Sejarah Desa Tukdana Kabupaten Indramayu (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Sejarah Desa Desa di Indonesia

Sejarah Desa Tukdana | Asal Usul Desa Tukdana | Profil Desa Tukdana | Kabupaten Indramayu |

Sejarah Desa Tukdana Kabupaten Indramayu (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap

Catatan sejarah Desa Tukdana semenjak masa jabatan sesepuh kampung yang bernama Ki Lajer (Pangeran Selatama) atas perintah Mbah Kuwu Sangkan ditugaskan untuk mengamankan huru-hara di wilayah barat sungai Cimanuk dengan menyusuri babad hutan.

Ki Lajer (Pangeran Selatama) memiliki kesaktian dan cukup disegani oleh masyarakat sekitarnya, sehingga oleh masyarakat di beri gelar Ki Lajer.

Setelah mendapat gelar Ki Lajer (Pangeran Selatama) menjalankan wasiat Mbah Kuwu Sangkan untuk mengamankan huruhara di wilayah barat sungai cimanuk atau sekarang lebih dikenal dengan Desa Tukdana, dimana para pemimpin huru-hara di bawah komando Ki Arsitem lari ke wilayah Majalengka, dalam hal ini desa Sumber Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka Jawa Barat.


Tragedi peperangan antara antara Ki Arsitem dan Ki Lajer, dengan tipu muslihatnya Ki Arsitem menghajar Ki Lajer, padahal yang dihajar hanyalah sebuah tonggak kayu yang mempunyai sumber mata air yang subur, dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari, namun sumber mata air tersebut terkikis oleh zaman sampai akhirnya menghilang, maka Pangeran Selatama sekarang lebih dikenal Ki Buyut Lajer.


Desa Tukdana dahulunya masih tergabung dengan dua Desa yaitu Desa Mekarsari dan Desa Lajer kemudian terjadi pemekaran menjadi tiga desa. Sampai sekarang Desa Tukdana merupakan salah satu Desa Induk, pada saat itu masih kecamatan Bangodua dimana sekitar tahun 80-an pada saat pemimpin oleh Kuwu H. Sudiono dimekarkan menjadi dua desa yaitu Desa Lajer dan Mekarsari.

Baca Juga :   Sejarah Desa Tanggulwelahan Kabupaten Tulungagung (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Kebudayaan Desa Tukdana yang sejak dahulu ada diantaranya adalah Tradisi Sedekah Bumi yang artinya awal memulai para petani untuk menggarap sawahnya dalam satu tahun dengan acara makan bersama ditutup dengan doa.

Tradisi berikutnya adalah Tradisi Munjungan yang artinya makan bareng di Pesarean sambil memberi doa kepada arwah nenek moyang kita dan orang tua-tua yang sudah mendahului kita.


Tradisi selanjutnya lagi adalah tradisi Mapag Tambah yang artinya acara jalan bareng Pa Kuwu dan Pamong Desa mengitari Sawah untuk mengobati tanaman padi yang terserang penyakit dengan memercikan air yang sudah diberi do’a agar tanaman padi kembali subur dan hasil panennya meningkat.


Adapun nama-nama kuwu atau Kepala Desa Tukdana diantaranya sebagai berikut:

  1. Kuwu Darpan menjabat dari tahun 1868 sampai 1908
  2. Kuwu Madri menjabat dari tahun 1908 sampai 1930
  3. Kuwu Radiman menjabat dari tahun 1931 sampai 1968
  4. Kuwu H. Waslam menjabat dari tahun 1968 sampai 1980
  5. Kuwu H. Sudiono menjabat dari tahun 1981 sampai 1986
  6. Kuwu Hj. Duriyah menjabat dari tahun 1990 sampai 1998
  7. Kuwu H. Sodli menjabat dari tahun 1998 sampai 2008
  8. Kuwu Zaelani menjabat dari tahun 2008 sampai 2014
  9. Kuwu H. Susanto, SE menjabat dari tahun 2015 sampai sekarang

Related posts