Sejarah Desa Kedungwaru | Asal Usul Desa Kedungwaru | Profil Desa Kedungwaru | Kabupaten Tulungagung |
Sejarah Desa Kedungwaru Kabupaten Tulungagung (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap
Dijaman kerajaan Mataram tersebutlah seorang Tumenggung bernama Tumenggung Tawengan yang bertempat diwilayah tersebut. Tumenggung Tawengan memikili cucu bernama Mnah Benggol, dan Mbah mempunyai anak bernama Arijoyo atau disebut dengan nama Kiai Ahmad Laku. Mbah Benggol mempunyai murid bernama Prawiro Redjo atau disebut dengan nama Kiai Ahmad Sangu.
Kedua tokoh tersebut yang hingga sekarang disebut-sebut oleh masyarakat sebagai pendiri Desa Kedungwaru. Makam kedua tokoh tersebut masih dilestarikan sebagai makam cikal bakal Desa Kedungwaru.
Desa Kedungwaru dapat diartikan menjadi dua suku kata, yaitu Kedung dan Waru. Sedangkan Kedung sendiri memiliki arti cekungan tanah yang dalam dan didalamnya terdapat mata air, danau kecil atau tempat bertemunya suatu aliran sungai yang lazim disebut tempuran aliran sungai. Sehingga terdapat pusaran air yang bersatu tadi, dan membuat dasar sungai menjadi dalam.
Di Desa Kedungwaru memang terdapat sungai yang membatasi batas wilayah desa yang khususnya di sebelah selatan yang berbatasan dengan Kelurahan Kepatihan dan Kelurahan Kenayan. Sungai tersebut adalah sungai terusan dari Sungai Nguni dari Desa Ringinpitu dan yang selanjutnya bermuara di Sungai Ngrowo, yang menuju ke Sungai Brantas. Nah, di sepanjang sungai tersebutlah terdapat suatu kedung yang sangat dalam dan sekitarnya terdapat pohon-pohon dan semak belukar, salah satunya adalah Pohon Waru, yang mengarah mentelung ke kedung tersebut, maka tersebutlah wilayah tersebut dengan sebutan Desa Kedungwaru.
Disungai yang mengalir di Desa Kedungwaru tersebutlah terdapat kedung-keung yang dijumpai, selain itu juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat sumber air, terutama untuk para petani. Pada sungai tersebut juga ada jembatan kecil-kecil atau disebut bok, yang dikenal masyarakat, dimana ada yang namanya Bok Mbarakan dan Bok Kuning.
Dinamakan Bok Mbarakan, karena di tempat itu terdapat Barak atau asrama tempat peristirahatan pada waktu jaman penjajahan Belanda, yang selanjutnya diwaktu masa penjajahan Jepang tempat tersebut menjadi tempat peristirahatan para pekerja rodi di Sine Niyama, yang saat pulang dalam keadaan sakit, dikarenakan penyakit malaria, di tempatkan di barak tersebut. Lokasi Bok tersebut berada di pertigaan Jalan MT. Haryono.
Sedangkan Bok Kuning adalah di sekitar Bok tersebut ada pohon-pohon bambu, salah satunya bamboo kuning, bahkan bok tersrbut konon menurut cerita pernah dihancurkan dibom oleh para pejuang bangsa, agar penjajah Belanda tidak bias lewat. Keberadaan lokasi bok tersebut berada di Jalan Pahlawan.
Namun karena dengan perubahan situasi dan kondisi lingkungan yang ada, tempat-tempat bersejarah yang ada di Desa Kedungwaru hanya tinggal legenda masyarakat saja.
Dahulu Desa Kedungwaru terbagi menjadi 2 (dua) dusun yaitu, Dusun Kedungwaru Tamanan yang ada diwilayah barat dan Dusun Kedungwaru Pandean diwilayah Timur Dinamakan Kedungwaru Tamanan karena lokasinya dekat dengan wilayah perkotaan, sehingga penataan-penataan limgkungan seperti Taman, dan ditempat tersebut ada Taman, maka disebut sebagai Dusun Kedungwaru Tamanan. Dan ditempat tersebut juga disebut sebagai wilayah Plumpang. Sehingga tersebutlah Pasar Lumpang, yang sekarang menjadi Pasar Templek.
Sedang Dusun Kedungwaru pandean, yang berada diwilayah timur jalan, yang kebanyakan masyarakatnya para petani dan pedagang. Dahulu tempat tersebut terda[at seorang empu atau seorang Pande Besi yang pekerjaannya membuat alat-alat pertukangan atau alat pertanian dan juga peralatan-peralatan kuda untuk delman. Wilayah Desa Kedungwaru sebagai desa penyangga wilayah perkotaan, sehingga arus transpotasi sangatlah dominan, maka di Desa Kedungwaru juga terdapat tempat transit barang dagangan dari daerah sekitar kota Tulungagung dan Trenggalek terutama barang dagangan jenis, kelapa, manggis, durian, mangga, dan hasil pertanian lainnya yang akan dikirim ke luar kota, terutama ke Surabaya, dan para pedagang dari Surabaya banyak yang singgah ditempat transit tersebut yang biasanya membawa dagangan garam grasak dan garam bleng.
Sesuai dengan perubahan situasi dan pemekaran wilayah yang mana RSUD Iskak pindah kewilayah Timur bagian Desa, dan makin banyak warga yang berdomisili atau bertempat di wilayah tersebut sehingga perlu penataan dan pemekaran wilayah, sehingga yang selanjutnya Desa Kedungwaru dibagi menjadi 3 (tiga) dusun yaitu
- Dusun Kedung Indah (dusun tambahan)
- Dusun Keciungwaru Tamanan atau yang sekarang bernama Kedung Taman
- Sedang Dusun Kedungwaru Pandean diganti dengan nama Dusun Waru Jaya
Pendiri Desa Kedungwaru dijaman Kerajaan Mataram tersebutlah seorang Temenggung bernama Tumenggung Tawengan yang bertempat atau madepok di wilayah tersebut Tumenggung Tawengan mempunyai cucu bernama Mbah Benggol, dan Mbah Benggol mempunyai anak bernama Arijoyo atau disebut dengan nama Kyai Ahmad Laku, dan Mbah Benggol mempunyai murid bernama Prawiro Redjo atau disebut dengan nama Kyai Ahmad Sangu. Kedua tokoh tersebutlah yang hingga sampai sekarang disebut-sebut oleh masyarakat sebagai pendiri Desa Kedungwaru. Dan makam Kedua Tokoh tersebut, masih dilestarikan sebagai makam cikal-nakal Desa Kedungwaru.
Daftar nama orang-orang yang pernah menjabat sebagai kepala Desa Kedungwaru yaitu:
- Bapak Empak (jaman penjajahan Belanda)
- Bapak Singo Sabar
- Bapak Wirkowan
- Bapak Slamet Karto Pawiro
- Bapak Asir Darsono (Karateker)
- Bapak Mulyono
- Bapak Sudjito
- Bapak Sodik (Karateker)
- Bapak Choirul Ansori
- Bapak Sugeng Mulyono






