Sejarah Singkat Kabupaten Bengkalis (Sejarah dan Profil)

Sejarah Kota dan Kabupaten Seluruh Indonesia

Sejarah Singkat Kabupaten Bengkalis | Profil Kabupaten Bengkalis | Baca Sejarah Kota dan Kabupaten di Indonesia di Wislah.com |

Sejarah Singkat Kabupaten Bengkalis (Sejarah dan Profil) Lengkap

Kabupaten Bengkalis adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia Wilayahnya mencakup daratan bagian timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan, dengan luas adalah 7.793,93 km².

Ibu kota kabupaten ini berada di Bengkalis tepatnya berada di Pulau Bengkalis yang terpisah dari Pulau Sumatera. Pulau Bengkalis sendiri berada tepat di muara Sungai Siak, sehingga dikatakan bahwa Pulau Bengkalis adalah delta sungai Siak.

Pulau Bengkalis sendiri berada tepat di muara Sungai Siak, sehingga bisa dikatakan bahwa Pulau Bengkalis adalah delta sungai Siak. Pulau Bengkalis diperkirakan pertama kali dihuni oleh Orang Laut yang mendiami wilayah pesisir pantai utara dan selatan.

Tome Pires dalam Summa Oriental mencatat bahwa pada 1512 ada pemukiman orang laut di Tanjung Parit yang merupakan vassal (pengikut) dari Melaka. Kerajaan Melaka pada masa Pemerintahan Sultan Mansyur Shah (1456-1477) mengirim Bendahara Tun Perak untuk mengislamkan penduduk Bengkalis dan kawasan lain di pesisir timur Sumatera.

Sedangkan D. Fransisco da Gama. Gubernur Melaka 1597 menyatakan bahwa di Bengkalis telah terdapat pemukiman- pemukiman orang Minang kabau yang datang dari pedalaman Sumatera.

Catatan sejarah memperlihatkan bahwa Bengkalis memainkan peranan yang cukup penting dalam kancah perebutan pengaruh perdagangan di kawasan Selat Melaka.

Berada di posisi yang sangat strategis waktu itu, Bengkalis menjadi pulau rebutan dari berbagai kekuatan besar, berada di muara Sungai Siak Bengkalis adalah persinggahan bagi pedagang dan saudagar dari pedalaman Sumatera.

Selanjutnya setelah Melaka jatuh ke tangan Portugis 24 Agustus 1511, Sultan Mahmud Syah Sultan Melaka waktu itu berundur ke Pahang dan berpindah tempat yang satu ke tempat yang lainnya dalam wilayah taklukan Melaka hingga akhirnya berkubu di Bintan.

Dalam upaya untuk membalas serangan ke Portugis dan mengambil kembali Melaka, Sultan Mahmud Syah, megutus Hang Nadim yang merupakan anak dari Hang Jebat, untuk mengumpulkan pengikut-pengikut setianya dari kalangan orang laut.

Salah satu Orang Laut yang dihimpun adalah Suku Senggeren dari Bengkalis, ini mungkin asal nama Senggoro yang merupakan tempat pemukiman Suku Senggeren di Pulau Bengkalis.

Dari Bengkalis Hang Nadim membangun kekuatan tempur di Bengkalis dan Bukit Batu untuk melawan Portugis di Melaka. Waktu itu, di bawah pimpinan Bathin Senggoro yang bernama Bathin Hitam mempersiapkan pasukan dari suku Senggeren. Bukit Batu mempersiapkan pasukan dari suku Tenggayun yang dipimpin Tun Megat, bersama suku-suku laut dibawah pengawasan sultan Mahmud Syah.

Hari ini, semua sangat menyadari bahwa Bengkalis dan kawasan sekitarnya memiliki posisi yang strategis. Segala keunggulan komparatifnya dengan petah dapat dijabarkan satu persatu. Namun keunggulan tersebut juga membuat gagap anak negeri ketika hendak memaparkan apa yang harus diperbuat agar keunggulan tersebut bermanfaat.

Ketika Melaka, Johor, Aceh, Siak, dan Belanda mampu memanfaatkan keunggulan daya saingnya, setelah kemerdekaan, Bengkalis meredup seakan mengulang fasa suram ketika diterajui oleh Siak.

Hari ini juga, Bengkalis masih tertatih-tatih mengejar ketertinggalan dari kawasan-kawasan lain. Diperlukan teraju yang cerdas guna memimpin talenta negeri untuk menggali potensi dan memanfaatkan bagi kemaslahatan bersama.

Kondisi kekinian kadang membuat kita ragu, apakah keunggulan itu memang pernah ada. Minda yang terjebak dengan alur pikir bahwa makin tua sesuatu peradaban maka makin tinggi pula maqam kejayaannya akan menggugat “kesepakatan” bahwa tamadun ranggi kawasan ini telah hadir lebih dari lima abad silam. Keraguan yang kemudian bermuara pada diksi dan frasa menolak “kesepakatan”, baik dengan bisik-bisik maupun dengan sikap dan gestur tubuh tersirat.

Namun, Bengkalis juga tidak boleh terperangkap dengan narasi keunggulan-keunggulan silam. Larut dalam nostalgia romantis pantulan- pantulan fantasmagoris yang mengabaikan urutan tertib ruang dan waktu (meminjam narasi Hasan Yunus) serta terlena dengan kisah-kisah gemilangnya yang telah lama kadaluwarsa. Tanggung jawab hari ini adalah mengambil iktibar untuk berbenah agar dapat mencecah kegemilangan berikutnya.

Generasi milineal Bengkalis sebagai penerima tingkat estafet teraju berikutnya harus mampu menciptakan tonggak-tonggak baru agar tertulis sejarah yang lebih gemilang di masa depan atau harus terbelenggu dalam frasa “generasi yang gagal” memanfaatkan keunggulan komparatif yang dimilikinya.

Generasi yang gagap dengan dengan dirinya sendiri. Halwa di pengujung tulisan, menarik ketika menyimak penilaian Elisa Netsher yang memandang Bengkalis dalam bukunya De Nederlanders in Djohor en Siak 1602 tot 1865. Ia membandingkan antara Bengkalis di tahun 1680 sebagaimana yang digambarkan oleh Gubernur Balthasar Bort dengan Bengkalis yang dilihatnya pada 1860.

Bagaimana Bengkalis sebagai sebuah entitas yang memiliki potensi yang demikian besar serta sibuk dengan berbagai aktivitas perdagangan menjadi tertinggal dan tidak terurus. Penyebabnya adalah karena Bengkalis saat itu diurus oleh pemerintahan yang buruk (wanbestuur). Belanda mencoba memperbaikinya namun kembali terbengkalai seabad kemudian. Mungkinkah ini juga karena salah urus atau salah yang mengurus.

DOWNLOAD DI SINI

Related posts