Struktur Kepribadian Psikologi Islam: Struktur Roh

Roh

WISLAH.COM: Keunikan dari Struktur Kepribadian Psikologi Islam dalam mengkaji manusia adalah struktur roh yang dimiliki oleh setiap manusia, dimana pendekatan psikologi barat tidak mengenalnya. Karena adanya roh inilah, seluruh bangunan kepribadian manusia menjadi khas.

Pengertian Roh

Roh merupakan substansi (jawhar) psikologis manusia yang menjadi esensi keberadaannya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai substansi yang esensial, roh membutuhkan jasad untuk aktualisasi diri, bukan sebaliknya. Roh menjadi pembeda antara eksistensi manusia dengan makhluk lain.

Pemahaman hakikat roh sangat misteri, bahkan dalam QS AL-Isra’ ayat 85 disebutkan bahwa roh merupakan urusan Tuhan. Namun demikian roh dapat dipahami sebagai substansi rohani yang berasal dari alam amar (alam perintah) dan sedikit pun tidak terkait dengan alam khalq (alam penciptaan) yang terdiri dari unsur-unsur jasmaniah.


Roh ini merupakan esensi (hakikat) manusia yang bersaksi dan diberi amanah di alam perjanjian (kitsaq) (Mujib, 2017). Roh adalah substansi yang memiliki natur tersendiri. Menurut beberapa ahli, roh memiliki natur sebagai berikut (lih. Mujiib, 2017):

  1. Menurut Ibn Sina: kesempurnaan awal jisim alami manusia yang tinggi dan memiliki kehidupan dengan daya. Roh berasal dari alam perintah (al-amar) yang mempunyai sifat berbeda dengan jasad. Hal itu dikarenakan ia dari Allah, kendati pun ia tidak sama dengan zat-Nya.
  2. Menurut Al-Ghazali: Ruh ini merupakan lathifah (sesuatu yang halus) yang bersifat rohani. Ia dapat berfikir, mengingat, mengetahui dan sebagainya. Ia juga sebagai penggerak bagi keberadaan jasad manusia. Sifatnya gaib.
  3. Menurut ibn Rusyd: roh sebagai citra kesempurnaan awal bagi jasad alami yang organik. Kesempurnaan awal ini karena roh dapat dibedakan dengan kesempurnaan yang lain yang merupakan pelengkap dirinya, seperti yang terdapat pada berbagai perbuatan. Sedangkan disebut organik karena roh
    menunjukkan jasad yang terdiri dari organ-organ.
  4. Menurut Ikhwan Shafa: roh prinsipnya memiliki natur baik, dab bersifat keakhiratan. Ia merupakan substansi samawi dan alamnya alam rohani. Ia hidup melalui zatnya sendiri yang tidak butuh makan, minum serta kebutuhan jasmani lainnya.

Roh memiliki natur multi-dimensi yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Roh dapat keluar masuk ke dalam tubuh manusia. Hal itu dapat dicontohkan ketika manusia sedang tidur dimana rohnya mampu melepaskan diri dari jasad dan dapat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, atau dari suatu zaman (waktu) ke zaman lainnya, tanpa sedikitpun terhalang oleh hukum-hukum jasadi.


Jenis-jenis Roh

Roh Kembali menyatu pada jasad dengan ketika manusia terjaga dari tidurnya. Inilah makna mati (mawt) atau mati kecil. Kematian jasad bukan bearti kematian roh. Roh masuk pada tubuh manusia ketika tubuh tersebut siap menerimanya.

Secara teoritis, roh manusia terbagi dari dua bagian:

  1. Roh yang masih murni berhubungan dengan zatnya. Roh ini disebut sebagai al-munazzalah yaitu potensi rohaniah yang diturunkan secara langsung dari Allah kepada diri manusia. Potensi ini tidak dapat berubah, sebab jika berubah berarti berubah pula eksistensi dan esensi manusia.
  2. Roh yang berhubungan dengan jasmani. Roh ini disebut dengan al-gharizah (nafsaniah).

Roh al-munazzalah merupakan potensi yang begitu saja diberikan kepada manusia tanpa adanya daya upaya atau pilihan. Potensi ini diciptakan di alam imateri (‘alam al-arwah) atau di alam perjanjian (‘alam al-mitsaq aw ‘alam al-‘ahd). Keberadaannya telah ada sebelum tubuh manusia tercipta, sehingga sifat potensi ini sangat gaib yang adanya hanya diketahui melalui informasi wahyu.

Roh al-munazzalah ini dikatakan potensi fitriah atau alamiah yang menjadi esensi (hakikat) manusia. Fungsinya berguna untuk memberikan motivasi tingkah laku. Roh ini membimbing dinamika kehidupan roh al-gharizah (nafsani) manusia. Roh al-gharizah manusia yang termotivasi oleh roh munazzalat akan menerima pancaran nur ilahi yang suci yang menerangi ruangan qalbu manusia, meluruskan aqal budi dan mengendalikan impulsimpuls rendah.

Wujud dari roh al-munazzalah adalah al-amanah. Fazlur Rahman (lih. Rakhmat, 1995) menyatakan bahwa amanah merupakan inti kodrat manusia inti kodrat manusia yang diberikan sejak awal penciptaan, tanpa amanah manusia tidak memiliki keunikan dengan makhluk-makhluk lainnya.

Amanah dalam arti etimologi berarti kepercayaan atau titipan. Roh almunazzalah perlu pengingat, petunjuk maupun pembimbing. Pengingat yang dimaksud adalah Al-Qur’an (QS Al-Baqarah:2) dan sunnah (QS Al-Hasyr:7). Apabila rohani al-gharizah lupa akan dirinya, maka roh al-munazzalah yang akan memberi peringatan.

Related posts