
Namun kini, di hadapannya, kian luntur rasa puja,
Seperti bunga layu, dihempas kehampaan.
Oh, muridku, di mana hatimu terbangun?
Bukankah ilmu adalah harta nan suci?
Namun, tangisan ini menetes di sudut ruang,
Karena rasa hormat pudar, menjadi buih.
Guru pun hanyalah manusia, berjuta warna,
Namun di dalam hatinya, mengalir sungai pengabdian,
Hormatilah ilmu, sebagai cahaya nan suci,
Agar di mata sang guru, tetap berseri-seni.
Puisi Tentang Guru 3 Bait, berjudul: “Titiang Guru”
Di pelukan ilmu, sang guru bersujud,
Menyirami benih, memelihara kebijaksanaan,
Namun, pilu merasuk ketika tiada hormat,
Tersisa hampa, dalam pelukan gelap.
Baca Lanjutkan puisi pada halaman berikutnya ….

