Sejarah Desa Tuk Karangsuwung Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

  • Whatsapp
Sejarah Desa Desa di Indonesia

Sejarah Desa Tuk Karangsuwung | Asal Usul Desa Tuk Karangsuwung | Profil Desa Tuk Karangsuwung | Kabupaten Cirebon |

Sejarah Desa Tuk Karangsuwung Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap

Pada Abad ke XV merupakan tonggak sejarah yang telah di canangkan oleh para wali sembilan di bumi nusantara, khusus di tanah jawa yang di emban oleh Sunan Gunung Jati. Beliau merupakan tokoh penyebar agama Islam yang berpusat di amparan Gunung Sembung.

Dalam penyebaran agama Islam, Sunan Gunung Jati di bantu oleh para santrinya yang dianggap sudah mampu serta mempunyai dedikasi yang sangat tinggi.

Sunan Gunung Jati dalam menyiarkan syiar agama Islam Sunan Gunung Jati selalu terjun langsung keseluruh pelosok untuk lebih mengetahui secara pasti.



Lantas ia evaluasi dan dikaji untuk menugaskan kepada para santri-santrinya yang dianggap mampu untuk menangani berbagai hal.

Sunan Gunung Jati mempunyai seorang pegawai keraton bernama Raden Rustam berasal dari Cirebon Girang, beliau adalah putra Raden Bertanata, dalam pengabdiaanya ia selalu patuh pada aturan-aturan yang berlaku dikeraton, dalam menjalankan tugas dan kewajiban sehari-harinya tanpa mengenal pamrih ia kerjakan tepat waktu, sehingga dengan demikian dalam memberikan pelayanannya semaksimal mungkin lebih mengutamakan kepuasan, baik secara lahir maupun batin.

Raden Rustam yang begitu patuh dan taat segala perintah kanjeng gusti Sunan Gunung Jati ia laksanakan dengan sepenuh hati dan tulus ikhlas, tiba-tiba ia bertolak belakang, sehingga menimbulkan suatu kekecewaan bagi Sunan Gunung Jati.

Walaupun demikian Sunan Gunung Jati ialah orang yang paling arif dan bijaksana di dalam membimbing dan mendidik baik kepada para santri-santrinya maupun kepada para pegawai dan didalamnya. Ia tidak ingin menyesatkan anak didiknya dijalan yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.

Maka Sunan Gunung Jati mengambil langkah yang paling tepat, agar Raden Rustam biasa mandiri dan mengetahui liku-liku kehidupan di dunia ini, lantas Raden Rustam disuruh meninggalkan keraton oleh Sunan Gunung Jati.

Raden Rustam dengan langkah yang amat berat dan penyesalannya yang begitu dalam ia sangat menyesali perbuatannya yang keliru, Raden Rustam pergi meninggalkan keraton, dengan langkah yang tak pasti arah dan tujuannya, ia menuju kearah selatan berhari-hari ia menyusuri jalan keluar masuk hutan belantara hingga pada suatu hari ia sampai di Gunung Ciremai.

Baca Juga :   7 Pengertian Folklor, Jenis, Ciri Ciri, dan Fungsinya

Untuk menebus dosa dan kesalahan yang pernah ia lakukan, dan ingin memohon ampun atas dosanya maka ia berserah diri kepada Allah SWT. dengan kebulatan tekat yang begitu membara, selain ingin menebus dosa juga ia ingin memperlihatkan kesetiaannya kepada Sunan Gunung Jati. Ia bertekat untuk menyiarkan agama Islam.

Maka ia melaksanakan semediannya diatas puncak Gunung Ciremai, hawa pegunungan yang begitu sangat dingin sampai menusuk keseluruh tubuh tak mengurangi semangat sedikitpun.

Pada saat melaksanakan semediannya tiba-tiba ia mendengar suara harimau yang merintih memohon pertolongan maka Raden Rustam mencari sumber suara tadi.

Selama ia mencari keseluruh penjuru lingkungan Gunung Ciremai, Raden Rustam melihat seekor anak harimau yang akan terperosot kedalam jurang, lalu Raden Rustam menolongnya sehingga anak harimau itu terhindar dari mara bahaya, yang seterusnya ia melepaskan kembali anak harimau itu.

Raden Rustam menyelamatkan anak harimau, dan selanjutnya ia melanjutkan semediannya sampai selesai 40 hari 40 malam.

Pada saat ingin meninggalkan tempat semedi, lalu turun dari puncak Gunung Ciremai, anak harimau tersebut sudah berada di belakangnya dan berkata: “Raden, hamba mohon ikut pada Raden, kemanapun Raden pergi hamba akan ikut selalu”.

Maka Raden Rustam menoleh kebelakang. Anak harimau itu oleh Raden Rustam dielus-elus kepalanya, lalu anak harimau itu berkata lagi: “hamba ingin mendampingi Raden, apakah Raden tidak keberatan?”. Raden Rustam pun menjawab: “tentu saja tidak, saya akan menerimanya dengan senang hati asalkan kau benar-benar setia dan patuh kepada Raden”. lalu anak harimau berkata: “hamba akan selalu patuh apa yang Raden perintahkan pada hamba.

Melihat keputusan dan kesetiaan anak harimau itu, maka Raden Rustam memberi nama yaitu Cimandung yang artinya iman kepada yang maha kuasa dengan dapat terselamatnya anak harimau tersebut.

Bertahuntahun lamanya anak harimau itu bersama dengan Raden Rustam ia tumbuh dengan sempurna layaknya hewan yang hidup dialam bebas.

Cimandung walaupun seekor harimau yang ditakuti oleh orang banyak tetapi Cimandung mempunyainalar dan fikiran layaknya seperti manusia biasa, setelah apa yang dikerjakan oleh Raden Rustam dapat dilakukannya dengan sempurna.

Baca Juga :   Inspirasi dari Bawah Pohon



Ia ingin membaktikan dirinya sampai akhir hayat, tentu saja Raden Rustam tidak keberatan asalkan patuh terhadap perintahnya dan menjahui segala larangan-larangannya.

Dengan adanya penngikut yang setia, ia menyarankan agar mengikutinya dari dalam tanah supaya tidak terlihat oleh orang lain.

Raden Rustam bersama dua pengikutnya itu akhirnya pergi meninggalkan Gunung Ciremai dan menuju kearah timur.

Hingga pada suatu saat mereka sampai pada suatu karang yang masih sunyi senyap (sunyi senyap dalam bahasa Cirebon pada saat itu adalah suwung.pen) Mereka disitu membabad hutan untuk dijadikan suatu perkampungan sambil menyiarkan agama Islam yang ia peroleh dari Sunan Gunung Jati.

Perkampungan tersebut semakin ramai, masyarakatnya giat belajar agama Islam juga rajin bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Raden Rustam sudah semakin lama meninggalkan keraton Cirebon tidak ada kabar beritanya. Raden Dikman saudara misan Raden Rustam sangat menghawatirkannya. Siang dan malam ia memohon kepada yang maha kuasa agar diberikan suatu keselamatan.

Hingga pada suatu saat ia mendengar berita bahwa Raden Rustam masih berada di wilayah bagian Cirebon, ia sedang membangun suatu pedukuhan.

Raden Dikram mencari kesetiap pedukuhan ia menanyakan Raden Rustam. Pencarian tersebut memakan waktu yang sangat lama, dengan keyakinannya sehingga Raden Dikram dapat bertemu dengan Raden Rustam.

Raden Dikram adalah seorang empuh yang sangat pandai membuat keris dan perkakas perang. Ia berasal dari Gebang yang juga merupakan murid Sunan Gunung Jati, selain sebagai seorang empuh ia juga pandai dalam mengobati berbagai jenis penyakit.

Raden Dikram semakin memperkuat keyakinan Raden Rustam untuk mengembangkan syiar Islamnya. Di pedukuhan tersebut melihat perkembangan yang mereka capai tidak puas sampai hanya disitu saja, ia semakin melebarkan sayapnya diberbagai tempat.

Dan mereka menemukan suatu tempat yang masih sangat sunyi, sehingga mereka memutuskan untuk tinggal ditempat tersebut. Akan tetapi manakala akan melaksanakan sholat dzuhur dan akan mengambil air wudhu tidak terdapat air.

Sehingga ia berfikir untuk dapat membuat tuk (balong) maka dengan izin-Nya tuk tersebut keluar air. Sehingga dapat digunakan untuk mengambil air wudhu.

Mereka selama berada dipedukuhan tersebut. Mengajari masyarakat untuk belajar agama Islam, dengan semakin pesatnya lama kelamaan mereka mendirikan sebuah tajug untuk menampung orang solat berjamaah sambil mempelajari agama Islam.

Baca Juga :   Sejarah Desa Karangwangi Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Raden Rustam dan Raden Dikram dengan dibantu oleh abdi dalem yaitu Cimandung yang selalu setia disampingnya. Oleh Raden Rustam Cimandung diberi kerencengan, maka disitulah Cimandung berada. Cimandung dapat menampakkan diri seperti kucing lama kelamaan agar besar seperti jagir (kerbau jantan).

Raden Rustam setelah berdiam didaerah tuk berganti namanya menjadi Ardisela yang artinya, Ardi (berarti tanah), sela (berarti batu). Hal tersebut lantas mengingatkan pada dirinya manakala ingin menjalankan semedinya. Ia duduk diatas batu dengan ditimbuni tanah.

Raden Rustam meninggal dan dimakamkan didaerah Tuk sehingga terkenal dengan nama yaitu situs Ardisela dan situs muara bengkeng, yang artinya: muara (berarti danau), bengkeng (berarti keras atau nyaring).

Masyarakat sekitar untuk mengenang jasa-jasa mereka dalam menyiarkan agama islam maka oleh masyarakat tersebut di dirikan pesantren yang cukup terkenal dengan nama Tuk, sedangkan makam Ardisela dan muara bengkeng dijadikan keramat.

Untuk mengenang jasa, nama Karangsuwung dijadikan sebuah nama desa, begitu juga Tuk Karangsuwung, hasil dari pemekaran Desa Karangsuwung yang dulu berada diwilayah kecamatan Karangsembung. Sedangkan Desa Tuk Karangsuwung berada dikecamatan lemahabang.

Tuk Karangsuwung adalah Desa di kecamatan Lemahabang, Cirebon, Jawabarat, Indonesia. Sebelum masuk kedalam wilayah Kecamatan Lemahabang, Dasa ini merupakan bagian dari Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon.

Hal yang tampak dari nama Desa ini. Tuk Karangsuwung awalnya merupakan salah satu bagian atau dusun dari Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung. Warga setempat menyebutnya sebagai “cantilan” Karangsuwung.

Sejak tahun 1985 Desa Karangsuwung dimekarkan, dan Tuk Karangsuwung menjadi Desa mandiri tetapi masih termasuk Kecamatan Karangsembung.

Desa Tuk Karangsuwung mempunyai hal yang unik, jadi meskipun termasuk wilayah Kecamatan Karangsembung, desa ini diapit oleh Desadesa lain yang berkecamatan Lemahabang, yaitu: Desa Leuwidingding disebelah selatan, Desa Sindanglaut disebelah barat, Desa Sigong dan Sarajaya disebelah timur.

Bahkan sebelah utara desa ini berbatasan langsung dengan Desa Lemahabang, tempat pusat Kecamatan Lemahabang berada. Mungkin dengan pertimbangan keefektifan administrasi, kemudian Desa ini dimasukan kedalam wilayah Kecamatan Lemahabang, sampai saat ini.




Related posts