Sejarah Desa Cisaat Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Sejarah Desa Cisaat Kabupaten Cirebon

Sejarah Desa Cisaat | Asal Usul Desa Cisaat | Profil Desa Cisaat | Kabupaten Cirebon |

Sejarah Desa Cisaat Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap

Sejarah Berdirinya Desa Cisaat: Desa Cisaat merupakan suatu desa yang langsung berdiri sendiri bukan pemekaran dari desa manapun. Sejarah desa Cisaat yaitu pada mulanya sejaman dengan Wali Songo dahulu daerah ini bernama desa Tersana. Ada kisah keris Mbah Kuwu yang terjatuh ke sungai ketika perjalanan menuju Cirebon yang sekarang sungai tersebut menjadi perbatasan dusun 2 dan dusun 3. Setelah tahu keris itu terjatuh maka para pengikut Mbah Kuwu segera menambak sungai dengan pasir atau keusik. Setelah itu airnya ditimba atau di parak beramai-ramai hingga kering atau airnya saat, akan tetapi yang ditemukan hanya kerangkanya saja. Sejak saat itu daerah tersebut dinamakan desa Cisaat hingga sekarang (Sukarna, 2015).

Sejarah desa dalam versi lain adalah awal mula nama desa Cisaat ialah Tresna,kemudian dirubah menjadi cisaat karena dulu pada masa kuwu sangkan pusaka beliau jatuh di kawasan daerah ini, tepatnya di sunyai parakan pasir, pusaka itu disebut dengan nama cis. Ketika pusaka itu jatuh di desa ini maka desa ini pun dirubah namanya jadi Cisaat. Desa ini telah dipimpin oleh 30 orang pemimpin. Sejak 600 tahun lalu desa ini sudah ada yang menyinggahi. Namun istilah dahulu bukan kuwu, melainkan kerajaan. Siapa saja yang kuat maka ia berhak menduduki keperintahan. Adapun kepemimpinan mulai dari kemerdekaan RI sekitar ada 7 pemempin (Majari, 2014).

Secara umum data yang temukan terkait sejarah desa Cisaat adalah Pada abad XIV daerah ini bernama Tresna yang merupakan pintu keluar masuknya para ki gedeng, seperti Ki Gedeng Palimanan dan Ki Gedeng Pasawahan yang hendak berburu rusa dan menikmati pemandangan pegunungan. Disamping itu daerahnya sering dilewati pemburu sehingga Ki Buyut Tresna dikenal dengan nama Ki Paderesan.Ki Gedeng Pasawahan atau Ki Makeru selain senang berburu, ia kerap kali memusuhi Mbah Kuwu Sangkan di mana keduanya adalah orang-orang yang sama kuat, baik ketika bertempur di atas gunung maupun bertarung di atas air. Ki Makeru tidak segansegan melakukan tipu daya dengan cara yang licik. Secara tiba-tiba Ki Makeru memukul Mbah Kuwu dari belakang, sehingga Mbah Kuwu dengan ketinggian ilmunya semula terkesan tidak sungguh-sungguh melayani setiap pertarungan. Ki Makeru terkenal sakti mandraguna. Ia memiliki berbagai ilmu hitam seperti ilmu meringankan tubuh, masuk lubang kecil, ilmu mencala putra mencala putri untuk menipu jalasutra, sehingga ia selalu menginginkan pertarungan dilakukan di atas gunung atau di atas air. Mbah Kuwu akhirnya meladeni setiap keinginan Kimakeru, dimana dengan kepandaian ilmunya beliau mengetahui kelemahan musuhnya, apalagi pengikut Kimakeru sebagian besar telah ditundukannya. Segala cara yang di tempuk Ki Makeru dengan mudah dipatahkan beliau. Meskipun bukan tandingan Mbah Kuwu, Ki Makeru tetap tidak mau tunduk bahkan oleh kerena merasa dipermalukan ia menghilang, tidak mau masuk agama islam.

Setelah melakukan pertempuran, Mbah kuwu bermaksud meninggalkan Pasawahan untuk beristirahat sambil menikmati air pohon enau (lahang) kesukaannya di Panderesan. Sangat disayangkan air lahang kesayangannya tidak tersedia sehingga Mbah Kuwu kecewa dan berkata kepada Ki Panderesan, apabila hendak menyadap aren bacakan syahadat tiga kali. Sekembalinya Mbah Kuwu ke Cirebon, Ki Panderesan segera membuat lodong dari bambu untuk menyadap aren. Sebagaimana dipesankan Mbah Kuwu, Ketika akan memasang lodong Ki Panderean tidak lupa membaca syahadat tiga kali. Sungguh ajaib ketika lodong diturunkan esok harinya, ternyata lodong itu tidak berisi air lahang melainkan mas dan intan. Ki Panderesan sangat gembira dan berbahagia. Ia bernadar ingin makan bersama Mbah Kuwu serta pengikutnya yang akan singgah kembali di Panderesan. Untuk menghormati tamunya itu, Ki Panderesan menyediakan berbagai hidangan, hingga tanpa disadari ayam yang sedang mengerampun ia potong. Ketika Mbah Kuwu menikmati hidangan itu, beliau tersenyum dengan hati yang tak tega oleh karena panggang ayam yang dihidangkan itu berasal dari induk ayam yang sedang mengeram. Tak lama kemudian panggang ayam itu berubah, hidup kembali seperti semula. Ketika akan kembali ke Cirebon, Mbah Kuwu mengajak Ki Panderesan pergi ke Cirebon. Ketika ditanyakan kepada Mbah Kuwu apakah hewan-hewan peliharaan seperti ayam, bebek, kambing dan lainnya perlu dibawa ke Cierbon? Mbah Kuwu Sangkan Mengatakan tidak perlu. “Lihat saja nanti apa yang akan terjadi”, pintanya. Dan tak lama kemudian semua hewan berubah menjadi ular.

Oleh karena itu, daerah ini terkenal dengan ular-ularnya yang besar. Dalam perjalanan ke Cirebon, Pusaka cis milik Mbah Kuwu terjatuh ke sungai. Para pengikut Mbah Kuwu segera menambak sungai dengan pasir atau keusik. Setelah itu airnya ditimba atau di parak beramai-ramai hingga kering atau saat, akan tetapi yang ditemukan hanya kerangkanya saja. Sungai tempat terjatuhnya Mbah Kuwu itu dikenal dengan nama Parakan Keusik, dan daerah sekitarnya di sebut Cisaat hingga sekarang.

DOWNLOAD DI SINI

Related posts