Sejarah Singkat Kabupaten Serang (Sejarah dan Profil)

  • Whatsapp
Sejarah Kota dan Kabupaten Seluruh Indonesia

Sejarah Singkat Kabupaten Serang | Profil Kabupaten Serang | Baca Sejarah Kota dan Kabupaten di Indonesia di Wislah.com |

Sejarah Singkat Kabupaten Serang (Sejarah dan Profil) Lengkap

Sejarah Kabupaten Serang tentunya tidak terlepas dari pada sejarah Banten. Ibukotanya Ciruas, namun pada saat ini pusan kepemerintahanya masih di berada wilayah Kota Serang. Kabupaten ini berada di ujung barat pulai jawa, berbatasan dengan laut jawa, dan Kota Serang di sebelah Utara, Kabupaten Tangerang di Sebelah timiur, Kabupaten Lebak di Sebelah selatan, serta Kota cilegon di sebelah barat.

Sebelum abad ke XVI, berita-berita tentang Banten tidak banyak dalam sejarah, karena Serang merupakan wilayah kerajaan, konon pada mulanya Banten masih merupakan bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan sunda, penguasa Banten pada saat itu adalah Pucuk Umum dari Prabu Sidaraja pajajaran.

Adapun pusan pemerintaahan di wilayah Banten Girang. Pada abad ke VI, Islam mulai masuk ke Banten dibawah oelh Sultan Gunung Jati atau Syekh Syarifudin Hidayatullah yang secara berangsur-angsur mengembangkan Agama Isalam di Banten dan sekitarnya serta dapat menaklukan pemerintahan Prabu Pucuk Umum tahun 1524-1525.

Baca Juga :   Sejarah Singkat Kota Makassar (Sejarah dan Profil)


Kemudian beliau mendirikan kerajaan/Kesultanan Islam di Banten dengan mengangkat putranya bernama Sultan Maulana Hasanuddin menjadiraja/Sultan Banten yang pertama berkuasa kurang lebih 18 tahun (1552-1570).

Atas perkasa Sultan Gunung Jati, pusat pemerintahan yang semula di Banten Girang di pindahkan ke Surosohan Banten Lama (Banten Lor), yang terletak pada 10 km di sebelah Utara Kota Srang.

Sultan Hasanudin Wafat pada tahun 1570 digantikan oleh putranya yang bernama Maulana Yusuf sebagai Raja Banten ke dua tahun 1570-1580 M yang selanjutnya di ganti oleh raja ke tiga atau Sultan yang ketiga, keempat dan seterusnya sampai dengan terakhir sultan yang ke 21 yaitu Sultan Muhammad Rafiudin yang berkuasa pada tahun 1809-1816.

Jadi priode Kesu;tanan/Kerajaan Islam di Banten berjalan selama kurun waktu 264 tahun, yaitu dari tahun 1552-1816 M.

Pada masa kesultanan ini banyak peristiwa-peristiwa penting, terutama pada akhir abad ke XVI, dimana orang-orang Belanda datang untuk pertama kalinya mendarat di pelabuhan Banten di bawah pimpinan Cornelis De Houtman dengan maksud untuk berdagang.

Baca Juga :   Sejarah Desa Purwawinangun Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)



Namun sikap congkon dari orang-orang Belanda tidak menarik simpati dari pemimpin atau masyarakat Banten saat itu, sehingga sering timbul ketegangan diantara masyarakat Banten dengan orang-orang Belanda.

Pada saat tersebut, sultan yang bertahta di Banten adalah Sultan yang ke IV yaitu Sultan Abdul Mufakir Muhammad Abdul Kadir yang waktu itu belum dewasa/ bayi sedang yang bertindak sebagai walinya adalah Mangkubumi Jayanegara yang wafat kemudian pada tahun 1602 yang diganti oleh saudaranya yang bernama Yudha Negara. Pada tahun 1608 Pangeran Ramananggala diangkat sebagai Patih Mangkuhbumi. Sultan Abdul Mufakir mulai berkuasa penuh dari tahu 1624-1651 dengan Ramananggala sebagai Patih dan penasihat utamanya.

Sultan Banten yang ke VI adalah Sultan Abdul Fatah cucu Sultah ke V yang terkenal dengan julukan Sultan Agung Tirtayasa yang memegang tempuk kepemerintahan dari tahun1651-1680. Pada masa pemerintahannya, di bidang politik, bidang perekonomian, perdagangan, pelayaran maupun kebudayaannya berkembang maju dengan pesat. Demikian pula dengan gigihnya menentang Kompeni Belanda.

Atas kepahlawananya dalam perjuangannya menentang Koloniel Belanda, maka berdasarkan surat keputusan Presiden Repubik Indonesia, Sultan Agung Tirtayasa dianugrahkan kehormatan predikat sebagai Pahlawan Nasional.

Baca Juga :   Sejarah Desa Astanajapura Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Padab waktu berkuasanya Sulat yang ke VI ini, sering terjadi bentrok dan peperangan dengan para Kompeni Belanda yang pada waktu itu berkuasa du Jakarta. Dengan cara politik adu domba (Devide Et Impera) terutama dilakukan antara Sultan Agung Tirtayasa yang anti Kompeni dengan putranya Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) yang Pro Kompeni Belanda dapat melumpuhkan kekuasaan Sultan Agung Tirtayasa.

Sultan Agung Tirtayasa akhirnya tidak brdaya dan menyingkir ke pedaleman, namun dengan bujukan Sultan Haji, Sultan Agung Tirtayasa dapat ditangkat kemudian ditahan dipenjara di Batvia hingga wafatnya pada tahun 1692.

Sejak tanggal 4 Oktober tahun 2000, terbentuknya Provinsi Banten Maka Kabupaten Serang resmi menjadi bagian menjadi Provini Banten.

Kemudian sejak ada jabatan Regent atau Bupati pada tahun 1826 sampai sekarang, telah terjadi 32 kali pergantian Bupati. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tingkat II Serang No. 17 Tahun 1985 tentang hari jadi Kabupaten Serang pada Bab II penetapan hari jadi Pasal 2 yaitu hari jadi Kabupaten Serang ditetapkan pada tanggal 8 Oktober tahun 1526.




Related posts