Sejarah Singkat Kabupaten Cilacap (Sejarah dan Profil)

Sejarah Kota dan Kabupaten Seluruh Indonesia

Sejarah Singkat Kabupaten Cilacap | Profil Kabupaten Cilacap | Baca Sejarah Kota dan Kabupaten di Indonesia di Wislah.com |

Sejarah Singkat Kabupaten Cilacap (Sejarah dan Profil) Lengkap

Sejarah lokal Kabupaten Cilacap terbagi menjadi beberapa masa, yaitu Zaman Kuno (zaman kerajaankerajaan/periodesasi Indonesia Centris) dan Zaman Kolonialisme (periodesasi Nederlando Centris).

Kabupaten Cilacap terletak di perbatasan wilayah antara Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah sebelah selatan. Kabupaten Cilacap memiliki luas wilayah 225.360.840 ha, terdiri dari 24 kecamatan, yang mencangkup 284 kelurahan/desa (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap, 2011).

Dalam peta Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Cilacap berada di ujung barat daya, berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, yang memiliki budaya dan Bahasa Sunda. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kuningan, Kabupaten Brebes, dan Banyumas. Di sebelah timur dengan Kabupaten Kebumen, dan sebelah selatan dengan Samudera Hindia sehingga Kabupaten Cilacap memiliki dua budaya dominan sekaligus, yaitu Jawa dan Sunda.

Kabupaten Cilacap merupakan satu-satunya kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang menggunakan awalan ci- „air‟ dalam bahasa Sunda. Ada pun nama-nama kabupaten lain di Jawa Tengah, antara lain Brebes, Tegal, Banyumas, Pemalang, Purbalingga, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Batang, Wonosobo, Purworejo, Kendal, Temanggung, Magelang, Semarang, Demak, Boyolali, Klaten, Kudus, Grobogan, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Rembang, dan Blora. Nama-nama kabupaten di Jawa Tengah tersebut tidak ada yang berawalan ci- selain Kabupaten Cilacap. Oleh karena itu, awalan ci- pada nama “Cilacap” tersebut dapat menjadi indikasi adanya pengaruh kultural masyarakat Sunda terhadap toponimi “Cilacap”.

Sebuah teori geologi kuno menyebutkan bahwa pada awalnya terdapat Nusa Kendang yang merupakan bagian dari India. Nusa Kendang merupakan hamparan pulau-pulau yang kemudian bersatu karena letusan gunung berapi dan goyangan dahsyat gempa bumi.

Sekitar tahun 296 Masehi, terjadi letusan gunung berapi yang menyebabkan sebagian wilayahnya hilang dan muncul gunung berapi baru.

Pulau Jawa sendiri merupakan bagian dari gugusan pulau mata rantai gunung berapi di Asia Tenggara yaitu Nuswantoro (Nusantara) dengan sebutan Sweta Dwipa.

Pada tahun 444 Masehi, terjadi gempa bumi dahsyat yang memisahkan Tembini, daerah bagian selatan Pulau Jawa, menjadi pulau tersendiri, yaitu Nusa Barung dan Nusa Kambangan (Abimayu, 2014:22). Jadi keberadaan pulau Nusa Kambangan yang berada di bagian selatan (tembini) sudah berlangsung sekitar 1600 tahun.

Pada peta Jawa kuno, letak kerajaan Nusakambangan menjadi bagian wilayah kerajaan Pajajaran sejak tahun 1728 Masehi, bahkan dua ratus tahun setelahnya. Berdasarkan Atlas van Tropisch Nederland tahun 1936 Masehi (Saktiani, dkk, 2018: i), wilayah Nusakambangan (red-lingkaran hitam) masih termasuk dalam kerajaan Pajajaran tersebut. Hal ini menunjukkan terdapat kaitan erat antara kerajaan di Tatar Sunda dengan wilayah pesisir pantai selatan Nusakambangan.

Dalam sejarah Cilacap, Kerajaan Nusatembini disebut sebagai kerajaan atau keraton “siluman” yang memiliki daerah amat luas membujur dari bagian timur ke barat memutar sepanjang pantai selatan laut serta menghadap membujurnya pulau Nusakambangan (Soedarto, 1975:1).

Keraton ini dipimpin oleh seorang Ratu berparas amat cantik, bijaksana, serta halus budi dalam memerintah sehingga Ratu Brantarara sangat dicintai oleh segenap rakyatnya (Soedarto, 1975:2). Sebelum dipimpin oleh Ratu Brantarara, kerajaan Nusa Tembini diperintah oleh seorang raja yang gagah perkasa bernama Pulebahas.

Babad Pasir menyebutkan bahwa seorang Raja Nusakambangan berseteru dengan Banyak Catra, yang merupakan keturunan kerajaan Pajajaran memperebutkan Dewi Ciptarasa, putri bungsu Adipati Kandha Daha. Kelicikan Kamandaka atau Banyak Catra dalam rupa Lutung Kasarung membuat raja Nusakambangan, Pulebahas, meninggal. Bahkan seluruh pasukan kerajaan Nusakambangan tewas ditangan pasukan kerajaan Pajajaran.

Kerajaan Nusakambangan atau Nusatembini kemudian diambil alih oleh adik bungsu Pulebahas, Dewi Sri Wulan dengan gelar Ratu Brantarara. Lagi-lagi, kerajaan Pajajaran melakukan penyerangan terhadap Nusakambangan hingga akhirnya kerajaan tersebut hancur. Kelak, penduduk Nusatembini yang tersisih menempati Handaunan atau Donan sebagai pusat permukiman yang baru.

Keberadaan kerajaan Nusatembini sebagai keraton “siluman” menunjukkan bahwa kekuatan mitos yang ada di sekitar masyarakat Cilacap masih sangat kental. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian ilmiah terhadap sejarah lokal Kabupaten Cilacap secara terstruktur, ilmiah, dan berkesinambungan.

Lebih lanjut, bukti adanya Donan disebutkan dalam naskah Bhujangga Manik dari tahun 1500 M, nama Cilacap belum disebut. Waktu itu telah dikenal nama Donan Kalicung atau istilah sekarang bernama Donan Kalipucang. (Noorduyn, J. Bhujangga Manik‟s Journeys Through Java : Topogropichal data From an Old Sundanese Source).

Berdasarkan beberapa sumber sejarah, terdapat keyakinan bahwa Handaonan (Donan, sekarang) merupakan cikal bakal kota Cilacap. Hal ini menandakan bahwa nama Donan lebih tua dibanding nama Cilacap itu sendiri.

Antara kerajaan Nusatembini dan Pajajaran sebetulnya memiliki pola interaksi yang terjalin sangat lama. Bahkan kerajaan Pajajaran sebagai wilayah pedalaman telah berhubungan erat dengan wilayah-wilayah lain di sekitar pesisir selatan barat Jawa.

Interaksi lain tampak pada kearifan lokal serupa antara masyarakatnya dengan adanya penggunaan istilah Baluwarti Pring Ori Pitung Sap oleh kerajaan Nusatembini yang menunjukkan pentingnya potensi alam bambu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Cilacap, bahkan juga pada masyarakat Sunda, yang salah satunya terwujud dalam kearifan lokal permainan atau dolanan anak-anak.

DOWNLOAD DI SINI

Related posts