Struktur Kepribadian Psikologi Islam: Struktur Jism dan Nyawa Manusia

Struktur Jism

WISLAH.COM: Struktur Kepribadian Psikologi Islam adalah aspek-aspek atau elemen-elemen yang terdapat pada diri manusia yang karenanya kepribadian terbentuk. Aspek-aspek diri manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu aspek fisik yang disebut dengan struktur jismiyyah atau jasadiyah; aspek psikis yang disebut dengan struktur ruhaniyyah; dan aspek psikofisik yang disebut dengan struktur nafsaniyyah. Masing-masing aspek ini memiliki natur, potensi, hukum, dan ciri-ciri tersendiri (Mujib, 2017). Berikut ini adalah Struktur Jism dalam Struktur Kepribadian Psikologi Islam.

Struktur Jism

Jisim adalah aspek diri manusia yang terdiri atas struktur organisme fisik. Organisme fisik manusia lebih sempurna dibanding dengan organisme fisik makhluk-makhluk lain. Pada aspek ini, proses penciptaan manusia memiliki persamaan dengan hewan ataupun tumbuhan, sebab semuanya termasuk bagian dari alam fisikal.

Setiap alam biotik-lahiriah memiliki unsur material yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah, api, udara dan air. Sedangkan manusia merupakan makhluk biotik yang unsur-unsur pembentukan materialnya bersifat proporsional antara keempat unsur tersebut, sehingga manusia disebut sebagai makhluk yang terbaik penciptaanya. Firman Allah dalam QS. Al-Tin ayat 4 disebutkan “sesungguhnya Kami telah menciptakana manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.


Keempat unsur tersebut merupakan materi abiotik (tidak hidup). Ia akan hidup jika diberi energi kehidupan yang bersifat fisik (thaqah al-jismiyyah). Energi kehidupan ini lazimnya disebut dengan nyawa, karena nyawa manusia hidup. Ibn Maskawaih (lih. Muhaimin, 1993) menyebut energi tersebut dengan al-hayah (daya hidup). Al-Ghazali (Hadi, 1981) menyebutnya dengan al-ruh jasmaniyyah (ruh material).

Daya hidup ini merupakan vitalitas fisik manusia. Vitalitas ini tergantung sekali pada konstitusi fisik, seperti susunan sel, fungsi kelenjar, alat pencernaan, susunan saraf sentral, urat, darah, daging, tulang, sum-sum, kulit, rambut dan sebagainya. Dengan adanya ini manusia dapat bernafas, merasakan sakit, panas-dingin, pahit-manis, haus-lapar, seks dan sebagainya.

Jadi aspek jasmani ini memiliki dua natur yakni natur konkret berupa tubuh kasar yang tampak, dan natur abstrak berupa nyawa halus yang menjadi sumber kehidupan tubuh. Karena aspek abstrak inilah maka jasad mampu berinteraksi dengan aspek rohani.

Nyawa Manusia

Nyawa atau daya hidup pada diri manusia ini telah ada sejak adanya sel-sel seks pria (sperma) dan wanita (ovum). Sperma dan ovum itu hidup dan kehidupannya mampu menjain hubungan sehingga terjadilah benih manusia (embrio). Nyawa (al-hayat) di sini berbeda dengan al-ruh, sebab al-hayat ada sejak adanya sel-sel kelamin, sedang al-ruh ada setelah embrio berusia empat bulan dalam kandungan (HR. Bukhari dan Ahmad ibn Hambal).

Nyawa dimiliki oleh hewan dan manusia, sedangkan roh hanya dimiliki manusia. Kematian al-hayat tidak berarti kematian alruh, sebab al-ruh selalu hidup sebelum dan sesudah adanya nyawa manusia. Roh bersifat substansi (jawhar), sedang nyawa merupakan sesuatu yang baru datang (‘aradh) bersamaan adanya tubuh. Daya hidup pada diri manusia memiliki batas, yang batas itu disebut dengan ajal. Apabila batas energi tersebut telah habis, tanpa sebab apa pun manusia akan mengalami kematian (al-mawt, QS ALMunafiqun:11).


Daya hidup telah menyatu pada semua organ tubuh manusia yang pusat peredarannya pada jantung. Apabila organ vital manusia rusak atau tidak berfungsi sebagaimana hukum atau sunnahnya maka daya hidup itu lepas dari tubuh manusia dan terjadilah apa yang disebut dengan kematian, walaupun sebenarnya daya hidup tersebut belum habis waktunya. Kerusakan organ tubuh dapat diakibatkan oleh ulah manusia sendiri seperti bunuh diri, dibunuh, kecelakaan, terlalu mengeksploitasi energi fisik dengan kerja diluar kemampuan fisiknya. Aspek jasmani manusia memiliki sunnatullah.

Hal ini dapat dicontohkan dengn proses reproduksi manusia. Setiap reproduksi terjadi dengan dua cara, yakni pertama, reproduksi seksual, menunjukkan proses biologis yang bertujuan untuk melahirkan individu baru yang sama dengan individu yang melahirkan, kedua, reproduksi aseksual, hanya merupakan penggandaan, karena reproduksi semacam ini terjadi dengan pembagian suatu organisme.

Setelah organisme terpisah lalu mengalami perkembangan yang akan menjadikan makhluk baru yang sama dengan induknya. Proses reproduksi biologis manusia dapat dikategorikan dengan empat macam yakni:

  1. Dilahirkan tanpa ayah-ibu (tanpa pertemuan sperma-ovum), yaitu Nabi Adam As.
  2. Dilahirkan tanpa ibu (tanpa ovum), yakni ibu Hawa.
  3. Dilahirkan tanpa ayah (tanpa sperma), yakni Nabi Isa As.
  4. Dilahirkan dengan ayah dan ibu, yakni manusia pada umumnya.

 

Penciptaan jasmani bersifat gradual. Artinya penciptaan itu bertahap menurut proses biologis. Proses penciptaan jasmani dalam Al-Qur’an terbagi atas beberapa tahapan, yakni pertama, proses berasal dari asal jauh (al-ba’id), dari tanah (al-thin) bagi manusia pertama; kedua, dari asal dekat (alqarib), dari paduan sperma-ovum (al-nuthfah) bagi anak cucu Adam.

Jasad memiliki natur tersendiri. Di antaranya:

  1. Menurut al-Farabi: Dari alam ciptaan (al-khalq), yang memiliki bentuk, rupa, berkualitas, berkadar, bergerak dan diam, serta berjasad yang terdiri dari beberapa organ (lih. Daudi, 1989).
  2. Menurut al-Ghazali: dapat bergerak, memiliki rasa, berwatak gelap dan kasar, dan tidak berbeda dengan benda-benda lain (lih. Daudi, 1989).
  3. Menurut Ibn Rusyd: Sifatnya material yang hanya dapat menangkap satu bentuk yang konkret, dan tidak dapat menangkap yang abstrak. Jika ia telah menangkap satu bentuk kemudian perhatiannya berpindah pada bentuk yang lain maka bentuk pertamanya lenyap (lih. Iqbal, 1992).
  4. Menurut Ikhwan al-Shafa’: Naturnya indrawi, empirik dan dapat disifati. Ia terstruktur dari dua substansi yang sederhana dan beraqal, yaitu hayula (vitality) dan shurah (figure). Substansinya sebenarnya mati. Kehidupan bersifat ‘aradh (accident) karena berdampingan dengan nafs. Nafs yang menjadikannya hidup bergerak dan memberi daya dan tanda. Ia bersifat duniawi. Jisim manusiamemiliki natur buruk. Keburukan jasad disebabkan
    oleh pertama, ia penjara bagi roh; kedua, kesibukannya mengganggu roh untuk beribadah kepada Allah; ketiga, dengan kesendiriannya, jasad tidak mampu mencapai makrifat Allah.

 

 

Related posts